NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Janda muda

"Finally, I can stay away from him"

(Akhirnya, aku bisa menjauhinya)

--Hanum Arsyila Putri

  "Dengan ini, Majelis Hakim menyatakan bahwa perkawinan antara Pemohon dan Termohon putus karena talak sejak detik ini. Silakan para pihak menandatangani berita acara sidang."

Setelah persidangan resmi selesai, Hanum segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin melihat Bramasta lagi. Segera dia memesan ojek dan pulang ke rumah.

Sedangkan Bramasta yang mencari keberadaan Hanum hanya bisa terdiam saat melihat Hanum telah pergi dengan ojeknya.

Dalam hati, Hanum bersyukur karena semua beban pikirannya sebagai istri yang tak dicintai itu telah usai. Terdengar suara notifikasi dari dalam tasnya. Tapi dia memilih untuk melihatnya saat sampai di rumah.

"Ini pak uangnya," Hanum memberikan selembar uang biru kepada Tukang ojek motor itu.

"Waduh ada uang kecil gak, Mbak?" Tampak dia keheranan.

"Gapapa, Pak. Ambil buat bapak saja," ucap Hanum sambil tersenyum.

"Terimakasih banyak ya, Mbak. Semoga rezekinya lancar selalu..," ucap Tukang ojek itu sebelum akhirnya pergi.

"Assalamualaikum!" Hanum mengetuk pintu dan akhirnya dibuka oleh Bunda.

"Waalaikumussalam, gimana sidangnya tadi? Lancar?"

Hanum tersenyum lebar. "Alhamdulillah, Bunda. Lancar."

Bunda tersenyum. "Tetap semangat ya sayang. Bunda yakin kamu pasti kuat!"

"Kita sama-sama janda kalau gitu," kata Bunda lagi menghibur Hanum. "Bedanya, bunda janda tua. Kalau kamu janda muda," sambungnya.

Hanum balas tertawa. Benar sekali apa yang dikatakan Bunda.

"Ya sudah, daripada kamu mikirin sidang tadi mending kamu bantuin Bunda bikin kue," ajak Bunda kemudian.

Hanum terlihat senang. "Wah, ayo Bun! Hanum udah lama gak bikin kue nih," katanya lagi.

Hanum mengeluarkan ponselnya sejenak. Dia melihat pesan dari Bramasta.

"Kamu beneran hamil?"

Dengan raut wajah malas, Hanum mengetik.

"Gak."

Lalu dia memblokir nomor Bramasta.

"Jangan lupa masukin gulanya ya, jangan kebanyakan tapi," kali ini Hanum disibukkan dengan adonan kue yang sedang dia mixer. Dibantu oleh Bi Inah yang tampak sibuk berceloteh, sesekali tertawa bersama Hanum dan Bunda.

"Bikin nastar yuk!" ucap Bunda lagi.

Akhirnya, kue bolu, nastar, semprit coklat, keju dan kue juadah dibuat oleh mereka. Sungguh menyenangkan rasanya membuat kue bareng-bareng apalagi kalau sudah diselingi dengan pembicaraan sesama perempuan.

Hingga pukul empat sore, semuanya telah usai. Hanum izin menuju kamarnya untuk salat asar. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di kasur untuk beberapa saat.

Menatap langit-langit kamar, Hanum menyandang statusnya yang telah menjadi janda. Lucu sekali rasanya, bahkan dia tidak pernah menduga kalau akhirnya dia akan menjadi janda.

"Ih, ngapain mikir itu sih? Biarin aja lah toh aku juga belum punya anak," pikir Hanum. Kehamilannya kemarin sepertinya memang salah. Tespek itu kemungkinan besar milih Vanya.

"Aku kangen butik," Hanum teringat dengan butik nya. "Semoga saja aku bisa kembali kesana lagi."

Tanpa disadari, dia mulai mengantuk hingga akhirnya dia tertidur lelap hingga pukul tujuh malam.

"ASTAGHFIRULLAH!" Hanum tak percaya dengan jam dinding yang ada di kamarnya. Ini error gak sih? Dia langsung pergi ke kamar mandi dan segera mengambil wudu. Hampir saja waktu untuk menunaikan salat magrib dia lupakan.

Dengan langkah cepat, Hanum segera pergi ke dapur untuk membantu Bi Inah. Tetapi tidak ada siapa pun di rumah itu.

"Kemana semua orang?" ucapnya pelan. Suasana rumah itu juga sunyi dan ruangannya redup.

"Bun.., Bunda. Bi..," panggil Hanum.

Hingga tiba-tiba lampu ruangan menyala seketika. Disambut oleh ucapan dan doa dari Bunda dan Bi Inah yang kini membawa kue tar hasil pekerjaan mereka tadi. Sementara Devan membawakan tas-tas belanjaan untuk Hanum.

"Kita rayain perceraian kamu ya sayang," ucap Bunda sambil tersenyum lebar.

"Gapapa, Neng. Intinya Eneng harus tetep semangat! Ayo ayo!" Bi Inah tampak berjoget Velocity sampai akhirnya membuat mereka tertawa.

Sungguh tidak Hanum sangka suasana kehangatan ini akan terjadi di kehidupan nya.

"Ini buat kamu, Hanum," ucap Devan sambil menyerahkan tas-tas belanjaan.

"Semuanya?" Hanum seolah tak percaya.

Devan mengangguk. "Ya."

Hanum tersenyum, mengambil nya sambil mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Bunda, Bi Inah dan juga Devan. Sampai akhirnya, air matanya menetes.

"Terimakasih banyak," ucapnya dengan penuh haru.

Bunda dan Bi Inah saling merangkul Hanum, Devan merasakan ketenangan yang ada di dalam rumahnya saat ini. Suasana yang sudah lama tidak pernah dia dapatkan semenjak kepergian sang ayah.

"Ya sudah, ayo kita makan malam dulu. Nanti kita unboxing bareng-bareng. Eh ya, buat Bunda sama Bi Inah ada gak, Nak?" tanya Bunda pada Devan..

Devan tersenyum. "Ada kok, Bun," katanya. Bi Inah tertawa kecil.

"Wah itu tas nya cantik sekali," kata Bunda saat Hanum membuka isi totebag yang diberikan oleh Devan tadi.

"Bunda jadi inget, dulu pas suami bunda ngasih hadiah suka bawa barang-barang branded Mulu. Kebanyakan tas, itu sampe berjejeran gitu di lemari sampai akhirnya Bunda bilangin udah jangan beli tas Mulu. Jadilah sebagian Bunda jualin ke teman-teman sama kasih Bi Inah beberapa."

"Oh iya, Bun. Devan sukanya dibeliin apa?" tanya Hanum.

Bunda tersenyum. "Kenapa? Kamu mau beliin dia hadiah ya?"

"Kapan-kapan sih, Bun," jawab Hanum.

"Devan ya.., kadang Bunda bingung sama dia. Pernah suatu hari Bunda kasih dia sepeda, ujung-ujungnya dia simpan di gudang aja. Milih jalan kaki atau jogging. Terus Bunda kasih motor pun ujung-ujungnya di gudang. Jarang banget dipake," cerita Bunda lagi.

"Eh, Devan punya motor ya Bun?"

"Iya, dia punya tuh motor ninja padahal. Tapi jarang dia pake, paling sekali dua kali aja. Seringnya naik mobil sampe sekarang kalo mau bepergian ke kantor atau sekedar jalan-jalan keluarga."

Hanum mengangguk-angguk. "Jadi bingung mau kasih apa," katanya.

Bunda tertawa melihat reaksi kebingungan Hanum. "Ya sudah, kamu bawa hadiahnya ke kamar ya. Habis itu istirahat, udah jam setengah sepuluh juga ini."

"Bunda, Hanum mau bilang sesuatu..," ucap Hanum lagi.

"Apa itu?"

"Hanum mau cari pekerjaan besok. Menurut Bunda bagaimana? Kalau ada hal yang tidak mengenakkan, entah itu karena Hanum masih di sini, silakan saja Bunda kasih tahu Hanum supaya-"

"Ga ada kok, sayang. Kamu diterima lebih di rumah ini. Bunda sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Dan Bunda juga ingatkan, kamu jangan pernah merasa tidak enak atas bantuan yang sudah diberikan oleh orang lain. Cukup terima saja dan jangan ungkit lagi. Paham?"

Hanum mengangguk. "Terimakasih ya, Bun. Kalau gitu Hanum ke kamar dulu," kata Hanum tersenyum.

Dia membawa hadiahnya menuju kamar.

"Ngapain kamu diri disitu?"

Devan yang menyimak mereka berdua sedari tadi pun terkejut.

"Makanya.., kesempatan ini jangan kamu sia-siakan ya," ucap Bunda lagi.

"Tapi beri dia waktu dulu. Setelah itu kamu ambil hatinya."

"Bun.." Devan terlihat malu.

"Kamu mah malu-malu kucing gitu ah, udah bunda mau istirahat dulu. Jangan begadang lagi kamu," ucapnya lagi.

Devan mengangguk setelah rambutnya acak-acakan karena Bunda tadi.

Beri dia waktu, lalu ambil hatinya.

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!