Setan itu banyak bentuknya. Tak kasat mata. Mengalir dalam setiap aliran darah manusia-manusia yang penuh dengan amarah, benci dan dendam. Dan inilah yang dialami oleh Marni. Pernikahan yang membuat kehidupannya hancur dan terjun ke dalam lubang penderitaan. Bukan hanya karena kemiskinan yang tak berkesudahan namun perlakuan suami yang tidak beradab. Akankah Marni tetap bertahan ataukah lari mencari kebahagiaan yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Makam si Mbah
"Apa yang mereka lakukan?" Marni masih mengamati dari jarak jauh.
"Kesal!" ucap seseorang sebelum dia membuka dompetnya dan menaruh selembar uang berwarna merah di dalam kotak kayu yang ada di samping makam.
"Beri salam pada Mbah, memberi pun kalian harus tau adab..."
"Ini seratus ribu buat mbah beli rokok di alam kubur ya Mbah..." ucap pria yang memakai jaket merah sambil membungkukkan badannya dengan kedua telapak tangan saling mengatup.
Kemudian yang keempat orang yang lain pun ikut memberikan harta benda yang dimilikinya. Ada yang memberikan jam tangan dan ada yang memberikan gelang tali.
"Mohon maaf anak muda. Maksud saya harta yang berharga. Ini gelang tali untuk apa?"
"Buat saya ini berharga, Mas. Barangkali saja si Mbah ingin tanding penampilan. .. " ucap pria yang memakai kupluk.
"Ngawur!"
'Lah menurutmu?' ucap pria yang memakai kupluk itu dalam hati.
Si pemandu pun menarik nafas dalam, mencoba u tuk bersabar menghadapi cobaan yang ada di depan mata.
"Silakan yang mau melihat-lihat makam Mbah, "
"Mbah ini namanya siapa?" salah satu orang bertanya dengan polosnya.
"Ssshhh!" si pemandu menaruh telunjuknya di depan bibirnya.
"Kita tidak boleh menyebut namanya! Nama itu terlalu menakutkan walaupun hanya diucapkan," kata si Pemandu.
"Maksudnya?" tanya yang lain.
"Nama itu penting mengandung kutukan. Hanya oeang-orang terpilih yang mampu mengucapkannya. Karena ketika kamu menyebut namanya meskipun dalam hati, si Mbah akan datang menghampiri dan bisa saja mengajak kamu untuk ikut bersamanya,"
"Dih amit-amit!" ucap mereka secara bersamaan.
"Mas. Kita lanjut saja, ke curug. Sepertinya kita butuh pemandangan yang menyegarkan!" ucap pria berjaket merah.
"Baiklah, jalan duluan di depan. Saya akan menjaga kalian dari belakang," ucap si pemandu.
"Lah kan kita tidak tahu jalannya yang mana!"
"Saya akan memberikan tanda dari belakang. Fokus saja pada perjalanan," kata si pemandu.
"Ya sudah. Kita jalan lagi?! Kita harus bergegas sebelum matahari tenggelam," ucap salah satu orang yang sepertinya kecewa dengan trip menjelajah kali ini.
Ketika kelima orang kemudian berjalan menuju ke curug, si Pemandu dengan cekatan mengambil apa saja yang ada di kotak kayu tadi
"Aku ambil ya, Mbah? Hahahahah!" si Pemandu tertawa puas. Sebelum akhirnya mengejar oeang-orang yang sudah pergi mendahuluinya.
Sedangkan Marni pun menengok ke arah Jagat.
"Menurutmu kita harus---" ucap Marni menggantung.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Marni saat Jagat mengarahkan benda elektronik yang berbentuk pipih ke arah Marni.
"Aku hanya ingin mengabadikan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna," ucap Jagat.
Marni kemudian berjalan ke arah Makam si Mbah yang gundukan tanahnya baru dibuat.
"Kenapa mereka membuat Makam palsu seperti ini?" tanya Marni.
"Untuk yang pastinya. Kamu lihat sendiri orang tadi mengambil semua yang tamu mereka berikan pada kotak kayu, " Jagat mengambil si kotak kayu dan memperlihatkannya kotak ituk kosong.
"Lalu Jenar? Kenapa dia menari?"
"Kita tidak tahu media perjanjian si orang itu dengan penghuni hutan ini memakai cara apa?" kata Jagat.
"Perasaanku sangat buruk. Sepertinya kita harus mengikuti mereka semua. Bukti yang tadi saya simpan disini, " ucap Jagat mengantongi lagi ponselnya.
Jagat dan Marni pun mengikuti rombongan pendakian tadi, memantau mereka dari kejauhan.
Sementara jalan menuju curug begitu terjal dan melewati jalan setapak.
"Jangan menarik tasku! Aku bisa jatuh! ucap seseorang yang berjalan di barisan tengah.
"Jangan bercanda! Jalannya susah!" ucap seseorang yang berjalan paling depan.
"Ini kita ambil kanan atau kiri?! " seketika orang itu berbalik badan.
Namun ternyata, dia tidak menemukan satu orang pun di belakangnya.
"Teman-teman?! Hey, jangan bercanda. Cepat keluar kalian!" ucap pria itu dengan suara yang gemetar.
Sedangkan di rombongan pendakian sangat heboh saat teman mereka yang berjalan paling depan hilang bersamaan dengan turunnya kabut lebat yang menghalangi jalan mereka.
"Kamu tadi tidak lihat Malik?" tanya pria yang berjaket merah.
"Kn kamu yang di depan. Kenapa apa kamu tidak melihat Malik berjalan mendahului kamu? " tanya yang lain.
"Aku tadi sempat tukar posisi, karena kaki ku sempat kesemutan. Aku minta dia yang di depan, tiba-tiba saja kabut turun. Dan dia hilang begitu saja... "
"Apa kalian melanggar pantangan?" tanya si pemandu.