Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Rahasia Untuk Tetap Berdenyut
Ruang VIP rumah sakit itu terasa begitu menyesakkan, hanya diisi oleh suara detak mesin monitor jantung yang monoton dan isak tangis Widya yang tak kunjung reda.
Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Biru yang terasa dingin dan pucat, seolah ingin menyalurkan sisa kehidupan dari tubuhnya sendiri kepada sang putra.
"Maafkan Mama, Biru... Mama yang salah," rintih Widya sesenggukan, air matanya jatuh membasahi sprei putih yang kaku. "Mama yang terlalu egois memaksamu memberikan cucu, tanpa memikirkan seberapa besar beban yang harus ditanggung jantungmu."
Widya kini menyadari bahwa ambisinya telah mendorong Biru ke tepi jurang. Ia tidak tahu bahwa malam di Uluwatu itu—malam yang seharusnya menjadi awal dari sebuah garis keturunan—malah menjadi malam yang hampir merenggut nyawa putranya.
Di sudut ruangan, Cakra berdiri mematung. Wajahnya yang biasanya ramah dan sigap kini berubah menjadi topeng es yang sangat dingin. Matanya menatap lurus ke arah monitor, namun pikirannya terjebak pada memori malam di Uluwatu—saat ia mendengar derak ranjang dan desahan gairah yang ia tahu merupakan lonceng kematian bagi tuannya.
"Cakra..." panggil Widya dengan suara parau, "bagaimana kalau dia tidak bangun lagi?"
Cakra tidak segera menjawab. Rahangnya mengeras. Ia merasakan penyesalan yang membakar di dalam dadanya—penyesalan karena ia membiarkan profesionalitasnya kalah oleh rasa hormatnya pada privasi Biru malam itu.
Seharusnya ia mendobrak pintu itu lebih awal. Seharusnya ia tidak membiarkan emosi Biru meluap hingga tiga ronde yang brutal tersebut.
"Tuan Biru adalah orang yang keras kepala, Nyonya," suara Cakra terdengar datar, tanpa emosi, namun ada getaran kemarahan pada dirinya sendiri di sana. "Dia melakukan apa yang dia inginkan. Dan saya... saya gagal menjadi rem untuknya."
Cakra kini benar-benar menutup dirinya. Ia tidak lagi membalas pesan dari siapa pun, termasuk Selena. Baginya, setiap kali ia melihat nama Selena di ponselnya, ia hanya teringat pada penyebab utama mengapa Biru kini terbaring antara hidup dan mati.
Ia berubah menjadi sosok yang jauh lebih kaku dari Biru yang dulu, seolah-olah ia telah membeku bersama rasa bersalah yang tak termaafkan.
Di tengah kesunyian itu, Biru tetap terdiam dalam komanya, tidak menyadari bahwa di luar ruang ICU ini, dunia yang ia tinggalkan sedang hancur karena cinta, ambisi, dan penyesalan yang terlambat.
Widya menatap Cakra dengan tatapan serius lalu berucap, "Apakah kamu sudah memberi tahu Selena tentang keadaan Biru?"
Cakra mengalihkan pandangannya dari monitor jantung yang masih menampilkan grafik lemah itu ke arah Widya. Sorot matanya yang dingin seketika meredup, berganti dengan kilatan rasa bersalah yang coba ia sembunyikan rapat-rapat.
"Belum, Nyonya," jawab Cakra dengan suara yang nyaris seperti bisikan, namun terdengar sangat berat. "Sesuai perintah terakhir Tuan Biru sebelum beliau kehilangan kesadaran... dia tidak ingin Nyonya Selena tahu. Tuan Biru ingin Nyonya Selena tetap membencinya daripada harus melihatnya hancur seperti ini."
Cakra mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia teringat bagaimana pesan-pesan Selena yang penuh amarah dan kebingungan masuk ke ponselnya yang kini ia kunci tanpa berniat membalasnya. Setiap getaran ponsel itu terasa seperti tamparan bagi Cakra.
"Tuan Biru tahu bahwa malam itu adalah pertaruhan nyawa," lanjut Cakra lagi, suaranya mulai bergetar.
"Dia ingin memberikan kenangan yang paling indah untuk Nyonya Selena, meskipun itu harus menjadi kenangan terakhirnya. Dia tidak ingin Nyonya Selena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada jantungnya."
Widya menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya kembali pecah. "Tapi ini tidak adil untuknya, Cakra! Dia istrinya! Dia berhak tahu kalau suaminya sedang berjuang antara hidup dan mati karena... karena dia mencintainya dengan cara yang salah!"
"Saya tahu, Nyonya," sela Cakra, kini tatapannya kembali mengeras, menatap tubuh kaku Biru di atas ranjang. "Tapi untuk saat ini, keselamatan Tuan Biru adalah prioritas utama. Memberi tahu Nyonya Selena hanya akan menciptakan kekacauan di perusahaan yang sedang diincar oleh Raka dan Nyonya Pertiwi. Saya akan tetap bungkam... sampai Tuan Biru sendiri yang memutuskan untuk bangun dan menemuinya."
Cakra membuang muka, tidak sanggup melihat wajah memohon Widya. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia sedang melakukan kesalahan besar dengan menyembunyikan kebenaran ini, terutama setelah ia melihat betapa liarnya Selena di kantor tadi pagi, sesuai laporan orang kepercayaannya.
Namun, bagi Cakra, menjaga rahasia tuannya adalah bentuk penebusan dosa terakhirnya atas kegagalannya menjaga Biru di Uluwatu.
Widya mengusap air matanya dengan tisu yang sudah basah kuyup, menatap wajah kaku putranya yang terhubung dengan berbagai selang.
"Kenapa, Cakra? Kenapa Biru sampai rela memberikan segalanya—bahkan nyawanya—untuk wanita yang baru beberapa bulan ia nikahi lewat kontrak? Apa yang dimiliki Selena sampai Biru begitu terobsesi?"
Cakra terdiam sejenak. Pikirannya melayang ke sebuah malam beberapa bulan lalu, tak lama setelah pernikahan dadakan itu disahkan secara hukum. Ia ingat betul saat itu Biru memintanya menyelidiki latar belakang Selena secara mendalam, lebih dari sekadar profil penulis yang mereka ketahui.
"Tuan Biru punya alasan sendiri, Nyonya," ucap Cakra pelan, suaranya terdengar jauh.
Memori itu berputar di kepala Cakra. Saat itu, Biru sedang duduk di ruang kerjanya, menatap sebuah foto lama yang tampak kusam—foto seorang gadis remaja yang sedang memberikan botol air minum dan obat kepada seorang pemuda yang tergeletak lemah di sebuah taman kota yang gelap, jauh sebelum Biru menjadi CEO yang ditakuti.
"Tuan Biru baru menyadarinya setelah pernikahan itu terjadi," lanjut Cakra. "Selena ternyata adalah wanita dari masa lalunya.
Wanita yang pernah menolongnya saat Tuan Biru mengalami serangan jantung pertamanya di tempat umum bertahun-tahun lalu, jauh sebelum kejadian di lift yang mempertemukan mereka kembali."
Widya tertegun, tangisnya terhenti sesaat karena terkejut. "Maksudmu... mereka sudah pernah bertemu?"
"Benar, Nyonya. Selena adalah alasan Tuan Biru masih bisa bertahan hidup sampai detik ini. Saat itu, Selena tidak tahu siapa Biru. Dia hanya orang asing yang menyelamatkan nyawa Tuan Biru di trotoar jalanan yang dingin. Tuan Biru mencari 'malaikat' itu selama bertahun-tahun, dan saat ia menemukan bahwa wanita itu adalah Selena, ia bersumpah akan melindunginya, meskipun cara yang ia pilih terlihat egois dan kasar."
Cakra menghela napas berat, matanya kembali menatap monitor jantung. "Malam di Uluwatu itu bukan sekadar gairah, Nyonya. Bagi Tuan Biru, itu adalah caranya menyerahkan seluruh hidupnya kepada wanita yang dulu pernah memberinya kesempatan hidup kedua. Dia ingin Selena memiliki segalanya—perusahaannya, hartanya, bahkan jika itu berarti dia harus kehilangan detak jantungnya sendiri."
Widya kembali terisak, kali ini lebih pilu. Ia tidak menyangka bahwa di balik sikap dingin dan otoriter putranya, tersimpan sebuah pengabdian yang begitu dalam dan rahasia yang ia bawa hingga ke ambang kematian.
Sementara itu, di luar sana, Selena yang sedang disulut api kemarahan dan kecurigaan, sama sekali tidak tahu bahwa dirinya adalah satu-satunya alasan mengapa Biru Hermawan masih memilih untuk tetap berdenyut, meski hanya lewat bantuan mesin.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...