Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantai Dosa, Target Berikutnya
[POV: VERONICA]
"Ketika kejahatan telah menjadi cara hidup, ketika darah dan air mata telah menjadi bahan bakar kekuasaan, maka satu-satunya hukum yang berlaku adalah menghapus siapa pun yang berani menjadi penghalang. Arkan yang polos dan cerdas itu tanpa sadar telah melangkah terlalu dalam ke dalam mulut harimau. Dan kini, harimau itu sudah siap menerkam."
...****************...
Kami pikir sistem kami sudah sempurna. Kami pikir dinding yang kami bangun sudah setebal benteng kota.
Tapi kami lupa satu hal. Di rumah ini, tumbuh seorang anak laki-laki yang memiliki otak jenius dan ketelitian yang luar biasa.
Anak itu bernama Arkan.
Waktu berlalu, Arkan memasuki usia dewasa. Dia sedang menyusun skripsi sementara menjalani pelatihan kerja atau magang di perusahaan keluarga, Abraham Group.
Awalnya, aku tidak menganggapnya bahaya. Lagipula dia hanya anak magang. Hanya anak kuliahan yang ingin mencari data untuk tugas sekolah. Biarkan saja, pikirku. Lagipula, dia anak yang rajin, penurut, dan selalu terlihat polos.
Aku bahkan menyuruh bagian personalia untuk menempatkan dia di bagian yang "aman". Aku menempatkan dia membantu di bagian manajemen data dan arsip keuangan.
"Bekerja lah dengan baik, Nak. Bantu para senior menyusun data. Itu pekerjaan yang cocok untukmu yang teliti," kataku padanya dengan senyum manis.
Aku mengira dia hanya akan mengetik, menyalin angka, atau mengarsipkan berkas biasa.
Tapi aku salah besar.
Aku lupa bahwa Arkan memiliki darah Abraham dan darah Rizna. Dia mewarisi kecerdasan luar biasa dari keduanya. Matanya tajam, logikanya dingin, dan ingatannya sangat kuat.
Beberapa minggu pertama, semuanya terlihat normal. Arkan bekerja dengan sangat giat. Dia tidak pernah mengeluh, dia datang lebih awal, pulang paling akhir. Dia disukai oleh semua karyawan karena keramahannya dan kepintarannya. Bahkan para manajer senior pun mempercayainya sepenuhnya untuk memegang data-data penting.
"Anak itu luar biasa, Nyonya. Dia bisa menguasai sistem kami dalam waktu singkat. Dia bahkan bisa menemukan kesalahan-kesalahan kecil yang kami lewatkan," lapor salah satu staf padaku.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Bangga? Sedikit. Tapi lebih merasa aman karena mengira dia hanya anak baik yang tahu tempatnya.
Namun, aku tidak tahu bahwa di balik kerajinannya itu, Arkan sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.
Suatu hari, saat sedang menyusun laporan keuangan tahunan yang diminta oleh atasannya, jari-jemari Arkan berhenti bergerak di atas keyboard. Matanya menyipit menatap layar monitor.
Ada sesuatu yang mengganjal.
Di antara tumpukan angka-angka yang rumit itu, dia melihat pola yang aneh. Ada aliran dana yang keluar dalam jumlah sangat besar, namun tujuan rekeningnya tidak jelas. Ada transfer yang bolak-balik antar perusahaan cangkang yang namanya terdengar asing.
Bagi orang biasa, itu mungkin hanya terlihat seperti transaksi bisnis yang rumit. Tapi bagi otak Arkan yang jenius... itu bau busuk.
"Ini aneh..." gumam Arkan pelan. "Kenapa jumlahnya banyak sekali? Kenapa alurnya memutar begitu jauh? Dan kenapa nama perusahaan ini tidak tercatat dalam daftar anak usaha resmi?"
Rasa penasarannya mulai tumbuh. Sebagai anak yang jujur dan bertanggung jawab, dia merasa wajib untuk memastikan data yang dia pegang itu benar dan valid.
Dia mulai mendalaminya.
Dengan izin kerja yang dia miliki, dia mulai menelusuri arsip-arsip lama. Dia membandingkan data tahun ini dengan data lima tahun lalu. Dan semakin dia menggali, semakin besar lubang hitam yang dia temukan.
Dia menemukan jejak-jejak pencucian uang. Dia melihat bagaimana uang kotor dimasukkan, dicampur, dan dikeluarkan kembali menjadi uang bersih. Dia melihat kode-kode rahasia yang digunakan Luna Valencia untuk mengatur segalanya.
Dan yang paling mengejutkan... dia menemukan bahwa semua aliran dana ini pada akhirnya bermuara pada satu pusat kendali yang sangat tinggi.
Bukan pada manajer biasa. Bukan pada staf keuangan.
Tapi pada nama inisial V.
Dan siapa lagi di perusahaan ini yang memiliki wewenang setinggi itu selain Veronica, sang Nyonya Besar?
Jantung Arkan berdegup kencang. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Wanita yang dia panggil Ibu, wanita yang dianggap malaikat pelindung oleh semua orang... ternyata adalah otak di balik bisnis kotor ini?
Dia menemukan buktinya. Dia menemukan catatan transaksi, dia menemukan rekaman perintah, dan dia menemukan hubungan antara bisnis ini dengan orang-orang berbahaya di luar sana.
Arkan tidak berani berbicara dulu. Dia menyimpan semua bukti itu dengan hati-hati. Dia menyalin data itu ke dalam penyimpanan pribadi. Dia tahu, dia baru saja menemukan hantu terbesar di dalam lemari keluarga ini.
Sementara itu, aku masih merasa tenang. Aku masih berpikir bahwa Arkan hanyalah anak kecil yang sedang asyik bermain dengan angka-angka. Aku bahkan sering memujinya agar dia semakin percaya diri.
Sayangnya, kesombonganku membuatku tidak menyadarinya saat itu.
Suatu hari, laporan dari Luna datang padaku dengan nada yang sedikit tergesa-gesa.
"Nyonya, ada yang aneh dengan Arkan," kata Luna saat melapor di ruang kerokanku, wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak sedikit waspada. "Anak itu terlalu teliti. Dia mulai mempertanyakan beberapa aliran dana yang masuk ke perusahaan cangkang kita. Dia bertanya tentang asal usul aset, dia membandingkan data tahun lalu dengan data sekarang."
Tanganku yang sedang memegang cangkir teh sedikit mengencang cengkeramannya. Namun wajahku tetap tenang, bahkan tersenyum santai.
"Oh? Benarkah? Apa dia curiga?" tanyaku santai.
"Belum tahu pasti, Nyonya," jawab Luna. "Tapi dia mulai mendalami. Dia meminta akses ke arsip lama yang jarang sekali dibuka orang. Dia mencocokkan setiap angka, setiap kode transaksi. Dan yang paling bahaya... otaknya bekerja sangat cepat. Dia mulai melihat pola yang kami sembunyikan."
Aku terdiam sejenak. Di dalam dadaku, amarah mulai memuncak, bercampur dengan rasa kesal yang luar biasa.
"Dasar anak sial..." gerutuku dalam hati. "Sudah aku beri hidup nyaman, sudah aku perlakukan seperti anak sendiri, tapi justru dia yang berani mengorek lubang sampah di belakangku?"
Arkan tahu segalanya sekarang. Anak rajin dan cerdas itu telah membuka pintu nerakaku.
Semakin lama aku memikirkannya, semakin dingin rasanya punggungku.
Ini bukan lagi soal anak magang yang ingin tahu. Ini soal nyawa. Ini soal kebebasanku.
Jika Arkan berhasil menyusun bukti itu menjadi satu kesatuan yang utuh... maka selesailah segalanya.
- Bisnis-bisnis gelap kami akan terbongkar.
- Nama Abraham Group akan hancur lebur.
- Aku, Luna, dan terutama Hengki... kami semua akan masuk penjara, atau bahkan bisa dihukum berat karena apa yang kami lakukan.
Dan yang paling membuatku muak... Arkan melakukannya bukan karena dendam, bukan karena ingin merebut kekuasaan, tapi karena dia dengan bodohnya punya prinsip kejujuran! Dia merasa itu salah, dia merasa itu tidak benar, dan dia merasa wajib memperbaikinya!
"Kau pikir kau ini pahlawan, Arkan?" bisikku penuh kebencian. "Kau pikir dengan kejujuranmu itu kau bisa mengubah dunia? Kau baru saja menandai kematianmu sendiri, Nak."
Aku memanggil Hengki dan Luna ke ruanganku malam itu juga. Wajah mereka tampak tegang. Mereka tahu situasinya sudah gawat.
"Dengar baik-baik kalian berdua," ucapku dengan nada rendah dan mematikan, membuat suhu ruangan itu seketika turun drastis. "Arkan sudah menemukan sesuatu. Dia tidak lagi sekadar bertanya-tanya. Dia sedang mengumpulkan bukti. Dia sedang menggali kubur untuk kita semua."