NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemeja Hitam, Sepatu Anti-Kopi, dan Sebuah Dokumen Rahasia

Ruang Arsip Bawah Tanah, Museum Nasional Jakarta - Pukul 18.45 WIB.

Bagi Dr. Lyra Andini, menghadapi peledak C4 dengan waktu mundur di bawah tanah rupanya jauh lebih mudah daripada menghadapi lemari pakaiannya sendiri di hari Jumat malam.

Lyra berdiri di depan cermin kecil di kamar mandi staf museum, menatap pantulan dirinya dengan frustasi. Ia sudah berganti pakaian tiga kali dalam satu jam terakhir. Di lantai, teronggok kemeja flanel kebesarannya dan sebuah gaun bunga-bunga yang membuatnya terlihat seperti anak sekolah dasar yang akan pergi ke pesta ulang tahun.

Akhirnya, ia menjatuhkan pilihan pada sebuah gaun midi berlengan panjang berwarna navy blue yang sederhana namun pas di tubuh mungilnya. Kainnya jatuh dengan lembut hingga ke bawah lutut, diikat oleh sabuk kulit kecil di pinggang. Ia memadukannya dengan sepatu flat berwarna krem—ia menolak memakai hak tinggi, menimbang rekam jejak gravitasinya yang menyedihkan. Rambutnya tidak lagi dicepol asal menggunakan pensil, melainkan diikat separuh ke belakang dengan jepit perak, membiarkan sisa gelombangnya jatuh membingkai wajah.

Tentu saja, kacamata bulatnya tetap bertengger di hidungnya. Ia sudah mencoba memakai lensa kontak, tetapi matanya berakhir semerah tomat karena iritasi.

Lyra menarik napas panjang, menatap tangannya. Pukul 18.55.

Sejak insiden dirumah sakit, komunikasi mereka terbatas pada pesan teks yang sangat kontras. Pesan Lyra biasanya panjang, penuh detail tentang artefak yang sedang ia teliti, diakhiri dengan beberapa emotikon. Balasan Kolonel Rayyan Aksara? Singkat, presisi, sempurna tanda bacanya, dan efisien.

Lyra :

“Saya baru saja menemukan bahwa VOC salah menerjemahkan prasasti di kuil itu! Mereka mengira itu resep obat abadi, padahal itu peringatan racun. Pantas saja mereka menyegelnya! Oh, bagaimana jahitan Anda hari ini, Kolonel? Jangan lupa minum antibiotiknya. (Emotikon tersenyum)”

Rayyan:

”jahitan saya sudah kering. Dokter mengizinkan saya kembali bertugas lari sepuluh kilometer besok pagi. Bagus sekali kerjamu soal prasasti itu. Jangan lupa makan siangmu, Lyra.”

Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan. Namun, fakta bahwa seorang Komandan Black Ops meluangkan waktu di sela-sela rapat intelijennya hanya untuk mengingatkan seorang arkeolog makan siang, sudah cukup membuat Lyra senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya seperti orang bodoh.

Tepat pukul 19.00, ponsel Lyra bergetar pendek. Satu pesan masuk.

Rayyan:

“Saya di lobi depan.”

Jantung Lyra langsung berdebar gila-gilaan. Ia merapikan gaunnya sekali lagi, menyambar tas selempang kecilnya, dan berjalan setengah berlari menyusuri lorong museum yang sudah sepi menuju lobi utama.

Saat pintu lift lobi terbuka, langkah Lyra terhenti seketika. Oksigen seolah tersedot habis dari ruangan itu.

Kolonel Rayyan Aksara sedang berdiri menghadap pintu kaca utama, kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana. Namun, pria itu tidak mengenakan seragam militer, rompi kevlar, atau cat kamuflase di wajahnya.

Rayyan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam pekat yang potongannya begitu pas, menonjolkan otot bahu dan dada bidangnya yang terbentuk sempurna oleh latihan militer bertahun-tahun. Lengan kemeja itu digulung hingga ke bawah siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan taktis di pergelangan tangan kirinya. Ia memadukannya dengan celana jeans berwarna gelap dan… sepatu bot kulit yang sangat bersih.

Mendengar suara langkah Lyra, Rayyan memutar tubuhnya.

Tatapan obsidian pria itu langsung mengunci Lyra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mata Rayyan yang biasanya tajam dan mengintimidasi, kini menggelap oleh sebuah apresiasi maskulin yang membuat napas Lyra tertahan. Pria itu tidak berkedip selama tiga detik penuh.

“Selamat malam, Kolonel,” sapa Lyra canggung, berusaha memecah keheningan yang tiba-tiba terasa sangat intim. Tangannya meremas tali tas selempangnya erat-erat.

Rayyan memangkas jarak diantara mereka dengan langkah panjang dan tenang. Aura otoritasnya tidak berkurang sedikit pun walau tanpa seragam. Saat ia berdiri tepat di depan Lyra, wangi peppermin dan aroma maskulin yang bersih menguar, membawa memori Lyra kembali pada malam menegangkan di dalam gua bawah tanah.

“Kau melanggar protokol keamanan, Lyra,” ucap Rayyan dengan suara baritonnya yang rendah dan serak.

Lyra mengerjap bingung, menatap gaunnya sendiri. “Hah? Apa yang salah dengan baju saya? Saya sudah memastikan tidak memakai baju lapangan—“

“Tidak ada yang salah,” potong Rayyan. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai mematikan yang sangat langka. Jari tangannya terulur perlahan, menyentuh lembut pipi Lyra. “Kau terlihat… sangat cantik malam ini. Sangat cantik hingga membuatku berpikir untuk membatalkan reservasi restoran dan menyembunyikanmu dalam mobil saja.”

Wajah Lyra langsung memerah seketika seperti kepiting rebus. Kalimat itu dilontarkan dengan nada sedatar laporan cuaca, tetapi efeknya seperti ledakan RPG di dada Lyra. Pria ini benar-benar tidak tahu cara berbasa-basi; ia selalu menyerang tepat sasaran.

“S-saya sangat lapar, Kolonel,” cicit Lyra panik, berusaha mengalihkan pembicaraan. “Tolong jangan kurung saya di mobil.”

Rayyan terkekeh pelan. Ia menjatuhkan tangannya, lalu menawarkan lengan kanannya kepada Lyra dengan gestur protektif. “Mobilku di luar. Dan jangan khawatir, aku sudah memakai sepatu bot kulit anti air-berlapis ganda malam ini. Kau bebas menumpahkan apa pun sesukamu.”

Lyra mendengus pelan, menahan senyumnya, lalu menyelipkan lengannya ke lengan Rayyan yang sekeras baja. “Saya akan menganggap itu sebagai tantangan, Kolonel.”

Pukul 20.15 WIB. Ruang VIP, Restoran L’Atelier.

Rayyan benar-benar tidak main-main dengan ancamannya untuk “menaklukkan Lyra”. Ia memesan sebuah ruang makan privat di lantai atas restoran kelas atas yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Ruangan itu kedap suara, remang-remang, dan sangat tertutup—cocok untuk kencan seorang perwira intelijen rahasia.

Makan malam berjalan jauh lebih luwes dari yang Lyra bayangkan. Di luar medan perang, Rayyan rupanya pendengar yang sangat baik. Pria itu membiarkan Lyra berceloteh panjang lebar tentang betapa susahnya proses restorasi keramik Dinasti Song, tanpa menyela sedikit pun. Sebagai gantinya, Rayyan sesekali menceritakan sisi absurd dari pelatihan militer, menyingkap sisi humorisnya yang sangat kering dan sarkastis.

Saat pramusaji membersihkan piring utama mereka dan meletakkan dua cangkir teh chamomile hangat, atmosfer di ruangan itu perlahan berubah. Mode santai sang Kolonel perlahan memudar, digantikan oleh postur siaga yang familier.

Rayyan merogoh saku dalam kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah map dokumen hitam tebal yang disegel dengan lambang burung Garuda berwarna emas. Ia meletakkan map itu tepat di tengah meja, di bawah pendar cahaya lilin, lalu menggesernya ke hadapan Lyra.

Lyra menatap map itu, lalu menatap Rayyan dengan dahi berkerut. “Kolonel… apakah ini menu dessert-nya? Karena kalau iya, ini sangat sulit untuk dikunyah.”

Rayyan tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua tangan terlipat di dada. “Buka segelnya, Dr. Andini.”

Insting akademis Lyra mengambil alih. Ia menarik segel stiker berhologram itu hingga putus, lalu membuka map tersebut. Lembar pertama adalah sebuah surat keputusan kenegaraan dengan klasifikasi SANGAT RAHASIA. Mata Lyra bergerak cepat menyapu paragraf demi paragraf, dan semakin jauh ia membaca, semakin besar pula matanya membelalak.

Keputusan Panglima Komando Intelijen… Pembentukan Divisi Baru… Satuan Tugas Ekstraksi Artefak Berbahaya (Satgas Sandi Kala)…

Lyra mendongak, menatap Rayyan tak percaya. “Satgas Sandi Kala? Mereka menggunakan nama operasi kita untuk membuat divisi baru?”

“Lanjutkan membacanya ke halaman tiga,” instruksi Rayyan tenang.

Lyra membalik halamannya dengan jari gemetar. Di sana, terdapat struktur organisasi divisi tersebut. Di bawah kotak besar bertuliskan Panglima Tertinggi, terdapat dua kotak struktural utama yang posisinya sejajar.

Kotak Pertama: Ketua Konsultan Ahli Sejarah & Epigrafi: Dr. Lyra Andini.

Kotak Kedua : Komandan Taktis & Eksekusi Lapangan: Kol. Rayyan Aksara.

Lyra kehabisan kata-kata. Ia meletakkan dokumen itu, napasnya sedikit memburu. “Mereka… mereka secara resmi menjadikanku pegawai BIN? Sebuah divisi permanen?”

“Insiden bunker VOC bulan lalu membuka mata pemerintah,” Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja. Matanya menatap Lyra lekat-lekat. “Mereka menyadari bahwa ancaman terhadap keamanan nasional tidak selalu datang dari teroris modern. Terkadang, ancaman itu terkubur berabad-abad di bawah tanah, menunggu orang bodoh untuk menggali dan melepaskannya.”

“Dan mereka membutuhkan seorang sejarawan untuk membedakan mana guci kuno biasa, dan guci kuno yang berisi wabah mematikan.” Gumam Lyra, mulai memahami urgensinya.

“Tepat,” Rayyan mengangguk. “Jenderal Haris sangat terkesan dengan caramu memecahkan sandi hidrolik di bawah tekanan tembakan RPG. Mulai senin depan, kau tidak lagi bekerja sendirian di basement museum yang berdebu itu. Kau akan memiliki laboratorium dengan fasilitas keamanan tingkat tinggi di markas besar.”

Lyra menatap dokumen itu lama. Perasaan campur aduk melandanya. Rasa bangga sebagai seorang ilmuwan membuncah di dadanya, namun ketakutan akan bahaya mematikan yang mungkin menantinya kembali membuat perutnya mulas.

“Rayyan…” Lyra memanggil nama pria itu pelan. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sang Kolonel. “Saya ini ceroboh. Saya tidak bisa memegang senjata. Saya bahkan tidak bisa berlari cepat tanpa tersandung. Bagaimana jika di misi berikutnya, kebodohanku membahayakan nyawamu lagi?”

Rayyan terdiam sejenak. Ia melihat ketakutan murni di mata Lyra. Tanpa ragu, pria itu mengulurkan tangannya melintasi meja, meraih kedua tangan Lyra yang dingin dan menggenggamnya erat, memberikan kehangatan dan jangkar yang selalu Lyra butuhkan.

“Di struktur organisasi itu, kotak namamu dan kontak namaku sejajar, Lyra. Tahu apa artinya?” Tanya Rayyan dengan suara yang sangat lembut namun dipenuhi keyakinan absolut.

Lyra menggeleng pelan.

“Artinya, kita adalah mitra,” Rayyan mengusap punggung tangan Lyra dengan Ibu jarinya. “Tugasmu adalah memecahkan teka-tekinya. Tugasmu adalah memastikan masa lalu tidak membunuh kita. Sedangkan tugasku? Tugasku adalah memastikan tidak ada satu peluru pun, tidak ada satu bilah pisau pun, yang berani menyentuh kulitmu saat kau sedang berpikir.”

Rayyan menatap dalam-dalam ke dalam bola mata Lyra, memastikan setiap keraguan gadis itu terbakar habis oleh keyakinannya.

“Kau mengurus sejarahnya, Lyra. Biar aku yang mengurus keamanannya. Aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh, baik di medan perang maupun di lorong museum. Kau percaya padaku?”

Lyra merasakan air mata hangat menggenang di pelupuk matanya. Kepercayaan yang diberikan Rayyan padanya jauh lebih besar daripada gelar akademis mana pun yang pernah ia raih. Di balik kaku dan dinginnya seorang mesin pembunuh, Rayyan adalah pelindung yang tak tergoyahkan.

Perlahan, senyum yang sangat tulus mengembang di wajah Lyra. Ia membalas genggaman tangan Rayyan tak kalah eratnya. Rasa takutnya menguap, digantikan oleh adrenalin dan keberanian baru.

“Saya percaya padamu, Komandan,” bisik Lyra mantap.

Rayyan membalas senyuman itu dengan seringai tampannya. Ia mengangkat tangan Lyra ke depan bibirnya, mengecup punggung tangan gadis itu dengan sangat lembut, membuat ribuan kupu-kupu meledak di perut Lyra.

“Bagus,” ucap Rayyan, suaranya kembali dipenuhi oleh ketegasan militer yang dirindukan Lyra. “Kalau begitu, persiapkan dirimu, Dr. Andini. Karena lusa, kita terbang ke situs penggalian di daratan tinggi Dieng. Ada anomali magnetik dari sebuah candi yang belum terpetakan, dan intelijen mendeteksi pergerakan tentara bayaran disana.”

Lyra tertawa renyah, sebuah tawa yang melepaskan seluruh beban di pundaknya. “Dataran tinggi, Kolonel? Kuharap Anda menyiapkan rompi anti-peluru yang pas ukurannya untukku kali ini.”

“Aku sudah memesan rompi khusus yang lebih ringan untukmu,” Rayyan mengedipkan sebelah matanya. “Dan helm taktis yang pas dengan ukuran kepalamu agar kacamatamu tidak terus-terusan melorot.”

Malam itu, di bawah pendar lampu ibu kota, sebuah kemitraan yang mematikan dan romansa yang tak terelakkan resmi terjalin. Sejarah mungkin penuh dengan jebakan yang mematikan, tetapi selama Kolonel Rayyan Aksara berdiri di sampingnya, Dr. Lyra Andini siap untuk menggali rahasia tergelap apapun yang disembunyikan bumi.

Satgas Sandi Kala, resmi beroperasi.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NP: Kak, makasih Love nya 🤗
total 1 replies
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!