Hana di paksa menikahi Janghyun seorang CEO perusahaan terkenal hanya untuk membalaskan dendam keluarganya dan merebut kembali perusahaan yang telah Janghyun ambil dari keluarganya.
Tetapi, setelah Hana menikah dengan Janghyun ternyata sifat pria itu tak seperti yang di rumorkan orang-orang. Dia malah adalah orang yang manja kepada Hana dan sosok ayah yang baik untuk putrinya.
" Sadarlah Hana, kau tak boleh terbawa perasaan pada pria itu " Batin Hana semakin bingung.
Yuk baca keseruan dan apa yang akan Hana pilih, apakah ia akan memilih tetap membalaskan dendam keluarganya atau membiarkan hatinya berlabuh dengan cinta Janghyun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
Setelah selesai berbincang-bincang serta makan siang di cafe tersebut bersama dengan Leon, akhirnya Hana mulai berpamitan dengan Leon untuk segera menjemput kembali Eun-hye pulang sekolah.
Setibanya Hana di TK itu lagi, ia sungguh sangat-sangat terkejut melihat Eun-hye yang sudah bersama dengan Janghyun saat itu.
"Loh, sejak kapan kau datang ke sini Janghyun?" Hana masih sedikit kaget.
"Sudah dari satu jam yang lalu." ucap Janghyun dengan nada sedikit ketus.
"Mama dari mana saja?" ucap polos Eun-hye menatap Hana.
"Mama tadi ketemu teman lama mama sewaktu di sekolah." Hana tersenyum kepada Eun-hye.
"Tapi ini kan sudah lewat jam pulang Eun-hye ma?" Eun-hye sedikit memanyunkan bibirnya.
"Bukannya Eun-hye pulang sekarang? apa ada pemberitahuan pulang cepat?" Hana masih kaget dan bingung.
"Kau yang telat satu jam menjemput Eun-hye, untung aku pulang cepat dan berniat menjemputnya. Jika tidak, dia pasti sudah di culik orang yang berniat jahat." ucap Janghyun sedikit sinis dan dingin menatap Hana.
Janghyun semakin kesal dan kecewa kepada Hana akibat kelalaiannya itu. Untung saja Janghyun mengikuti kata hatinya yang merasa resah kepada sang putrinya itu.
Hana langsung mengecek jam di handphone miliknya dengan terburu-buru untuk kembali memastikannya.
"Astaga, aku minta maaf karena telat menjemput Eun-hye." Hana menatap Janghyun merasa tak enak.
"Eun-hye sayang, maafin mama ya sudah telat menjemputmu. Mama gak tau kalau jam tangan mama rusak nak." Hana mulai menatap ke putrinya itu sambil menjelaskan alasannya.
"Mama janji tidak telat lagi menjemput Eun-hye?" ucap Eun-hye sambil menatap Hana dengan tatapan yang menggemaskan.
"Iya sayang, mama janji!" Hana senyum lembut sambil mengelus pipi Eun-hye penuh kasih sayang.
Eun-hye akhirnya kembali tersenyum ceria kembali seperti biasanya. Hana sedikit tersenyum dan menghela nafas lega setelah melihat Eun-hye sudah tidak lagi merajuk seperti sebelumnya.
"Cepat pulang, Sekarang!" ucap Janghyun sedikit menekan kalimat terakhir yang ia ucapkan barusan.
Hana akhirnya menuruti ucapan Jnaghyun untuk segera pulang ke rumah mereka sesegera mungkin.
.・゜゜・.・゜゜・.・゜゜・.・゜゜・.・゜・
*Setibanya mereka di ruma**h*
"Eun-hye, pergilah masuk duluan ke kamarmu dan ganti baju dulu." ucap Janghyun lembut sambil mengelus rambut Eun-hye.
"Oke ayah!" ucap riang Eun-hye langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Jangan lari-lari kalau masuk Eun-hye, nanti bisa jatuh!" ucap Hana dengan nada sedikit cemas.
"Kau ikut aku sekarang!" tegas Janghyun langsung berjalan lebih dahulu ke taman di samping rumahnya itu.
Hana akhirnya mengikuti apa yang Janghyun perintahkan. Ia mulai berjalan di belakang Janghyung sambil terus mengikuti kemana arah Janghyun membawanya.
Janghyun mulai duduk di sebuah kursi di taman tersebut. Hana juga ikut duduk di kursi tersebut masih diam seribu bahasa dan penuh kebingungan.
"Dia ini kenapa sih? Apa jangan-jangan dia sudah tau soal rencanaku dan tujuan dari pernikahan ini?" ucap batin Hana semakin gugup dan bingung.
"Kenapa kau bisa sampai telat menjemput Eun-hye pulang sekolah tadi?" akhirnya Janghyun mulai membuka pembicaraan di antara mereka.
"Kan sudah ku katakan jam tanganku rusak, jadi aku telat." ucap Hana sambil menghela nafas pelan.
"Habis dari mana saja kau dari tadi?" tanya Janghyun sambil menatap wajah sang istrinya itu dengan ekspresi datar.
"Aku tadi hanya berbicara dengan teman lamaku saja!" Jawab Hana lagi.
"Perempuan atau laki-laki?" nada suara Janghyun kini semakin terdengar dingin tak seperti biasanya.
"Perempuan!" Hana langsung berbohong tak ingin Janghyun sampai tau soal ia dan Leon pagi tadi.
"Aku tanya sekali lagi Park Hana jadi jangan coba-coba untuk berbohong kepadaku, kau bertemu teman perempuan atau laki-laki pagi tadi?!" Janghyun semakin mempertegas nada ucapannya itu.
Hana langsung terdiam bingung dan juga takut. Detak jantung Hana kini sudah tak beraturan di karenakan ia sudah sangat gugup akibat pertanyaan yang Janghyun tanyakan kepadanya.
"Perempuan!" Hana berusaha menenangkan dirinya agar tak tampak berbohong.
"Kau sepertinya terlalu ahli bersandiwara rupanya Hana!!" ucap sinis dingin Janghyun menatap remeh Hana.
Tamatlah sudah riwayat Hana kini. Ternyata dugaannya selama ini tentang sosok Janghyun terlalu mudah dan gampang di bodohi dan di tipu itu semua salah. Janghyun lebih pintar dari yang Hana kira.
"Cepat jawab Hana!" Janghyun mulai meninggikan nada bicaranya.
"Aaa...itu... Laki-laki." Hana langsung menunduk ketakutan dan gugup.
"Habis sudah, tamatlah riwayatku saat ini. Bagaimana bisa-bisanya dia tau aku bertemu Leon?" batin Hana terus menerus meronta-ronta dan berucap kasar.
"Kenapa kau berbohong denganku Hana? mau sampai kapan kau terus menerus menipuku?" Ucap Janghyun kini semakin membuat Hana tertunduk takut sambil mencengkram rok dress yang ia kenakan saat itu.
Hana masih terus diam, ia tak berani untuk berbicara saat itu. Tenggorokannya seketika kering, dan mulutnya seolah terkunci rapat setelah melihat amarah dari sosok Janghyun untuk pertama kalinya.
"Sebenarnya kau itu menganggap aku ini suamimu atau bukan hu?" tanya Janghyun kembali.
"Kau suamiku!" ucap hana dengan suara pelan dan kecil.
"BOHONG!" bentak kesal Janghyun sambil menggebrak kesal meja yang ada di tengah-tengah mereka.
"Aku tidak berbohong." ucap Hana mulai berkaca-kaca menahan tangis karena ia semakin takut.
"Jika kau tak berbohong, kenapa kau berduaan dengan pria itu di cafe hu?!" bentak kesal Janghyun masih tersulut akan api amarah di dirinya.
"Kenapa Hana? KENAPA?!" ucap Janghyun kembali sambil mencengkram kuat kedua bahu Hana dan sedikit mengguncangnya dengan penuh amarah.
Tangis Hana akhirnya pecah, ia tak dapat lagi membendung tangisannya karena ia semakin takut dengan ucapan dan tindakan yang Janghyun lakukan kepadanya.
"Hiks...maaf..." lirih pelan Hana masih sambil menangis terisak-isak.
Janghyun langsung tersentak kaget dan mulai tersadarkan kembali ketika melihat Hana yang saat ini tengah menangis ketakutan akibat ulahnya sendiri.
Ia sungguh tak mengira bahwa ia saat ini benar-benar termakan oleh amarahnya sendiri. Hanya gara-gara ia tak sengaja melihat istrinya sedang berduaan dengan pria lain dengan sangat akrab, bahkan Hana malah tersenyum manis bahkan tertawa dengan lepas tak seperti ketika berduaan dengannya.
Janghyun selalu merasa semua ekspresi yang Hana berikan dan lakukan selama bersamanya itu hanyalah sebuah sandiwara belaka saja. Karena Janghyun sendiri tak dapat melihat secercah ketulusan dari semua itu yang terpancar dari wajah Hana.
"Tetapi kau tidak pernah seperti itu kepadaku, apa pernikahan ini hanyalah sebuah paksaan yang keluargamu lakukan demi perusahaan mereka kembali?" ucap batin Janghyun.
"Maafkan aku, aku terlalu terbawa emosi cemburu." ucap Janghyun langsung beranjak berdiri dan memeluk tubuh sang istrinya itu dengan erat.
Hana mulai sedikit tenang dari pada yang sebelumnya. Ia mulai merasa nyaman dan Janghyun terus menerus meminta maaf kepadanya karena terus merasa bersalah.
"Aku memang tidak tau apa yang kau pikirkan tentang pernikahan ini Hana. Tetapi, aku sudah pernah menikah sebelumnya dan aku sudah tau gerak gerik seorang perempuan yang terpaksa melakukan semuanya dalam sandiwara!" batin Janghyun kini kembali berucap.