NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

selama ini salah faham

“Ada yang ingin kamu tanyakan?” Nanda melihat Amira.

Amira merasa bersalah, bingung apa yang harus dia ucapkan pada ibunya.

Belum sempat Amira berkata, Nanda berkata, “Ini anak sulung kamu?”

Amira melihat ke arah Arjuna lalu menganggukkan kepala.

“Mereka benar-benar kurang ajar,” ucap Nanda kesal.

“Sekarang kamu mandilah, terus temani adik kamu tidur. Dia enggak galak kalau lagi tidur.”

Arjuna melihat ke arah ibunya. Amira menganggukkan kepala.

Arjuna membungkukkan badan melewati Nanda menuju kamar mandi.

Terdengar gemericik air dari kamar mandi.

“Kamu rapikan dulu koper kamu di kamar itu,” tunjuk Nanda ke sebuah kamar.

Amira menganggukkan kepala lalu berdiri dan membawa koper ke kamar sebelahnya.

Kamarnya berantakan, berbeda dengan kamar Dewi yang rapi dan ada kipas anginnya.

Kamar ini sepertinya kamar ibunya, dan lagi-lagi Amira merasa bersalah.

Ibunya ternyata sangat menyayangi Dewi, makan sehari sekali, menjadi pengamen jalanan hanya untuk memberi Dewi makan.

Amira membereskan kopernya dan membereskan kamar, lalu keluar kamar sambil membawa handuk.

Tak lama kemudian Arjuna keluar. Amira memberikan handuk pada Arjuna dan menggantikan baju Arjuna.

“Juna boleh tidur sama Dewi?” tanya Arjuna.

“Sekarang boleh, nanti kalau sudah besar enggak boleh.”

Arjuna tersenyum, kemudian melihat ke arah Nanda, namun kembali menundukkan kepala lagi.

“Tidur sana cepat sebelum Dewi bangun,” suara Nanda terdengar tegas.

Arjuna buru-buru melangkah ke kamar Dewi.

Melihat Dewi yang punya kamar bagus, Arjuna merasa menyesal kenapa dulu tidak coba kabur dan mencari Nenek Nanda.

Dewi tidur dengan nyenyak. Sesekali pipi tembemnya bergetar, setiap gerakan Dewi membuat getaran di kulitnya yang montok. Arjuna tidur di samping Dewi.

Amira membantu Nanda mencuci piring dan membersihkan rumah.

Selama aktivitas, tidak ada yang bicara.

Semua merasa canggung.

Waktu Amira menikah, Nandalah yang memutuskan hubungan antara anak dan ibu.

Amira juga merasa bersalah karena sudah menampar ibunya, namun dia terbiasa bertengkar dengan ibunya.

Rasanya untuk mengucapkan “Mah, maafkan Mira” terasa canggung dan berat.

Amira mengulang-ulang kata “Mah, maafkan Mira” dalam hati, namun saat akan diucapkan terasa nyangkut di tenggorokan.

Amira memasak nasi dan lauknya terasa enak. Nanda terasa canggung untuk meminta, dia hanya membuat kopi, tak mau minta sama Amira.

Amira mengambil nasi dan lauknya lalu memberikan pada Nanda.

“Mah, ini nasinya…” ingin sekali Amira mengatakan itu, namun lagi-lagi tak keluar dari mulutnya.

Nanda hanya melihat sekilas, kemudian meminum kopi.

Amira melangkah ke dapur meninggalkan Nanda.

Setelah Amira tidak ada, Nanda celingukan, kemudian mengambil nasi itu dan makan dengan lahap.

Amira tersenyum melihat dari dapur, merasa lega makanannya dimakan oleh Nanda.

Malam datang dan mereka belum ada yang bicara sama sekali.

Amira masuk ke kamar. Di dalam kamar sudah ada Nanda yang sudah membaringkan badan di kasur sempit.

Tampak ada ruang kosong dihalangi gulungan seolah memang disediakan olehnya untuk Amira.

Amira melangkah lalu membaringkan badan di sebelah Nanda.

Amira menghadap ke sebelah timur dan Nanda ke sebelah barat, mereka saling memunggungi.

“Mah, maafkan Mira,” ucap Amira dalam hati.

“Mir, maafkan Mamah, Mir. Selama ini sudah kasar sama kamu,” Nanda juga mengucapkan hal itu dalam hati.

Terbiasa bertengkar dan sekarang harus saling memaafkan, mereka merasa sama-sama canggung dan aneh.

Amira dan Nanda tampak menarik napas bersamaan lalu membalikkan badan bersama.

Sekarang mereka saling berhadapan dan saling tatap.

“Kita harus menyelesaikan urusan kita.”

Bukannya kata maaf yang keluar, malah semacam tantangan.

“Ayo,” ucap Nanda bangkit lalu keluar.

Amira menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia pun bangkit dan menyusul keluar.

Nanda tidak ada di ruang tamu. Pintu terbuka menandakan Nanda ada di luar.

Amira menyusul keluar, tampak Nanda sudah duduk.

“Kenapa kamu bawa Arjuna ke Lampung dan dijadikan kurus seperti itu?”

“Lampung?” gumam Amira.

“Sudah, jangan bohong. Sudah begini masih saja kamu ingin bela keluarga brengsek itu!”

Amira dalam hati kesal, langsung dituduh, padahal dia mau minta maaf.

“Mah, aku enggak pernah ke Lampung, Mah, dan aku enggak pernah bawa Arjuna. Arjuna ya sama di bajingan Rudi itu.”

Sudut bibir Nanda sedikit melengkung.

“Terus kalau enggak ke Lampung, kamu ke mana? Kenapa kamu mengabaikan Dewi yang baru setahun?”

Amira menghela napas.

“Itulah bodohnya aku, Mah. Demi melunasi hutang keluarga bajingan gila itu, aku jadi TKI di sana.” Kemudian Amira menceritakan semuanya mulai dari sejak kepulangannya ke Indonesia sampai merawat Arjuna yang sakit.

Setiap kali Amira menyebut Rudi si bajingan gila, sudut bibir Nanda melengkung samar.

“Jadi kamu sudah cerai dengan Rudi?”

“Sudah,” jawab Amira.

“Bagus, berarti otak kamu sudah benar.”

Amira cemberut, namun terasa hangat. Tak menyangka dia bisa mengobrol dengan benar dengan ibunya. Biasanya tiap membuka mulut yang ada adalah pertengkaran.

“Terus kenapa Ibu hanya menculik Dewi, enggak Arjuna saja sekalian?” tanya Amira.

“Aku menculik Dewi?” Nanda malah balik tanya. “Dapat kabar dari mana?”

“Ya dari keluarga bajingan gila itu.”

“Mereka memang pintar bohong,” ucap Nanda. Dia menarik napas.

“Aku tidak pernah menculik Dewi. Aku tak pernah ke rumah suami gila kamu itu.”

“Terus…” Amira melihat ke arah Nanda dengan antusias bertanya.

“Si Rudi dan ibunya datang membawa bayi umur satu tahun, dan dia adalah Dewi. Katanya kamu kabur ke Lampung membawa Arjuna pergi…”

Amira tercengang.

“Aku masih ingat mereka bilang begini, ‘Aku tidak sudi mengurus bayi hasil perselingkuhan.’”

“Mereka mengatakan aku selingkuh?” tanya Amira.

“Iya.”

“Ibu percaya?” tanya Amira.

“Walau aku ini kasar sama kamu, tapi aku ini lebih percaya sama kamu ketimbang anjing gila itu.”

Amira menggenggam tangan Nanda. “Makasih, Mah.”

Nanda melihat ke arah tangan Amira.

Amira kesal dengan reaksi ibunya itu. Bukannya menangis haru, malah melihat tangannya tanpa ekspresi.

Sebenarnya Nanda juga kaget. Seingat dia, baru kali ini Amira mengucapkan terima kasih.

“Terus kenapa Ibu jual rumah, Bu? Katanya Ibu terlilit hutang banyak?”

Nanda melihat ke arah Amira. “Kamu pasti dengar kabar dari Juli kaleng rombeng, ya?”

Amira menganggukkan kepala.

“Kamu percaya sama dia?” tanya Nanda.

Belum sempat Amira menjawab, Nanda sudah berkata, “Ah, kamu sudah menamparku. Pasti kamu mempercayai ucapan si kaleng rombeng itu.”

Amira merasa bersalah dan ingin sekali langsung minta maaf, namun merasa canggung.

“Sebulan setelah aku merawat Dewi, Dewi sakit panas. Aku bawa ke rumah sakit, dan setelah diperiksa ternyata ada infeksi di saluran pencernaan dan harus dioperasi. Kamu tahu apa yang terjadi?”

Amira langsung syok mendengar hal itu. Ternyata Dewi juga hidupnya tidak mulus.

“Aku pinjam uang pada si Juli kaleng rombeng itu, dan dia berkata, ‘Daripada habisin uang, mending biarkan saja meninggal.’ Dan waktu itu aku langsung hantam kepalanya.”

Amira mengepalkan tangannya, kesal tidak bisa membantu. Harusnya cukup mendoakan saja, tidak seharusnya berkata sinis seperti itu.

“Terus?” tanya Amira.

“Aku ini orang bodoh, Mira. Tidak punya keahlian apa pun, dan pikiranku memang pendek. Aku jual saja rumah itu. Rumah itu harusnya seharga 300 juta, tapi aku jual 150 juta. Dengan uang itu Dewi bisa dioperasi, dan sekarang lihatlah Dewi sama kamu.”

Amira benar-benar tak tahan. Dadanya terasa sesak.

Semua ego hilang.

Dia membalikkan badan, berdiri, lalu bersimpuh bersujud di kaki Nanda dan menangis.

“Mamah… maafkan Mira, Mah… maafkan Mira…”

Selama ini dia salah sangka, mengira ibunya kasar dan keras kepala.

Namun ternyata ibunya rela menjual rumahnya untuk keselamatan Dewi.

Sedangkan Rudi dan keluarganya yang selama ini dia perjuangkan malah menyia-nyiakan Arjuna.

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!