Aku adalah mahasiswa baru tahun pertama ajaran baru. Aku ingin sekali kuliah tapi ayahku ingin aku menikah terlebih dahulu baru kuliah. Tadinya aku tak mau menikah dahulu karena aku masih ingin belajar dan meraih sukses karirku terlebih dahulu.
Namun apa mau dikata ternyata ayahku sidah menjodohkan aku. Maka biar aku bisa kuliah aku pun setuju untuk menikah terlebih dahulu.
Niatku nanti aku harus buat perjanjian dengan suami yang akan dijodohkan denganku itu. Aku ingin masih bebas menikmati dunia kuliah dan tak ingin punya anak dahulu.
Kalau bisa aku tak ingin disentuh dahulu, aku masih anak baru lulus SMA mau menemukan cinta sejatiku dahulu.
Dan singkat cerita aku pun menikah dengan seorang yang tak aku ketahui apa pekerjaanya , aku hanya menurut saja saat akan dijodohkan dan malam pengantin kami aku lebih dulu tertidur daripada suamiku itu.
Aku pun dipaksa tinggal dengan suamiku setelah menikah . Karena ternyata ayahku berobat keluar negeri, kehidupan rumah tanggaku dimulai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Afath ( arasimah ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Namun dia mengurungkan niat dan berjalan ke arah kamarnya yang masih harus berjalan lagi ke depan untuk sampai di kamarnya.
Jika bukan karena permintaan orang tuanya untuk menikah dengan dia, maka Bagas tak akan mau berinteraksi dengan gadis kecil ini.
Dia pun masuk ke dalam kamarnya sendiri, Kemudian dia menutup pintunya.
Di dalam kamar Ara.
" Kenapa ayah dan mama bisa kenal sama tu orang tua dosen Bagas ya?. Mana sekarang harus liburan bersama lagi." Ara berucap sendiri.
Ara rebahan di dalam kamarnya dan bangun lagi duduk, rebahan lagi. Dia pun bosan sendiri dan memainkan ponselnya.
Mika belum juga menghubunginya sampai saat ini. Apakah dia sudah berangkat ke inggris ya?.
Ara berbicara sendiri saking bosannya, dia pun mengirimkan voice not kepada Mika. Agar Mika bisa langsung menghubunginya.
Ara mengotak atik ponselnya lama - lama dia pun bosan dan tertidur juga akhirnya.
Sedangkan di ruang tamu mama dan papa Bagas serta mama dan ayah Ara sedang membicarakan pernikahan anak mereka sebaiknya dilakukan di vila saja dalam waktu dua minggu ini.
Karena masih belum waktu kuliah mulai dan masih libur panjang sehingga tidak perlu mereka untuk mengambil cuti.
Mama dan ayah Ara pun setuju saja karena kesehatan papa Bagas maka mereka mempertimbangkan percepatan pernikahan anak - anak mereka di Singapura saja.
Surat - surat pun sudah diurus oleh kedua orang tua Bagas dan pak Marto ayah Ara. Mereka memberikan kepada orang kepercayaan mereka sendiri.
Pak Wili juga berjanji serta menandatangani surat perjanjian tentang donor jantung jika pak Wili meninggal dunia akan diberikan kepada pak Marto.
Sebenarnya pak Marto tidak mau sampai pak Wili harus mendonorkan jantungnya namun dia berkata ingin dekat dengan anak dan menantunya itu sudah cukup. Dia juga sangat senang jika jantungnya bisa berguna bagi orang lain.
Apalagi bisa memperpanjang hidup orang lain maka dia akan lakukan. Apalagi kini kakinya pun sudah tak bisa digerakan bahkan tangannya kini sudah mulai susah digerakan.
Lama - lama bisa mati rasa anggota tubuhnya satu persatu. Mama Bagas hanya bisa menghormati keinginan suaminya agar bisa meninggal dengan tenang.
Namun siapa yang mau jika orang yang dicintainya akan meninggal dunia, dia tidak bisa melakukan apa- apa. Mama Bagas hanya bisa menangis saja dalam diam dan mencoba untuk tetap tenang.
Demi anaknya semata wayangnya, tak ada lagi orang yang dicintai selain suaminya dan anaknya. Apalagi dia pun harus memimpin perusahan suaminya.
Sejak suaminya sakit mama Bagaslah yang mengendalikan perusahaan suaminya. Karena belum ada yang bisa dipercaya untuk memegang sebuah perusahaan besar suaminya ini.
Bahkan anaknya sendiri memilih menjadi seorang dosen daripada menjadi penerus ayahnya. Mungkin dipermukaan mama Bagas terlihat tegar padahal dia pun sebenarnya sangat rapuh dan membutuhkan kasih sayang.
Namun itu semua tidak ada artinya dengan berjalannya hidup tak bisa berhenti disatu orang. Karena hidup terus berjalan meski akan ada yang berhenti ditengah jalan.
Hidup harus terus berjalan walau kau akan kehilangan segalanya. Semua ini membuat mama Bagas agar terjaga dari kewarasannya.
Dia pun setuju dengan permintaan suaminya yang ingin menjodohkan anak semata wayangnya dengan orang asing.
Mungkin terdengar gila apalagi suaminya berjanji diatas hitam dan putih akan memberikan jantungnya kepada Ayah mertua anaknya nanti jika sudah akan meninggal.
Padahal suaminya hanya mempunyai waktu tiga bulan dari sekarang. Dia ingin anaknya menikah sebelum dia meninggal walau dia tidak bisa melihat cucunya.
Namun dia ingin anaknya menikah sebelum dia benar - bemar meninggal. Terdengar konyol bukan.
Pak Marto bukan ingin memanfaatkan situasi saat ini. Dia juga hanya seorang ayah yang juga mempunyai kecemasan jika dia meninggal nanti maka anaknya sudah menikah itu adalah salah satu kewajiban seorang ayah.
Yaitu menikahkan anaknya sebelum dirinya meninggal dunia. Apalagi jantungnya tak bisa dipertahankan jika sudah mengalami sakit lagi.
Harus dilakukan pergantian jantung, apalagi operasi pendonoran jantung juga ada efek samping penolakan jantung. Jika jantungnya tidak cocok maka si penerima harus mencari jantung baru lagi.
Maka akan sulit lagi dilakukan pendonoran jika jantungnya nanti bermasalah lagi. Sedangkan Mirna sebagai seorang ibu dan istri dia harus menguatkan suaminya dan menjadi sandaran yang tegar untuk anaknya nanti.
Dia pun harus bertahan dalam keputus asaan jika suatu saat nanti ditinggalkan. Masih ada anak yang harus dibiayai untuk sekolah sampai selesai kuliahnya.
Maka mau tak mau Mirna pun harus bersiap - siap mengurus pekerjaan suaminya walaupun dia sering melihat suaminya bertransaksi. Namun dia belum pernah melakukan sendiri berbeda dengan mama Bagas yang sudah biasa mengantikan tugas suaminya sebagai pemimpin.
" Bagaimana jeng, apakah nanti anak - anak akan setujuh jika mereka menikah hanya mengundang hanya sebagian saudara saja?." Tanya Mama Bagas.
Dia tak ingin pernikahan anaknya terlalu mewah takut suaminya kelelahan nantinya. Sedangkan Mirna ingin pernikahan anaknya bisa mewah soalnya menikah sekali seumur hidup mereka.
Mirna pun berpikir lagi dan berkata," Bagaimana baiknya nanti di jalankan saja kita tanya anak - anak kita?."
Mama Bagas pun merasa setuju saja dengan permintaan Mirna mama Ara. Setelah cukup berbincang - bincang Marto dan Mirna pamit undur diri. Membiarkan Pak Wili dan istrinya istirahat melepas rindu.
Apalagi istrinya baru saja datang setelah tak bertemu sejak kemarin. Karena pak Marto dan Mirna kembali ke kamar mereka.
Mama Bagas dan Pak Wili pun kembali kr kamar mereka untuk sekedar bebersih diri karena mama Bagas baru saja tiba.
Mama Bagas mendorong kursi roda suaminya sampai kamar mereka. Sedangkan Bagas sedang tiduran hanya uring - uringan dia pun keluar kamar sambil memandang kamar didepannya dan berkata dalam hatinya," Apa dia sudah keluar ya?."
Namun sebelum orangnya keluar dia telah berjalan keluar terlebih dahulu ke ruang tamu. Jam di dinding menunjukan pukul dua belas siang lebih lima belas menit.
Sang asisten rumah tangga yang melihat tuan mudanya keluar bertanya," Den, makan siang sudah siap."
" Baik bi,." Jawab Bagas.
Bagas pun berjalan ke arah kamar kedua orang tuanya yang tak jauh dari ruang tamu karena mereka mengambil kamar tamu depan yang tak ribet harus naik turun tangga.
Saat sudah sampai di depan kamar kedua orang tuanya Bagas pun mengetuk pintunya.
Tok tok tok
Pintu pun dibuka dan keluarlah mamanya Bagas.
" Ya sayang."
" Ma, kata bibi sudah siap makan siangnya." Jelas Bagas.
" Baik mama akan keluar bersama papa." Jawab mama Bagas.
Bagas pun meninggalkan kamar ke dua orang tuanya dengan berjalan lagi ke ruang makan. Dia duduk dan menunggu ke dua orang tuanya tak lama kemudian.
" Kedua orang tua Ara belum dipanggil?." Tanya mama Bagas.
" Belum ma." Jawab Bagas.
" Bi tolong panggilkan ketiga tamu kita ya?." mama Bagas memanggil sang asisten.
Akan kah mereka bersama nanti..
Terima kasih atas dukungannya tolong like dan koment ya terima kasih