Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang mengharukan
Setelah pelayan restoran membawa piring-piring kosong keluar, suasana di ruangan VVIP itu berubah menjadi lebih int!m, namun sekaligus mencekam. Alvaro menyesap wine merahnya dengan tenang, matanya yang tajam menatap Jason yang masih tampak bersemangat.
"Investasi di resort Bali dan Labuan Bajo yang Anda ajukan sangat menarik, Tuan Jason," buka Alvaro, suaranya terdengar ramah namun berat. "Saya rasa Sanjaya Group tidak keberatan memberikan slot khusus untuk Anda. Sebagai pengacara papan atas, Anda tentu tahu cara mengamankan aset."
Jason tertawa bangga. "Tentu saja, Tuan Alvaro. Keamanan dan kepastian hukum adalah prioritas saya."
Alvaro menyandarkan tubuhnya, senyumnya sedikit memudar. "Bicara soal kepastian hukum... Saya baru saja mendengar kabar menarik tentang klien Anda. Seorang pria bernama Johan dari Go Green. Anda mengenalnya dengan sangat baik, bukan? Bahkan kabarnya, Anda adalah kerabat dekatnya."
Jason tertegun. Gelas yang baru saja ia angkat tertahan di udara. Ia mencoba tetap tenang, meski detak jantungnya mulai tak beraturan. "I... iya, Tuan Alvaro. Johan adalah sahabat dekat saya. Bagaimana Anda bisa mengenalnya? Apa Anda memiliki urusan bisnis dengannya?"
Alvaro tersenyum, namun kali ini senyum itu tidak mencapai matanya. "Bukan bisnis, Tuan Jason. Tapi skandal. Dan sayangnya, nama Anda terseret cukup dalam di dalamnya."
Wajah Jason mendadak pucat pasi. "Maksud Anda?"
Alvaro memberi isyarat kepada Adam. Dengan sigap, Adam meletakkan sebuah map hitam di depan Jason dan membukanya. Di dalamnya terdapat foto-foto pria bayaran yang mengaku sebagai asisten Jason, rekaman suara di apartemen, hingga detail aliran dana dari rekening Johan ke sebuah firma hukum yang terhubung dengan Jason.
"Ini adalah bukti keterlibatan Anda dalam menyusun skenario perselingkuhan Nyonya Hanum," desis Alvaro, nada suaranya kini sedingin es. "Anda menyediakan tempat, Anda menyediakan aktor, dan Anda menyusun strategi hukum untuk memiskinkan wanita itu. Anda tahu, Tuan Jason? Dengan satu telepon saja, saya bisa memastikan izin praktik Anda dicabut dan nama Anda hancur dalam semalam."
Jason merasa oksigen di ruangan itu menipis. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Tunggu... Tunggu sebentar, Tuan Alvaro. Sebenarnya... Anda ini siapanya Nyonya Hanum? Kenapa Anda begitu membela wanita itu?"
Alvaro tersenyum getir, menatap jendela yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang dingin. "Anda tidak perlu tahu hubungan saya dengan Nyonya Hanum itu seperti apa. Yang jelas, saya tidak akan membiarkan seujung rambutnya pun disakiti."
Alvaro mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan Jason dengan kehadirannya yang mendominasi. "Saya ingin Anda membersihkan kembali namanya. Limpahkan semua kesalahan kepada Johan. Buat dunia tahu bahwa Johan adalah dalang di balik semua kehinaan ini. Jika Anda berhasil membalikkan keadaan di pengadilan nanti, kerjasama resort itu milik Anda. Tapi jika tidak..."
Alvaro tidak melanjutkan kalimatnya, namun kilat matanya sudah cukup menjelaskan ancamannya.
Jason terhenyak di kursinya, tangannya gemetar hebat. Ia merasa sangat menyesal telah membantu Johan. Ia tak pernah menyangka jika Hanum, wanita yang disebut Johan sebagai ibu rumah tangga bodoh itu ternyata dilindungi oleh pria paling berkuasa di negeri ini.
"Saya... saya mengerti, Tuan Alvaro," bisik Jason parau. "Saya akan melakukan apa pun yang Anda minta. Saya tidak ingin karier saya hancur demi pria bajing4n seperti Johan."
Alvaro bangkit dari duduknya, merapikan jas mahalnya. "Pilihan yang cerdas, Tuan Jason. Jangan sampai Anda tenggelam bersama kapal yang hampir karam itu."
Alvaro melangkah keluar diikuti Adam, meninggalkan Jason yang masih terpaku, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan leher Johan ke tiang gantungan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
*
*
Setelah berhasil memegang leher Jason, Alvaro kini memiliki kendali penuh atas papan catur yang dimainkan Johan. Strategi telah disusun, bukti telah diamankan, dan sekarang tinggal menunggu waktu hingga badai yang sesungguhnya menghantam kediaman Johan.
Dua hari berselang, suasana haru menyelimuti bandara. Hanum melangkah keluar dari gerbang kedatangan dengan wajah yang jauh lebih segar dan penuh tekad, didampingi oleh Tuan Sanjaya yang kini sudah bisa duduk di kursi roda meski masih tampak ringkih. Alvaro menyambut mereka dengan senyum lebar, sebuah pelukan hangat ia berikan pada Tuan Sanjaya sebelum menatap Hanum dengan binar protektif.
Di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan Jakarta, Hanum menghidupkan kembali ponselnya yang baru saja diperbaiki layarnya. Seketika, puluhan notifikasi pesan masuk dari nomor yang ia kenali sebagai ponsel teman sekolah putrinya.
"Kenapa, Num? Siapa yang menghubungimu?" tanya Alvaro dari jok depan, melirik melalui kaca spion tengah.
Hanum menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. "Kedua putriku, Kak... Mereka mengirim banyak pesan. Mereka sangat cemas mencariku."
Tuan Sanjaya yang duduk di samping Hanum mengelus tangan putrinya. "Mereka sekolah di mana, Hanum? Papah ingin sekali bertemu dengan cucu-cucu Papah. Sudah terlalu lama Papah kehilangan waktu dengan mereka."
Hanum terdiam sejenak, menghitung waktu di jam tangannya. "Kalau jam segini, Aliya dan Adiba seharusnya baru saja keluar kelas, Pah."
"Kebetulan sekali kalau begitu. Kita jemput mereka sekarang," timpal Alvaro mantap. Ia segera memberi instruksi pada sopir untuk mengubah haluan menuju SMP Harapan Bangsa.
SMP Harapan Bangsa
Suasana di depan gerbang SMP Harapan Bangsa tampak riuh oleh siswa yang berhamburan pulang. Di sudut parkiran, Aliya dan Adiba berdiri dengan wajah gelisah. Sopir pribadi yang biasa menjemput mereka baru saja mengabari bahwa ban mobilnya bocor dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.
"Kak, kita naik ojek online saja apa?" tanya Adiba lesu.
"Jangan, nanti Ayah marah kalau kita pulang tidak dengan sopir," jawab Aliya cemas.
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam berhenti tak jauh dari mereka. Sosok wanita dengan pakaian elegan namun wajahnya tertutup masker turun dari mobil tersebut. Wanita itu melangkah dengan anggun namun terburu-buru.
"Aliya! Adiba!" panggil Hanum dengan suara yang bergetar menahan rindu.
Kedua gadis itu tersentak. Suara itu, intonasi itu, mereka sangat mengenalinya meski wajah sang ibu tertutup masker.
"Bunda?!" teriak Aliya dan Adiba serempak.
Tanpa mempedulikan tas sekolah mereka yang berat, keduanya berlari kencang. Hanum merentangkan tangannya lebar-lebar, menyambut dua bidadarinya masuk ke dalam dekapan yang sudah sangat ia rindukan.
"Bunda! Bunda ke mana saja? Kami takut sekali!" isak Adiba sambil menenggelamkan wajahnya di dada Hanum.
"Maafkan Bunda, Sayang... Bunda ada di sini sekarang. Bunda tidak akan pergi lagi," bisik Hanum sambil mencium pucuk kepala kedua putrinya bergantian.
Di dalam mobil, Tuan Sanjaya menatap pemandangan itu dari balik kaca jendela dengan mata basah. Alvaro yang duduk di depan hanya bisa terdiam, hatinya berdenyut melihat kebahagiaan kecil itu. Namun di balik kebahagiaan itu, ia tahu bahwa pertemuan ini hanyalah awal dari perang perebutan hak asuh yang akan sangat menguras emosi.
"Masuk ke mobil, Nak. Ada seseorang yang sangat ingin bertemu kalian," ajak Hanum lembut sambil menuntun kedua putrinya menuju mobil, di mana kejutan besar sang kakek yang selama ini mereka kira sudah tidak peduli, kini tengah menunggu dengan tangan terbuka.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔