"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'
Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.
Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Di aula pesta yang mewah, mata semua orang tertuju pada Dewi, Rizky, dan Lina. Suasana yang sebelumnya hangat mendadak berubah tegang. Para tamu tahu sedikit banyak tentang gosip keluarga Rizky, tapi sebagian besar menahan diri, takut terjerat dalam urusan orang kaya. Namun pandangan mereka tak bisa menyembunyikan rasa penasaran—apakah mantan istri itu benar-benar seputih dan sebenar-benar tidak bersalah seperti yang terdengar?
Rizky mengerutkan alisnya. Ia merasa tindakan Lina terlalu keterlaluan. Hatinya ingin segera melangkah untuk menarik Lina agar berhenti, tapi saat itu, Dewi tiba-tiba berbalik, wajahnya dingin seperti es. Semua orang terdiam, tidak ada yang bergerak.
Dewi melangkah mantap ke arah Lina. Dengan satu gerakan cepat, ia mencengkeram lengan Lina dan menyeretnya ke tepi kolam. Lina terkejut, tubuhnya tak mampu menahan tarikan Dewi, tidak sempat melawan. Dewi menatap Lina dengan mata tajam, menekan dagunya dengan satu genggaman kuat, lalu menampar wajah Lina dengan keras. Suara tamparan bergema, Lina terhuyung, dan sebelum sempat bangkit, ia sudah terjerembab ke dalam kolam. Tangis Lina terhenti seketika, yang terdengar hanyalah percikan air saat ia berjuang dengan canggung di dalam air, wajahnya penuh rasa malu.
Dewi melepaskan genggamannya, menatap ke kolam dengan dingin. Suaranya tenang dan sinis, "Jika aku tidak pernah melakukan sesuatu, tentu aku tidak akan mengakuinya. Sekarang kau terjatuh, kau bisa mengaku atau tidak, terserah. Tapi semua orang sudah melihat."
Semua mata yang sebelumnya menatap Dewi dengan heran kini bergeser ke Lina. Banyak yang mulai menyadari bahwa Lina tengah memainkan drama sendiri, berusaha memanipulasi situasi. Bisik-bisik terdengar di antara tamu, nada ragu dan kagum bercampur.
Belum sempat Lina bangkit, Dewi dengan gerakan lambat namun tegas mengambil gelas berisi anggur Lafite tahun 1982 dari meja samping. Tanpa ragu, ia menumpahkan seluruh isi gelas ke kepala Lina. Cairan merah keemasan mengalir ke rambut dan wajah Lina, menghancurkan sisa-sisa wibawa yang mungkin masih tersisa. Dewi menatapnya sejenak, lalu berkata dingin, "Ini untukmu… tambahan hadiah dari aku."
Dengan langkah tenang, Dewi meninggalkan tepi kolam. Pandangan tamu-tamu pesta yang semula penuh rasa penasaran kini berubah menjadi cemoohan terselubung. Mata mereka menunjukkan siapa sebenarnya pihak yang bersandiwara. Lina berdiri di tepi kolam, tubuh basah kuyup, wajah memerah, campuran antara takut dan marah. Suaranya bergetar saat ia menatap Rizky, memohon, "Tolong… tolong aku… aku ingin segera pergi dari sini…"
Rizky menatapnya dengan mata gelap, dingin, seperti arang panas. Suaranya terdengar berat dan menusuk, "Apakah kau sengaja menjatuhkan dirimu sendiri?"
Lina panik, tergagap menangkis, "Bukan… bukan aku… Hendra… Hendra juga…" Ia mencoba menyebut nama Hendra untuk mencari simpati, berharap Rizky percaya kepadanya.
Rizky menatapnya tanpa kata, mata hitamnya menusuk seperti belati. Ia menunduk sedikit, bersiap untuk membawa Lina pergi dari pesta, membiarkan aibnya sendiri tertutup.
Namun, perhatian semua orang segera tertuju ke lantai dua. Dari sana terdengar bunyi langkah ringan, suara tas yang digerakkan. Semua orang menoleh, dan pandangan mereka terhenti pada Dewi yang bersandar di pagar balkon lantai dua. Posturnya santai, penuh percaya diri, aura pesona yang tak bisa diabaikan terpancar dari setiap gerakannya. Di sampingnya terletak tas kulit buaya besar, menandakan kekayaan yang nyata.
Dewi meraih tas itu, membuka ritsletingnya, dan menarik setumpuk uang tunai. Satu per satu, ia mengangkat dan melemparkan uang itu ke udara. Lembar demi lembar jatuh seperti hujan di atas aula. Tamparan visual ini membuat semua tamu tercengang, mulut terbuka, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Ia tidak berhenti di situ. Dengan gerakan tegas, Dewi membalik seluruh isi tas, menumpahkan semua 2,5 milyar rupiah uang tunai di hadapan Rizky dan Lina. Uang itu berserakan di lantai, berkilau di bawah cahaya kristal chandelier, memantulkan bayangan wajah mereka berdua. Aula yang penuh kemewahan kini dipenuhi suara terkejut, decak kagum, dan bisik-bisik tamu yang tidak percaya.
Lina terperangah, bibirnya gemetar. Ia menatap uang itu, hatinya campur aduk antara takut, iri, dan kebingungan. Ia ingin menggerakkan tubuhnya, mencoba mengambil kembali kendali situasi, tapi Dewi sudah turun dari balkon dengan langkah anggun. Setiap tamu yang menatap kini tahu siapa yang benar-benar berkuasa di tengah drama ini.
Rizky tetap di tempatnya, wajahnya tegang. Pandangan hitamnya menempel pada Dewi, tapi kali ini bukan dengan ketegangan atau marah, melainkan kagum yang tersembunyi. Dewi, mantan istrinya, menunjukkan kontrol penuh atas situasi, menjatuhkan uang itu sebagai simbol kekuatan dan kemandirian, sekaligus mempermalukan Lina yang selama ini pura-pura berada di atas.
Lina akhirnya menunduk, tidak mampu lagi bersandiwara. Tangannya gemetar, tubuhnya basah kuyup, dan air mata bercampur dengan anggur yang menetes dari rambutnya. Ia berbalik kepada Rizky, suaranya hampir tak terdengar, "Tolong… bawakan aku pergi… aku… aku tidak kuat lagi…"
Rizky mendekat, menatap Lina sekali lagi, lalu menggenggam tangannya dengan tenang namun tegas. Namun sebelum ia membawa Lina pergi, Dewi sudah melangkah ke sisi lain aula, berjalan di antara tamu-tamu yang tertegun, meninggalkan jejak kekuatan yang jelas dan tak terbantahkan.
Pandangan semua orang kini sepenuhnya berubah. Mereka tidak lagi menilai Dewi dengan simpati atau kecurigaan—mereka menyadari Lina yang selama ini bersandiwara, yang berusaha menipu semua orang. Dewi, dengan tindakan tegas dan dramatisnya, menegaskan siapa yang benar-benar berkuasa, siapa yang benar-benar memiliki keberanian menghadapi gosip, rumor, dan manipulasi orang lain.
Aula itu kembali sunyi, hanya suara uang yang berserakan di lantai dan desah kagum tamu-tamu yang terdengar. Dewi menatap Rizky sebentar, senyum tipis namun menantang menghiasi wajahnya. Ia tahu, pertarungan ini belum selesai sepenuhnya, tapi setidaknya malam ini, ia berhasil membalikkan keadaan, mengembalikan harga diri, dan menegaskan siapa yang mengendalikan permainan.
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....