“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Lu Ming segera datang bu
Pagi harinya, suasana di Desa Bambu Hitam terasa sangat khidmat, pilu, dan sunyi mencekam.
Seluruh penduduk desa, dari orang tua hingga anak-anak kecil, berkumpul di gerbang utama desa yang terbuat dari batang-batang bambu hitam yang kokoh.
Kabar keberangkatan sang "Sarjana Berdarah" telah menyebar seperti api di musim kemarau, dari mulut ke mulut dengan nada tak percaya. Tidak ada keramaian, tidak ada tawa. Langit pagi yang kelabu seolah ikut merasakan duka desa itu.
Guntur, yang kini sudah menjadi pria berwibawa dengan janggut yang mulai tumbuh, berdiri di depan barisan.
Matanya merah, berjuang sekuat tenaga menahan air mata agar tidak jatuh di depan penduduk desa. "Tuan Muda Lu Ming… desa ini tidak akan pernah menjadi apa-apa tanpamu. Kedamaian dan kemakmuran yang kami nikmati sekarang… semuanya karena darah dan pedangmu. Apakah Anda benar-benar harus pergi meninggalkan kami?"
Lu Ming tersenyum tipis, senyum tulus yang sangat jarang ia perlihatkan selama sepuluh tahun ini.
Ia menyandang bungkusan kain sederhananya di bahu, dan di pinggangnya tersampir pedang besi pendek yang kini sudah ditempa ulang menjadi lebih tajam dan berkilau, hasil karya seorang pandai besi di kota.
"Setiap burung memiliki sarangnya, Guntur. Tapi seorang burung pengembara hanya memiliki langit sebagai rumahnya. Perjalananku baru saja dimulai kembali," ucap Lu Ming lembut, suaranya tenang namun memiliki ketegasan yang tak bisa dibantah.
Ia berjalan menuju papan pengumuman desa yang besar, tempat di mana peraturan desa dan berita penting biasanya ditempel.
Di sana, ia menempelkan selembar kertas besar berisi puisi terakhirnya untuk desa tersebut.
Tulisan kaligrafinya begitu indah, tajam, dan penuh energi. Setiap goresan kuasnya mengandung aliran Qi yang samar, membuat huruf-huruf itu seolah-olah bernapas dan memancarkan emosi sang penyair.
Ia membacanya dengan suara lantang yang bergema di seluruh lembah, menembus kabut pagi:
"Sepuluh tahun bambu hitam menjadi saksi,"
"Darah bandit kupendam di bawah akar yang sunyi."
"Kalian memberiku nasi, aku memberiku nyawa,"
"Namun rindu di dadaku tak kunjung reda."
"Maafkan langkahku yang menjauh dari gerbang,"
"Mencari bayangan ibu di balik gunung yang menjulang."
"Jika maut menjemputku di jalan yang berdebu,"
"Biarlah puisiku tetap tinggal di hati desa yang teduh."
"Jangan tangisi kepergian seorang pembunuh yang berdosa,"
"Doakan saja agar aku menemukan apa yang kupuja."
Begitu bait terakhir selesai diucapkan, isak tangis akhirnya pecah di antara kerumunan penduduk.
Para wanita desa menutupi wajah mereka dengan kain kasar mereka, dan para pria menunduk dalam-dalam, bahu mereka berguncang menahan duka.
Mereka tahu bahwa tanpa Lu Ming, desa ini telah kehilangan jiwanya, pelindungnya, dan "Sarjana"-nya.
Namun mereka juga tahu, Lu Ming bukanlah milik lembah kecil ini. Ia adalah seekor naga yang terperangkap di dalam kolam dangkal, hanya menunggu saat yang tepat untuk mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke langit luas.
Lu Ming membungkuk hormat kepada seluruh warga desa, sebuah penghormatan terakhir yang sangat rendah dan penuh rasa syukur. "Maafkan saya jika selama sepuluh tahun ini saya sering menakuti kalian dengan kegelapan di pedang saya. Terima kasih… terima kasih telah membiarkan saya merasa memiliki sebuah rumah kembali."
Ia berbalik dan melangkah. Langkahnya ringan namun pasti, sebuah teknik pernapasan refined yang ia sempurnakan di ranah Arus Qi. Setiap langkahnya meninggalkan jejak Qi yang tipis di tanah yang basah oleh embun pagi.
"Tuan Muda Lu Ming!" teriak seorang anak kecil dari kerumunan, anak yang dulu sering Lu Ming beri manisan saat ia masih kecil. "Tuan Muda… Kembalilah jika Anda sudah menemukan Ibu!"
Lu Ming tidak menoleh. Ia tidak ingin mereka melihat air mata yang akhirnya menetes dari sudut matanya yang dingin.
Ia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara sebagai tanda perpisahan terakhir.
Ia terus berjalan menembus kabut pagi yang menyelimuti hutan bambu hitam, menghilang perlahan ke dalam ketidaktahuan.
Dalam hatinya, ia membisikkan satu janji bisu yang telah ia jaga selama dua puluh tahun, sebuah api kecil yang tak pernah padam di tengah badai.
"Ibu… Lu Ming yang berumur lima tahun itu masih setia menunggumu di sudut gerbang kota yang dingin. Dan Lu Ming yang berumur dua puluh lima tahun ini… sedang datang ke Ibukota untuk menjemputmu pulang."