Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Teater Kekacauan
Pelabuhan Tanjung Priok pada malam hari bukanlah tempat bagi mereka yang mencari ketenangan. Tempat ini adalah urat nadi perniagaan yang kotor, tempat di mana kontainer-kontainer baja menyembunyikan ribuan dosa yang diselundupkan masuk dan keluar dari negara ini setiap harinya.
Aku berjongkok di atas gelagar besi sebuah derek pemuat (crane) raksasa yang sedang tidak beroperasi. Angin laut yang kencang menampar wajahku, membawa serta bau garam yang anyir, campuran tumpahan minyak diesel, dan karat besi yang mengelupas.
Di bawahku, sekitar dua puluh meter ke arah jalan aspal yang berlubang, terbentang akses rute sepi yang menghubungkan kawasan pergudangan utara dengan dermaga kargo internasional. Tidak ada lampu jalan yang menyala di bentangan sejauh tiga ratus meter ini. Aku telah menembak hancur bohlam-bohlamnya satu jam yang lalu dengan senapan angin berperedam.
Aku melirik jam tangan di pergelangan kiriku. Pukul 22.55 WIB.
Lima menit lagi.
Tubuhku masih merasakan ngilu akibat sisa perkelahian di Glodok kemarin malam. Tulang rusuk kiriku berdenyut setiap kali aku menarik napas terlalu dalam, namun aku menyambut rasa sakit itu. Nyeri ini adalah bahan bakar. Ia mengingatkanku bahwa aku masih bernapas, sementara ayah dan ibuku hanya tersisa sebagai abu di dalam guci.
Aku memasukkan tanganku ke dalam ransel taktis yang terikat di dadaku, memastikan tiga buah tabung thermite pembakar sudah siap. Aku juga memeriksa deretan granat asap dan suar merah (flare) yang menempel di sabuk pinggangku.
Malam ini, aku tidak datang untuk membunuh pion-pion rendahan. Aku datang untuk merobek otot utama dari kekaisaran Vanguard Group.
Jenderal Sudiro. Pria yang menyediakan pasukan bayangan dan senjata api untuk operasi-operasi kotor Darmawan Salim. Dari semua petinggi Vanguard, Sudiro adalah orang pertama yang direkrut Darmawan sepuluh tahun lalu untuk membangun fondasi kekerasan mereka. Ia adalah fondasi berdarah. Sang Pilar Pertama.
Sayup-sayup, dari kejauhan, telingaku menangkap suara derum mesin V8 yang berat dan dalam.
Tiga pasang lampu sorot halogen kuning membelah kabut tipis malam pelabuhan. Tiga unit truk lapis baja berwarna hitam kusam melaju dengan formasi konvoi yang sangat rapat. Truk-truk itu tidak memiliki pelat nomor atau logo perusahaan. Di dalamnya, tersimpan puluhan peti berisi emas batangan hasil pencucian uang, ratusan pucuk senjata api ilegal, dan dokumen-dokumen militer gelap yang akan diselundupkan keluar negeri malam ini.
Sudiro sedang berusaha menyelamatkan hartanya. Ia sangat ketakutan.
Aku menarik topeng porselen putihku dari dalam mantel, menempelkannya ke wajahku, dan mengaitkan talinya erat-erat di belakang kepala. Senyum asimetris badut ini kembali menutupi wajah Arlan Wiratama, mengubahku sepenuhnya menjadi mimpi buruk yang mereka ciptakan sendiri.
Truk pertama memasuki zona jebakanku.
Aku menekan sebuah tombol merah pada remot pemicu di tanganku.
Di bawah sana, dua buah ranjau paku hidrolik (spike strip) yang kutanam di bawah genangan air aspal melesat naik dengan bunyi besi yang berderak keras.
BAM! BAM! CIIIIT!
Dua ban depan truk lapis baja pertama meledak serentak. Pengemudinya kehilangan kendali, membanting setir ke arah kanan hingga moncong truk itu menabrak tumpukan kontainer kosong dengan suara logam penyok yang memekakkan telinga.
Truk kedua dan ketiga menginjak rem mendadak, ban mereka berdecit panjang dan meninggalkan jejak karet yang terbakar di atas aspal. Formasi konvoi mereka hancur berantakan.
Permainan dimulai.
Aku melepaskan pengait tali derekku dan meluncur turun menggunakan tali rappel hitam ke arah atap truk kedua. Pendaratanku di atas atap logam itu menimbulkan suara dentuman berat.
Sebelum para prajurit bayaran di dalam kabin menyadari dari mana serangan itu berasal, aku menarik pelatuk pistol suar ke arah langit, lalu melemparkan dua buah granat asap tebal ke jalanan di sisi kiri dan kanan truk.
Dalam hitungan detik, jalanan aspal yang gelap itu dipenuhi oleh kepulan asap putih yang sangat pekat. Suar merah yang melayang turun dari langit memberikan pencahayaan berwarna darah yang menyilaukan, mengubah area itu menjadi panggung teater neraka yang mengerikan.
"Serangan! Keluar dan bentuk perimeter!" Suara teriakan komandan regu terdengar dari radio komunikasi truk yang berdengung.
Pintu-pintu belakang truk terbuka dengan kasar. Belasan prajurit bayaran berseragam hitam melompat keluar, mengacungkan senapan serbu mereka dengan panik. Mereka menggunakan kacamata taktis, tapi asap tebal ini terlalu pekat untuk ditembus oleh penglihatan normal.
Aku tidak memberi mereka kesempatan untuk mengatur barisan.
Aku melompat turun dari atap truk, mendarat tepat di belakang dua orang penjaga yang sedang mengarahkan senjata ke arah genangan air. Menggunakan tongkat taktis baja (tactical baton) di tangan kananku, aku mengayunkannya ke belakang lutut penjaga pertama. Terdengar bunyi retakan tulang yang keras, diikuti oleh jeritan kesakitan saat ia tersungkur.
Temannya menoleh dengan panik, mencoba menarik pelatuk. Aku menepis laras senjatanya dengan lengan kiriku, melangkah maju masuk ke zona butanya, dan menghantamkan sikuku tepat ke arah pelipisnya. Pria itu pingsan sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
"Di tengah! Dia ada di antara kita!" teriak salah satu penjaga dari arah truk ketiga.
Rentetan tembakan membabi buta membelah asap putih. Percikan api dari moncong senjata (muzzle flash) menyala seperti kilat kecil. Peluru-peluru itu menghantam badan truk dan aspal, saling memantul tak tentu arah. Mereka terlalu ketakutan hingga mulai menembak secara acak. Aku bahkan mendengar salah satu dari mereka menjerit saat peluru nyasar rekannya mengenai pahanya sendiri.
Itulah kelemahan manusia yang mengandalkan senjata api di tengah kepanikan. Ketakutan menghancurkan akal sehat.
Aku merayap rendah di bawah kepulan asap, bergerak seperti bayangan yang terlepas dari tuannya. Aku menyapu kaki seorang prajurit dari bawah, merebut pisau tempurnya saat ia terjatuh, dan menggunakannya untuk menyayat sabuk amunisi serta tali senapannya. Aku membiarkannya hidup dengan bahu yang bergeser. Malam ini bukan tentang membunuh kroco-kroco bayaran; ini tentang menghancurkan kebanggaan sang jenderal.
Satu peluru nyasar tiba-tiba menyerempet lengan mantel kananku. Panas gesekannya menyengat kulitku, merobek kain tebal itu. Aku mengernyitkan dahi di balik topeng, memaksakan diriku mengabaikan rasa perihnya.
Aku melesat maju, meraih kerah belakang prajurit yang menembak itu, dan membanting punggungnya ke pintu baja truk dengan tenaga penuh. Kepalanya membentur logam hingga ia tak sadarkan diri.
Dalam waktu kurang dari empat menit, dari belasan prajurit elit yang dibanggakan Sudiro, hanya tersisa rintihan kesakitan dan orang-orang yang merangkak menjauh. Mereka sudah lumpuh secara mental dan fisik.
Aku melangkah mendekati pintu kargo truk kedua—truk komando tempat barang-barang utama disimpan. Pintu kargo baja itu digembok menggunakan gembok putar kelas industri.
Aku mengeluarkan tabung kecil cairan nitrogen cair dari sabukku, menyemprotkannya ke arah gembok itu selama lima detik hingga membeku memutih, lalu menghantamnya dengan tongkat bajaku. Gembok itu hancur berkeping-keping seperti es batu.
Aku menarik pintu kargo itu terbuka.
Bau serbuk mesiu segar, pelumas senjata api, dan kertas uang langsung menyeruak keluar. Di dalam kargo itu, puluhan peti kayu tertumpuk rapi. Aku mencongkel salah satu peti dengan ujung tongkatku. Batangan emas murni berkilau memantulkan cahaya merah dari suar di luar sana. Di peti lain, kulihat barisan senapan serbu M4 Carbine ilegal yang siap diselundupkan.
Inilah sumber kekuatan mereka. Inilah darah kotor yang menghidupi kekaisaran Vanguard.
Aku mengeluarkan tiga tabung thermite pembakar dari ranselku. Aku menempelkannya di tiga titik krusial di dalam kargo truk kedua dan truk ketiga. Bahan kimia ini dirancang untuk terbakar pada suhu lebih dari 2.500 derajat Celcius. Ia tidak akan menciptakan ledakan besar yang membahayakan warga sipil di sekitar pelabuhan; ia hanya akan melelehkan logam, emas, dan senjata ini menjadi gumpalan terak besi yang tak berharga.
Saat tanganku meraih pemicu detonator jarak jauh di sakuku, telingaku menangkap sebuah suara.
Bukan rintihan prajurit bayaran. Bukan suara ombak.
Itu adalah derum mesin sebuah mobil SUV bertenaga tinggi yang melaju mendekat dan direm mendadak dengan kasar. Suara decit bannya sangat melengking, beradu dengan aspal basah, sebelum akhirnya mobil itu berhenti melintang tepat dua puluh meter dari posisiku berdiri.
Asap putih yang mengepul di jalanan mulai menipis, tertiup angin laut. Dari balik kabut yang tersisa, pintu SUV hitam itu terbuka.
Seseorang melangkah turun.
Jantungku berdetak dengan ritme yang menyakitkan saat aku mengenali sosok itu.
Elara.
Ia tidak mengenakan gaun malam yang indah seperti kencan kami beberapa jam lalu. Ia telah menggantinya dengan jaket kulit hitam, kaus gelap, dan celana jeans yang praktis. Di tangannya, ia mencengkeram pistol Glock-26 miliknya, membidikkannya dengan kedua tangan ke arah dadaku. Posisi berdirinya kokoh, kakinya terbuka selebar bahu. Pose menembak yang sempurna.
Lampu depan SUV-nya menyorot tajam, membelah asap, dan menerangi sosokku yang sedang berdiri di ambang pintu kargo truk yang terbuka.
Kami saling bertatapan melintasi udara malam yang dipenuhi bau mesiu.
Mata cokelatnya tidak memancarkan kebencian. Di sana, aku melihat kelelahan yang luar biasa, air mata yang menggenang di pelupuk matanya namun menolak untuk jatuh, dan sebuah rasa sakit yang merobek jiwa. Ia tahu siapa yang berdiri di balik topeng porselen yang tersenyum ini. Ia telah membaca jadwal yang kutinggalkan. Ia memakan umpan yang kuberikan.
"Jauhkan tanganmu dari pemicu itu," suara Elara menggema di tengah jalanan yang sepi. Bergetar, namun sangat keras. "Tiarap di tanah dan letakkan senjatamu. Sekarang."
Aku menundukkan wajahku sedikit, menatap laras senjatanya yang mengarah lurus ke jantungku. Aku tahu, dengan satu tarikan jari telunjuknya, peluru berongga itu akan mengakhiri sepuluh tahun penderitaanku malam ini juga.
Tapi aku juga tahu, ia datang bukan untuk menangkapku.
Jika ia ingin menangkap sang Joker, ia pasti sudah menelepon Inspektur Bramantyo dan membawa regu pemukul bersenjata lengkap. Fakta bahwa ia datang ke pelabuhan ini sendirian, tanpa sirine dan tanpa bantuan, menceritakan sebuah narasi yang jauh lebih mendalam. Ia datang untuk melihat dengan matanya sendiri; apakah monster yang dilahirkan oleh ayahnya ini pantas untuk hidup, atau harus dimatikan.
Aku perlahan mengangkat kedua lenganku yang kosong ke udara, melebarkannya, membiarkan dadaku terbuka lebar tanpa pertahanan sedikit pun. Aku mengundangnya untuk menembakku jika ia merasa hukum adalah satu-satunya jawaban.
"Kau sudah membaca berkasnya di ruang kerja ayahmu, bukan?" suaraku terdengar tenang dan berat dari balik topeng, memotong desiran angin malam.
Elara tersentak kecil saat aku menyinggung ruang kerja ayahnya. Ia menggigit bibir bawahnya hingga pucat. Ujung laras pistolnya bergetar pelan.
"Aku membaca semuanya," jawabnya, suaranya pecah di ujung kalimat. "Aku tahu apa yang dia lakukan pada keluargamu. Aku tahu dia mencoba membunuhmu di panti asuhan. Tapi membakar jalanan ini... membantai orang-orang ini... tidak akan membuatmu berbeda darinya!"
"Aku tidak pernah ingin menjadi orang suci, Elara," balasku, melangkah satu langkah maju ke arah cahaya lampu mobilnya. Pistol di tangannya tidak menyalak. "Orang suci mati di dasar jurang sepuluh tahun yang lalu. Malam ini, aku hanya seorang petugas kebersihan."
Aku menunjuk ke arah peti-peti di belakangku menggunakan kepala. "Emas yang ada di belakangku ini bernilai ratusan miliar. Senjata-senjata ini akan dijual ke kelompok separatis untuk membunuh ratusan orang tak bersalah. Sudiro menggunakan ini untuk memperkaya dirimu dan keluargamu. Apakah kau benar-benar ingin aku menyerahkan semua ini sebagai 'barang bukti' pada departemen kepolisian yang bosnya ada di kantong ayahmu?"
Pertanyaan itu menghancurkan sisa-sisa argumen hukum di kepala Elara. Lengan yang memegang pistol perlahan turun, kehilangan kekuatannya. Lencana kepolisian di sakunya tiba-tiba terasa sangat tidak berguna menghadapi korupsi sebesar ini. Air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang kemerahan akibat tamparan angin malam.
Ia tidak membela ayahnya lagi. Ia membenci kebenaran yang baru saja ia saksikan.
Itu adalah jawaban yang kubutuhkan. Ia telah membuat keputusannya. Ia memilih untuk memalingkan wajah dari keadilan buku teks, dan membiarkan keadilan api mengambil alih.
Aku menarik tanganku kembali, merogoh saku mantelku, dan mengeluarkan remot pemicu thermite. Aku menatap Elara dari balik topengku. Ia hanya berdiri diam, membiarkan pistolnya menunjuk ke arah aspal.
Aku menekan tombol pemicu itu dengan ibu jariku.
Dalam sepersekian detik, dari dalam kargo truk kedua dan ketiga, cahaya putih kebiruan yang sangat menyilaukan meledak dengan suhu ekstrem. Suara desisan panas yang mengerikan terdengar merobek udara.
Bahan kimia thermite itu bekerja menghancurkan molekul logam. Api putih yang tak bisa dipadamkan dengan air itu melelehkan emas batangan menjadi cairan mendidih, membakar senjata serbu menjadi gumpalan terak tak berbentuk, dan menghanguskan semua dokumen rahasia menjadi karbon dalam hitungan detik.
Hawa panas yang luar biasa menyapu wajahku, mendorongku mundur. Cahaya api itu memantul di mata Elara yang menatap kosong ke arah kehancuran kekayaan kotor ayahnya.
Dari saku celana seorang prajurit bayaran yang tergeletak pingsan di dekat kakiku, terdengar suara kresek-kresek radio komunikasi militer yang menyala.
"Tim Alpha, laporkan statusmu! Siapa yang menyerang?! Jawab, brengsek!"
Suara itu berat, serak, dan penuh dengan kepanikan arogansi yang sudah mulai luntur. Suara Jenderal Sudiro yang sedang memantau operasi ini dari tempat amannya.
Aku membungkuk, mengambil radio HT hitam yang berlumuran darah itu dari lantai aspal. Aku memutar kenop volumenya hingga maksimal, menatap nyala api putih yang mulai melahap kerangka truk lapis baja tersebut.
Aku menekan tombol bicara pada radio tersebut.
"Tim Alphamu sudah pensiun dini, Sudiro," ucapku dengan suara bariton yang paling menakutkan, membayangkan wajah sang Jenderal yang memucat pasi di ujung sana. "Emasmu sudah menjadi air. Senjatamu sudah menjadi abu."
"Kau... Kau si badut gila itu..." napas Sudiro terdengar putus-putus dari radio. "Aku akan memburumu. Aku akan membelah perutmu dan mengeluarkan ususmu dengan tanganku sendiri!"
Aku tertawa pelan, tawa sinis yang mengiris malam, persis seperti senyuman topeng yang kukenakan.
"Jangan repot-repot memburuku, Jenderal. Simpan sisa napasmu untuk berlari dari Darmawan Salim. Karena tanpa pasukan dan senjatamu ini, kau tidak lagi berguna baginya. Kau hanyalah beban yang akan ia singkirkan besok pagi."
Aku melepaskan tombol bicara, namun tidak segera mematikan radio itu. Aku menatap ke arah Elara, yang masih berdiri mematung di dekat mobilnya, menyaksikan panggung teater kehancuran ini.
Aku menekan tombol radio itu untuk yang terakhir kalinya.
"Selamat malam, Tuan Pilar Pertama."
Aku membanting radio HT itu ke aspal dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping.
Sirine polisi terdengar melolong nyaring dari kejauhan, membelah kesunyian kawasan pelabuhan Tanjung Priok. Penduduk setempat atau petugas pelabuhan pasti telah melaporkan ledakan cahaya dari thermite ini.
Aku menatap Elara satu kali lagi. Tidak ada kata-kata perpisahan yang terucap. Tatapan mata kami menyampaikan ribuan kalimat yang terlalu berat untuk dikatakan oleh sepasang bibir manusia.
Aku memutar tubuhku, menggunakan sisa asap tebal dari granat yang belum sepenuhnya hilang, dan melompat melewati pembatas beton jalanan. Aku meluncur turun ke arah tepian dermaga yang gelap, kembali menjadi bayangan, membiarkan monster Vanguard Group menjerit ketakutan dalam mimpi buruk yang baru saja kumulai.