Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Mencintai
Di Istana Mahapatih, Ashwina baru saja melahirkan putra pertamanya dengan Candrakumara. Candrakumara sangat bahagia karena istrinya kembali melahirkan seorang anak laki-laki.
Dia menggendong putranya itu lalu menciuminya. "Kau akan jadi pejuang yang lebih hebat dari Candrakumara. Kau memiliki mata indah ibumu," ucapnya pada bayinya.
Cabdrakumara segera membawa bayinya keluar dan mengumumkannya kepada rakyat di sekitar Istana. Semua orang bersorak gembira menyambut kelahiran anak itu.
Tak lama, seorang pengawal dari Istana Ekanta mencoba untuk masuk tetapi ditahan oleh pengawal Candrakumara yang lain. Laki-laki itu kemudian menyuruh pengawalnya untuk mengizinkan pengawal itu masuk.
Pengawal itu datang dengan wajah panik bercampur sedih. "Tuanku! Cepatlah Tuan, Putri Balqis sedang kesakitan. Tidak ada tabib ataupun dukun yang mau mengurusnya. Bagaimana jika--" Ucapannya segera dipotong oleh Candrakumara.
"Dia akan baik-baik saja. Seekor harimau betina tidak butuh tabib ataupun dukun. Bukankah begitu, Gasendra?" ucapnya seraya memberikan bayinya pada Gasendra.
Lalu dia segera pergi ke Istana Ekanta untuk menemui Balqis. Saat sampai disana, Candrakumara berlari dengan secepat mungkin menuju kamar Balqis. Dan saat sampai di kamar, dilihatnya wanita itu sedang menjerit kesakitan dengan keringat yang mengalir di sekujur tubuhnya.
"Tuan Putri benar-benar menderita, Tuan. Dan tidak ada satupun yang mau membantu!" ucap Khansa dengan berurai air mata saat melihat Candrakumara tiba.
Dengan segera, Candrakumara duduk di samping Balqis lalu menggenggam tangannya erat.
"Balqis, ambil napas. Melahirkan seorang pejuang memang tidaklah mudah," ucapnya.
Candrakumara terus membantu Balqis dengan memintanya untuk mengatur pernapasan dan mengejan.
Beberapa saat kemudian, tangis seorang bayi laki-laki menggema di seluruh Istana. Balqis telah berhasil melahirkan putra pertamanya dengan Candrakumara. Dia tersenyum bahagia saat mengetahui putranya telah lahir ke dunia.
"Lihat! Kau mau memberinya nama siapa?" tanya Candrakumara yang menggendong putranya yang masih penuh dengan darah.
"Sadananda," lirih Balqis.
"Sadananda?"
Balqis mengangguk sedangkan Candrakumara tersenyum.
"Sekembalinya aku dari Utara, aku akan adakan upacara pemberian nama bagi kedua putraku," ucap Candrakumara dengan mata berbinar. Dia kemudian membersihkan anaknya dari darah.
***
Di Istana Mahapatih, Ashwina dan dayang-dayangnya sedang mengayun putranya yang baru lahir itu seraya bernyanyi.
"Jangan uji kesabaran kami lagi. Bibi Saanvi, katakanlah nama apa yang sudah kau pilih," ucap Dananjaya yang baru saja datang.
"Katakan," ucap Ashwina pada adiknya itu.
"Baiklah, siapa namanya?" tanya Dananjaya.
"Tarachandra!" ucap Saanvi dengan suara lantang.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bersorak seraya menyebutkan nama itu.
"Nama yang indah, Tuanku," ucap Indra Bhatt pada Arimbi yang juga ada disana.
Tiba-tiba semua orang terkejut dan terdiam saat melihat kedatangan Balqis.
"Selamat datang, Balqis," ucap Gasendra yang membuat semua orang menoleh ke arah Balqis yang berjalan menuju ayunan Tarachandra dengan membawa sebuah hadiah berbungkus kain berwarna hijau.
"Selamat datang! Kau datang disaat yang tepat. Senang melihatmu datang kemari. Ibu, bagaimana mungkin seseorang tidak punya rasa malu dan terus kembali ke rumah ini untuh dihina?" ucap Gasendra lagi.
"Hinaan apa yang berasal dari rumahmu sendiri? Tidak akan ada hinaan oleh orang-orangmu sendiri. Aku kemari untuk memberkati putra Candrakumara," ucap Balqis saat dirinya berhadapan dengan Gasendra.
"Kau kemari untuk memberkati keluarga atau memohon agar diterima?" tanya Gasendra.
"Aku kemari membawa hadiah atas nama Candrakumara karena dia tidak bisa hadir," ucap Balqis.
"Kalau kau ingin diterima di keluarga kami, maka kau harus mencari kain jingga dan bukan warna hijau beracun ini," ucap Gasendra.
"Semua orang menghubungkan setiap agama dengan warna, sedangkan warna tidak beragama. Terkadang saat hati kotor, seseorang mulai membeda-bedakan untuk untuk mencari alasan." Balqis mengatakannya seraya memandang Gasendra dengan tajam.
Gasendra ingin menjawab ucapan Balqis tetapi Indra Bhatt menahannya dengan mengatakan, "Biarkanlah, Gasendra. Dia sudah lupa perbedaan antara Kuil dengan Masjid."
"Mungkin kau juga lupa kalau patung di Kuil sering dihias dengan warna hijau dan kain jingga menutupi makam para Sufi. Lalu darimana pemikiran soal warna dan agama itu?" tanya Balqis yang membuat Indra Bhatt terdiam.
"Candrakumara hanya memegang tanganmu tapi lidahmu mulai tajam seperti pedangnya," ucap Gasendra.
"Naluri Ksatria bisa menjangkau pedangnya bahkan saat ada kerikil yang menghadang," ucap Balqis.
"Indra Bhatt. Tahun ini saat kita mengadakan dia untuk para leluhur, tambahkan doa untuknya juga. Sehingga bagi kita dia sudah tiada. Tinggalkan kami serakang!" ucap Arimbi.
"Doa itu bukan untuk orang asing, Ibu. Aku bersyukur Ibu menganggapku seperti keluarga Ibu sendiri," ucap Balqis seraya meletakkan hadiah miliknya itu dan setelah itu dia langsung pergi dari sana.
***
Zayn merebahkan tubuhnya yang sangat pegal di atas kasur sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintunya diikuti oleh suara perempuan.
"Zayn, kamu tidur?" tanya Zoya dari balik pintu.
"Kenapa?"
Zoya membuka pintu kamar Zayn. "Boleh aku masuk?"
"Nggak."
Tanpa menghiraukan ucapan Zayn, Zoya segera masuk ke dalam kamar dan duduk di hadapan Zayn yang sudah duduk di atas kasur.
"Kenapa?" tanya Zayn.
"Ada hal mendesak yang pengen aku tanyain."
"Apa?"
"Menurut kamu, kapan kamu bakal mulai suka sama aku?" tanya Zoya yang merasa posisinya mulai terancam oleh Airin. Dia tidak ingin perjuangannya datang jauh-jauh dari Kalimantan menjadi sia-sia.
Sejak kedatangan Airin waktu itu dan sejak dia menyuruh Zoya untuk pergi dari rumah Zayn, Zoya merasa posisinya sedang berada dalam bahaya. Dia harus bisa memenangkan hati Zayn secepat mungkin sebelum Airin melakukannya.
"What?"
"Aku tau kamu nggak suka sama aku, tapi nanti apa kamu mungkin punya rencana buat cinta sama aku?" tanya Zoya.
"Nggak."
"Nggak?"
"Iya, aku nggak berencana kayak gitu," ucap Zayn dengan wajah datarnya.
"Nggak, daripada ngejawab cepet kayak gitu, kamu harus berpikir dulu sebelum jawab. Serius nggak punya rencana?" tanya Zoya lagi.
Zayn terlihat berpikir-pikir sebentar lalu menatap wajah Zoya dengan saksama. Beberapa saat kemudian Zayn segera berhenti sebelum dia terlena melihat kecantikan yang dimiliki oleh Zoya.
"Aku tau kalo kamu itu berasal dari kota kecil, tapi apa kamu sebodoh ini? Biar aku jawab lagi, jadi dengerin baik-baik. Aku nggak punya rencana mencintai kamu... atau semacamnya," ucap Zayn yang langsung membuat senyum di wajah Zoya luntur.
"Kayaknya kamu susah ngejawab ini--"
"Kamu nggak denger? Aku barusan udah jawab dengan sangat jelas."
Mata Zoya mulai memerah dan berkaca-kaca saat mendengar itu, tetapi dirinya tidak menyerah dan tetap meyakinkan dirinya bahwa suatu saat Zayn akan mencintainya.
"Aku bakal kasih kamu waktu."
"Astaga, kalo kamu ngasih aku waktu, apa aku harus nerima itu? Kamu tau, buat orang yang suka sama orang lain, apa mudah suka cuma dalam beberapa hari? Itu adalah hal yang paling sulit di dunia."
"Kenapa?"
"Karena..." Tiba-tiba ucapan Zayn terhenti saat melihat ekspresi di wajah Zoya yang menyiratkan kesedihan, dia bisa melihat air mata gadis itu hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Denger baik-baik. Hal yang paling mudah di dunia adalah... dikecewain sama orang lain. Bahkan setelah kamu suka sama seseorang karena penampilan luarnya, pasti ada aja yang bikin kita kecewa. Begitulah manusia. Nggak ada orang yang bisa mengatasi kekecewaan. Jadi, mencintai orang lain itu hal adalah tersulit," ucap Zayn.
"Nggak juga."
"Apanya yang nggak?"
"Menurut aku, mencintai seseorang itu mudah. Meskipun waktu aku berusaha nggak mencintai, aku nggak bisa nahan rasa cinta itu. Seberapa besarnya rasa kecewa aku nanti, aku nggak bisa berhenti mencintai. Buat aku, cinta mengatasi segala sesuatu. Seandainya nanti kamu berencana suka sama aku, tolong kasih tau aku, Zayn." Zoya menatap mata Zayn dalam-dalam. Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar itu dan pergi ke kamarnya
***
Di rumah Airin, gadis itu sedang bersantai di ruang tamu sembari membaca sebuah majalah. Sedangkan kakak iparnya tengah asyik mengobrol dengan ibunya melalu telepon dan diam-diam Airin memperhatikan obrolan mereka.
"Kakak hebat banget. Aku aja susah nyenengin mama aku, tapi Kakak ngelakuin semuanya buat bikin dia seneng," ucap Airin pada kakak iparnya.
"Haruskah aku... kasih kamu saran cara ngendaliin hati laki-laki? Seorang laki-laki nggak bisa kasar sama seorang perempuan yang baik sama ibu si laki-laki," ucap Maya pada adik iparnya.
"Apa maksudnya itu?"
"Coba liat kakak kamu. Setelah kerjanya cuma main-main aja, dia akhirnya nikah sama aku yang baik sama mamanya. Jadi, laki-laki yang kamu bikinin masakan itu... kalo kamu mau bersama laki-laki itu, maka kamu harus ambil hati mamanya. Itu maksud aku."
"Tapi, dia jarang nyeritain keluarganya. Dia juga nggak pernah nyeritain mamanya."
"Mamanya ada dimana? Kalo dia tinggal di Jakarta, aku bisa nyari tau tentang dia."
"Haruskah aku nanya diam-diam sama Zayn?" gumam Airin.
Beberapa saat kemudian, asisten rumah tangga mereka datang dan menyajikan teh untuk mereka berdua. Dengan cepat Airin meminum teh itu tetapi sedetik kemudian dia mengeluarkannya dari mulutnya.
"Ini bukan teh yang biasa aku minum, kan?" tanya Airin.
"Kita kehabisan teh yang biasa Non minum," ucap Bi Kinar.
"Aku udah bilang sama Bibi kalo aku nggak mau minum teh kalo bukan teh yang aku suka," ucap Airin.
Bi Inah kemudian membereskan cangkir bekas Airin dan menaruhnya di nampan. "Iya, Bibi bakal beli teh itu. Tapi, boleh aja Non suka teh dari negara lain, tapi seenggaknya jagalah sikap Non sama orang tua."
"Bi, apa Bibi nyeramahin aku sekarang?"
"Bibi bukannya nyeramahin Non. Tapi kalo Non belajar dari perkataan Bibi tadi, Bibi malah seneng," ucap Bi Kinar lalu pergi ke dapur.
"Kak, kenapa Bibi itu?"
"Dia emang selalu kayak gitu, jangan terlalu dipikirin. Oh iya, gimana cara aku tau ibu laki-laki itu dan ngambil hatinya? Kamu perlu cari tau itu, karena itulah kuncinya," ucap Maya.
Airin mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti ucapan Maya.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...