Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegasan Kiano
Minggu adalah hari yang biasa dilakukan untuk Kiano sebagai hari pacaran. Tapi tidak kali ini, dia masih terbaring di atas kasur, meskipun matahari sudah mencapai tombak.
Pengaduan Farah tentang tindakan yang dilakukan Kiano semalam, membuat kedua orangtuanya kesal dan menghampiri Raka dan Marisa ke rumahnya.
Ting... Tong...
Bibi buru-buru membuka pintu.
Krek...
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Raka ada di dalam?” tanya Tommy.
“Ada. Den Raka dan non Marisa sedang duduk di ruang TV.”
Tommy dan Siska berjalan menuju ke ruang TV.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
“Tommy, Siska, ayo duduk!” titah Raka.
Mereka tersenyum dan duduk.
“Ada apa ini? Tumben sekali kalian ke sini?” tanya Raka penasaran.
“Memangnya aku tidak boleh kesini?” balas Tommy.
“Boleh dong. Tapi aneh aja, biasanya aku ajak kamu nongkrong bareng gak mau, katanya mau habisi waktu sama istri dan anak,” celetuk Raka menyeringai.
“Hahaha... kamu ini,” Tommy terkekeh.
“Sudahlah, kita ke intinya aja,” sambung Tommy.
“Nah, kan! Aku tau, kamu gak mungkin hari libur ke rumahku kalau gak ada hal genting,” sahut Raka mencurigai.
“Benar. Aku ingin anak kita bertunangan,” ucap Tommy to the point.
“Tunangan?” Raka dan Marisa tersentak kaget.
“Iya. Kurasa itu lebih baik untuk menyatukan anak kita berdua,” jelas Tommy serius.
“Saya sih setuju aja, tapi itu semua balik lagi ke anak-anak kita,” sahut Marisa menatap mereka.
“Farah sangat mencintai Kiano. Dia tidak bisa hidup tanpa Kiano,” sahut Siska menatap mereka.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian memutuskan hal yang penting ini dengan terburu-terburu?” tanya Raka merasakan ada sesuatu yang aneh.
“Semalam Kiano memutuskan hubungannya dengan Farah di depan semua orang karena seorang wanita. Wanita itu menjadi orang ketiga diantara hubungan anak kita. Kiano menjadi gelap mata dan memaki-maki Farah,” jelas Siska sesuai dengan apa yang diceritakan Farah.
Raka terkejut dengan apa yang disampaikan Siska. Ia seketika menjadi murka, ia tidak pernah menyadari anaknya bisa melakukan hal sebodoh itu.
“Marisa, panggilkan Kiano kesini!” titah Raka menatapnya serius.
Marisa menganggukkan kepala dan beranjak pergi. Menaiki tangga dan kini ia sudah sampai di kamar Kiano.
Krek...
Pintu terbuka, Marisa melangkah pergi dan melihat kamar masih gelap karena cahaya yang terhalang dari gorden yang menutupi jendela. Marisa bergegas, membukakan gorden.
“Umm... Tutup lagi gordennya!” lenguh Kiano mengerjap dan menghalangi matanya dengan tangan.
“Bangun!” Marisa langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Kiano.
“Mama, apa-apa sih,” ucap Kiano dengan nada serak khas bangun tidur.
“Ini sudah siang. Kamu ngapain masih bermalas-malasan di tempat tidur.”
“Aku masih ngantuk, Ma,” ucap Kiano masih memejamkan matanya.
“Bangun atau Mama siram pakai air?” ancam Marisa memberi pilihan.
“Iya deh, aku bangun,” ucapnya kesal sambil membuka matanya.
“Cepat bangun! Papa tungguin kamu di ruang TV. Ada om Tommy dan tante Siska ingin berbicara penting denganmu,” ujar Marisa serius.
“Bicara penting apa?” tanya Kiano bangun dan menatap Marisa dengan serius.
“Kalau kamu mau tau, cepat mandi dan temui mereka,” jawabnya santai.
Kiano penasaran dengan pembicaraan penting itu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi. Marisa tersenyum kecil dan pergi meninggalkan kamar Kiano.
Kini ia kembali menghampiri Raka, Tommy dan Siska yang sedang berbincang-bincang di ruang TV.
“Bagaimana? Dimana Kiano?” tanya Raka menatap Marisa yang sedang berjalan ke arahnya.
“Dia sedang siap-siap. Sebentar lagi juga kesini,” jawab Marisa sambil duduk di sebelah Raka.
Sesaat kemudian Kiano datang menghampiri mereka.
“Om, Tante!” sapanya sambil mencium punggung tangan mereka.
“Duduk!” titah Raka dengan nada tegas.
“Sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian ingin aku menemui kalian?” tanya Kiano sambil duduk.
“Apa yang telah kamu lakukan pada Farah?” tanya Raka to the point.
“Lakuin apa? Aku gak lakuin apa-apa sama dia,” jawab Kiano bingung.
“Semalam kamu putusin dia, kenapa? Ada yang salah sama dia sampai kamu maki dia di depan orang ramai?” tanya Kiano menatapnya tajam.
“Tunggu! Kalian pasti termakan dengan omongan Farah, kan?” ucap Kiano menatap mereka semua. Wajah Tommy dan Siska seketika berubah saat Kiano berkata seakan merendahkan anak mereka.
“Jaga omonganmu!” tegas Raka menatap tajam.
“Loh, memang benar. Asal kalian tau, ya. Farah semalam sudah menampar anak orang yang tidak bersalah.” Ucapan Kiano seketika membuat mereka terkejut.
“Wajar dong kalau aku putusin wanita kasar kayak dia,” sambung Kiano.
“Menampar bagaimana maksud kamu? Anak Tante gak mungkin sekasar itu sama orang,” ujar Siska menatap penuh tanya.
“Kalau kalian gak percaya, kalian bisa tanyakan Sam, Doni dan semua orang yang ada disana. Seberapa baiknya Farah di belakang kalian selama ini,” tutur Kiano spontan.
“Dia gak mungkin bisa melakukan hal senekat itu kecuali kamu membuatnya salah. Pasti kamu sudah menyakiti hati dia,” ucap Marisa mengintrogasinya.
“Gini ya. Aku sudah bilang jauh hari, aku terima dia jadi pacar aku, tapi untuk mengekang aku gak bisa. Aku ini butuh hiburan dan kesenangan. Kesenangan aku terletak sama teman-temanku dan juga pacar-pacarku di luar sana.”
“Kiano!” Raka menatapnya murka.
“Biarkan dia meneruskannya,” ucap Marisa mengusap punggung Raka.
“Usia aku masih muda dan aku gak mau kalian melarang aku untuk berhubungan dengan siapapun itu. Kalian tidak punya hak untuk mengatur aku harus mencintai sama siapa dan aku harus berada di samping siapa,” tegasnya.
“Berani sekali kamu berbicara seperti itu!” Raka semakin murka.
“Sudahlah, Pa. Aku gak mau lanjutin. Aku sudah putus dengan Farah dan kalian jangan minta aku balik lagi sama dia,” ujar Kiano santai.
“Papa mau kamu bertunangan dengan Farah,” tegas Raka.
“Apa?” Kiano terjekut.
“Apa kurang jelas?”
“Papa gak bisa gitu. Aku ini gak mau tunangan dengan Farah. Tolong dong kalian jangan egois kayak gini. Aku gak mencintai Farah. Farah itu udah kuanggap adikku sendiri dan aku gak mungkin tunangan dengan dia,” ujar Kiano melas.
“Itu cuma anggapanmu. Kalian tidak memiliki hubungan darah, jadi kalian bisa untuk tunangan,” jawab Raka santai.
“Kalau Papa mau, Papa aja yang tunangan sama dia. Aku gak mau,” ucap Kiano mengakhiri ucapannya dan beranjak pergi.
“Kiano! Mau kemana kamu?” teriak Raka murka.
“Sudah, tahankan emosimu!,” titah Marisa lembut sambil mengusap punggungnya.
“Huft... Anak keras kepala.” Raka mendengus kasar sambil bersandar di sofa dan memijat pelipisnya. Ia tidak habis pikir dengan sikap bangkang Kiano.
“Tommy, Siska, maafkan Kiano!” ucap Raka merasa tidak enakan.
“Kalau itu sudah menjadi keputusan Kiano, berarti kami harus mundur, daripada Farah semakin tersiksa,” ujar Tommy menatap Raka.
“Kalian gak usah khawatir, biar nanti kami yang ajak bicara Kiano dengan kepala dingin. Dia baru bangun tidur, pasti emosinya belum stabil,” ujar Marisa memberi pengertian.
“Iya gak apa-apa. Nanti kami juga kasih tau anak kami agar tidak terlalu berharap dengan Kiano,” ujar Siska penuh pengertian. Ia tidak ingin memaksa kehendak. Jika Melisa masih ada disini, mungkin situasi tidak akan seperti ini.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')