Menikah kemudian bahagia adalah impian semua orang. Begitu juga dengan Soraya. Namun dapatkah dia bahagia saat menikah dengan seorang player?
Apakah harapan Soraya bahwa Ardan akan berubah bisa menjadi kenyataan?
Ataukah pernikahan mereka akan kandas karena wanita lain?
Lalu siapa Soraya sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang wanita sebatang kara? Bagaimana jika seandainya waktu mengungkapkan jati dirinya?
Cerita ini penuh dengan intrik, dendam, perselingkuhan, perebutan kekuasaan dan kekuatan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijjatul Helna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Bercerai saja
Ardan pulang dengan perasaan yang campur aduk. Ada kemarahan, kesedihan, keputus-asaan, dan lelah.
Ardan melepaskan semua pakaian yang melekat di badannya. Masuk ke kamar mandi dan berendam di bathup setelah mengisinya dengan air hangat dan sabun aroma terapi.
Ardan menengadah menatap langit-langit kamar mandi. Semua kenangan indah bersama Soraya pada awal pernikahan bagaikan slide yang berputar di matanya.
Matanya terasa panas. Tanpa bisa dicegah air matanya menetes. Dia terisak.
"Soraya, aku ingin mengulangnya lagi bersamamu."
Setiap kali semua kenangan tentang kebersamaannya dengan Soraya mencuat, membuatnya meneteskan airmata.
"Mungkinkah kau mau memberiku kesempatan kedua?"
Ardan tergugu. Sakit ... Mengapa sakit sekali rasanya? Seperti ini kah yang dirasakan Soraya selama ini? Ardan memegang dan meremas dadanya.
Ardan menangis pilu.
Benar kata orang. Jika seorang pria benar-benar mencintai wanita maka dia akan menangis karena wanita itu.
Dan Ardan benar-benar mencintai Soraya.
Akhir-akhir ini dia memang sering larut dalam kesedihannya, melankolis sekali. Dan untungnya dia menangis ketika sendirian sehingga tak seorangpun tahu betapa dalam penderitaannya.
Ardan menenggelamkan kepalanya ke dalam air. Beberapa saat kemudian dia muncul dan keluar dari bathup.
Ardan mengambil bathrobe dan mengenakannya, kemudian keluar dari kamar mandi.
Sambil mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk, Ardan berjalan ke arah nakas. Terlihat lampu notifikasi di ponselnya menyala. Ardan mengernyit melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari mominya.
Ardan mencoba menghubungi Alena, mominya. Pada dering ketiga panggilan diangkat.
{Halo, Mom!}
{Kamu lagi di mana? Dari tadi dihubungi ga diangkat}
{Aku di rumah. Tadi lagi mandi. Ada apa sih, Mom?}
{Ardan, Soraya sudah sadar}
{Yang bener, Mom?}
{Ngapain Momi bohong. Lekaslah kemari!}
{Iya, Mom. Aku segera ke sana}
{Ingat, pake baju dulu!}
{Argh ... Iya, Mom. Ini juga mau pake baju. Emang aku anak kecil apa, perlu disuruh dulu pake bajunya?}
Gerutu Ardan sambil mematikan panggilan. Diseberang masih sempat terdengar kekehan geli Alena.
Ardan mengambil kemeja dan celana dari lemari dan mengenakannya.
Setelah dirasa sudah rapi, Ardan keluar dan langsung masuk ke Hammer hitamnya.
Ardan sudah tak sabar untuk bertemu dengan Soraya. Dia ingin melihat senyum Soraya, mendengar suara dan tawanya.
Sepanjang jalan Ardan tersenyum sendiri. Dia seperti remaja yang baru jatuh cinta. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Soraya setelah satu bulan Soraya koma.
Dengan tak sabar, Ardan menginjak pedal gas. Dia ingin cepat sampai dan menemui istri yang sangat dia rindukan.
Ah, rindu yang menyesakkan ini sebentar lagi akan dapat disampaikan pada sang pemilik hati.
Hammer hitamnya sudah memasuki parkiran rumah sakit. Ardan memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru.
Setengah berlari dia memasuki area rumah sakit. Lorong-lorong panjang rumah sakit dilaluinya dengan cepat.
Sesampainya di depan pintu kamar Soraya Ardan berhenti. Keraguan menerpa hatinya.
Bagaimana kalau Soraya tak mau bertemu dengannya? Atau Soraya tak mau memaafkannya? Apa yang akan dia lakukan jika Soraya memutuskan untuk pergi dari hidupnya?
Ardan tertegun. Untuk beberapa saat dia mematung di depan pintu, sampai ...
Kreek ...
"Ardan, kenapa berdiri di situ?"
Alena menarik tangan Ardan yang masih tak bergeming.
Ardan mengikuti langkah Alena tapi dengan wajah menunduk. Tatapannya menekuri lantai. Dia tak berani memandang ke arah Soraya.
Jantungnya berdegub kencang. Telapak tangannya berkeringat. Tubuhnya terasa panas dingin. Tangan kanannya mengusap-usap lengan kirinya. Dia benar-benar merasa tak karuan.
"Mas ... "
Suara Soraya yang lemah membuatnya mendongak. Wanita itu memandangnya dengan sendu.
"Ya, kau perlu apa?" tanya Ardan sambil mendekat ke arah Soraya.
Alena perlahan meninggalkan mereka. Dia berpikir mereka perlu waktu untuk bicara dari hati ke hati.
"Aku ... "
Perkataan Soraya menggantung. Ada keraguan dalam hatinya.
"Katakanlah Soraya!"
Soraya tak berani menatap Ardan. Dia meremas jemarinya.
"Bolehkah aku minta sesuatu?"
Ardan meraih tangan Soraya dan meremasnya lembut.
Soraya mengigit bibirnya. Ardan menggeram rendah melihat hal itu. Setelah sekian lama tak menyalurkan hasratnya, Ardan benar-benar merasa ingin menggantikan Soraya mengigit bibir itu. Ardan berusaha keras menahan diri agar tidak menerkam Soraya saat ini juga. Dasar libido sialan!
"Katakanlah! Aku akan berusaha memenuhinya."
Soraya menarik pelan tangannya dari Ardan. Ardan merasa Soraya menolaknya.
"Aku ingin Mas melepaskanku!"
"Apa ... Apa maksudmu?"
"Aku ingin kita bercerai".
" Tidak! Jangan katakan itu!"
Ardan menangkup wajah Soraya dengan kedua belah tangannya. Soraya menutup matanya, air mata merembes dari celah matanya yang tertutup. Dia terisak.
"Aku mohon Soraya, maafkan aku!"
Ardan merengkuh tubuh Soraya dalam pelukannya. Tangisan Soraya terdengar begitu memilukan. Huu... Huu...
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi kita tak mungkin lagi bersama."
Ardan melepaskan tangannya dari Soraya. Dia melangkah mundur. Kedua tangannya meremas rambutnya.
"Tidak, Soraya! Jangan meminta hal itu!"
Dia meninggalkan Soraya yang terisak dengan kedua tangan menutup wajahnya.
Ardan menutup pintu dengan hati hancur. Wajahnya basah dengan airmata.
Arghhh...
Buk... Buk... Buk
Ardan memukul dinding rumah sakit sekuat-kuatnya, berharap dengan cara itu bisa sedikit melonggarkan rasa sesak di dadanya.
Bercak merah mengotori dinding yang didominasi warna putih.
"Hentikan, Ardan! Hentikan!" teriak Alena tapi tak menghentikan pukulan Ardan yang tertuju ke dinding putih itu.
Alena memeluk Ardan dari belakang. Mencoba menenangkan putranya yang kacau.
Hal itu cukup efektif memberi ketenangan pada Ardan meski tak dapat mengobati kepiluan hatinya.
Ardan menghentikan pukulannya. Tangannya bertumpu ke dinding dan kepalanya menempel di sana. Ardan tersengal. Darah menetes dari luka di kedua kepalan tangannya.
"Sayang, ada apa? Mengapa kau seperti ini?"
Alena mengusap lembut lengan Ardan.
Ardan mengangkat kepalanya dan menoleh ke Alena. Tampak wajahnya sayu dengan tatapan putus asa. Terlihat kesakitan di sana. Bukan karena luka di tangan tapi karena sebuah penolakan.
"Mom, Soraya ingin berpisah denganku. Apa yang harus aku lakukan? Aku... Aku tak ingin kehilangannya. Kau tahu kan Mom, betapa besar rasa yang ada di hatiku untuknya. Betapa berarti dirinya bagiku."
Tubuh Ardan merosot jatuh terduduk. Kedua kakinya ditekuk, kedua tangan yang terlipat bertumpu di sana. Kepala Ardan menunduk.
Alena ikut merasakan kepedihan yang dirasakan Ardan. Dia berjongkok di samping Ardan dan membelai kepalanya.
"Momi akan coba bicara padanya."
"Tolong aku, Mom. Aku tak mau kehilangannya. Aku... Aku tak akan sanggup kali ini. Aku... Aku bisa mati."
"Cukup! Sudah momi katakan, jangan pernah berpikir seperti itu. Selalu ada harapan. Momi yakin dia akan mencoba bersama denganmu lagi. Satu hal yang harus selalu kau ingat, setiap wanita ingin dihargai. Menyembunyikan kebenaran hanya akan melukai kepercayaannya. Lebih baik sampaikan kebenaran itu walaupun pahit. Lebih baik dia mendengar dari kita daripada dia mendengarnya dari orang lain. Biarkan dia memutuskan setelah kita menyampaikan semua kebenaran. Jangan pernah memaksanya. Karena hal yang terpaksa takkan pernah berakhir baik."
Ardan terdiam mendengarkan Alena.
"Bersabarlah! Tunjukkan padanya kalau kau benar-benar telah berubah. Wanita tak perlu kata-kata, dia memerlukan bukti. Wanita tak ingin janji manis tapi dia ingin melihat kau berjuang."
Alena bangkit dan berdiri.
"Momi akan coba bicara padanya. Hanya ini yang bisa momi lakukan. Sisanya tergantung padamu. Bagaimana nanti perlakuanmu padanya akan berpengaruh besar pada keputusannya."
Alena melangkah menuju pintu dan mendorongnya, kemudian masuk tanpa menoleh lagi.
Bersambung...
Ardan Hadisaputra
Soraya Palvin
sukses
semangat
mksh
mksh cerita nya kk 🤗
kerennnn 👌👍
tetap semangat berkarya ✍️✊