Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Berdiri di depan sebuah pintu unit apartemen mewah, Viona menghela napas panjang. kedua tangannya masih menggenggam erat dua kardus berukuran cukup besar dan sebuah kresek hitam besar berisi barang-barang pribadinya. Meski sebenarnya, logika dan perasaan Viona masih saling bertarung memutuskan untuk mundur sebelum terlanjur melangkah lebih jauh atau tetap berpegangan pada tekad awal, melangkah maju demi mengumpulkan pundi-pundi uang. karena, saat ia memilih membuka pintu di hadapannya dan melangkah maju, akan sulit baginya untuk kembali mundur.
Viona menggeleng kasar dan hampir saja berbalik pergi ketika bayangan tentang tempramen sang penghuni apartemen terlintas di benak. Awal pertemuan dengan sang penghuni unit apartemen siang tadi tentu masih meninggalkan sekelumit emosi di benak Viona. Namun, wajah lelah dan pasrah sang Ibu yang tiba-tiba melintas, membuat Viona seketika mengurungkan niat mundur itu. Dengan kesadaran penuh dan tekad yang semakin membulat, gadis itu bergegas menekan beberapa digit angka yang sebelumnya sudah diberi tahu oleh seseorang yang memintanya bekerja di tempat itu.
Begitu bunyi klik halus terdengar dan pintu terbuka. Viona melangkah masuk, membawa serta harapan dan impian yang ia genggam erat, meski entah akan berujung pada kebahagian atau justru sebuah penyesalan panjang.
Di dalam ruangan, setelah terlebih dulu menutup pintu. Viona melangkah perlahan menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam unit Apartemen, padangannya menyapu seluruh penjuru ruangan, mulutnya tidak berhenti berdecak kagum dengan penataan ruangan yang terlihat rapih dan estetik, belum lagi perabotan dan peralatan canggih yang menghiasi setiap ruangan yang ada.
Viona semakin bersemangat. Ia meninggalkan barang-barang bawaanya tepat di bawah sebuah tangga. Gadis itu kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di lantai dua, Viona menemukan sebuah ruangan terbuka dan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat. Ia berdiri di depan pintu itu, hanya berdiri tanpa berniat untuk membuka apalagi memasukinya. Viona teringat pesan seseorang yang mempekerjakannya untuk tidak membuka pintu apalagi memasuki kamar yang ada di lantai dua apapun alasannya, karena akan memancing kemarahan si penghuni apartemen itu nantinya.
Tidak ingin rasa penasaran timbul semakin dalam, Viona milih untuk kembali berjalan menuju lantai bawah untuk memulai bebenah.
Sampai di lantai bawah, Viona bergegas mengangkat barang-barang bawaanya untuk ia pindahkan ke dalam sebuah ruangan sederhana yang akan menjadi tempat beristirahat selama bekerja di sana. Setelahnya, ia mulai membuka catatan kecil berisi tugas yang harus ia kerjakan selama bekerja di sana. Viona tidak boleh lalai, ia harus bekerja sebaik mungkin agar pundi-pundi uangnya segera terkumpul.
Sementara di tempat lain. Dua orang sahabat, tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Hyun bahkan memilih bekerja dari ruangan Agam untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan. Begitu pula dengan Agam yang tampak sibuk dengan laptop yang membuat fokusnya tidak teralihkan. Keduanya bekerja keras di hari-hari pertama mereka.
"Kau tidak berniat untuk pulang?" tanya Hyun sambil melempar sebuah berkas yang baru selesai ia pelajari ke atas meja. Pria bermata sipit itu kemudian melepas kacamata yang dipakainya, menggosok mata lelah setelah bekerja semalaman suntuk.
Agam hanya melirik sekilas, kedua matanya kembali fokus menatap laptop yang bahkan tengah di cas saat dipakai, sementara jemarinya kembali sibuk menari di atas keyboard.
"Aku ingin pulang dulu ke apartemen," ucap Hyun dengan kedua tangan yang ia angkat tinggi ke atas kepala untuk merenggangkan otot-otot tubuh yang terasa menegang. "Tubuhku rasanya lelah sampai ke tulang."
"Pulanglah!" jawab Agam singkat, tanpa melirik sedikit pun.
Jawaban Agam membuat Hyun menghentikan gerakannya seketika, ia menatap Agam penuh binar harapan. Berharap pria gila kerja yang masih betah menatap layar menyala, benar-benar mengizinkannya pulang ke apartemen untuk beristirahat. Ia begitu merindukan kasur untuk melepas lelah.
"Kau benar-benar mengizinkan ku untuk pulang?" tanyanya memastikan.
Menghentikan sejenak tarian jemarinya, Agam menatap sekilas pada Hyun yang masih setia menunggu sebuah kepastian. "Pulanglah! tapi jangan berani datang lagi ke sini!" ucap Agam tenang, namun sukses membuat wajah ceria dan penuh harap Hyun seketika berubah kecewa.
"Itu sama saja dengan kau memecatku, jika aku berani pulang," keluh Hyun dengan tubuh mendadak lemas hingga meledreh di sofa panjang.
"Heh... Aku tahu apa yang ada di kepalamu!" Agam berkata dengan tatapan kembali fokus ke layar laptop. "Shera sudah pergi. Jadi jangan berharap apapun lagi padanya!" Agam berucap seolah mengetahui isi kepala sahabatnya itu.
Penjelasan Agam mengenai Shera yang sudah kembali pergi, semakin membuat Hyun mendesah kecewa. Kini ia semakin tidak memiliki semangat untuk kembali fokus bekerja. Padahal tadinya, Hyun berniat menemui Shera sebentar untuk melepas penat sebelum lanjut beristirahat, tentunya jika Agam memberinya izin untuk pulang.
"Dasar sahabat lucknut, bahkan laptop mu saja butuh diisi daya agar bisa terus on. Lalu bagaimana denganku?" gerutu Hyun. Satu tangannya melempar sebuah bantal sofa ke arah Agam untuk sekedar meluapkan kekesalannya. Sayangnya bantal itu sama sekali tidak menggoyahkan Agam meski bantal itu tepat mengenai wajah.
Jika di perusahaan Agam dan Hyun masih disibukkan dengan urusan perusahaan. Berbeda dengan Viona yang baru saja hendak memulai pekerjaan pertamanya meski matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Semalam ia tidur begitu nyenyak. Kamar sederhana yang ia tempati membuatnya merasa nyaman.
Viona sudah siap memulai rutinitas baru di tempat baru, dan dengan berbekal lap yang tersampir di bahu dan beberapa peralatan kebersihan lainnya. Pagi ini, ia berniat memulai hari dengan membersihkan seluruh ruangan. Di mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengelap seluruh perabot agar semuanya tampak bersih kinclong tanpa meninggalkan secuil noda maupun debu. Sementara untuk urusan memasak, Viona berencana melakukannya sore nanti sepulang ia bekerja di perusahaan, agar bisa dihidangkan hangat untuk makan malam sang majikan baru.
"Semangat Viona! ini adalah pagi pertamamu di sini. Dan tentu saja, cuan pertamamu yang akan yang akan mulai mengalir pagi ini," gumamnya penuh semangat dan kedua mata memancarkan binar penuh harapan.
****
Hyun melirik arloji di pergelangan tangan. mulutnya berdecak kencang saat melihat jarum arloji itu menunjukkan pukul 9 pagi. Itu berarti, ia kembali melewatkan jadwal makannya lagi. Sebelumnya, ia juga melewatkan makan malam, pantas saja perutnya terasa begitu kosong.
"Aku harus pulang sekarang," tukas Hyun sembari menutup layar laptop. "Aku sudah tidak tahan lagi. Perutku sakit, wajah tampan ku terlihat berantakan dan tubuh indahku ini pasti akan terlihat kurus, jika aku harus terus duduk di sini menemani pria gila seperti mu." Hyun bergerutu sambil berdiri meraih jas miliknya. kali ini, ia berencana untuk pulang ke apartemen, mengisi perut dan beristirahat di kasur empuk. Ia tidak perduli sekalipun Agam menghentikannya atau bahkan kembali mengancam memecat. Ia bukan robot, ia seorang manusia biasa yang tentu membutuhkan waktu istirahat. Persetan dengan semua pekerjaan yang menurutnya tidak akan ada habisnya itu.
Agam sendiri hanya melirik sekilas, pria yang diberi label "gila bekerja" itu tidak berniat menghentikan Hyun pergi. Agam jelas paham, jika Hyun sudah bertindak nekad, itu artinya ia sudah berada dibatas kesabaran. Dan Agam sangat bisa mengerti itu.
"Pulanglah, lalu temui aku malam nanti di apartemen." Agam berucap sesaat sebelum Hyun menarik pintu untuk melangkah pergi.
Hyun hanya berdecak kencang tanpa berniat menjawab Agam. Perut laparnya sudah tidak bisa di kompromi lagi, belum lagi mata yang terasa begitu lelah karena lembur semalaman, rasanya ia hanya akan membuang-buang waktu berharganya jika harus kembali mendebat pria setengah gila yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri. Maka dengan membanting pintu yang hendak ia tutup kembali, Hyun berusaha mengungkapkan protes. Meski Agam tentu tidak akan pernah perduli.
Agam sendiri hanya menarik napas panjang saat mendengar suara pintu yang sengaja Hyun banting cukup kasar. Pria itu membuka kacamata, kemudian menyadarkan punggung pada sandaran kursi sambil memijat pelipis yang mulai berdenyut nyeri.
****
Berjalan cepat dengan mulut yang masih menggerutu membuat Hyun yang memang sedang tidak begitu fokus berjalan hampir menabrak troli yang tengah di dorong berjalan menuju ke arahnya. Beruntung Viona segera menghentikan laju troli dan mengarahkan ke samping sehingga tabrakan itu bisa cepat dihindari.
"Viona.... Astaga, maaf aku hampir saja menabrak troli mu," ucap Hyun. Pria itu buru-buru menghampiri Viona.
"Tuan Hyun, anda... "
"Aku tahu, pasti wajah tampan ku ini terlihat aneh bukan? ini semua karena pria gila itu," potong Hyun. Ia kembali menggerutu sembari berusaha merapihkan rambutnya yang tampak acak-acakan.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja, itu... " Viona menggaruk kepalanya tidak gatal, bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Hyun.
"Iya... Aku tahu. Tapi aku tetap terlihat tampan bukan?" Lagi-lagi Hyun memotong ucapan Viona.
"Tuan Hyun... anda belum menaikkan resleting celana anda," ucap Viona kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa?!"
*****