Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riuh rendah.
Papanya menelan makanan yang sedang dikunyahnya, baru menjawab dengan lambat, “ iyaa...mama nanti juga ke Eyang Ling.”, Dan kemudian Damien menyuapkan makanannya ke mulutnya dengan raut wajah datar.
Bayu diam kembali, lalu membalikkan wajah dan badannya langsung menuju ke arah tangga, yang diikuti Nunuk dengan bergegas.
Setelah dirasa Bayu sudah benar-benar naik ke atas , Damien berhenti menyuapkan makanannya. Dia diam sambil mengaduk-aduk makanannya sendiri, tanpa sadar... persis seperti yang dilakukan Morin sebelumnya.
Morin yang menyadari itu pun lalu berdiri menghampiri papanya, Damien, “Nanti kita berangkat habis maghrib atau sekarang, pah ??” Tanya Morin pelan.
Seolah baru tersadar, Damie menoleh ke arah Morin dengan sedikit terkejut. “ Sekarang aja, Morin siap-siap juga ya “. Kata papanya sambil tersenyum.
Morin Cuma mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja makan.
Bu Sudi tetap diam disana, hendak membereskan sisa peralatan dan makanan yang ada di meja makan.
Damien menatap piring makannya. Masih tersisa salad dan chickenwings 1 potong lagi, namun selera makannya telah hilang.
Akhirnya dia hanya menggapai gelas berisi air putih di samping piring makannya, meminum nya beberapa teguk, lalu berkata kepada Bu Sudi. “ makanannya ditaruh di lemari es aja, Bu... biar salad nya tetap segar. Ini jangan dibuang ya, taruh juga di lemari es “ perintah Damien sambil menunjuk ke piring makannya.
Bu Sudi mengiyakan lalu dengan sigap mulai membereskan meja makan, sementara Damien berdiri dan pergi menjauhi ruang makan untuk menuju ke arah kamar kerjanya.
Damien mulai bersiap-siap untuk pergi kerumah mertuanya, Aling. Sambil berganti baju dengan kaus berkerah lengan pendek, dia juga memutuskan untuk memakai celana jeans berwarna biru dongker ,yang terlipat di laci khusus tumpukan celana-celananya , bergabung dengan beberapa celana kerja nya yang berbahan drill halus dan berwarna hitam, juga celana panjang biasa berwarna krem, atau putih dengan bahan dasar katun tebal.
Dia meneliti lagi celana jeans itu, celana jeans pertama yang dia beli dengan warna itu.
Sudah bertahun-tahun lamanya celana itu dipergunakan, jarang ia pakai, hanya disaat tertentu , terutama saat dia merasa kesepian. Biru dongker bukan warna favorit nya, walaupun juga bukan warna yang dia tidak sukai.
Namun warna itu merujuk ke sesuatu yang khusus dalam ingatannya.
Bukan karena bahan jeans nya yang membuat dia memakainya...
Dia meneliti celana jeans itu dengan merenung. Dia sadar alasan utama membeli celana jeans berwarna itu. Namun kemudian buru-buru menepis pikiran nya yang mulai menerawang kembali . Dia harus berkonsentrasi sekarang, untuk perjalanan menemani anak-anak nya ke rumah mertuanya.
Dia dengan cepat memakai celana jeans itu, lalu mencari sepatu sendal berwarna hitam nya, Sekaligus mengambil dompet, hape dan juga kunci mobilnya.
Dalam beberapa menit dia sudah siap, lalu dia keluar dari kamar kerjanya.
Bayu terdengar sedikit gaduh bertanya kepada Nunuk mengenai hal-hal yang kurang jelas terdengar, sementara Morin tampak sudah berjalan menuruni tangga sambil memegang gagang stroller bag nya dengan hati-hati, di temani bu Sudi yang juga membantu memegang Stroller bag tersebut.
Bayu tampak sudah membawa tas pakaiannya, ketika Damien melihat ke Nunuk dengan alis berkerut, “ kamu juga sudah siap bawa barang kamu, ga ..Nuk ?”
Nunuk tampak sedikit kaget. “Oh..saya ikut juga menginap, pak ?”
“Iyalah, kamu juga harus menginap disana ... temani anak-anak, ngapain kamu disini, tapi anak-anak di rumah Eyang nya ??” Jawab Damien sedikit ketus.
Nunuk tampak sedikit kikuk, dan buru-buru membantu Bayu terlebih dahulu turun dari tangga, sebelum kembali bergegas keatas menuju kamar nya untuk bersiap-siap.
Morin sudah sampai di dasar lantai pertama, lalu sambil menyeret tas nya dia berseru kepada papanya, “ pintu mobil udah dibuka atau belum, Pah ?”
“Belum, sebentar..” papanya menjawab sambil mengeluarkan kunci mobil dan memencet tombol unlock di remote mobil yang terpasang di kunci mobil.
Dari arah garasi mobil terdengar bunyi elektrik dua kali, menunjukkan pintu-pintu mobil telah terbuka kuncinya.
Morin langsung berjalan cepat menuju mobil papanya yang ada di garasi, lalu membuka pintu bagasi belakang mobil papanya, Sebuah sedan Hatchback berwarna Abu-abu tua keluaran pabrik merk dari Jepang.
Dia menaruh tasnya di bagasi belakang, Dan setelah menutup pintu bagasi nya dengan tepat ia lalu langsung berjalan ke depan kursi penumpang disamping papanya.
Dia tidak suka duduk di kursi penumpang belakang supir, lebih suka di samping supir nya. Enak rasanya, sambil melihat pemandangan diluar mobil saat melaju, Apalagi saat hujan, lebih menyenangkan.
Biasanya Mama ada di depan duduk itu, tapi terkadang papanya sendiri meminta Morin untuk pindah di tempat duduk itu, sementara mamanya mengalah dengan pindah ke kursi penumpang di belakangnya bersama dengan Bayu.
Tidak lama setelah Morin duduk di kursi samping pengemudi, sudah terdengar derap langkah kaki Bayu yang berlari-lari kecil yang kemudian langsung membuka pintu mobil di belakang Morin, dan sedikit guncangan tidak teratur yang terasa di dalam mobil saat Bayu dengan cepat masuk kedalam nya sekaligus membuka ransel yang penuh berisi baju dan barang-barang yang dia bawa di dalam tas itu dari bahunya.
“Kaka belum shalat yaaaa...??” tiba-tiba Bayu bertanya dengan nada meledek kepada Morin, “Bawel.. !! Nanti di rumah Eyang sekalian !” Jawab Morin sedikit kesal.
“Iyalah, aku juga mo shalatnya di eyang aja “, balas Bayu santai.
Lalu dari luar mobil tampak Damien berjalan dengan cepat menuju ke arah mobil, sementara Bu Sudi terlihat bergegas berjalan ke arah pintu garasi mobil untuk membuka, sekaligus juga membuka pagar besi luar rumah mereka.
Damien masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin mobilnya.
Damien membuka kaca mobil disamping tempat duduk nya, lalu berseru kepada bu Sudi, “ Bu... panggil Nunuk secepatnya kesini, kita sudah siap !” kata Damien sedikit kesal.
Bu Sudi mengangguk sambil kembali masuk ke arah rumah tepat ketika Nunuk muncul sambil membawa tas berbentuk Tote bag, yang terlihat penuh berisi, sedikit terburu-buru untuk masuk kedalam mobil dan duduk disamping Bayu.
Bayu menggeser sedikit badannya, sambil mengangkat tas ransel nya . Mbak Nunuk langsung memegang ransel Bayu, dan mengatur nya di samping kakinya agar kursi mobil yang mereka berdua duduki terasa lebih lapang.
Mobil segera bergerak mundur pelan-pelan keluar dari mobil, san setelahnya berputar dengan sigap untuk kemudian mulai melaju ke jalan raya, arah rumah Eyang Ling berada.