Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ke Fasilitas Medis
Aroma antiseptik tajam menusuk hidung, menutupi bau anyir darah yang menempel di pori-pori.
Roda brankar berderit nyaring bergesekan dengan lantai epoksi putih bersih. Lampu neon menyilaukan menyapu wajah pucat Sabrina secara bergantian. Perempuan itu terbaring kaku, tidak ada bedanya dengan mayat. Darah merah kental menetes lambat dari ujung jarinya yang koyak, melukis jejak horor di sepanjang koridor steril bunker bawah tanah fasilitas medis Halim Group.
"Tekanan darah sistolik enam puluh!" Tirta berteriak panik mengimbangi laju brankar. "Siapkan tiga kantong darah O-negatif! Pasang jalur infus ganda sekarang juga!"
"Kondisi panggulnya hancur, Dok! Ada infeksi akut di sisa tali pusar!" Seorang perawat membalas cepat. Tangannya sibuk menggunting sisa gaun putih Sabrina yang menempel kaku.
"Bawa dia langsung ke ruang operasi utama! Panggil tim bedah vaskuler!"
Pintu ganda ruang operasi terbuka otomatis, menelan brankar beserta tim medis ke dalam cahaya putih menyilaukan. Pintu itu menutup rapat kembali, menyisakan kesunyian steril di koridor.
Adrianus Halim berdiri tegak sepuluh langkah dari pintu tersebut. Jas mahalnya kotor bernoda darah. Tangannya menopang sosok kecil yang kini terbungkus selimut termal perak berlapis disinfektan. Ia tidak menoleh sedikit pun pada istrinya yang sedang bertarung melawan maut di ruang sebelah. Perhatiannya mutlak terpusat pada bayi di pelukannya.
"Bawa anak ini ke ruang NICU," perintah Adrian datar kepada dokter spesialis anak yang sudah menunggu dengan gemetar di sampingnya. "Satu goresan kecil di kulitnya, fasilitas ini kubakar rata dengan tanah."
"Baik, Pak Halim," jawab dokter itu tergagap. Ia mengambil bayi itu ekstra hati-hati, membaringkannya ke dalam inkubator portabel, lalu mendorongnya menuju ruang kaca tertutup di ujung koridor.
Ruang NICU itu sunyi. Hanya ada dengungan rendah filter udara dan bunyi ritmis monitor elektrokardiogram. Adrian masuk ke dalam, melangkah lambat mendekati kotak kaca di tengah ruangan.
Momen napas ini menjeda hiruk-pikuk berdarah sejak dari lereng pegunungan Puncak.
Di dalam inkubator, di bawah cahaya penghangat buatan, bayi itu berbaring tenang. Kabel sensor seukuran lidi menempel di dada kecilnya yang naik turun teratur. Kulit merahnya sudah dibersihkan dari lendir dan sisa darah.
Adrian memiringkan kepalanya, menatap lekat lewat dinding kaca.
Bayi itu membuka matanya. Tidak ada tangisan ketakutan. Satu bola mata hitam pekat dan satu bola mata biru kristal menatap lurus ke arah pria tiran di luar kotak kaca. Heterokromia mutlak. Mitos genetik garis keturunan pendiri klan Halim kini bernapas hidup di hadapannya.
"Denyut jantungnya seratus tiga puluh, Pak," lapor dokter anak itu pelan dari sudut ruangan, memecah sepi sesaat. "Suhu tubuhnya mulai stabil. Paru-parunya bersih sempurna. Secara klinis, ini kemustahilan."
Adrian tidak menoleh. Matanya masih mengunci tatapan bayinya. "Mustahil bagaimana maksudmu?"
"Nyonya Sabrina melahirkan di lantai kotor dengan suhu beku. Normalnya, bayi ini sudah mati akibat hipotermia." Dokter itu menelan ludah. "Istri Anda mengorbankan setiap inci sisa panas tubuhnya untuk insulasi. Nyonya Sabrina sengaja membuat dirinya membeku agar anak ini selamat."
Adrian memutar cincin platinum di jari telunjuknya. Kata pengorbanan tidak pernah ada dalam kamus bisnisnya. Namun, fakta medis ini menyajikan perhitungan baru di kepalanya. Aset rusak yang ia temukan di aspal tadi ternyata memiliki insting bertahan hidup setingkat predator buas.
Langkah sepatu pantofel berderap cepat membelah koridor luar. Langkah itu berhenti tepat di ambang pintu geser NICU.
Renaldo, tangan kanan Adrian, berdiri di sana. Wajah pria berjas hitam itu tegang. Keringat tipis menghiasi pelipisnya.
"Laporan," perintah Adrian tajam, mengalihkan pandangannya dari inkubator.
"Tim pembersih kita sudah menyisir vila terbengkalai di Puncak, Bos." Renaldo membaca data dari tablet di tangannya dengan nada tidak percaya. "Kita menemukan empat mayat preman bayaran Kania Tanjung."
"Sabrina disiksa?"
"Tidak, Bos." Renaldo menurunkan tabletnya, menatap langsung mata atasannya. "Nyonya Sabrina yang membantai mereka semua."
Adrian terdiam. Alisnya terangkat sebelah.
"Preman pertama mati lehernya berlubang tertembus paku beton. Preman kedua urat nadi lehernya putus disayat pecahan kaca. Preman ketiga dan keempat lumpuh total akibat jebakan kawat berkarat di area tangga." Renaldo menghela napas pendek. "Ini eksekusi lapangan kelas atas. Murni pembunuhan berencana."
Imajinasi Adrian memutar ulang sosok perempuan berlumur darah yang ia temukan di tepi jalan. Gaun sutra robek, telapak tangan hancur menembus kawat berduri, tapi mata hitamnya menyala menantang. Perempuan itu tidak lari ketakutan. Ia membantai musuhnya di saat rahimnya baru saja robek.
"Kania Tanjung," sebut Adrian pelan, mengeja nama itu seperti racun beracun.
"Kania sedang panik besar, Bos." Renaldo mengangguk cepat. "Saham Tanjung Group anjlok parah malam ini. Kania menghubungi dewan direksi tua. Dia meminta suntikan dana darurat untuk menutupi jejak hilangnya Nyonya Sabrina."
"Dia menggali kuburannya sendiri."
"Benar, Bos." Jari Renaldo bersiap menekan layar tablet. "Seluruh armada akuisisi kita sudah siaga. Kalau Anda beri lampu hijau sekarang, kita bisa membakar habis semua aset Kania Tanjung malam ini. Kita hancurkan perempuan itu sampai rata dengan tanah."
Ini adalah momen yang selalu dinikmati Adrian. Mengeksekusi lawan bisnis saat mereka berada di titik terlemah. Dominasi absolut tanpa ampun. Tangan kanannya biasanya akan langsung memberi isyarat pembantaian finansial tanpa ragu.
Namun, langkah Adrian terhenti.
Pria itu menoleh kembali ke arah inkubator kaca. Bayi bermata dua warna itu masih menatapnya lekat. Tanda bukti nyata dari darah dagingnya. Pewaris mutlak yang selamat berkat pertahanan buas ibunya. Sabrina telah memberikan segalanya untuk melindungi anak ini. Menyerang Kania sekarang berarti Adrian merampas panggung balas dendam yang secara hakiki milik istrinya.
Adrian menurunkan tangannya perlahan.
"Tarik mundur tim akuisisi," perintah Adrian dingin.
Renaldo tertegun. Matanya melebar kaget. "Bos? Ini target empuk kita. Kenapa dilepas?"
Renaldo menunggu instruksi. Adrian menatap kaca inkubator dingin.
"Tunggu sampai ibunya sadar."