NovelToon NovelToon
Istri Imutku

Istri Imutku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:121.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nagyta Salma Ramadhani

Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.

Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.

Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.

Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.

Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.

Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.

Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 12 - Aura Sang CEO Muda

"Devan, ayo kita menonton berita pagi" ajak Dylan ketika sudah menyelesaikan ibadah Shalat Subuhnya secara berjamaah dengan keluarganya.

"Oke Pa" jawab Devan dengan singkat.

Devin memanyunkan bibirnya mendengar ucapan sang Papa yang hanya mengajak Kakaknya saja.

"Ih Papa, kok Papa nggak ngajakin Devin? Devin kan juga mau menonton berita pagi bersama Kakak dan Papa" ucap Devin sembari memanyunkan bibirnya.

Melihat ekspresi Devin yang begitu menggemaskan, Devan tertawa terbahak - bahak hingga mengakibatkan perutnya menjadi sakit.

"Hahaha" tawa Devan dengan lantangnya.

"Ka katamu a aku seperti ce cewek yang se sedang nga ngambek. Pa padahal ka kamu yang se seperti i itu" ucap Devan dengan terbata - bata karena sedang menahan tawanya.

Mendengarkan tawa sang Kakak sudah membuat Devin kesal, bagaimana tidak? Kalau di tertawakan oleh orang lain rasanya sangat menyebalkan. Ingin sekali menceburkan diri ke lautan yang dalam atau mengubur diri sendiri di dasar bumi.

"Dasar Kakak sialan. Sangat menyebalkan. Tunggu saja pembalasanku" gerutu Devan di dalam hatinya sembari menyunggingkan senyuman licik di wajah tampannya.

Dylan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kedua Putranya yang terbilang sangat susah untuk akur. Pasti ada saja kejahilan yang di sebabkan oleh Kakak ber Adik ini.

"Sudah kalian ini" ucap Dylan yang menengahi kejahilan antar Kedua Putranya.

Devan dan Devin pun berhenti sesuai dengan perintah sang Papa. Namun sebenarnya, Devan dan Devin tengah merencanakan suatu kejahilan. Entah untuk siapakah kejahilan itu. Tiada yang tahu selain diri mereka sendiri.

"Manda, kita bantuin Bi Diah masak yuk" ucap Serena sembari menarik pergelangan tangan Amanda.

"Iya Kak" jawab Amanda dengan lembut.

"Ingat ya Gadis Kembarnya Mama, Mama akan marah kalau kalian tidur lagi. Mending kalian cari kesebukan yang bermanfaat buat kalian. Contohnya olahraga" ucap Amanda dengan ekspresi wajah yang mengerikan.

"Iya Mam" jawab Anyuna dan Anyura dengan pasrah.

Sebelum keluar dari ruang Shalat, Serena menghampiri Suaminya terlebih dahulu.

"Papa, Mama mau masak dulu ya sama Manda. Bye" bisik Serena sembari mencium pipi sang Suami di akhir kalimatnya.

Dengan segera Serena mengajak Amanda untuk pergi ke dapur.

Sementara itu, Dylan yang mendapat ciuman di pipinya dari sang Istri hanya bisa terpaku diam.

Hal itulah yang memancing Devan, Devin, Adhitama, Hanna, Anyuna, dan Anyura tertawa dengan terbahak - bahak.

"Hahaha" tawa Devan, Devin, Adhitama, Hanna, Anyuna, dan Anyura.

Dylan mengerutkan dahinya melihat semua orang yang ada di ruangan Shalat ini tertawa.

"Kenapa kalian tertawa?" tanya Dylan dengan dahi yang berkerut.

"Ka karena ta tadi Pa Papa diam saat Ma Mama su sudah me mencium Pa Papa" ucap Devan dan Devin dengan terbata - bata karena menahan tawanya.

Dylan langsung memaling wajahnya karena malu. Bagaimana tidak? Semua orang yang ada di ruang Shalat ini menertawakannya karena sempat terdiam ketika sang Istri telah memberikan ciuman di pipi Dylan.

"Ah, rasanya malu bukan kepalang kepergok oleh Mama, Papa, Kedua Putraku, dan Kedua Keponakan Kembarku" gerutu Dylan dalam hatinya.

Devan dan Devin tertawa terbahak - bahak melihat sang Papa yang memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Devan dan Devin yakin bahwa sang Papa sedang malu yang bukan kepalang.

"Hahaha" tawa Devan dan Devin yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.

Dylan langsung menatap Kedua Putranya dengan tatapan jengah. Sesekali Dylan menghembuskan nafas dengan kasar sembari melihat Kedua Putranya yang masih belum bisa berhenti tertawa.

"Hahaha, Pa Papa ma malu kan?" tanya Devan dan Devin dengan terbata - bata karena Devan dan Devin masih saja tertawa.

"Huh" Dylan pun menghembuskan nafas dengan kasar.

Bagaimana pun juga Dylan sekarang sedang sangat kesal dengan Kedua Putranya.

"Hei sudahlah. Kalian ini masih saja tertawa. Kapan kita akan menonton berita pagi kalau kalian terus saja tertawa di ruang Shalat" gerutu Hanna sembari mendekatkan dirinya kepada Kedua Cucu Laki - lakinya.

Sontak saja Devan dan Devin langsung menghentikan tawanya. Devan dan Devin saling bertatapan sejenak. Lalu kini Devan dan Devin beralih untuk menatap wajah renta sang Oma.

"Hmmm" jawab Devan dengan deheman.

"Ayolah, sekarang kita pergi ke ruang Keluarga. Kita akan menonton berita pagi bersama" gerutu Hanna sembari berjalan keluar dari ruang Shalat.

"Memangnya Oma suka dengan berita pagi?" ledek Devan kepada sang Oma yang sedang berjalan menuju ke ruang keluarga.

Sontak saja Oma langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sang Cucu Pertamanya dengan tatapan penuh dengan amarah.

"Hei, dasar Cucu menyebalkan. Kamu tidak tahu bahwa berita pagi itu makanan wajib bagiku" teriak Hanna sembari menatap wajah sang Cucu Pertamanya dengan tatapan penuh dengan amarah.

"Oh iya? Jadi Oma tidak butuh lagi makan nasi dan lainnya?" tanya Devan dengan tatapan dan nada yang sangat mengejek.

"Tentu saja aku masih membutuhkan makan nasi dan lainnya. Memangnya kamu pikir aku ini robot?" teriak Hanna dengan suaranya yang sangat melengking.

"Sudahlah, kalian ini memang suka sekali bertengkar. Ayo kita menonton berita pagi" ucap Dylan yang langsung mengajak Adhitama, Devan, dan Devin pergi dari ruang Shalat dan menuju ke ruang keluarga.

Sesampainya di sana, Devan dan Hanna langsung menduduki karpet tebal yang ada di ruang keluarga. Di susul dengan Dylan, Adhitama, dan Devin yang ikut duduk di atas karpet tebal yang ukurannya sangat besar tersebut.

"Kita menonton berita pagi di channel Pierta TV saja ya" ucap Adhitama sembari menyalakan TV.

Adhitama pun langsung mencari channel Pierta TV. Setelah mendapatkan channelnya, terlihatlah di layar seorang wanita yang sedang membawakan berita di pagi ini.

"Selamat pagi Pemirsa. Berjumpa lagi dengan saya, Sierra Prameswari di Kabar Indonesia Pagi. Informasi pembuka kali ini adalah kasus pembunuhan berencana di daerah Kalimantan Selatan. Di duga kasus pembunuhan berencana ini bermotif sang pelaku yang mencintai seorang wanita yang merupakan istri dari korban. Pelaku membunuh korban karena ingin mendapatkan istri dari korban tersebut. Polisi telah berhasil meringkus pelaku. Pelaku terkena pasal 340 KUHP dengan terancam hukuman mati atau seumur hidup atau paling lama dua puluh tahun" ucap sang pembawa berita yang bernama Sierra Prameswari tersebut.

"Ah, berita ini sangat membosankan" gerutu Hanna yang memaki berita yang di tayangkan.

Devan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Karena Devan berada di samping sang Oma, maka Devan lebih mendengar teriakan sang Oma yang sedikit keras.

Sementara Devin, dia juga menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Karena Devan juga berada di samping sang Oma juga. Hanya Dylan dan Adhitama yang berada agak jauh dari lokasi sang Oma berada.

"Haish, kenapa beritanya sangat membosankan" gerutu Devin dengan keras.

Sementara Devin merasa bosan, Devan malah merasa menikmati semua berita yang di suguhkan oleh sang pembawa berita.

Kenapa Devan tidak merasa bosan? Karena Devan melihat orang yang sedang memperagakan bahasa isyarat. Hadeh, Devan ini bukannya nyimak beritanya tapi malahan melihat orang yang sedang memperagakan bahasa isyarat.

"Ah, rupanya sudah pagi ya" ucap Devan ketika melihat jam yang tertampil di layar Televisinya.

Devan pun langsung beranjak dari duduknya. Devan pun langsung berjalan menuju ke arah kamarnya.

Hal ini membuat Dylan, Devin, Adhitama, dan Hanna menjadi bingung. Dylan, Devin, Adhitama, dan Hanna menerka - nerka di dalam pikirannya sendiri.

"Kamu mau ngapain ke kamar lagi?" tanya Dylan sembari mengerutkan dahinya.

"Mau ganti baju Pa. Devan kan hari ini mulai jadi CEO di perusahaan keluarga kita" ucap Devan dengan santai sembari berjalan menuju ke arah anak tangga.

"Iya ya, Papa lupa Van" ucap Dylan sembari cengengesan.

"Aaaaa, CEO muda" goda Devin ketika melihat sang Kakak yang sangat bersemangat.

Devan langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sang Adik dengan tatapan tajamnya yang sontak saja membuat nyali Devin menciut.

"Semangat Cucuku, aku tahu kamu bisa" ucap Adhitama sembari menunjukkan kedua jempolnya kepada Devan.

Devan pun langsung membalas ucapan sang Opa dengan senyuman dan dua jempol yang di acungkan kepada sang Opa.

"Hei Cucu nakal, semoga nanti perusahaan keluarga akan maju di tangamu" teriak Hanna dengan lantang.

"Siap Oma" jawab Devan sembari tersenyum.

Devan pun langsung melanjutkan jalannya menuju ke arah kamarnya.

Sesampainya di kamarnya, Devan langsung mengganti pakaiannya dengan stelan jas formal berwarna Navy. Warna yang sangat pas dengan kulit Devan yang putih.

Devan pun langsung melihat penampilan dirinya di pantulan cermin yang ada di kamarnya.

"Perfect" gumam Devan ketika melihat dirinya di pantulan cermin.

Setelah selesai berganti pakaiannya, Devan segera keluar dari kamarnya untuk kembali menuju ke ruang keluarga.

Satu per satu anak tangga di tapaki oleh Devan. Kini Devan telah sampai di anak tangga yang paling bawah.

Dylan, Devin, Adhitama, dan Hanna bisa melihat Devan dengan stelan jas formalnya dari kejauhan.

Terlihat Devan semakin mendekati Dylan, Devin, Adhitama, dan Hanna yang berada di ruang keluarga.

"Oh Cucuku, kamu sangat tampan ketika memakai stelan jas formal seperti ini. Kamu mewarisi kharisma dari Opa dan Papamu" puji Adhitama dengan mata yang terlihat berbinar.

"Benar, kamu terlihat tampan Cucu nakal" puji Hanna sembari terkekeh geli.

"Putraku, kamu terlihat sangat tampan. Seperti diriku waktu muda" ucap Dylan sembari tersenyum senang.

"Ah, terima kasih Pa, Oma, Opa" ucap Devan sembari tersenyum lembut.

"Yuhuuu, aura sang CEO muda sekarang begitu terpancar dari wajahmu Kak" ucap Devin sembari tertawa kecil.

1
Sukri Ani
mana kelanjutanya
Suroso
terlalu lebae critanya.kenapa hnya kluarga dewan aja yg jd tomik. crita kluarga calon ipar mana
Suroso
seharusnya bisa disingkat sedikit biar ceritanya cepat terarah.sayang crita keluarganya calon ipar ngak pernah di ambil
Suroso
ceritanya kok lain arah.persiapan lamaranya mana
Dewiiqbal
kok gk lnjut
Mhina Odonk
mna lnjutanx
Mhina Odonk
lanjut
Thanty
lanjut donk
Pengghosting novel T_T
Keluarga somplak plus absrud😂😂😂
Pengghosting novel T_T
Virus bucin lebih parah dari pada virus korona virus bucin berakibat nya yaitu pelet pasangan biar deket samanya😂😂😂😁
Marni Sumarni
lanjutkn dong cerita ya
Marni Sumarni
lanjutkn doongg cerita ya
Marni Sumarni
lnjutkn dong
Marni Sumarni
lanjutkn doonng cerita ya
aristo
no
Tutay
kashan papa dylan kena jewer
Tutay
kasihan pada rebuti kk ipar
Dwi Harti
Lanjut thor
IntanhayadiPutri
Aku mampir nih kak, udah 5 like dan 5 rate juga.. jangan lupa mampir ya ke ceritaku

TERJEBAK PERNIKAHAN SMA

makasih 🙏🙏
Fitri (。•̀ᴗ-)✧
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!