NovelToon NovelToon
[RDY'S#1] LAA TAHZAN!

[RDY'S#1] LAA TAHZAN!

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Badboy / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: sugiatiidhln

[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]

[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]

[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]



Kisah tentang;


"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."

@Annisa Az-Zahra

Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?


Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.



®picturebypinterest

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12. Waketos

#Ruang OSIS

Zahra menghembuskan nafas gugup dan memperbaiki hijabnya yang sedikit berantakan sebelum memasuki ruangan di depannya ini. Sedangkan Verrel hanya mengangkat bahunya acuh! tak peduli, Verrel membuka pintu ruangan itu tanpa menunggu Zahra yang masih mengatur nafasnya karena gugup.

"Ingat yah jangan macam-macam!" tukas Zahra penuh peringatan.

Verrel menghiraukan ucapan Zahra.

"Ehhhh ... nggak sopan kamu ih!" cetus Zahra saat Verrel langsung membuka pintu di depannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.

"Lo mau masuk apa nunggu di luar?" balas Verrel tak kalah cetusnya.

Zahra membelalakkan matanya, "Pertanyaan macam apa itu, bukannya aku yang di suruh kesini!" protes Zahra.

Verrel memalingkan wajahnya dan berjalan memasuki ruangan itu dengan Zahra yang langsung mengikutinya dari belakang.

"Duh ... Gugup aku, ya Allah bantu Zahra yah," mohon Zahra tak henti-hentinya membatin sambil terus berjalan menyusuri ruangan ini semakin kedalam.

Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main akan kedatangan Verrel. Pasalnya Verrel tak mau berurusan dengan Farhan bahkan memasuki ruang OSIS yang di ketuai oleh Farhan. Ini pertama kalinya Verrel melangkahkan kakinya ke ruangan ini. Tak hanya itu, seisi ruangan ini mengedarkan pandangannya dan kembali terkejut saat melihat Zahra yang berdiri di balik punggung tegap Verrel.

Zahra yang berdiri di belakang punggung Verrel pun menampakkan dirinya dan berjalan ke arah Farhan dengan muka bersalahnya, "Maaf kak, aku nggak sopan bawa dia kak. Namanya Verrel kak teman kelas aku. Dia ngikut aku ke sini tapi aku udah larang kak, dia nya keras kepala!" tutur Zahra sambil melirik Verrel dengan ekor matanya di kalimat terakhir.

Seisi ruangan berdecih sinis, pertanda tak terima dengan kehadiran Zahra di ruangan ini.

Verrel hampir saja ngakak karena pengakuan Zahra, bisa-bisanya Zahra memperkenalkan dirinya di depan kakak kandungnya sendiri.

Farhan tersenyum hangat ke arah Zahra membuat rasa gugup Zahra hilang seketika, "Ya udah nggk apa-apa. Silahkan duduk," Ujar Farhan dengan nada ramah dan mempersilahkan Zahra duduk di bangku kosong dekat Bangkunya.

Baru saja Zahra ingin mendudukkan dirinya, bangku itu dengan cepat di tarik oleh Verrel tanpa rasa bersalah sendikit pun.

Zahra menoleh ke arah Verrel yang sudah duduk santai di atas bangku itu sambil memainkan ponselnya.

"Balikin itu bangku aku!!" geram Zahra tidak terima. Verrel benar-benar keterlaluan, Zahra sampai gondok di buatnya. Apalagi sekarang ruangan ini tengah ramai oleh anggota osis, apa Verrel tidak punya waktu lain untuk membuat Zahra kesal kecuali kali ini.

"Aaarrgg!! ... DASAR COWOK MUKA DATAR ... NYEBELIN BANGET SUMPAH!!" Teriak Zahra berapi-api tetapi cuman dalam hati. Zahra tak punya banyak nyali untuk mengeluarkan semua uneg-uneg nya. Zahra masih ingin hidup tenang di sekolah ini walaupun cuman setitik.

"Gue tuan lo, masa' babunya duduk tuannya berdiri," ujar Verrel tanpa menoleh ke arah Zahra yang menatapnya tajam.

"Bodo amat!! Balikin aku mau duduk!" jerit Zahra dengan suara cemprengnya. Zahra berjalan ke arah Verrel dan merebut ponsel pemuda itu membuat sang pemilik ponsel menatap tajam si pelaku.

"Lo berani sama gue?" geram Verrel datar dengan nada dinginnya.

"E-nggak gitu, aku cuman pengen balikin bangku aku," ujar Zahra sedikit memelas, bodoamat! bahkan Zahra tidak sadar begitu banyak pasang mata yang melihatnya dan kefokusannya hanya diambil alih oleh seorang pemuda yang membuat kekesalan nya naik ke ubun-ubun.

"Enggak!" Verrel tetap keukeh duduk enteng di atas bangku itu.

Semua penghuni ruangan ini tidak berani berkutik atau setidaknya menegur karena menggangu aktifitas mereka. Mereka hanya diam memerhatikan dalam diam, tak ada yang berani menegur Verrel, sikap dingin dan angkuh laki-laki itu sudah di akui seantero STB. Tapi tetap saja sikapnya itu tidak membuat pesonanya berkurang sedikitpun.

Mereka juga tau, jika sekarang Zahra satu-satunya siswi berhijab di sekolah ini adalah babu seorang Verrel. Mereka tidak heran lagi akan hal itu tapi kali ini beda, mereka heran dan terkejut dalam waktu bersamaan melihat dengan beraninya Zahra merebut ponsel milik most wanted mereka, dan mereka juga tidak habis pikir dengan Verrel yang tidak mengeluarkan bentakan, atau kata-kata tajam yang membuat nyali ciut seketika. Cara Verrel memperlakukan Zahra berbeda dengan cara Verrel memperlakukan gadis-gadis yang menyukainya bahkan menyatakan perasaannya secara terang-terangan.

Farhan menatap mereka tanpa memalingkan wajahnya, kedua telapak tangannya terkepal kuat saat Verrel dengan santainya menarik bangku Zahra dan tentu hal itu tidak luput dalam penglihatannya. Farhan Bahkan masih tidak tau dia menyukai Zahra atau tidak! tetapi melihat betapa tidak sukanya melihat Verrel dan Zahra bersama semakin membuat Farhan yakin bahwa sekarang hatinya telah terisi. Farhan tidak tahu kenapa secepat ini ia merasakannya, jika saja Farhan tau Zahra sangat akrab dengan Verrel orang yang bahkan baru di kenalnya. Farhan pasti akan menahan sekuat tenaga perasaannya agar tidak masuk terlalu jauh.

"Ck ... Ada hubungan apa mereka berdua? Kenapa terlihat akrab skali?!" batin Farhan.

Verrel yang melihat perubahan ekspresi Farhan semakin menjadi-jadi, "Balikin hp gue dong pen," ujar Verrel dengan nada tak secetus tadi.

Zahra mengernyitkan keningnya bingung dengan perubahan nada bicaranya dan Pen?

Apalagi itu?

bukankah namanya Zahra bukan Pen!

"Pen?" Beo Zahra, merasa aneh dengan panggilan Verrel untuknya kali ini.

"Iya Pen," jawab Verrel santai.

"B aja lah yah! Sekarang siniin bangku aku, setelah itu aku kembaliin hp kamu!" tutur Zahra menggoyang-goyangkan ponsel milik Verrel yang sekarang ada di genggamannya.

"Ambil aja hp gue, gue punya banyak kok tenang aja. Dan Lo mau duduk di sini aja," tukas Verrel dengan nada angkuh mode on dan menepuk pahanya saat mengatakan 'disini aja'.

Seisi ruangan yang menyaksikan perdebatan itu menahan tawanya abis-abisan, bahkan wajah mereka sudah memerah siap meledakkan tawanya.

Zahra membelalakkan matanya mendengar ucapan Verrel yang menurutnya menjijikkan. Zahra ingin skali mencakar wajah cowok muka datar itu hingga tak berbentuk lagi, dan sekarang wajah Zahra memerah bukan karena malu atau blushing tapi karena kemarahannya sampai ke ubun-ubun.

"GILAAAAAAA ... COWOK MUKA DATAR GILAA KAMPRET, IISSSS NYEBELIN BANGET!!!" Jerit Zahra dalam hati. Lagi-lagi hanya dalam hati dalam hal inipun nyalinya masih ciut takut jika Verrel akan semakin berulah, jangan salahkan Zahra jika sampai Zahra kehilangan kendali dan meneriaki Verrel sekuat tenaga.

BRAKK!!

Farhan menggebrak meja sangat keras membuat semua penghuni ruangan itu terpelonjak kaget, bahkan Zahra menatap ke arah Farhan dengan raut bersalahnya. Sedangkan Verrel peduli setan! Bahkan ekspresinya tidak berubah.

"Maaf kak," lirih Zahra gugup. Dalam hati Zahra menyumpah Serapahi Verrel.

"Lo nggak salah Zahra, yang salah itu dia-- Verrel!!" tukas Farhan dengan menatap tajam ke arah Verrel.

"Baik banget sih kak Farhan, enggak kayak si cowok muka datar itu!" Gerutu Zahra membatin.

Semua penghuni ruangan yang menyaksikan adegan ini membelalakkan matanya sang ketua OSIS mereka, perfect boy mereka membela gadis Berhijab yang baru di kenalnya dan menyalakan adiknya sendiri. Walaupun mereka berdua tak seperti saudara, tapi tetap membuat semua orang terkejut.

Selama ini Farhan dan Verrel memang tak pernah dekat layaknya saudara, tetapi Farhan selalu bersikap ramah dan kadang juga tersenyum ramah ke arah Verrel walau selalu diabaikan. Berbeda dengan sekarang, dimana Farhan dengan terang-terangan menyalakan Verrel dan membela Zahra walau memang kenyataannya Verrel lah yang salah.

"Cepet juga Lo ternyata," sinis Verrel membatin.

Zahra yang tak mengerti oleh hawa mencekam di ruangan ini hanya bersikap biasa-biasa saja. Kemarahannya reda kala mengetahui Farhan berpihak padanya, "Iya kak emang dia yang salah, ya udah kak aku berdiri aja," tutur Zahra membenarkan ucapan Farhan.

"Babu sialan!!!" batin Verrel kesal.

Farhan tak ingin memperpanjang masalah ini dan juga tidak ingin membuat hubungannya dengan Verrel yang rentang semakin rentang. Dalam masalah ini Farhan nyatakan akan mengalah.

Farhan menatap Zahra dengan senyum tipisnya, " Ra, Lo duduk di bangku gue aja," ujar Farhan sambil beranjak dari bangkunya.

Zahra menggeleng kecil, "Nggak kak, biar aku aja yang berdiri."

Farhan mengganguk dan memulai aktivitasnya yang sempat tertunda tanpa memperdulikan Verrel yang masih berada di ruangan ini.

"Baik, di sini gue ngumpulin kalian karena gue mau ngumumin kalo pengganti Linda yang mengundurkan diri jadi Wakil ketua OSIS di sebab kan karena sakit akan di gantikan oleh ..." tutur Farhan panjang lebar dan menjeda kalimatnya melirik Zahra yang sedang menunduk malu, "Annisa Az-Zahra," lanjutnya.

Lagi dan lagi semua penghuni ruangan ini terkejut bukan main, karena posisi wakil ketua OSIS yang sebelumnya di duduki oleh Linda anak kelas 12 teman sekelas Farhan yang kepintarannya di atas rata-rata dan seringkali mengikuti lomba walau tak sesering Farhan harus di gantikan oleh Zahra siswi yang bahkan belum genap sebulan sekolah di sini.

"*Sumpah! Gue nggak salah denger posisi Linda di gantiin ama dia?"

"Apa sih bagusnya dia? Biasa-biasa aja perasaan."

"Pintar? Kayaknya nggak, cantik? Cantikan gue kali yah."

"Gue cuman takut cewek baru itu ngancurin organisasi kita. Kita kan belum kenal dia*!"

Begitulah bisikan-bisikan yang di lontarkan oleh penghuni ruangan ini. Farhan tidak dapat mendengarnya dengan jelas tapi dapat melihat perubahan ekspresi para anggotanya. Sedangkan Zahra sekarang merutuki dirinya sendiri, kini kebahagiaannya yang setinggi langit terjun bebas ke jurang yang paling dalam. Gadis itu menunduk dalam dan membendung air matanya.

"Aku bodoh, aku bodoh, seharusnya aku tak berharap lebih. Nggak ada yang perlu di banggain dari aku. Aku bodoh sangat bodoh benar apa kata Verrel aku Stupid Girl!" isakan Zahra dalam hati.

Farhan yang melihat Zahra tertunduk merasa tidak terima akan keadaan ini, "Gue minta sama kalian, terima Zahra jadi pengganti Linda dan perlakukan dia seperti kalian memperlakukan Linda dengan baik!" Suara tegas Farhan.

Zahra menatap sendu ke arah Farhan berusaha agar cairan bening di pelupuk matanya tidak jatuh, "Kak, Zahra nggak papa kok kalo nggak jadi, hehe," lirih Zahra dengan kekehan garing di akhir kalimatnya, berusaha agar dirinya terlihat biasa-biasa saja.

"Farhan kok Lo nentuin dia jadi wakil sepihak sih nggak nanya kita-kita dulu!" seru bendahara OSIS yang balas anggukan kecil oleh para anggota lainnya.

"Gue setuju!" seru Nanda yang merupakan sekretaris OSIS, semua seisi ruangan mengalihkan tatapannya ke arah Nanda kecuali Verrel yang hanya duduk adem ayem, malas untuk ikut campur masalah ini.

"Maksud Lo apa Nan?" tanya salah satu anggota OSIS.

"Gue, Farhan dan Linda setuju kalo Zahra jadi pengganti Linda. Kita bertiga yakin Farhan tidak akan salah pilih! dia pasti ingin yang terbaik untuk organisasi ini. Dan untuk Zahra dia akan di bawa kendali Farhan, Farhan yang akan bertanggung jawab kalian tenang saja tugas kalian masih sama nggak berkurang ataupun di tambah. Dan yah, Zahra orangnya beda dari yang lainnya dia berhijab dan mungkin saja ada bakat terpendam yang kita tidak tahu," jeda Nanda berhenti sejenak untuk menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, "Kalian enggak boleh ngeremehin orang, apalagi sebelum kalian tau dia itu siapa!" tutur Nanda panjang lebar berharap teman-temannya mengerti.

Memang benar, kemarin Farhan sudah meminta persetujuan dari Linda dan Nanda dan mereka setuju jika Zahra jadi pengganti Linda. Farhan juga ingin meminta persetujuan teman-teman OSIS-nya yang lain, tetapi Nanda meyakinkan Farhan bahwa Nanda lah yang akan menyakinkan anggota OSIS yang lain dan Farhan hanya menurut saja.

Para anggota OSIS pun berusaha mencerna ucapan Nanda. Mereka serasa di tampar oleh ucapan Nanda, tak ingin mempermasalahkan lebih lanjut mereka pun mengangguk meng-iyakan. Walau dalam hati mereka sangat tidak rela, tapi apalah daya jika Farhan sudah mengambil keputusan, keputusannya nihil bisa salah dan itu sudah berlangsung selama dua tahun ini.

"Sekarang kalian bisa bubar!" ujar Farhan yang merasa rapat ini telah selesai.

Meski semua anggota OSIS mengangguk mereka tetap saja menatap sinis ke arah Zahra, berjalan dan menyenggol bahu Zahra dengan keras.

Pandangan Verrel beralih ke arah Zahra yang sedang menunduk dalam, Verrel juga tau saat kebanyakan anggota OSIS keluar dan menyenggol bahu gadis itu, "Ck ... sok kuat lo pen. Paling bentar lagi nangis!" gumam Verrel.

Setelah semua anggota OSIS keluar. Meninggalkan Farhan, Zahra dan Verrel di ruangan ini.

Farhan menatap ke arah Zahra untuk memastikan gadis itu baik-baik saja, "Zahra, lo nggak usah masukin ke hati yah sikap mereka. Lambat laun mereka pasti nerima Lo, lagian lo dengar sendiri kan apa yang Nanda bilang," tutur Farhan panjang lebar.

Zahra menitikkan air matanya dan segera menghapusnya dengan cepat, " Nggak kok kak nggak papa. Kalo Zahra nggak jadi juga nggak papa kak, Zahra ngerti. Dan untuk kak Nanda, makasih kak Nanda baik banget tadi sampai mau ngebela Zahra, " tutur Zahra dengan senyum menenangkan nya. Jujur, Zahra sangat berterimakasih kepada kakak kelasnya yang ia ketahui namanya adalah Nanda.

Farhan tertegun melihat senyum dan pancaran mata bernetra coklat gelap milik gadis itu yang menenangkan, dengan cepat Farhan menstabilkan mimik wajahnya, "Nggak. Lo tetap waketos gue, ok!" ucap Farhan penuh keyakinan.

Zahra sempat menampilkan ekspresi bingung karena Farhan tetap keukuh mempertahankannya. Tetapi tak urung Zahra pun mengangguk meng-iyakan, lagi pula si Ketua OSIS sendiri yang memilihnya itu tidak salah walau sedikit egois, Zahra juga berhak bahagia walau dengan hal-hal kecil yang di inginkannya.

Verrel menatap dua insan yang sedang sibuk berbicara itu dengan pandangan jengah, "Pemandangan macam apa ini! Gue di sini di anggep apa, obat nyamuk!?!" Gerutu Verrel membatin.

Zahra dan Farhan melupakan kehadiran Verrel di ruangan ini dan melanjutkan obrolan mereka.

"Ra, Lo belum makan pastikan? Ikut gue yah ke kantin," tawar Farhan.

Zahra tersenyum merekah mendengar tawaran itu jarang-jarang an di ajak makan oleh sang ketua OSIS 2 periode ini.

"Hm, aku ma ..."

"3 bulan!"

Zahra menggantung ucapannya padahal tinggal satu huruf yang belum keluar dari mulutnya tinggal 'U', dan itu semua gara-gara Verrel yang memotong ucapannya dengan cepat.

Zahra berdecak sebal dan bahkan ingin sekali menelan pemuda itu hidup-hidup. Sedangkan Farhan mengerutkan keningnya bingung akan sikap Zahra dengan Verrel.

Verrel? sekarang dia tengah ngakak dalam hati melihat ekspresi kesal Zahra stadium akhir.

Zahra menatap sendu ke arah Farhan, "Maaf kak aku nggak bisa," cicitnya lirih.

Verrel yang mendengar itu tersenyum miring, "Bangke Lo Pen, si Farhan udah seneng banget gitu Lo php-in, eh tapi ini gara-gara gue juga sih," Batinnya.

"Loh kenapa?"

"Nggak apa-apa ko kak, oh ya kak aku sama si muka datar ini ke kelas duluan yah," Pamit Zahra.

Verrel berdecak tidak terima, "Muka datar? Gue aja naksir sama muka gue. Parah Lo pen!" protes Verrel tanpa Sadar.

"Ok, B aja!" balas Zahra singkat.

"Kak aku pamit yah. Assalamu'alaikum ..." ujar Zahra setelah itu berjalan keluar ruangan menyisakan Farhan dan Verrel.

Verrel menampilkan Smirk-nya kepada Farhan dan berjalan menghampiri pemuda itu yang masih menatap punggung kecil Zahra, "Biar gue aja yang ngajak dia makan," bisik Verrel sebelum melangkahkan kakinya menyusul Zahra.

Farhan mematung di tempatnya menatap tajam adiknya sendiri dan fikirannya bekerja keras memikirkan...

Apa hubungan Zahra dengan Verrel?

Kenapa Zahra menolak ajakannya setelah Verrel mengucap kan 3 bulan?

Apa maksud dari 2 kata itu?

Bahkan Farhan merasa aneh pada dirinya sendiri, tidak biasanya ia ingin ikut berkelana ke kehidupan seorang gadis, bahkan Farhan masih merasa aneh pada hatinya yang tak rela melihat Verrel begitu dekat dengan Zahra.

Fix! Farhan jatuh hati pada gadis berhijab itu.

1
alysa natalia_
kak ga ada niat buat di terbitkan?
jk_vn
aku baca lagi thor + kalo boleh tau author nya sekarang ada di lapak mana?
jk_vn
aku baca lagi thor + kalo boleh tau author nya sekarang ada di lapak mana?
Rifa Endro
kebangetan Lo, Ra !!! kebangetan polos dan lugunya🙈🙈🙈
Nenk NOER
ceritanya menarik Aku udah baca sesion 1 dan 2 nya...
Nenk NOER
Udah baca sesion 1 dan 2 semuanya menarik..penuh air mata.. semangat Thor..terus berkarya..💪💪❤️
Nana_sabil
blm move on baca lagi deeh😁
Maryam Renhoran
Endingnya sangat mngecewakan
Maryam Renhoran
jadi malas bacanya, yg tertindas makin tertindas
jk_vn
suka novelnya,,pas inget waktu sekolah
anak_ultramen
othor ini menolak happy ending
alysa natalia_
kapan novel nya di terbitkan?
hellonan.
kak Farhan 😍
Nacita
part ini gue scroll doank ga pengen baca sumpah 😭😭😭😭😭😭
Nacita
anjrit gue santet tuh s martin....
Nacita
aku gasuka verel deket sm cwe lain selain zahra😔
Nacita
aduh cahlaaaa cahla....
Nacita
sedih sangatttt....
Nacita
iyakan rumit 😔
Nacita
semua yg baca mengutuk kamu martin sialan.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!