Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Naik, Satu Menyempurnakan
...Chapter 28...
Setelah lama bertanding, tepatnya di sisi lain lapangan, Ling Xu berdiri diam di samping tiang bendera timnya yang telah ia menangkan, merasakan sesuatu yang aneh terjadi di dalam dadanya.
Bukan wabah Kanker yang bersemayam nyaman di kesadarannya, melainkan denyutan yang hangat dan teratur, seperti detak jantung yang tiba-tiba berubah irama menjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih penuh, dan ketika ia menunduk, ia melihat cahaya keemasan keluar dari sela-sela jubahnya, dari sela-sela kulitnya, dari sela-sela tulangnya, cahaya yang tidak menyakitkan tetapi juga tidak bisa ia hentikan, cahaya yang datang dari 51 keping Lintang Kemanusiaan yang bersemayam di dadanya dan 800.000 keping lainnya yang selama ini ia kumpulkan dengan susah payah, semuanya berputar, berdenyut, bergetar, lalu meledak.
Bukan ledakan yang merusak, melainkan ledakan yang membangun, yang menyusun ulang setiap serat Qi di tubuhnya, yang mengangkatnya dari Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belas ke Supranatural Lintang Tingkat Kedua Puluh Tiga dalam hitungan detik, seperti bunga yang mekar dalam rekaman yang dipercepat seribu kali lipat.
"Selamat, Nona Lin Xue," ucap pemimpin tim wanita itu dengan suara yang tulus meskipun matanya menyimpan sedikit rasa iri yang tidak bisa ia sembunyikan, "kenaikan tingkatmu sangat... spektakuler."
Ling Xu tidak menjawab.
Ia hanya mengepalkan tangannya, merasakan aliran Qi baru yang mengalir di nadinya dengan kekuatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya, dan ketika ia menghitung jumlah keping yang kini bersemayam di dadanya, matanya membelalak.
55.000.000 keping Lintang Kemanusiaan, tepat seperti yang ia dengar dari Huan Zheng dulu tentang ambang batas Supranatural Lintang Tingkat Kedua Puluh Tiga.
"55 juta," bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah keramaian yang mulai pulih dari keterkejutan, "aku tidak menyangka... bisa secepat ini..."
Sementara itu, di bawah rindang pohon sakura buatan, Huan Zheng kembali membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput, merasakan getaran yang sama merambat pelan di dalam dirinya—namun berbeda dengan lonjakan tajam yang dialami Ling Xu, ia hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
Di dadanya, 8.888.888.888.888.888 keping Lintang Kemanusiaan berdenyut lembut, sebuah jumlah yang nyaris menyentuh batas tertinggi Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Dua, menempatkannya hanya selangkah dari ambang gerbang menuju Langit Terang Tingkat Kesatu.
Di saat Ling Xu masih dikerubungi oleh para utusan sekte yang saling berebut perhatian—ucapan selamat dan tawaran bergabung berdatangan seperti kawanan lalat yang mencium manisnya madu—Huan Zheng tetap berbaring tenang di bawah sakura buatan itu. Matanya terpejam, napasnya mengalir teratur, dan denyut nadinya stabil, seolah seluruh dirinya tenggelam dalam ketenangan yang nyaris menipu.
Namun jauh di dalam kesunyian batinnya, pada ruang terdalam yang tak dapat disentuh siapa pun selain dirinya sendiri, sebuah proses berlangsung dengan kerumitan yang melampaui sekadar kemalasan yang tampak di permukaan—sebuah dinamika sunyi dengan intensitas yang bahkan para kultivator yang baru saja ia kalahkan dalam satu tarikan napas pun tak akan mampu membayangkannya.
Sebab selama tiga puluh menit ia berbaring telentang di atas rumput yang rimbun, dengan tangan dijadikan bantal dan sesekali menguap lebar, sebenarnya Huan Zheng sedang menjalani setiap rintangan dan halangan yang ada di 10 Kristal Penjatuh Angkasa Raya.
Bukan secara fisik, melainkan secara spiritual, dalam dimensi kesadaran yang hanya bisa diakses oleh individu yang telah menyentuh ranah Kaki Kemanusiaan dan di atasnya, di mana waktu mengalir berbeda dan setiap keputusan bisa mengubah fondasi kultivasi selamanya.
"Kau tahu, Nona Racun," gumumnya dalam hati, suara batinnya terdengar seperti orang yang sedang berbicara pada bayangannya sendiri di cermin yang keruh, "rebahanku tadi bukanlah kemalasan biasa. Aku sedang menyusun ulang pondasi—menstransformasikannya ke ranah Mahakuasa Dao serta Kemanusiaan, agar ketika aku benar-benar perlu naik tingkat, aku tidak perlu bersusah payah seperti terakhir kali."
Ia tersenyum kecil—senyum yang tidak terlihat oleh siapa pun karena matanya masih terpejam—merasakan bagaimana setiap kristal di tubuhnya berdenyut dengan irama yang baru, irama yang lebih stabil, lebih kuat, lebih siap, seperti orkestra yang telah selesai melakukan pemanasan sebelum konser besar yang akan mengguncang dunia.
Keberhasilan transformasi pondasi itulah yang menjadi alasan mengapa ketika Huan Zheng memutuskan untuk ikut campur dalam permainan tarik bendera—hanya dengan satu tarikan malas yang bahkan tidak ia anggap sebagai sebuah usaha—para kultivator lawan yang berjumlah lebih dari empat puluh orang itu merasakan letupan yang tidak biasa.
Bukan hanya fisik tetapi juga spiritual, bukan hanya di tulang dan daging tetapi juga di fondasi kultivasi mereka yang paling dalam, seolah-olah satu tarikan dari pria ini tidak hanya menarik bendera tetapi juga menarik keseimbangan dunia di sekitar mereka, mengganggu aliran Qi mereka, membalikkan persepsi mereka tentang ruang dan waktu dalam sepersekian detik yang cukup untuk mengirim mereka semua berguling-guling di tanah dengan luka ringan yang justru lebih memalukan daripada luka parah.
"Aku sudah belajar dari kota laut, Ling Xu," lanjut gumaman Huan Zheng dalam hatinya, dan untuk sesaat, bayangan malam di kedai arak itu kembali menghantui—bayangan di mana ia hampir meledakkan dirinya sendiri karena egonya, karena kebodohannya, karena ia terlalu malas untuk melihat bahwa Ling Xu benar sejak awal.
“Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak akan membiarkan egoku membunuh kita berdua."
Ia membuka matanya sejenak, menatap langit Tianzhu yang terlalu biru untuk menjadi nyata, lalu menutupnya kembali, membiarkan kesadarannya tenggelam lebih dalam ke dalam pusaran transformasi yang masih berlangsung—karena meskipun ia telah berhasil memantapkan pondasinya ke ranah Kemanusiaan, masih ada yang lebih penting yang harus ia putuskan, sesuatu yang akan menentukan bagaimana hubungannya dengan Ling Xu ke depannya, sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan akan menjadi prioritas dalam hidupnya yang malas dan acuh tak acuh.
"Dan untuk itu," bisik Huan Zheng dalam hatinya, suaranya tiba-tiba berubah menjadi lebih lembut.
Bukan lembut seperti sutra, melainkan lembut seperti besi yang ditempa berulang kali hingga kehilangan kekerasannya tetapi tidak pernah kehilangan kekuatannya.
“Aku memutuskan untuk tidak menaikkan ranah kultivasiku dulu. Aku akan menunggu Ling Xu menyusul."
Ia membiarkan keputusan itu mengendap di dadanya, di antara 888.888.888.888 keping Lintang Kemanusiaan yang berdenyut pelan, dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Bukan kehilangan, bukan pengorbanan, melainkan ketenangan yang datang dari memilih untuk tidak menjadi yang terkuat sendirian, tetapi menjadi cukup kuat bersama.
Sebab jomblang ranah kekuatan antara Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Dua dan Supranatural Lintang Tingkat Kedua Puluh Tiga memang tidak terlalu jauh—hanya sembilan tingkat, hanya beberapa miliar keping, hanya perbedaan yang bisa dijembatani oleh waktu dan usaha—tetapi jika ia melompat lebih dulu ke Langit Terang, jika ia meninggalkan Ling Xu di belakang dengan wabah Kanker yang masih setengah ia pahami dan setengah ia takuti, maka celah di antara mereka akan menjadi jurang yang tidak bisa diseberangi, dan dua makhluk yang seharusnya saling melengkapi akan kembali menjadi dua orang asing yang kebetulan berjalan di jalan yang sama.
"Wabah Kanker miliknya," lanjut gumaman Huan Zheng, dan di sela-sela kata itu, ia bisa merasakan denyut aneh dari dadanya sendiri. Bukan dari keping-keping Lintang, melainkan dari sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih gelap, yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng malas dan acuh tak acuh, "dan adaptasi mengerikan milikku—jika keduanya bekerja bersama, saling melindungi, saling mengisi, maka tidak ada yang bisa menghentikan kita. Tidak para dewa di kota udara, tidak para pemburu bayaran, tidak Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan, tidak siapa pun."
Bersambung….