Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi terapi
Di pagi yang cerah aku keluar pagi-pagi sekali tepat setelah menunaikan ibadah shalat subuh.
Karena kemarin kami baru pulang dari acara jurit malam kami yang ikut akan di beri waktu dua hari istirahat di rumah.
Pagi itu aku langsung lari pagi seorang diri dengan penuh semangat baru dan harapan kalau hari ini akan jadi hari yang menyenangkan.
Namun harapan itu seketika pupus ketika aku sadar kalau aku tidak lari sendirian.
Entah sejak kapan si Ketua Kelas juga lari di sampingku dengan jubah yang biasa ia kenakan kemana-mana.
Raut wajahku langsung suram karena setelah ini si Ketua Kelas pasti akan mengatakan sesuatu yang tidak bisa di terima akal sehat.
Si Ketua Kelas terlihat tersenyum seakan sedang bersemangat akan sesuatu tapi aku tidak mau tahu dan tidak mau tanya juga.
Kami hanya lari dalam diam hingga beberapa saat kemudian kami sampai di lapangan yang biasa di gunakan untuk bermain bola.
Pagi-pagi sekali aku melihat ada beberapa pemuda yang sedang bermain sepak bola di sana.
Kami pun istirahat di sana sambil menonton sepak bola bersama beberapa penonton lainnya yang sudah ada di sana.
Setelah beberapa saat menonton matahari terlihat sudah naik dan bersinar dengan sangat cerahnya.
Tidak ada awan mendung jadi hari ini kemungkinan akan cerah.
"Oh, ya. Aku rencananya mau pergi untuk terapi, apa kamu mau ikut?!" Tiba-tiba si Ketua Kelas bertanya padaku.
Hatiku merasa agak lega ketika itu.
Itu karena kalau dia sudah mau pergi terapi kemungkinan dia sembuh itu lebih tinggi dan lebih cepat.
"Tapi aku harus bekerja!" Sebenarnya aku hanya malas saja mengantarnya.
"Tapi papa bilang menemaniku terapi juga termasuk pekerjaan jadi kamu harus ikut denganku katakan!" Pandanganku seketika aku palingkan.
Hatiku kala itu terasa begitu kesal.
'Si pak bos ini kok lama-lama makin gak masuk akal ya dan semena-mena ya...'
'Iya sih memang enak karena aku gak perlu bersih-bersih hari ini namun tetap dapat gaji. Tapi menemani orang suka ngehalu dan berbicara hal-hal tidak masuk akal ini sama capeknya.'
Di hari yang sama ketika hari menjelang siang.
Waktu itu aku ikut dengan si Ketua Kelas dan beberapa orang-orangnya yang mana beberapa orang yang aku maksud itu sebenernya ada banyak.
Tugas mereka tentu saja untuk melindungi si Ketua Kelas karena selain anak orang kaya di Ketua Kelas juga adalah anak satu-satunya jadi sangat di jaga dan di manja.
Aku duduk di belakang bersama si Ketua sedangkan di depan ada supir dan si bibi yang telah merawat Ketua Kelas sejak masih bayi.
"Ngomong-ngomong saya belum tahu nama kamu nak. Bisa bibi tahu!?" Si Bibi tiba-tiba bertanya padaku sambil menoleh.
Dengan sopan aku menjawab. "Nama saya Dimas!"
"Oh, Dimas... Kamu gak perlu kaku begitu. Karena kamu temannya nona maka kamu bisa panggil saya bibi Asih!" Ia tersenyum ramah padaku.
Aku pun membalas senyuman tersebut tanpa berkata apa-apa.
Singkat cerita tibalah kami di tujuan yang mana si Ketua Kelas malah terlihat sangat waspada dan gelisah hingga ia mencengkram tanganku sambil menatap ke atas gedung itu.
Aku heran kenapa orang ini sangat takut sekali dengan tempat ini.
Apa mungkin ada kejadian di masa lalu yang membuatnya tidak suka atau bagaimana?.
Si Ketua Kelas masuk ke dalam bersama si Bibi sedangkan aku menunggu di luar karena tidak ada urusan.
Aku duduk dengan santai di sana sambil melihat para bodyguard itu berdiri mengelilingi area depan gedung dengan wajah tegang semua.
'Mereka berdiri begitu lama di sana apa tidak panas ya?'
Padahal waktu itu cuaca sedang sangat terik tapi mereka malah berdiri di tempat yang panas... Apalagi kebanyakan dari mereka botak jadi cahaya matahari seakan bisa memantul dari kepala mereka.
Berjam-jam kemudian si Ketua Kelas keluar bersama si Bibi sedangkan aku yang menunggu di luar malah ketiduran.
"Dimas bangun!" Aku terkejut hingga langsung berdiri. "Hah! Apa!?" Aku celingak-celinguk melihat sekeliling dengan wajah Ling-lung.
"Aku sudah selesai jadi ayo kita pulang sekarang!" Aku melihat ke arah si Ketua Kelas kemudian menggosok mata.
"Oh, oke...!" Lanjut kami masuk ke dalam mobil dan pulang karena urusannya sudah selesai.
Ketika di mobil aku melihat tatapan si Ketua Kelas yang mengarah padaku seakan ia berharap kalau aku bertanya padanya apa yang terjadi tadi.
Aku yang malas bertanya pura-pura yang melihat dan pura-pura tidak paham hingga akhirnya si Ketua Kelas menyerah.
Ia memalingkan wajahnya sambil mendengus dan memasang wajah marah dengan pipi yang menggembung. "Hmph!"
Lagi-lagi aku pura-pura tidak sadar dan tidak dengar.
Singkat cerita sekolah kembali masuk.
Aku yang kala itu sedang jalan sendirian menunju sekolah tiba-tiba di cegat oleh sekelompok geng motor yang mana di sana ada orang yang selama ini selalu mengancamku.
Alasannya mencegat tentu saja tidak berubah.
"Lu berani juga ya deketin Santi padahal gua udah memperingati lu untuk jauh-jauh dari Santi!" Wajahnya merah padam dengan sorot mata penuh dendam.
"Lah, ngatur!" Jawabku dengan gagah berani.
"Apa!?" Tentu saja balasan dariku itu membuat mereka semua marah dan geram hingga urat-urat leher mereka terlihat menonjol.
"Asala lu tau ya. Gua ini kerja sama bapaknya Ketua Kelas jadi jelas lah gua bakal sering-sering ketemu sama Ketua Kelas apalagi aku juga di bayar jadi temannya!"
"Dan sekarang lu tiba-tiba datang nyuruh-nyuruh gua. Kontribusi lu dalam hidup gua apa hingga lu bisa nyuruh-nyuruh gua!?" Wajah orang yang ada di hadapanku itu seketika menjadi semakin merah.
"Berani juga lu bilang begitu. Lihat saja apa lu bisa bilang kayak begitu lagi setelah gua patahkan tangan lu!" Mereka semua turun dari atas motor mereka dan menghampiriku secara bersamaan.
"Halah. Jangan sok keren deh kalau beraninya cuma ketika banyak temen!" Meskipun ada banyak orang aku gak takut... Enggak juga sih, aku takut.
Ada banyak sekali orangnya dan kalau aku lawan setidaknya gua pasti bonyok.
Kami pun baku hantam di pinggir trotoar dan itu menarik banyak sekali perhatian dari para pejalan kaki.
Tapi mereka semua malah berkerumun untuk menonton alih-alih membantuku.
Sudahlah, tidak ada yang aku harapkan juga dari mereka ini.
Di sini aku bertarung sekuat tenaga meksipun sesekali terbanting-banting karena di serang dari segala sisi.
Dan meksipun lawanku ada banyak tapi fokus seranganku hanya tertuju pada satu orang yaitu orang yang selalu mengancamku.
Karena aku tidak bisa mengalahkan orang sebanyak ini setidaknya aku akan buat yang satu ini bonyok seperti aku agar dia kapok.
Bahkan meksipun dia yang aku pukuli sudah pingsan dengan wajah bengkak aku tidak berhenti karena teman-temannya juga tidak berhenti untuk memukuliku.
Hingga akhirnya datang beberapa polisi lalulintas yang langsung menghentikan kami.
Endingnya aku berakhir di kantor polisi dan aku menjelaskan semua yang terjadi tadi pada pihak kepolisian.
Dan pada saat itu orang yang mengancamku itu mencoba menyogok polisi agar mereka tidak kena masalah dan agar aku saja yang di hukum.
Namun aku beruntung di sini karena polisi yang ada di sini baik-baik jadi mereka hanya berpihak pada yang tidak bersalah.
Alhasil mereka di tahan di sana hingga orang tua mereka datang menjemput sedangkan aku di bolehkan untuk pergi.
Aku langsung pergi ke sekolah meksipun sudah sangat telat sekali.
Tidak ada orang yang masih berkeliaran karena semuanya ada di dalam kelas masing-masing untuk belajar.
Agak ragu sebenarnya aku untuk masuk ke dalam kelas tapi karena sudah di sini apa boleh buat.
"Assalamualaikum Bu!" Ketika itu satu kelas memperhatikan aku.
Si ibu guru kemudian membentakku karena telat. "Kamu gak lihat ini jam berapa? Kenapa kamu baru datang?!" Ia terlihat marah.
Tatapannya itu seakan-akan dia punya dendam saja denganku.
Kemudian aku membalas dengan mengatakan. "Apa ibu gak lihat muka saya bonyok begini? Saya tadi di keroyok brandalan di jalan dan bahkan sampai di bawa ke kantor polisi!"
"Kalau ibu gak percaya ibu baca saja sendiri surat cinta dari pak polisi ini untuk ibu!" Aku memberikan kertas yang sebelumnya aku minta pak polisi tulis agar aku tidak di marahi ketika sampai di sekolah.
"... Baiklah. Kamu bisa duduk sekarang!" Untung surat itu berhasil dan aku bisa duduk di kelas bersama yang lainnya.
Jam pelajaran pun berlangsung cukup singkat karena aku datang terlalu siang.
"Baikan anak-anak, sampai sini saja pelajaran kita pagi ini!" Si ibu pun pergi sambil membawa barang-barang dan bukunya.
Satu kelas kemudian juga pergi dari kelas untuk melakukan aktivitas mereka di luar seperti makan atau hanya sekedar bermain.
Pada saat itu aku mau pergi untuk makan di tempat lain yaitu di belakang sekolah yang sepi dan sunyi agar tidak akan yang menganggu.
Tapi mana mungkin tidak ada yang menganggu.
"Kamu mau kemana? Biasanya kamu makan di kelas!?" Si Ketua Kelas bertanya di hadapanku sambil memegang kotak makanannya.
Ngomong-ngomong beberapa waktu ini si Ketua Kelas mulai membawa makanan sendiri dan selalu makan bersama denganku.
"Aku mau cari tempat sepi untuk makan!" Aku jalan duluan melewati si Ketua Kelas yang mana ia langsung mengikuti dari belakang.
"Kalau begitu aku ikut!" Tentu saja dia akan bilang begitu karena sejak ketemu ia memang selalu menempel dan ikut aku kemana-mana di sekolah ini.
Jadi tidak heran kalau gosip tentang kami semakin banyak dan semakin liar saja.