Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Dengan Rasa Yang Sama (R)
"Sofia !" sebuah suara seseorang membuat perhatian empat orang yang di meja makan itu pun langsung menoleh ke sumber suara.
Terlihat Tari melangkah mendekat ke meja makan ke arah putrinya. Terlihat sekilas Tari melirik ke arah Reksa.
"Ada apa Tari?" Hanum menatap Tari yang ada di samping Sofia.
"Maaf nyonya, tuan besar, tuan muda, saya akan bawa Sofia kebelakang" dengan menundukkan kepalanya dengan sopan. Lalu terlihat Tari menatap sang putri. "Sofia, ayo ikut bunda !!" Sofia menoleh ke tiga orang lainnya di sana.
"Tunggu, kamu mau bawa kemana Sofia ? Dia bahkan belum selesai makannya. Biarkan dulu anak kamu makan sampai selesai. Lagi pula kami nggak terganggu sama sekali dengan adanya Sofia, iya kan ma, pa?" Tari menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Reksa dan kedua orang tuanya.
"Benar kata Reksa Tar. Biarkan Sofia selesaikan sarapannya dulu. Lagi pula kami yang suruh dia makan sama kita. Kamu ini kenapa?" Hanum menatap Tari dengan intens.
"Maaf nyonya, saya cuma__
"Cuma malas dengar ucapan orang yang ngomongin kamu? Ya sudah, cuekin saja. Gampang kan?"
Pram hanya tersenyum tipis sedangkan Reksa hanya bisa geleng-geleng kepala dan Tari dari ujung matanya dia bisa melihat jika Reksa pun terlihat mencuri pandang ke arahnya.
"Maaf nyonya jika saya tidak tahu diri, saya cuma takut Sofia mengganggu kenyamanan keluarga tuan dan nyonya."
"Mama tadi jelas bilang kalau kami tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan anak kamu. Jadi, nggak masalah kan?" tiba-tiba saja Reksa memberikan reaksi dengan ucapan Tari yang dia anggap sebagai alasan saja agar anaknya tidak dekat-dekat dengan orang tua nya terutama dirinya.
"Maaf tuan muda, saya...
"Duduk Fia, habiskan makannya..!" dengan tegas Reksa meminta Fia untuk kembali duduk dan menghabiskan makanannya.
Fia pun akhirnya menurut dan kembali meneruskan makannya yang belum selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam kian larut, para pekerja di mansion utama sudah kembali ke paviliun. Begitu juga dengan Tari. Terlihat Tari baru saja selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi.
"Hahh..rasanya hari ini lelah sekali. Apalagi dia sudah kembali. Aku nggak mungkin terus ada di sini.."
Tari menatap cermin yang ada di hadapannya dan mulai berfikir untuk mencari pekerjaan lain agar bisa keluar dari rumah besar milik keluarga mantan kekasihnya itu.
Tari beranjak dari kursi yang dia duduki dan melangkah mendekat ke arah ranjang dan ikut bergabung dengan sang Sofia yang sudah tertidur pulas di atas tempat tidur.
Dia mengecup kening Sofia dengan pelan dan memeluknya dengan erat. "Maafkan bunda sayang, kita harus pergi secepatnya dari sini. Bunda nggak mau kalau laki-laki itu ambil kamu dari bunda. Bunda benar-benar takut jika dia tahu siapa kamu.." Tari benar-benar tak rela jika kebenaran itu akan terbongkar dan pastinya Reksa tidak akan tinggal diam dan bahkan hal yang paling menakutkan bagi Tari adalah jika Reksa merebut Sofia darinya.
Sedangkan di sisi lain, Reksa terlihat masih ada di balkon kamarnya dengan sebatang rokok di tangannya. Tatapan mata nya tertuju pada area paviliun. Terlihat ada beberapa pekerja yang masih terlihat ngobrol di teras paviliun.
Pagi hari di mana Reksa sudah siap dengan pakaian rapi. Aura kewibawaan nya terpancar dari penampilan dan wajah dingin yang dia pancarkan.
"Pagi mah, pah.."
Reksa menyapa kedua orang tuanya saat baru saja bergabung dengan mereka untuk sarapan.
"Pagi.."
"Pagi sayang, kamu mau makan nasi atau...
"Roti saja ma ." belum sempet Hanum selesai bicara,Reksa pun menentukan sarapan pagi nya.
Hanum mengangguk dan kemudian menyiapkan apa yang putranya inginkan.
"Kamu yakin mau mulai hari ini Sa?" Pram mulai membuka obrolan antara dirinya dan Reksa.
"Ya pa, jenuh juga di rumah. Lebih baik aku ke kantor. Tapi hari ini Reksa coba buat perkenalan saja dulu pah.."
Pram mengangguk sambil memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Kamu juga butuh istirahat Sa, mama tahu kamu gila kerja, tapi kamu juga harus ingat kesehatan juga ingat umur." Reksa menghela nafas panjang mendengar penuturan sang mama.
"Ma, soal pernikahan mama nggak perlu khawatir. Aku akan nikah dengan orang yang aku rasa tepat." Reksa menatap Hanum dan matanya sempat melirik ke rah Tari yang kebetulan sedang membawa teh pesanan Hanum.
"Oke, mama akan ingat ucapan kamu. Tapi mama nggak mau kamu lama-lama buat cari istri. " Hanum hanya bisa mendes*h pasrah.
"Maaf nyonya, teh nya." Tari meletakkan secangkir teh hijau pesanan Hanum.
"Terimakasih Tar." tak lupa Hanum mengucapkan terimakasih pada Tari.
"Sama-sama nyonya.." dengan senyum manisnya, Tari pun merespon ucapan Hanum.
"Bii...bibi...bi Marni !!" suara teriakan Reksa membuat Tari, Hanum dan Pram langsung mengalihkan pandangannya ke arah Reksa yang sedang memanggil Marni.
"Reksa, kamu apa-apaan sih panggil bibi kayak di hutan." Hanum pun langsung protes dengan sikap putranya yang tidak biasa.
Reksa hanya diam tak merespon teguran dari Hanum.
"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" Bi Marni dengan tergopoh-gopoh mendekat ke arah Reksa.
"Siapa yang buat kopi saya? " dengan wajah kesal Reksa meletakkan cangkir kopi yang ada di tangannya dengan sedikit kasar.
"Ma_maaf tuan muda, tadi bibi suruh mba yang lain buat." dengan tak enak hati bi Marni menjawab pertanyaan Reksa.
"Ganti bi, saya nggak suka. Kamu..!!" Reksa tiba-tiba saja menunjuk ke arah Tari.
"Sa_saya tuan muda?" Tari terkejut saat Reksa menunjuk dirinya.
"Iya, kamu. Buatkan saya kopi, kamu bisa kan?" Tari menarik nafas pelan berusaha untuk mengendalikan dirinya. Dia tahu jika Reksa sedang berusaha untuk mengerjainya.
Tari terlihat menganggukkan kepalanya.
"Baik tuan. Biar saya buat yang baru tuan, tolong tunggu sebentar.." Tari bergegas menuju dapur dan segera membuatkan kopi pesanan Reksa.
Tak butuh waktu lama,Tari kembali ke ruang makan dengan secangkir kopi yang dia buat untuk Reksa. "Silahkan tuan muda, kopinya.." Tari dengan pelan meletakkan cangkir yang dia bawa ke arah Reksa.
Reksa dengan perlahan mulai menyesap kopi yang Tari buat. Tari terlihat menunggu reaksi Reksa saat merasakan kopi buatnya.
"Ternyata dia masih ingat selera ku ."
Bersambung
like + 🌹✍️😉