"Dia adalah anakku, bukan anak haram"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Mereka tak pernah benar-benar ada karena cinta. Mereka disampingku hanya untuk harta dan kedudukan, bahkan mereka akan mundur perlahan karena malaikat kecil yang selalu ada di sisiku. Tapi kau, bagaimana dengan kau?"
~Rosita Salsabila Akbar~
"Aku tak pernah benar-benar mencintai wanita sebesar ini"
~Bimantara Eka Julian~
"Melihatlah ke arahku! Dan jangan katakan itu lagi, karena itu sangat menyakitkan buatku"
~Bimantara Eka Julian~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon r_eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putusnya Tali Pertunangan
"Milaaaaa......!" Teriak Sita lantang, membuat dua manusia dihadapannya itu geragapan, segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang tak tertutup satu helai benang pun.
"Mbak Sita", ucap Mila lemas.
" Sita!" Rafi ikut bersuara hampir bebarengan dengan Mila.
"Pakai pakaian kalian segera!" Perintah Sita sambil membalikkan badan memunggungi Mila dan Rafi.
Rafi yang sudah memakai celana panjangnya, segera melangkah menghampiri Sita. Menarik pundak wanita itu, sehingga tubuh Sita memutar, menghadap ke arahnya.
"Aku bisa jelaskan", kata Rafi dengan wajah yang sulit diartikan. Ada guratan takut, sedih, juga marah.
Plakkkkk......Belum selesai Rafi berucap, tamparan keras melayang di pipi Pria itu, hingga menyisakan bekas di sana.
"Brengsek kamu, ********!" Seru Sita sambil jarinya menunjuk ke arah Rafi. "Selama ini aku hanya mendengar sepak terjangmu dengan wanita-wanita cantik di luar sana, tapi sekarang mata kepalaku tahu sendiri. Dasar ******** kamu!"
"Mulai sekarang, ikatan pertunangan kita selesai", ucap Sita dengan tegas, ia melupakan begitu saja tujuan sebenarnya selama ini menjalin hubungan dengan Rafi.
"Dan kamu!" Sita mengalihkan pandangannya ke arah Mila yang sudah berdiri di dekat tempat tidur dengan kepala menunduk, sambil mengarahkan jari telunjuk ke arah adiknya itu.
"Mbak pikir kamu sudah sembuh. Sudah kapok dengan pengalaman yang kamu alami dulu. Tapi ternyata tidak. Mbak kecewa sama kamu, Mil", kata Sita. "Kamu balik aja ke rumah Ayah! Aku nggak mau rumahku ini kotor karena tingkahmu. Selain itu aku juga tidak mau Gala melihat hal-hal seperti ini", sambung Sita, membuat Mila terperanjat. Mila tak menyangka kakaknya bisa tega mengusirnya.
"Tunggu sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan", kata Rafi sambil menarik tangan Sita yang hendak melangkah keluar dari kamar itu.
Sita mengibaskan tangan Rafi dari tangannya dan membalik badannya menghadap pria itu. "Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!" Marah Sita.
"Aku tak peduli alasanmu. Aku sudah jijik denganmu. Dan seperti yang kukatakan tadi, hubungan kita selesai titik", kata Sita.
"Baiklah kalau itu maumu. Asal kamu tau aku sebenarnya juga muak denganmu. Kau tidak seperti Mila yang mencintaiku dan memperlakukanku dengan baik. Kau, kau hanya wanita yang pura-pura sok suci dihadapanku, padahal anak itu kau dapat dari perbuatan kotormu juga", Rafi berteriak tak kalah lantang.
Plakkkk.....lagi-lagi Sita mendaratkan tamparan nya di pipi Rafi. "Kau boleh menghinaku, tapi jangan sekali-sekali menghina anakku", kata Sita. "Pergi dari sini kau ********!" Perintah Sita, sambil menunjuk arah jalan keluar.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rafi mengambil pakaiannya. Kemudian merangkul Mila dan berusaha menenangkan wanita itu, meskipun Mila sebenarnya nampak baik-baik saja. Mereka berjalan keluar kamar melewati Sita, sambil sengaja memamerkan kemesraan untuk menyakiti Sita.
"Tenanglah sayang, aku akan selalu di sampingmu", kata Rafi sambil satu tangannya tetap merangkul Mila, sementara tangan yang lain merapikan rambut Mila yang berantakan.
Sita mengurungkan niat awalnya untuk pergi ke dapur. Wanita itu memutuskan kembali ke kamarnya, dengan berlari. Langkah kakinya yang cepat itu membuat Mbak Saroh yang baru saja keluar dari kamar Gala, bertanya-tanya. "Ada apa, Bu Sita?" Tanya Mbak Saroh, namun Sita tak merespon dan terus berlari masuk ke kamarnya.
Sita menutup pintu kamarnya dengan keras, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dipeluknya bantal bebarengan dengan tangisnya yang pecah begitu saja.
Ia memang tidak pernah mencintai Rafi sedikitpun, sehingga tanggisnya kini memang bukan sebagai efek berakhirnya pertunangan mereka, namun lebih kepada kecewa akan perbuatan kedua orang itu dirumahnua. Sekaligus sebagai bentuk rasa sakit sering di khianati orang-orang di sekitarnya.
Cukup lama Sita menangis sendiri di kamarnya, hingga ia ketiduran. Ia terbangun ketika untuk kesekian kalinya, ponselnya berbunyi, yang menandakan ada panggilan masuk.
Dengan sedikit menggeser tubuhnya, ia menjangkau ponsel yang sejak tadi ada di atas nakas. Melihat nama siapa orang yang kini sedang meneleponnya, Sita segera menggeser simbol hijau yang ada di layar ponselnya, sambil menata tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.
"Iya Tih, ada apa?" Kata Sita pada orang di seberang telepon dengan nada yang tidak bersemangat.
Orang yang menghubungi Sita saat ini adalah Ratih. Ratih sempat memprotes Sita yang mematikan ponselnya beberapa hari, sehingga membuat asisten pribadinya itu kesulitan menghubunginya, sebelum menjelaskan tujuan utamanya menelepon malam ini.
Ratih menyampaikan bahwa besok ada undangan jamuan makan siang yang diadakan seorang pengusaha senior di kota tempat tinggal mereka. Jamuan itu mengundang para pengusaha muda.
Awalnya Sita ingin menolak tawaran itu karena ia masih enggan bertemu banyak orang. Namun setelah ia pertimbangkan, ia memutuskan untuk datang. Ia berharap pertemuannya dengan para pembisnis muda bisa membawa atmosfir segar bagi bidang usahanya agar semakin gemilang sekaligus berbagi pengalaman bisnis.
"Baiklah, aku akan menghadiri jamuan makan siang itu. Tolong atur scheduleku besok", kata Sita, sebelum mengakhiri perbincangan di telepon dengan Ratih.
smga sehat" trs dan bs lnjut lg thor
nah semangat thor, semoga sukses.
memang ada sih yang bilang biar penasaran.
mending mantan penjahat ya kan
buat perjanjian pranikah antara mila dan rafi misalnya " apabila rafi ketahuan selingkuh maka gugur kepemilikkan saham"