NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Senyum

Angga segera menyusupkan satu lengannya di bawah lekukan lutut Adea dan lengan lainnya menumpu punggung gadis itu. Dengan satu gerakan stabil, ia mengangkat tubuh mungil Adea ke dalam dekapannya.

Adea refleks mengalungkan lengannya ke leher Angga, sementara jemari Angga bisa merasakan hangat kulit paha Adea yang bersentuhan langsung dengan telapak tangannya.

Sentuhan itu seolah mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat rahang Angga mengeras sesaat, mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak kembali kehilangan kendali.

"Berat nggak?" bisik Adea, menyembunyikan wajahnya yang merona di perpotongan leher Angga.

"Nggak," jawab Angga pendek, suaranya masih terdengar parau dan berat. "Lo itu nggak ada bobotnya sama sekali, Dea."

 

Di dapur.

Angga meletakkan Adea di kursi makannya. Ia mengambil selimut kecil dari belakang pintu dan menyelimuti pangkuan Adea, menutupi kakinya yang telanjang.

"Mau makan apa?" tanyanya, berusaha bersikap normal.

"Lo masak apa?"

"Nasi goreng. Telur dadar. Susu."

"Mau semua."

Angga mengangguk. Ia berbalik ke kompor dan mulai menyiapkan piring.

Adea menatap punggung Angga yang lebar. Kemeja putihnya sedikit basah di bagian belakang, mungkin karena keringat, mungkin karena ia baru saja selesai membersihkan kamar.

"Angga."

"Hm."

"Kemeja lo."

"Kemeja gue kenapa?"

"Gue pake kemeja lo."

Angga berhenti mengaduk nasi. Punggungnya terlihat tegang.

"Iya."

"Gue gak pake apa-apa di dalemnya."

Angga memejamkan mata. Tangannya yang memegang spatula bergetar sedikit.

"Dea."

"Iya."

"Jangan ngomong gitu kalo gue lagi pegang wajan panas. Nanti gue salah fokus."

Adea tertawa kecil. Tawanya masih serak karena baru bangun, tapi Angga mendengarnya. Tawa yang membuatnya lupa pada rasa bersalah, lupa pada kekhawatiran, lupa pada semuanya.

"Angga."

"Apa lagi."

Adea menatap punggung Angga yang membelakanginya. Ia melihat bahu pria itu naik turun. Napasnya berat. Bukan karena lelah memasak. Tapi karena menahan sesuatu.

"Kemarin..." suara Adea pelan. Hampir tidak terdengar. "Kamu ngapain?"

Spatula di tangan Angga jatuh.

Bunyi kleyang di lantai dapur.

Cumi yang sedang makan di dekat kulkas menoleh sebentar, lalu kembali ke mangkuknya.

Angga membungkuk mengambil spatula itu. Tangannya sedikit gemetar saat mencucinya di wastafel. Ia tidak menoleh ke Adea.

Ia mematikan kompor.

Mematikan semua api.

Lalu ia berjalan ke wastafel, mencuci tangannya dengan sabun. Lama. Terlalu lama untuk sekadar mencuci tangan.

"Angga-"

Angga berbalik.

Ia menghampiri Adea dengan langkah pelan. Lalu ia berlutut di hadapan gadis itu, di lantai dapur yang dingin, di depan kursi kayu tempat Adea duduk dengan kemeja hitam kebesaran dan selimut di pangkuannya.

Ia menggenggam kedua tangan Adea.

Tangannya yang besar membungkus jari-jari mungil itu. Kepalanya menunduk. Dahi pria itu hampir menyentuh jemari Adea.

"Maaf..." bisiknya. Suaranya pecah. "Gue... gue kehilangan akal sehat gue. Gue gak bisa berpikir jernih. Gue cuma... gue cuma pengen deket sama lo. Terlalu deket. Dan gue gak bisa berhenti."

Napasnya tersengal.

"Gue keterlaluan. Gue seharusnya...gue gak boleh.."

Ia tidak bisa melanjutkan.

Adea merasakan sesuatu yang hangat jatuh di punggung tangannya.

Tetes demi tetes.

Angga menangis.

Pria yang selalu tegar. Pria yang selalu menjadi tempatnya bersandar. Pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahan di depan siapa pun.

Sekarang berlutut di lantai dapur, menggenggam tangannya, dan menangis.

"Gue takut," bisik Angga. "Gue takut lo marah. Gue takut lo jijik. Gue takut lo pergi. Gue takut lo ngunci pintu lagi dan kali ini lo gak mau buka meskipun gue ngetok berapa kali."

Adea tidak bisa berkata-kata.

Ia hanya menatap ubun-ubun Angga. Rambut pria itu yang sedikit panjang jatuh ke depan, menutupi wajahnya. Bahunya bergetar.

"Angga..."

"Gue sayang lo, Dea. Udah dari dulu. Dari sebelum gue tahu apa itu sayang. Tapi gue gak tahu caranya..." ia mengangkat wajahnya. Matanya merah. Basah. "...caranya jadi pacar lo. Gue cuma tahu caranya jadi sahabat lo. Caranya jagain lo. Caranya masakin lo. Caranya anter jemput lo."

Ia tersenyum pahit.

"Tapi semalam... gue gagal jadi sahabat lo. Gue jadi monster."

Adea tidak tahan lagi.

Ia melepaskan tangannya dari genggaman Angga. Lalu ia meraih wajah pria itu, menangkup pipi tegas yang basah oleh air mata.

Menatapnya lurus.

"Angga, dengerin gue."

Angga terdiam.

"Lo bukan monster. Lo gak pernah jadi monster. Lo cuma... lo cuma manusia. Yang punya perasaan. Yang punya keinginan. Yang kadang kehilangan kendali." Adea mengusap air mata di pipi Angga dengan ibu jarinya. "Dan gue gak pergi. Gue di sini. Gue masih di sini."

"Tapi semalam-"

"Semalam gue juga mau."

Angga membeku.

"Apa?"

"Gue bilang, gue juga mau." Adea menggigit bibir bawahnya. Pipinya merona. "Mungkin gue takut. Mungkin gue kaget. Tapi gue gak pernah bilang berhenti. Gue gak pernah dorong lo. Gue gak pernah bilang 'jangan'."

"Karena lo gak sempat-"

"Karena gue gak mau bilang 'jangan'."

Angga terdiam.

Matanya masih merah. Tapi air matanya berhenti.

"Lo... serius?"

"Gue serius." Adea menarik napas panjang. "Tapi lain kali... lain kali kalo lo mau ngapa-ngapain, bilang dulu. Jangan kaget-kagetin."

"Lain kali?" Angga mengerjap.

"Iya. Lain kali." Adea tersenyum.

Senyum yang sama. Manis. Hangat. Dan sedikit nakal. "Kecuali lo gak mau."

Angga tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia bangkit dari lututnya. Tangannya yang masih sedikit gemetar meraih pinggang Adea, mengangkatnya dari kursi, lalu memeluknya erat-erat. Wajahnya mengubur di rambut gadis itu, di antara kepang yang mulai terurai.

"Gue mau," bisiknya di telinga Adea. "Gue selalu mau."

Adea tertawa kecil. Tangannya naik, membalas pelukan Angga.

"Tapi sekarang sarapan dulu. Nasi gorengnya udah dingin."

"Gue panasin."

"Gak usah. Gue makan anget-anget aja. Yang penting lo duduk di samping gue."

Angga melepaskan pelukannya. Ia mengambil piring nasi goreng, memanaskannya sebentar di microwave, lalu menyajikannya di meja. Ia duduk di kursi sebelah Adea, hingga paha mereka bersentuhan di bawah meja.

Cumi yang dari tadi mengamati dari dekat kulkas akhirnya mendekat, melompat ke pangkuan Adea, dan meringkuk di sana.

"Cumi laper," ucap Adea.

"Dia udah makan."

"Dia cuma pengen manja."

Adea mengelus kepala Cumi sambil menyuap nasi goreng dengan tangan satunya. Angga menatapnya. Menatap gadis kecil yang duduk di sampingnya dengan kemeja hitam kebesaran miliknya, rambut berantakan, wajah tanpa riasan, dan senyum yang membuat segalanya terasa ringan.

"Adea."

"Hm."

"I Love You."

Adea berhenti mengunyah.

Ia menelan makanannya. Meneguk susu. Lalu menoleh ke Angga.

"Gue juga cinta lo, Angga. Udah dari dulu. Mungkin dari pertama kali lo bela gue waktu gue jatuh dari sepeda."

"Itu pas SD."

"Iya. Udah dari SD."

Angga tersenyum. Senyum yang paling lebar yang pernah Adea lihat. Senyum yang membuat mata sipit pria itu hampir tertutup sempurna, membuat garis di pipinya terlihat, membuat wajah tegasnya berubah menjadi lembut seperti anak kecil.

Mereka makan berdua di meja dapur yang sama, dengan kursi yang sama, dengan Cumi yang sama di pangkuan Adea.

Tapi semuanya terasa berbeda.

Karena sekarang, tidak ada lagi yang disembunyikan.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!