Gu Sheng adalah matahari tercerah di Kota Azure, jenius dengan Tulang Dewa yang ditakdirkan menjadi penguasa langit. Namun, di malam ulang tahunnya, matahari itu dipadamkan oleh pengkhianatan yang paling keji. Tunangan yang sangat ia cintai, Mu Ruoxue, merobek dadanya dan mencuri Tulang Dewa-nya untuk diberikan kepada kekasih gelapnya, Lin Tian.
Dibuang ke jurang maut dengan Dantian hancur dan jalur energi terputus, Gu Sheng seharusnya mati. Namun, darahnya membangkitkan Cincin Iblis Penelan Langit, sebuah warisan kuno yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dari Balik Bayang-Bayang
Episode 12
Cahaya redup dari kristal memori itu perlahan-lahan memenuhi ruangan pondok yang sempit, menciptakan partikel-partikel cahaya yang melayang seperti kunang-kunang di tengah kegelapan. Di tengah cahaya itu, sesosok pria dengan jubah biru gelap yang elegan muncul dalam bentuk proyeksi tiga dimensi yang transparan. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kuat dan mata yang memancarkan kebijaksanaan sekaligus kesedihan yang mendalam.
Itu adalah Gu Jianfeng, pria yang selama tujuh belas tahun dikenal Gu Sheng sebagai ayah yang penyayang sekaligus pelindung yang tak tergoyahkan.
Gu Sheng masih berlutut di lantai kayu yang berdebu. Napasnya tersengal, dan air mata yang jatuh ke lantai seolah-olah membawa beban ribuan ton penderitaan yang ia simpan sejak malam pengkhianatan itu. Melihat sosok ayahnya kembali, meskipun hanya dalam bentuk memori, membuat dinding pertahanan mental Gu Sheng yang sekeras baja itu runtuh seketika.
"Sheng-er... jika kau melihat rekaman ini, berarti aku sudah tidak lagi berada di sisimu untuk melindungimu," suara Gu Jianfeng bergema di dalam pondok, terdengar sangat nyata meskipun sedikit bergetar karena distorsi energi kristal. "Dan itu juga berarti... kau telah mengalami penderitaan yang melampaui apa yang seharusnya ditanggung oleh seorang anak seusiamu."
Proyeksi Gu Jianfeng melangkah maju, seolah-olah ia bisa melihat Gu Sheng yang sedang bersujud di depannya. Tangannya yang transparan terulur, mencoba menyentuh kepala putranya, namun jari-jarinya hanya melewati udara kosong.
"Maafkan aku, Sheng-er. Maafkan ketidakberdayaanku sebagai ayahmu," lanjut Gu Jianfeng, suaranya mengandung penyesalan yang begitu pekat. "Dunia yang kau lihat sekarang... Kota Azure, Keluarga Gu, Keluarga Mu... itu hanyalah butiran debu kecil di bawah luasnya langit yang sesungguhnya. Aku selalu mencoba menyembunyikanmu dari kebenaran yang kejam itu, berharap kau bisa tumbuh sebagai pemuda biasa yang bahagia. Tapi takdir... takdir tidak pernah membiarkan darah kita hidup dalam kedamaian."
Gu Sheng mengangkat kepalanya, matanya yang merah dan sembab menatap tajam ke arah proyeksi ayahnya. "Darah kita? Apa maksudmu, Ayah? Siapa kita sebenarnya?"
Seolah bisa mendengar pertanyaan itu, proyeksi Gu Jianfeng menatap lurus ke depan. "Sheng-er, kau mungkin bertanya-tanya tentang asal-usul ibumu. Dia bukan berasal dari Benua Azure ini. Dia berasal dari tempat yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat di mana para Dewa dan Iblis berperang memperebutkan takhta kekosongan. Kehadiranmu... adalah sesuatu yang dianggap sebagai Anomali oleh para penguasa di Alam Atas. Tulang Dewa yang kau miliki sejak lahir... itu bukan berkat dari langit, melainkan sebuah segel. Segel yang dirancang untuk menahan kekuatan mengerikan yang tertidur di dalam darahmu."
Gu Sheng tertegun. “Tulang Dewa... adalah sebuah segel?”
“Menarik... sangat menarik!” suara Kaisar Iblis tiba-tiba meledak di dalam batin Gu Sheng, suaranya penuh dengan kegembiraan yang jahat. “Pantas saja! Pantas saja Dantian Penelan Langit ini bisa menyatu begitu sempurna dengan tubuhmu! Ternyata kau bukan hanya sekadar manusia beruntung, bocah! Kau memiliki darah dari klan kuno yang ditakuti oleh Alam Atas! Tulang Dewa itu sebenarnya adalah belenggu yang menahan potensimu agar tidak menghancurkan dunia ini sebelum waktunya!”
Gu Sheng mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. Jadi, Mu Ruoxue dan Lin Tian bukan hanya mencuri kekuatannya, mereka secara tidak sengaja telah melepaskan monster yang selama ini tersegel di dalam dirinya.
"Sheng-er," proyeksi Gu Jianfeng kembali berbicara, wajahnya kini terlihat lebih serius. "Jika Tulang Dewamu masih ada, jangan pernah mencoba membangkitkan kekuatan darahmu. Tapi jika... jika mereka telah merampasnya darimu... maka kau tidak punya pilihan selain memeluk kegelapan. Di dalam kotak ini, di bawah perkamen itu, ada sebuah teknik yang kucuri dari kuil terlarang di Alam Atas. Nama teknik itu adalah 'Sembilan Gerbang Penghancur Bintang'. Gunakan teknik ini untuk menyembunyikan aura iblis di dalam tubuhmu. Jangan biarkan siapapun di luar kota ini tahu siapa kau sebenarnya, sampai kau cukup kuat untuk membalas dendam."
Gu Jianfeng menghela napas panjang, bayangannya mulai berkedip-kedip, tanda bahwa energi di dalam kristal memori mulai habis. "Aku pergi bukan karena aku meninggalkanmu, Sheng-er. Aku pergi untuk memancing para pengejar dari Alam Atas menjauh darimu. Aku akan menunggu di suatu tempat di benua pusat. Jika kau cukup kuat untuk membelah langit, carilah aku... dan kita akan menjemput ibumu kembali bersama-sama."
"Ayah! Tunggu! Di mana kau?! Siapa yang mengejarmu?!" teriak Gu Sheng, ia mencoba meraih proyeksi itu, namun bayangan Gu Jianfeng perlahan-lahan memudar menjadi bintik-bintik cahaya biru.
"Ingatlah, Sheng-er... di dunia kultivasi, kebaikan adalah kelemahan, dan pengampunan adalah kuburanmu sendiri. Jadilah pedang yang paling tajam, jadilah iblis yang paling ditakuti... agar tidak ada lagi yang bisa merampas apa yang kau cintai."
Zing!
Cahaya biru itu padam sepenuhnya. Pondok kembali ke dalam keheningan yang menyesakkan. Gu Sheng tetap berlutut, menatap meja kayu yang kini hanya menyisakan sebuah kotak terbuka. Di dalam kotak itu, ia melihat gulungan perkamen tua yang disebutkan ayahnya.
Ia mengambil perkamen itu dengan tangan gemetar. Saat ia membukanya, deretan huruf kuno yang memancarkan aura dingin dan berat memenuhi pandangannya. Ini bukan sekadar teknik bela diri; ini adalah manual untuk mengendalikan energi yang mampu menghancurkan fondasi dunia.
“Bocah, ayahmu benar-benar pria yang gila,” kaisar iblis bergumam pelan, nada bicaranya kini mengandung sedikit rasa hormat. “Mencuri teknik Sembilan Gerbang Penghancur Bintang dari Alam Atas? Itu adalah tindakan yang bahkan aku pun harus berpikir dua kali sebelum melakukannya. Dengan teknik ini, kau bisa menutupi Dantian Penelan Langit-mu dari deteksi praktisi tingkat tinggi. Kau bisa menyamar sebagai kultivator biasa sementara di dalamnya kau tetaplah seekor predator.”
Gu Sheng menarik napas panjang. Ia perlahan bangkit berdiri. Kesedihan di matanya telah menghilang, digantikan oleh dinginnya es abadi yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Ia tidak lagi hanya memiliki motif balas dendam terhadap Keluarga Mu. Sekarang, ia memiliki tujuan yang lebih besar: Menemukan ayahnya, menyelamatkan ibunya, dan menghancurkan siapapun yang berani mengusik keluarganya, bahkan jika itu adalah para Dewa di Alam Atas.
"Ayah... aku mengerti sekarang," bisik Gu Sheng. "Terima kasih atas warisanmu. Aku akan menjadi pedang yang kau inginkan. Aku akan menjadi iblis yang akan menelan setiap cahaya di dunia ini sampai kau dan Ibu bisa kembali ke sisiku."
Gu Sheng mengambil kotak kayu itu, menyembunyikannya di balik jubah hitamnya. Ia kemudian berjalan keluar dari pondok kayu yang sederhana itu.
Di luar, Penatua Agung Gu Yun masih berdiri mematung di bawah pohon bambu yang bergoyang. Ia menoleh saat mendengar suara langkah kaki Gu Sheng. Ia terkejut melihat perubahan pada diri cucunya. Aura Gu Sheng kini terasa lebih terkendali, lebih tenang, namun jauh lebih berbahaya, seperti pedang yang telah dimasukkan kembali ke dalam sarungnya namun siap untuk menebas apa saja dalam sekejap.
"Kau sudah melihatnya, Sheng-er?" tanya Gu Yun lembut.
"Iya, Kakek Buyut," jawab Gu Sheng. Ia tidak lagi menggunakan nada bicara yang penuh kebencian. "Terima kasih telah menjaganya selama ini."
Gu Yun mengangguk, ia merasa lega melihat Gu Sheng sedikit lebih tenang. "Lalu, apa rencanamu sekarang? Tinggal tiga hari lagi menuju turnamen. Keluarga Mu dan Sekte Pedang Langit telah menyiapkan panggung yang sangat besar untuk menghancurkanmu secara publik."
Gu Sheng menatap ke arah Kota Azure di kejauhan, di mana bangunan-bangunan megah tampak seperti taring-taring predator di bawah sinar matahari. "Biarkan mereka menyiapkan panggungnya. Aku butuh penonton yang banyak untuk melihat bagaimana 'Matahari' mereka dipadamkan selamanya."
"Aku akan kembali ke Paviliun Seribu Harta. Aku butuh tiga hari ini untuk menguasai teknik baru yang ditinggalkan ayahku. Jangan biarkan siapapun menggangguku, Kakek Buyut. Bahkan jika kaisar sendiri yang datang, katakan padanya untuk menunggu di neraka."
Gu Yun terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil, sebuah tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Hahaha! Baiklah! Aku akan menjagamu dari balik bayang-bayang. Tiga hari ini, tidak akan ada satu ekor lalat pun yang bisa terbang di dekat tempat meditasimu tanpa izinku."
Gu Sheng mengangguk singkat, lalu ia melesat pergi menembus hutan bambu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Gerakannya kini jauh lebih halus, hampir tidak meninggalkan jejak di tanah, tanda bahwa ia mulai memahami cara menyatukan energi fisiknya dengan Qi hitamnya secara sempurna.
Sepanjang perjalanan kembali ke kota, pikiran Gu Sheng terus berputar pada kata-kata ayahnya. “Tulang Dewa adalah segel.”
Ia menyentuh bekas luka di dadanya yang kini sudah mengeras. Mu Ruoxue pikir dia telah mengambil hartanya yang paling berharga. Dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya telah membebaskan monster yang paling mengerikan dalam sejarah Benua Azure.
"Mu Ruoxue... nikmatilah sisa-sisa energi dari tulang itu selama kau bisa," gumam Gu Sheng di tengah larinya. "Karena saat aku mengambilnya kembali nanti, aku akan menunjukkan padamu bahwa kekuatan sejati tidak datang dari tulang curian... melainkan dari lubang hitam yang tak berdasar di dalam jiwaku."
Matahari mulai condong ke barat, memberikan bayangan panjang yang seolah-olah sedang menelan Kota Azure. Tiga hari ke depan akan menjadi kesunyian yang paling mencekam bagi kota itu, sebelum akhirnya meledak dalam badai darah yang akan mengubah sejarah benua selamanya.
Setiap detik yang berlalu adalah satu ayunan lagi bagi pedang Penebas Dosa di dalam batin Gu Sheng. Dan saat ia muncul kembali nanti, dunia tidak akan melihat lagi seorang pemuda yang hancur... mereka akan melihat kelahiran kembali sang Iblis Penelan Langit.