Seorang kakak laki-laki, harusnya menjadi pelindung bagi keluarganya, khususnya adik perempuannya. Tapi, hal itu dilupakan oleh Gildan. Demi mimpinya, Gildan nekat pergi bersama calon istri, seorang tuan muda. Hingga tuan muda itu marah, dan membalas dendam pada adik perempuan Gildan.
Rashita sangat tahu, pernikahan ini adalah awal kegelapan dalam hidupnya, namun dia harus menikah dengan tuan muda itu, demi menyelamatkan kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kecolongan
Abi dan Gimar sangat kesal, mereka kecolongan, baru mengetahui rencana Nesya, setelah Nesya dan keluarganya pergi ke luar negri. Mobil Abi dan Mobil Gimar kejar-kejaran di jalanan, melaju cepat menuju kediaman Mark. Petugas keamanan yang mengenali mobil mereka langsung membuka pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.
Dera nafas keduanya masih terdengar cepat, Gimar dan Abi sangat takut melihat reaksi Mark nanti, saat mendengar kabar dari mereka, namun menyembunyikan kabar ini, sama saja bunuh diri.
Mark mendatangi mereka, melihat wajah Mark yang masih terlihat mengantuk Gimar dan Abi merasa bersalah nenelpon tuan muda mereka dini hari begini.
"Ada apa? Ini masih jam tiga pagi," ucap Mark yang datang hanya mengenakan kimono tidurnya.
"Kekhawatiran kami terbukti tuan muda, jika anda melepaskan perusahaan Jameil maka Nesya akan pergi dengan mudah dari sisi anda." ucap Abi.
"Apa maksud kamu?" Mark menghempaskan tubuhnya kasar di sofa.
"Ini, laki-laki ini bernama Gildan Putera, anak pertama dari Sammy Putera," Gimar memberikan informasi data-data Gildan.
"Ini Arsitek yang diminta Nesya waktu itu," seru Mark.
"Nesya memper alat anda tuan muda, andai kemaren Gildan meneruskan proyek itu, maka dia akan jadi menantu Pramana Hanung. Tapi karena tuan muda mengancam perusahaan itu, Gildan batal menikahi putri Pramana yang bernama Tsamara," Abi memberikan berkas yang memuat data-data Ara.
"Dia model pendatang baru, dia aku rekrut jadi model karena Nesya," seru Abi.
"Nesya mewujudkan kembali mimpi Gildan, dengan syarat Gildan menikah dengannya dan sekarang mereka sudah pergi dari negara ini," Abi memberikan satu berkas lagi.
"Nesya mempermainkan aku? Dia memanfaatkan aku untuk mendapatkan laki-laki itu?" Wajah Mark seketika memerah, kemarahannya sangat besar.
"Ini yang terjadi tuan, tanpa tuan sadari Nesya memanfaatkan anda untuk mendapatkan laki-laki idamannya, Nesya dan Gildan sudah lama menjalin hubungan," Abi memberikan lagi berkas yang lain.
"Apa yang kalian lakukan dan kerjakan selama ini! Kenapa kalian kecolongan! Kenapa kalian bodoh!" Teriak Mark.
"Maafkan kelengahan kami tuan muda," ucap Abi penuh penyesalan, ini kinerja terburuknya selama mengabdi pada Mark.
"Arggggtttt!!!" Teriak Mark, seketika vas bunga yang ber ukuran besar itu jatuh dan pecahannya berserakan karena luapan kemarahannya.
Abi dan Gimar sudah memperhitungkan hal ini, mereka siap menerima kemarahan Mark.
"Apa kalian tidak bekerja! Bukankah kalian bilang akan memastikan kebahagiaanku?!" Teriak Mark.
"Kami diam, karena kami melihat tuan muda begitu bahagia bersama Nesya," jawab Gimar.
"Kami selama ini memata-matai Nesya, tidak ada hal yang mencurigakan, maafkan kami tuan muda," ringis Gimar.
"Nesyaaa!" Teriak Mark.
Bunyi bermacam pecahan dan barang jatuh pecah dari ruangan itu, Mark mengamuk dan melempar apa saja yang dia mau, sedang Gimar dan Abi hanya diam, membiarkan Mark menumpahkan semua kekecewaannya.
Lelah berteriak, Mark mengambil satu botol minuman kerasnya, lalu berjalan ke arah kamarnya. Langkahnya terhenti. "Aku salah karena menghapus protokoler keamananku, mulai besok, kembalikan semua seperti dulu," ucap Mark. Mark melanjutkan langkah kakinya lagi.
Abi melihat Pak Iqmal berdiri mematung di sudut ruangan. "Pak Iqmal, tolong bangunkan pelayan yang bertugas untuk membereskan semua ini," pinta Abi.
Pak Iqmal segera meraih ponselnya, menelpon pelayan yang di bertugas.
"Apakah kalian menginap?" Tanya pak Iqmal.
"Iya, kami menginap saja, nanggung kalau pulang," jawab Abi.
****
Di kediaman Ana.
Jam menunjukkan jam delapan pagi, namun Gildan tidak juga turun.
"Mau kemana mah?" Tanya Sammy yang melihat Ana beridiri dari tempat duduknya.
"Mau mencari Gildan, pertanyaan Gildan tadi malam buat mama takut," jawab Ana.
Ana beranjak dari tempatnya segera melangkah menuju kamar Gildan. Berulang kali Ana mengetuk pintu, namun tidak juga ada jawaban dari dalam. "Tidak seperti biasanya ini anak, biasanya dia paling awal malah," gerutu Ana sambil memutar gagang pintu kamar Gildan. "Gildan, mama masuk," seru Ana. Namun tetap tidak ada jawaban.
Ana masuk ke kamar Gildan, dia tidak melihat Gildan di tempat tidur, Ana mengedarkan pandangannya menyapu kamar Gildan, pandangan matanya terfokus pada kertas yang tertindih jam weker. Ana segera mendekat dan meraih kertas tersebut.
Seketika Darah Ana mendidih membaca tulisan yang tertulis pada kertas itu. Ana langsung melipat kertas itu dan menyimpannya, dia menyapu air matanya lalu berjalan keluar dari kamar Gildan, kembali ke meja makan.
"Gildannya mana mah?" Tanya Sammy.
"Gildannya sudah pergi dari pagi, mama lupa," jawab Ana. Tidak mungkin dia menceritakan kalau Gildan pergi dihadapan Shita.
"Ayok kita sarapan," seru Ana berusaha santai.
"Sayang, kamu hari ini rencana mau kemana?" Tanya Ana pada Shita.
"Paling mau lihat-lihat kampus mah, aku masih bingung mau kuliah di mana, walaupun aku kampus yang dekat taman itu, fakultas impiannku, tapi fakultas yang lain juga menggodaku mama," jawab Shita santai.
Ana berusaha menelan makanannya, walaupun tenggorokkannya terasa tercekik karena Gildan, namun dia harus berusaha santai di depan Shita.
"Aku sudah telat mah, aku izin keluar ya," seru Shita.
"Hati-hati sayang," seru Sammy.
Shita mendaratkan satu ciumannya pada Ana dan Sammy sebelum pergi. "Aku pergi," ucap Shita begitu semangat.
Setelah memastikan Shita pergi, Ana menyerahkan surat yang dia temukan di kamar Gildan pada suaminya. "Gildan pergi," ucap Ana gemetaran.
Sammy membaca isi surat tersebut. Keringatnya langsung bercucuran, dadanya juga terasa sesak karena putranya itu. Seketika Sammy ambruk.
"Bibiii! Bantu bii, serangan jantung tuan kumat!" Teriak Ana. Ana panik melihat Sammy yang pingsan.
Beberapa pelayan membantu Ana mengangkat Sammy, sedang yang satu langsung menelpon Ambulan. Ana terus menangis melihat kondisi suaminya, selama ini Sammy keadaan Sammy mulai membaik, namun karena ulah Gildan, penyakit Sammy kini kembali.
Mobil Ambulan datang, mereka langsung membawa Sammy ke rumah sakit.
***
Di sudut lain.
Ara dengan riangnya menuruni tangga, langkah kakinya terhenti saat mendengar perseteruan dari arah ruang tamu, Ara bersembunyi saat berulang kali nama Gildan di sebut. Dia menguping pembicaraan beberapa orang asing itu dengan kedua orang tuanya.
"Calon menantu anda pergi membawa kabur calon istri tuan muda," seru salah seorang diantaranya.
Hati Ara seakan dihantam balok besar, saat mendengar Gildan pergi dengan wanita lain.
"Tidak mungkin," jawab Pram.
"Ini buktinya, tadi malam mereka pergi meninggalkan negara ini, sebagai hukumannya, tuan muda akan menarik beberapa investasinya," seru yang lainnya.
Pram terdiam mendengar keterangan orang suruhan Mark, perasaanya kacau, bukan cuma bisnisnya yang hancur, tapi juga hati putrinya.
Ara terus menahan tangisnya di tempat persembunyiannya mendengar semua itu, kedua orang tuanya di bentak habis-habisan, perusahaan papanya juga terancam. Gildan meninggalkan dirinya, sedang dia sudah menyerahkan hal yang paling istimewa pada Gildan. Ara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, agar tangisannya tidak terdengar.
"Bagaimana ini pah?" Arum sangat panik.
"Kita temui Sammy dan Ana, biar semuanya jelas," seru Pram.
"Bii, kalau Ara mencari kami, bilangin ya kalau kami ke rumah Gildan," seru Arum.
"Iya nyonya," jawab pembatu yang masih membereskan bekas gelas minuman tamu-tamu Pram tadi.
Arum dan Pram langsung pergi menuju kediaman Sammy. Melihat kedua orang tuanya pergi, Ara langsung berlari menaiki tangga, menuju kamarnya, air matanya terus tumpah, laki-laki yang sangat dia cintai dengan sepenuh jiwa, pergi begitu saja meningalkan dirinya, hanya karena mimpi laki-laki itu di wujudkan oleh wanita lain.
Sesampai kamar, Ara langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar. "Akkkkkk!!!" Teriak Ara menumpahkan rasa sakitnya.
Dia memukul seluruh tubuhnya. "Aku bodoh! Kenapa aku mau menyerahkan diri," ringisnya penuh penyesalan. "Kak Gildan … kenapa kakak setega ini. Aku sangat mencintai kakak, kenapa kakak menyakiti aku seperti ini," Ara terus menangis, hatinya semakin sakit mengingat bagaimana dia dan Gildan jika bersama.
"Kak Gildan, kenapa kamu jahat!" Ara berjalan mendekati meja riasnya, mengambil pisau mini yang ada di sana, dia terus menagis. dia terus berjalan menuju kamar madi, lalu masuk kedalam bathtubh.
Ara membuka air kran, sedang dia membaringkan tubuhnya dalam bathtub. Air terus mengalir mengisi bathtub tersebut. "Sletsss!" Ara menggoreskan pisau itu ke pergelangan tangannya.
****
Di kediaman Ana.
"Pagi bi," sapa Arum yang baru datang.
"Pagi juga nyonya Arum,"
"Ana dan Sammy mana?" Tanya Arum
"Tuan Sammy dibawa ke rumah sakit, serangan jantungnya kumat," jawab pembantu Ana.
"Terima kasih bi, di bawa kerumah sakit mana?" Tanya Arum.
Pembantu Ana menyebutkan nama rumah sakitnya, Arum dan Pram segera menuju rumah sakit tersebut.
Arum dan Pram sudah sampai di rumah sakit, Arum langsung memeluk Ana yang nampak hancur.
"Semua ini karena Gildan," rengek Ana. Ana memberikan surat yang dia temukan pada Arum.
"Jadi benar Gildan pergi dari negara ini?" Ucap Arum lirih, setelah membaca surat Gildan.
***
Selesai bersih-bersih di lantai ruangan lain, salah satu pembantu Arum masuk kedalam kamar Ara, melakukan rutinitas seperti biasa. Membersihkan kamar Ara. Selesai bersih-bersih di kamar itu, dia merasa heran, karena hanya terdengar suara air yang mendendesir, tidak terdengar suara Ara atau aktivitas mandi Ara.
"Non Ara," pembantu itu mengetuk pintu kamar mandi. Namun tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Non, bibi masuk ya," pembantu itu masuk kedalam kamar mandi.
"Astaga non!" Teriaknya melihat Ara tenggelam dalam bathtub tersebut. Sedang tangan Ara mengeluarkan darah. Pembantu itu langsung membuka penutup air bathtub dan menutup keran air yang terus mengalir. Dia berlari mengambil handuk kecil, membalut luka di nadi Ara, lalu berlari kebawah meminta pertolongan rekan kerjanya yang lain.
***
oneng kau mark...bayi disitu lahir hrs menangis
aura pembunuh Gimar membuat Shita mau muntah...kecian calon anak Mark