kau hadir saat ku benar benar merasa hancur dan nyaris gila dengan alur cerita hidupku. kau seperti malaikat tak bersayap yg di utus tuhan untuk menyadarkan dan menyelamatkan hidupku.
tanpamu aku bukan lah siapa siapa, tanpamu aku hanya orang hina yg kehilangan arah tujuan hidup.
takan cukup aku mengucap kata terimakasih kepadamu, atas segala kebaikan dan ketulusan hatimu.
kaulah jawaban do'a dalam hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lukmanben99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berbohong pada orang tua
Ya udah deh Kang. Aku pulang duluan ya. Kang Kamu hati-hati ya. Nanti kalau ada apa-apa kabarin aku ya Kang. Kalau Akang udah nyampe rumah kabarin aku ya Kang...!” ucapnya beruntun, sambil ngambil bonekanya.
“Iya Lin. Nanti aku kabarin,” janjiku.
Dia masuk taksi, melambaikan tangan dengan senyum manis. “Hati-hati, Kang!”
“Hati-hati di jalan Lin!” balasku.
Taksi itu melaju, membawa Elina dan separuh hatiku. Kini tinggal aku sendiri, menatap vespa butut di tengah malam. Tapi anehnya... aku nggak ngerasa sendiri. Senyumku nggak hilang-hilang.
*di rumah elina...*
Sesampainya di rumah, Elina masuk dan mendapati Mamahnya sedang nonton TV.
“Kamu dari mana jam segini baru pulang? Mamah nungguin kamu loh dari tadi,” tanya Mamahnya lembut tapi selidik.
“Em... aku abis main sama temen Mah!” jawab Elina buru-buru sambil jalan ke kamar. Mamahnya melihat boneka besar di pelukannya.
“Itu kamu bawa boneka dari siapa?”
“Kepo Mamah!” Elina nyengir, lalu ngibrit ke kamar. Mamahnya cuma geleng-geleng sambil senyum.
Di kamar. Elina rebahan, memeluk boneka beruang dariku. Dia kirim pesan: _Kang, aku udah nyampe. Akang udah nyampe belum?_
Aku balas: _Belum lin, masih di jalan, bentar lagi nyampe kok"
" yaudah hati hati ya kang. Nanti kalo udah nyampe rumah kabarin aku ya kang!"
setelah itu elina senyum-senyum sendiri, memandangi gelang di tangannya. Mengingat kejadian tadi. Mengingat teriakanku, _“Aku suka cinta sama kamu”_. Pipinya merona.
*ke esokan harinya..*
Pulang sekolah, kulihat Elina jalan ke tempat biasa dia nunggu jemputan Papahnya. Aku samperin dengan vespa ku yang sudah sehat walafiat.
“Lin pulang bareng yuk,” ajakku.
Tanpa ragu, dia mengangguk. Tapi sebelum naik ke motorku, dia buka HP, ketik pesan ke Papahnya: _Pah, Elina pulang duluan ya naik taksi. papah nggak usah jemput._ pesan elina.
Aku nggak tau dia bohong ke Papahnya. Yang aku tau, detik itu juga dia naik ke motorku, tangannya melingkar di pinggangku.
Di tengah jalan, sebelum sampai rumahnya, aku menghentikan laju motor ku di suatu tempat.
“Kok berhenti di sini Kang?” tanya Elina penasaran. Kami berhenti di pinggir danau yang sepi, tempat biasa aku mancing sama Dony.
“Iya, kita ke sana dulu yuk,” ajakku sambil nunjuk ke arah danau.
“Ke mana? Nggak ah, aku takut. Nanti kamu macem-macem lagi sama aku,” ucapnya waspada.
Aku ketawa. Sudah kuduga dia mikir yang enggak-enggak. “Udah, ayok ikut aja. Nggak, aku nggak bakalan macem-macem kok, Lin. Serius.”
“Bener yaa... awas kalau macem-macem,” ancamnya dengan muka cemberut tapi penasaran.
“Iya iya nggak kok...!” godaku sambil turun dan ngulurin tangan ke dia.
Aku menggandeng Elina ke danau yang tak jauh dari parkiran vespa. Tempat biasa aku mancing sama Dony. Sepi, tenang, cuma suara angin dan riak air.
Sesampainya di sana, mata Elina langsung berbinar. “Bagus banget ya pemandangannya di sini Kang. Aku baru tau loh tempat ini!” ucapnya sambil memutar badan, menikmati angin danau.
“Iya, bagus kan. Lin, bentar ya. Kamu tunggu bentar di sini ya,” pintaku.
“Kamu mau ke mana Kang?” tanyanya heran.
“Udah, bentar. Nggak lama kok. Tunggu bentar ya,” aku nyengir, lalu ngibrit.
Aku lari ke tukang bakso langganan di ujung jalan. Balik lagi dengan dua mangkok bakso panas mengepul di tangan.
“Ya ampun, Kang. Kirain aku kamu ke mana,” Elina ketawa lega, menerima mangkok bakso dariku.
Kami duduk di pinggir danau, kaki menjuntai. Makan bakso sambil lihat sunset. Elina malah nggak makan-makan, cuma senyum-senyum natap aku.
“Dimakan dong baksonya,” kataku sambil ngunyah.
“Iya Kang,” jawabnya, baru nyendok. “Enak banget, Kang!”
Sambil makan, aku mulai kepo. “Ouh iya, Lin. Kalau boleh tau emang kamu asalnya dari mana, Lin?”
“Aku asalnya dari Jakarta Kang. Kenapa emang?”
“Ouhh Jakarta. Kenapa kamu pindah sekolah ke sini?”
“Iya, soalnya orang tuaku lagi tugas di sini untuk waktu yang lumayan lama. Jadi aku sama keluarga pindah ke sini, dan aku ngelanjutin sekolahnya di sini. Kebetulan orang tuaku selain punya rumah di Jakarta, di sini juga punya. Jadi sekarang aku tinggal di sini,” jelas Elina.
“Ouh, jadi gitu ya. Tapi kalau kamu nggak pindah sekolah... mungkin kita nggak bakal kenal ya,” ucapku pelan.
Elina menoleh, senyumnya lembut. “Ya iya Kang.”
*di tempat lain...*
Papahnya Elina selesai _meeting_. Masuk mobil, langsung meluncur menjemput elina ke sekolah. Sesampainya di depan gerbang, dia celingak-celinguk. Kosong. Elina nggak ada di tempat biasa.
Dia turun dari mobil, dan melihat ke setiap sudut arah, namun ia tidak melihat elina. Lalu ia mencoba menelpon elina, saat hendak menelpon, rupanya ada pesan dari elina. Ia membacanya _ pantesan gak ada_ pikirnya. Ia pun berpikir positif dan percaya bahwa elina sudah pulang duluan naik taxi.
Papahnya nghela napas lega. Dia masuk mobil lagi, lanjut pulang.
*kembali ke danau...*
Selesai makan, dan membayar bakso. Aku melihat langit mendadak gelap. Awan hitam bergerak cepat. “Lin, kita lanjut pulang ya. Takut keburu ujan,” ajakku.
Elina ngangguk, “ya udah yuk! Kang makasih ya” katanya tulus. Pas mau naik motor, dia buka tas, ngeluarin HP.
“Yah, HP aku mati Kang,Lowbat, aku Takutnya ada pesan dari Mamah,” wajahnya cemas.
“Udah nggak papa. Yuk kita berangkat sekarang, takut keburu sore!” aku naik dengan dia ke vespa.
“Ya udah yuk!” Elina naik, tangannya langsung melingkar di pinggangku.
*di rumah elina...*
Papahnya baru nyampe, disambut Mamahnya. “Elina mana Pah? Kok pulang sendirian?”
“Lohhh, bukannya Elina udah pulang duluan? Tadi Elina ngirim pesan ke Papah katanya dia pulang duluan naik taxi,” Papahnya bingung.
“Papah gimana sih, ah! Coba telpon Elina!” Mamahnya panik. Ditelpon, nggak aktif. Mamahnya nelpon juga sama. Tidak aktif.
“Udah jangan panik gitu Mah. Mungkin masih di jalan kali. Udah kita tunggu aja dulu,” Papahnya berusaha tenang, meski dahinya mulai berkerut.
“Kemana ya Elina, masa belum nyampe juga,” Mamahnya mondar-mandir cemas.
“Bikinin kopi Mah,” Papahnya malah minta kopi saking mau nenangin diri.
“Kamu Pah ah! Mamah lagi panik gini juga, malah nyuruh bikin kopi,” omel Mamahnya.
Akhirnya, “Bi, Bi tolong bikinin kopi, Bi,” panggil Papahnya ke pembantu. “Sekalian bikinin teh buat saya ya, Bi,” timpal Mamahnya.
"baik pak, bu, " pembantu pergi membuat pesanan mereka.
*di jalan..*
Langit udah nggak ketolong. Mendung pekat dan terdengar suara petir “Lin, pegangan! Lin, aku mau ngebut!” teriakku melawan angin.
“Pelan-pelan aja Kang. Aku takut,” Elina makin erat melukku dari belakang.
“Udah tenang aja, pegangan, Lin!” aku gas pol, berharap nyampe rumah elina sebelum hujan turun.
*di rumah elina...*
Papahnya berdiri di jendela, natap hujan deras sambil nyeruput kopi. Cemas. Mamahnya nyamperin, “Pah, udah. Kita cari Elina sekarang. mamah takut kenapa-kenapa sama anak kita.”
Tanpa banyak kata, mereka berdua bergegas masuk mobil, dan berangkat nerobos hujan mencari Elina.