NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33 Di pojokkan malah di sembur.

Akhirnya acara makan malam yang disiapkan untuk mereka sudah berakhir. Walau suasana itu terasa begitu canggung, tetapi Ayana merasa kenyang. Saat ini Ayana dan Emir tampak berjalan di pinggir trotoar.

Entah apa yang membuat keduanya cukup jenuh dan tiba-tiba Emir ingin menghirup udara segar, memilih untuk tidak kembali ke kamar dan memilih menikmati udara malam terlebih dahulu.

Di manapun keduanya tetap saja hanya diam tanpa mengobrol. Emir seketika menghentikan langkahnya, ketika menyadari bahwa sekretarisnya yang berjalan di sebelahnya itu sudah tidak berdampingan dengan Emir menoleh ke belakang.

Ayana ternyata sedang mengambil foto menara Eiffel dari kejauhan. Senyum di wajah cantik itu terlihat sangat manis, seperti ada kepuasan tersendiri baginya untuk melakukan hal itu. Ayana menyadari ada sepasang mata yang menatap dirinya.

"Maaf. Pak!" Ayana dengan cepat kembali Emir.

"Untuk apa mengambil foto dari jauh seperti itu? kenapa tidak langsung saja ke menara Eiffel?" tanya Emir.

"Langsung! Memang tempatnya di mana?" tanya Ayana.

"Ayo!" ajak Emir yang pergi terlebih dahulu.

Ayana bahkan tidak sempat memanggil yang membuat Emir sudah berjalan dengan sangat cepat yang kemudian di Ayana.

Dari pada hanya mengambil foto menara Eiffel dari pinggir jalan dengan jarak yang cukup jauh. Emir ternyata mengajak sekretarisnya itu untuk langsung ke tempat tujuan tersebut.

Ayana sampai tidak bisa berkata-kata dengan menutup mulutnya menggunakan satu tangan, kepalanya terangkat melihat bagaimana tingginya menara Eiffel yang sangat indah dipenuhi dengan lampu-lampu, di bawahnya sangat banyak orang yang mengabadikan momen dan sudah pasti banyak berpasang-pasangan.

Paris kota yang dijuluki kota romantis dan tidak banyak pasangan yang mengabadikan momen mereka di menara Eiffel tersebut.

Ayana kembali mengambil ponselnya dan memotret secara jelas menara yang termasuk tujuh keajaiban dunia tersebut.

"Masyaallah indah sekali," gumam Ayana dengan senyumnya yang semakin lebar.

Emir membiarkan sekretarisnya itu menikmati keindahan dari tatapan matanya, terserah sekretarisnya itu ingin melakukan apapun.

Emir hanya mengambil tempat duduk di salah satu bangku yang ada di sana dan sementara Ayana memiliki kesibukannya sendiri dengan mengambil beberapa foto selfie, Ayana sepertinya melupakan bahwa dia ke tempat itu diantar oleh pimpinannya, sehingga tidak terlihat jaim Ayana.

Ting...

Emir mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya, notif pesan masuk yang ternyata dari Tiara.

..."Sayang aku ingin teleponan dengan kamu, kamu tidak sibuk. Kan?" tanya Tiara memberi pesan terlebih dahulu....

Emir menghela nafas dan selang beberapa detik ponsel tersebut berdering, Tiara benar-benar menghubunginya dan ingin berbicara panjang dengan kekasihnya itu.

Tetapi Emir ternyata tidak mengangkat dan justru mematikan ponsel tersebut, Emir menghela nafas, semenjak menikah dengan Ayana, banyak jarak yang mulai dia lakukan dengan Tiara, mungkin Emir sudah lelah selama ini hidup dalam bayang-bayangan Tiara.

Rasa bersalah membuat wanita itu lumpuh total, kehilangan rahim, tetapi juga logikanya bermain maka Emir merasa apapun yang dilakukan akan sia-sia.

Emir juga menyadari bahwa dia telah menikah, bisikan yang selalu muncul dalam pikirannya untuk menghentikan hubungannya dengan Tiara belum bisa dia putuskan, karena sudah pasti banyak pertimbangan, Emir selalu dipenuhi dengan kebimbangan, dan tidak bisa mengambil keputusan.

*******

Pagi yang cerah akhirnya membuat pasangan itu keluar kembali dari hotel, mereka sudah dijemput oleh sopir yang akan mengantarkan mereka untuk melakukan pertemuan.

Ayana terlihat cantik dan modis menggunakan rok berwarna putih, dipadukan dengan atasan berwarna pink senada dengan warna hijabnya.

Penampilannya sangat modis dan tetap elegan, Ayana memiliki daya tarik sendiri meski tidak harus berpakaian terbuka. Karena sedang musim dingin Ayana tidak lupa memadukan dengan mantel berwarna coklat sampai di bawah lutut.

Keduanya sama-sama duduk di bangku belakang, dengan jarak yang sangat dekat sampai bahu mereka saling bersentuhan. Emir juga kelihatan begitu tampan menggunakan setelan berjas dan juga tidak lupa menggunakan mantel.

Akhirnya pasangan itu tiba juga di salah satu gedung yang merupakan pertemuan dengan beberapa rekan bisnis dari perusahaan besar. Sudah Pasti termasuk Andhika.

Ketika tiba di depan gedung tersebut Emir melepas mantelnya dan menyerahkan kepada Ayana yang kemudian berjalan terlebih dahulu dengan pintu kaca yang sudah berputar menyambut kedua orang tersebut.

"Ayana!" keduanya harus menghentikan langkah ketika berhadapan Andhika dan sekretarisnya yang ternyata datang lebih cepat.

Mata Lastri tertuju pada Ayana, masih mengingat jawaban wanita tersebut saat dia mencoba untuk menanyakan tempat tinggal Ayana.

"Tuan Emir!" Andhika menyapa Emir dengan sangat ramah membuat Emir menganggukkan kepala.

"Hmmm, Ayana kamu sangat cantik hari ini, Saya berharap setelah meeting selesai nanti kita bisa makan siang bersama," ucap Andhika.

Mendengar sekretarisnya di puji langsung oleh pria lain di depannya membuat Emir tampak semakin kesal.

"Untuk itu nanti saya akan tanyakan sendiri pada pak Emir," jawab Ayana memang tidak bisa memutuskan sendiri jika hal itu tidak berkaitan dengan pekerjaan.

"Tuan Emir, pasti tidak keberatan bukan?" tanya Andhika.

"Tidak masalah, jika hanya sekedar makan bersama," sahut Emir dengan tersenyum.

"Baiklah, kita bisa melanjutkan pertemuan pada saat nanti makan," sahut Andhika.

"Hmmm. Pak Emir, boleh saya meminta langsung dokumen resminya, karena harus langsung diserahkan," ucap Lastri.

"Dokumen apa maksud kamu?" tanya Emir.

"Hmmmm, sepertinya ada kesalahpahaman. Astaga saya lupa ternyata tidak menyampaikan kepada bapak, kemarin saya menghubungi Ayana dan ingin bertemu dengan Bapak membicarakan semuanya secara langsung, saya meminta alamat Hotel Bapak dan Ayana tidak menyerahkan nya jelas Lastri secara tidak langsung menyalahkan Ayana.

"Maaf. Pak, Saya tidak tahu jika tujuan Mbak, Lastri untuk itu," sahut Ayana merasa bersalah.

"Ayana kamu terlalu berpikiran buruk kepada saya dan padahal tujuan saya hanyalah untuk pekerjaan, tetapi kamu justru mempersulit saya untuk berkomunikasi dengan atasan kamu dan akhirnya terjadi masalah seperti ini," sahut Lastri.

Emir menghela nafas dengan merapikan jasnya.

"Nona Lastri untuk pembicaraan bisnis dan adanya dokumen tambahan dalam pertemuan hari ini seharusnya bisa langsung dibicarakan dengan sekretaris saya dan bukan dengan saya. Untuk apa saya memiliki sekretaris jika ujung-ujungnya harus saya yang mengangkat telepon sekretaris sekretaris klien, dan untuk masalah tempat tinggal yang tidak diberitahu, menurut saya sekretaris saya sudah melakukan hal yang tepat karena saya memang tidak menyukai privasi saya diketahui orang lain!" tegas Emir membela Ayana.

"Tuan Andhika, tolong lain kali kedepannya sekretaris Anda untuk lebih berkomunikasi dengan sekretaris saya agar tidak terjadi hal seperti ini, selama saya menjadi pimpinan di perusahaan, saya tidak pernah berkomunikasi dengan sekretaris pelayan dan semua selalu melalui sekretaris saya dan apapun yang dikatakan sekretaris saya yang artinya itu merupakan persetujuan dari saya!" tegas Emir membuat Lastri terdiam.

Dia pikir berbicara seperti itu dengan memojokkannya Ayana akan dimarahi oleh atasannya dan ternyata Emir justru tidak suka dengan sikap Lastri.

Bersambung.....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!