Kini berbagai pertanyaan muncul ketika Raelynn terbaring di atas meja operasi. Mempertaruhkan nyawa, berjuang untuk bisa melahirkan bayinya dengan selamat … sendirian. Ya, dengan tubuhnya yang kurus, Raelynn menandatangani surat pernyataan untuk dilakukan operasi untuk dirinya sendiri.
Apakah semua kemalangan ini bermula ketika dia menerima pernikahan di atas kerta yang pria berikan? Ataukah semua ini berawal saat dia mengetahui tentang kehamilannya sekaligus penyakit mematikan yang tidak dia sadari sebelumnya? Atau semenjak malam itu … di saat keluarganya sendiri menyiksa dan menjadikannya pelayan dan bahkan menjualnya demi kepentingan bisnis mereka?
Raelynn rasa, tidak! Bahkan sebelum semua itu terjadi kemalangan mulai menjadi hari-harinya sejak saat itu. Ya … Raelynn ingat sekarang. Semenjak hari itu, dimana dia menolak perjodohan yang di atur oleh keluarga demi untuk mengejar cinta pertamanya.
Mampukah Raelynn bertahan dengan semua kemalangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Tolong Aku!
Tak …
Sebuah pukulan mendarat cukup keras di kepala Gavin. Dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Bosnya sendiri—Tuan Logan. Bagaimana mungkin Logan bisa menahan diri untuk tidak memukul asistennya yang selalu saja membuatnya naik pitam. Seperti sekarang, Gavin pasti lupa dengan koper yang berisi pakaiannya dan juga beberapa berkas penting.
“Aduh … sakit tahu, Boss! Sekarang apalagi kesalahanku?” Gavin meringis kesakitan, sambil memprotes perbuatan Bosnya yang tiba-tiba memukul kepalanya.
“Kau masih bisa bertanya seperti itu? Dimana koper milikku, hmm?” Sungguh Logan benar-benar geram sekarang.
“Tuan … Tuan, anda meninggalkan kopernya di depan hotel.”
Belum sempat Gavin memberikan jawaban, salah satu karyawan hotel sudah lebih dulu datang sambil menyeret koper yang sedang Logan pertanyakan.
“Hehehe, … Terima kasih ‘yah! Aku lupa soal kopernya. ‘Nih, uang tips untukmu!”
Seperti biasa Gavin akan tersenyum bodoh seakan tidak pernah melakukan kesalahan. Gavin lalu menyerahkan beberapa lembar uang sebagai rasa terima kasih karena secara tidak langsung karyawan itu telah menyelamatkan nyawanya dari amukan kemarahan Tuannya yang kini sudah menatapnya sangat tajam.
“Vin, kau benar-benar sesuatu,” geram Logan yang tidak bisa berkata-kata lagi dengan tingkah asistennya itu.
Harus Logan akui, Gavin memang sedikit ceroboh dalam sesuatu tapi selebihnya dia mengejarkan pekerjaannya dengan sangat baik. Bahkan bisa dikatakan hanya Garvin yang bisa selalu mengerti apa yang Logan inginkan. Tentu saja, karena mereka tumbuh bersama sejak kecil di panti asuhan. Ya, Logan bukan berasal dari keluarga yang karya. Dia hanya anak beruntung yang bisa sukses mengalahkan para pewaris lain. Bahkan asal usul keluarganya saja, Logan tidak mengetahuinya sama sekali.
Tak lama kemudian, pintu lift akhirnya terbuka. Logan langsung saja masuk ke dalam, membiarkan Gavin yang kesulitan membawa berkas sekaligus koper miliknya. Dengan sedikit bersusah payah, Gavin akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan banyaknya barang di tangannya.
“Apa jadwalku untuk besok?” tanya Logan sembari melonggarkan kerah dasinya. Saat ini mereka berdua yang berada di dalam lift yang menuju ke lantai paling atas, dimana kamar khusus milik Logan berada.
“Jadwal anda untuk besok hanya melantik Direktur baru untuk memimpin perusahaan cabang yang ada disini dan juga bertemu dengan Jhon Hotman untuk menanda tangani perjanjian kerjasama antara perusahaan kita dengan QL Group. Hanya itu jadwal anda untuk besok, Tuan.” Gavin membacakan jadwal penting tuannya sambil terus menatap layar handphonenya untuk memastikan.
“Pelantikan Direktur baru? Siapa kandidatnya?” tanya Logan lagi yang sedikit penasaran dengan orang yang akan menjadi salah satu orang kepercayaannya kelak.
“Namanya Lee Suho, dia berasal dari korea. Akan tetapi, dia telah lama menetap di Kota ini. Dia bahkan merupakan lulusan terbaik di Universitas Harvard.” Gavin menjelaskan secara singkat, padat dan jelas.
“Lee Suho?”
Mendengar nama itu Logan seakan teringat sesuatu yang telah lama dia sudah lupakan. Logan berusaha untuk mengingat kembali. Namun, dia tetap tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Sehingga Logan pun semakin memikirkannya dengan sangat serius, hingga pintu lift terbuka dan seorang wanita langsung menjatuhkan tubuhnya dalam pelukannya yang membuat Logan terkejut bukan main.
“Nona, menjauhlah dariku!” ujar Logan yang terus berusaha mendorong tubuh wanita itu agar menjauh darinya.
“To-tolong aku, kumohon!” pinta Wanita itu dengan suara tercekat karena terus berusaha menekan hasratnya dan juga mempertahankan kesadarannya.
Logan sama sekali tidak menggubrisnya, sedangkan Gavin malah tidak menolongnya sama sekali seperti orang bodoh. Hingga dengan susah payah, Logan akhirnya bisa melepaskan diri dari pelukan wanita itu. Namun, seketika Logan dan Gavin terkejut bukan main saat melihat bahwa wanita itu adalah, “Nona Raelynn!?”
Logan dan Gavin bahkan berseru secara serentak, begitu mengetahui identitas wanita yang tiba-tiba menghamburkan diri dalam pelukannya. Keduanya jelas mengingat Raelynn, wanita yang sempat menjadi wakil Ceo dari JV Group yang kemanapun akan selalu berada di sisinya.
“Tolong aku! Kumohon tolong aku, tubuhku sungguh terasa sangat tidak nyaman dan kepalaku sangat pusing.”
Kini Raelyn benar-benar sudah diluar kendali akal sehatnya, dia bahkan hampir melepas gaunnya didalam lift kalau saja Logan tak segera menghentikannya. Tidak hanya itu, kepalanya juga semakin sakit tak tertahankan.
“Hey, apa yang akan kau lakukan di sini Nona Raelynn? Ini tempat umum.”
Logan yang panik langsung saja memegangi tangan Raelyn, sehingga membuat Raelyn yang telah dikuasai oleh hasrat langsung memeluk tubuh Logan dengan eratnya. Bibir manisnya terus saja menghujani leher Logan dengan ciuman tanpa henti.
Logan terus berusaha menghindar, meski beberapa kali dia tidak bisa menghindarinya. Sementara itu, Gavin malah langsung berbalik badan tersenyum tidak jelas seakan memberikan ruang untuk keduanya.
“Tu-Tuan, tolong aku! Tubuhku benar-benar terasa sangat tidak nyaman, Tuan …”
Suara Raelynn yang terdengar serak dan berada tepat di telinga Logan membuat pria itu menjadi sangat tegang. Bukan hanya tubuhnya yang menegang, tapi di bawah sana juga mulai tak terkendali. Siapa orangnya yang tidak akan terangsang jika di goda oleh wanita secantik Raelynn?
“Nona Raelynn, hentikan! Sadarlah, jangan menciumi leherku terus seperti ini.”
Sekuat tenaga Logan berusaha menjauhkan tubuh Raelynn darinya, tapi usahanya seperti sia-sia. Sebab bukannya menjauh, Raelynn malah semakin melekat padanya.
“Tuan, tubuhmu sungguh terasa sangat menyejukkan diriku dan membuatku merasa nyaman jika aku memelukmu seperti ini.”
Raelynn sekarang sudah benar-benar diluar kendali, kini dia bahkan berani meraba area terlarang milik Logan dengan tangan kecilnya. Sehingga membuat Logan semakin gila dibuatnya.
“Astaga, Nona Raelyn! HENTIKAN?!” teriak Logan saking frustasinya.
“Hei, Gavino sialan! Kenapa kau malah diam saja di sana? Cepat bantu aku sekarang!” bentak Logan yang sadar bahwa Gavin sedang tertawa di atas penderitaannya.
“Ba-baik, Tuan.”
Mendapat bentakkan dari sang Bos besar, Gavin pun langsung berhenti tertawa dan segera membantu Logan lepas dari pelukkan Raelynn. Berkat adanya bantuan dari Gavin, kini Logan sudah bisa sedikit bernafas lega. Meski yang dibawah sana benar-benar sesak, tapi setidaknya rangsangan dari Raelynn tidak semakin menyulitkannya.
“Boss, sepertinya Nona Raelynn sedang dalam pengaruh obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi,” ujar Gavin yang terus memegangi tangan Raelynn agar tidak hinggap dipelukkan Bosnya lagi.
“Hei, kau pikir aku bodoh apa? Sampai tidak bisa mengetahui hal yang sudah sangat jelas itu!” seru Logan yang semakin dibuat kesal dengan perkataan Gavin yang secara tidak langsung menganggap dirinya tidak mengetahui apapun mengenai kondisi Raelynn saat ini. Bahkan tanpa melakukan pemeriksaan dokter, Logan bisa menebak apa yang terjadi.
“Hehehe … lalu kita harus bagaimana sekarang, Boss?” tanya Gavin yang masih tersenyum sendiri tidak jelas, seperti orang gila di mata Logan yang melihatnya.
Bersambung ….
Lagian Gavin ngga bilang sih, siapa anak Edwin Cameron yang dimaksud...
Masa Suho ngga tahu sih, kalo Edwin punya 2 anak perempuan 🤔
next kk