Sreya berhasil mendapatkan seorang anak hasil dari ia mencuri benih pria yang menjadi idamannya. Ia ingin hidup bahagia bersama anak yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan penuh perjuangan, namun takdir yang sangat rumit harus ia hadapi, dimana ia tidak bisa menghindari pertemuan dengan ayah kandung anaknya. Bagaimana kisah Aya? Ikuti kisah selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAHA(H&F), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Taxi Aya di hadang oleh petugas lalu lintas bermotor, mengarahkannya untuk menepi.
“Selamat pagi, maaf saya harus menghentikan taxi anda, tolong tunjukkan surat-surat kendaraan dan kartu ijin mengemudi” minta petugas lalu lintas.
Supir taxi memberikan barang yang diminta oleh petugas, dan semua kelengkapan surat sudah disetujui olehnya.
“Apakah anda tahu anda saya berhentikan?”
“Jalan ugal-ugalan kan pak?” sahut Aya.
“Terimakasih karena menjawab dengan benar, karena ugal-ugalan anda terkena wajib denda yang harus di bayarkan di kantor, di mohon
untuk mengikuti saya ke pos terdekat”
“Pak tolonglah, jangan sekarang, anak saya tadi kabur naik taxi di depan, sehingga kami mengejarnya jadi harus ugal-ugalan” kata Aya
beralasan.
“Tapi mohon maaf ibu silahkan ikuti saya ke pos terdekat”
Aya tidak bisa membantah petugas lagi karena merasa kasihan pada supir taxi yang harus menanggung kesalahan yang dimintanya. Sehingga ia yang membayarkan denda dan harus kehilangan jejak Sian.
“Untuk kedepannya mohon tidak di ulangi lagi, karena bisa membahayakan nyawa orang lain” petuah petugas di pos penjagaan terdekat.
“Baik pak, terimakasih, kami permisi” ucap Aya lesu.
Aya naik taxi lagi dan minta diantarkan ke rumah Meda, karena alamat itu adalah satu-satunya yang ingin di tuju oleh Sian.
“Terimakasih mam, sudah mau membayarkan dendanya” ucap supir taxi.
“Itu semua karena saya kan pak, memang anak saya bandel banget, baru sekarang ia menjadi seperti itu, sebelumnya dia sangat menurut” curhat Aya ke supir taxi di perjalanan menuju rumah Meda.
“Memang anak yang memasuki usia remaja sering menunjukkan jati dirinya, dengan berkelakuan sedikit ekstrem, karena anak saya juga begitu, mulai ikut-ikutan temannya tawuran, ikut geng-geng an motor, penampilannya urakan, ya gitulah, yang terpenting kita sebagai orang tua selalu mengarahkan dan mengingatkannya kembali ke jalan yang benar”
“Tapi anak saya masih enam tahun pak, baru SD kelas satu”
“Kenapa bisa gitu ya, kayaknya anak madam istimewa hingga melebihi kedewasaan anak yang sudah remaja” kata supir taxi merasa sedikit malu.
“Mungkin, tolong dipercepat ya pak”
***
Sian yang lebih dulu mengendarai taxi tadi sudah sampai di rumah Meda, “Ini rumahnya dek?” tanya supir Taxi.
“Iya, paman tunggu sebentar ya, aku akan minta uang pada oma dulu”
Sian menekan bell beberapa kali namun belum ada jawaban, “Sebentar ya paman”
Bik Lan pergi belanja, dan semua orang di rumah pergi untuk berolahraga.
Ia mulai panik, karena tidak ada jawaban.
“Kamu bohong ya dek, ngaku kenal sama orang kaya, terus gimana bayarannya ini” teriak supir taxi dari dalam mobil.
“Nggak, aku nggak bohong, memang di sini rumah oma ku”
“Paman akan tunggu sampai mendapat bayaran, pencet terus bell nya dek sampai orangnya keluar”
Mereka terus menunggu di depan gerbang depan, hingga Aya sampai. Ia bergegas menangkap Sian yang telah kabur darinya.
“Akhirnya mama bisa mengejar mu, ayo ikut mama, pesawat akan take off sejam lagi”
“Kak! Bayar dulu ongkos taxi nya, saya sudah menunggu lama di sini tadi” sela supir taxi yang ditumpangi Sian.
“Iya iya tunggu sebentar”
Aya membayarkan tagihan taxi yang di tumpangi Sian. Lalu ia memarahi anak semata wayangnya itu.
“Kamu lihat sendiri kan, tidak sewaktu-waktu kamu bisa masuk ke dalam, menemui mereka, mana orang yang selalu kamu anggap papa itu, sekarang mama lah satu-satunya yang menjaga mu selalu ada untuk Sian, jadi ikut mama ya sayang” bujuk Aya.
Sian memeluk mama nya dan menurut untuk ikut pergi ke eropa.
Aya dan Sian kembali ke bandara naik taxi yang ditumpanginya tadi. Saat hendak masuk ke dalam taxi, Meda melihat dari kejauhan, dengan sangat jelas, Aya bersama Sian di depan rumahnya.
Saat itu juga ia yang mengendarai mobil mengikuti kepergian Aya bersama Sian, ia ingin tahu mengapa pagi-pagi pergi ke rumahnya menggunakan taxi yang memiliki rute ke bandara.
“Mama Sian lapar” keluhnya masih memeluk Aya.
Mengusap kepala Sian, “Nanti kita beli di bandara saja ya, sebentar lagi pesawatnya akan take off”
Sian mengangguk.
Saat tiba di bandara, Aya menyempatkan beli sarapan untuk Sian karena masih memiliki sedikit waktu sebelum chek-in.
“Sian duduk di sini ya, biar mama pesankan makanan” mintanya dengan lembut.
Sian duduk di meja dekat pintu masuk, datanglah Meda yang sedari tadi mengikutinya dari belakang.
Sian kembali bersemangat ketika melihat Meda yang datang menemuinya, “Ssttt, Sian” tidak mengeluarkan suara hanya mimik muka memanggil nama Sian sambil melambaikan tangannya.
Meda membawa Sian pergi, saat Aya masih memesan makanan.
Karena Sian yang masih kecil tidak bisa mengikuti langkah Meda yang lebar, ia menggendongnya agar bisa cepat kabur dari Aya. Meda membawanya ke dalam mobil.
“Masuk masuk, ayo cepat sebelum mama kamu tahu” kata Meda menyuruh Sian masuk ke dalam mobil saat membukakan pintu untuknya.
Dengan cepat Meda mengendarai mobilnya dan pergi dari sana. Ia berhenti di restoran dekat bandara.
“Ini sarapan untuk Sian dan secangkir kopi untuk papa” ucap Meda membawakan makanan untuk Sian.
“Apakah papa sudah menganggap ku sebagai anak?” tanya Sian sambil menggigit sosis panggang.
“Tentu, kamu adalah anak papa, bagaimana bisa kamu bukan anak papa, wajah kita sangat mirip kan, coba kita berfoto” ajak Meda.
Mereka mengambil gambar bersandingan, terlihat jelas kemiripan wajah mereka.
“Sudah lama aku mencari papa, karena sejak kecil mama tidak pernah cerita papa itu seperti apa, selalu bilang kalau papa sibuk kerja” curhatnya.
“Memang papa sibuk kerja, tapi sekarang papa punya waktu untuk Sian selamanya, habiskan makananmu dulu, baru kita lanjutkan bicara”
Sian sangat menurut pada Meda, ia tidak tahu bagaimana dia bisa lahir, itu cerita yang rumit untuk disampaikan pada anak yang masih berusia enam tahun.
***
Di bandara Aya sudah menerima makanan ia pesan, dan betapa terkejutnya ia Sian telah hilang.
“Sian!, Sian! Kamu di mana sayang, Sian Sian!” teriaknya mencari berkeliling.
Hingga pesawat tujuan Eropa sudah take off, Sian belum di temukan. Hancur perasaan nya, tangisan tak lagi bisa dibendungnya.
Hingga ada petugas yang menanyai Aya yang terlihat kebingungan.
“Ada apa nyonya?” tanya petugas di bandara.
“Anak saya hilang, dia berusia enam tahun, tadi hendak makan di restoran bersama saya, waktu saya tinggal memesan makanan dia sudah hilang”
Petugas mengajak Aya ke pos penjagaan, untuk menenangkannya agar penumpang lain tidak ikut panik melihat Aya yang histeris mencari Sian.
Petugas berusaha mencari Sian melalui kamera pengawas “Apakah ada fotonya?”
Aya memberikan ponselnya.
“Terkahir dia memakai baju warna apa ?”
“Dia memakai hoodie berwarna krem celana berwarna hitam”
“Dimana anda mengetahui ia hilang?”
“Di kedai Onin”
“Pukul berapa waktu itu?”
“Sekitar pukul sembilan”
Langsung saja ketemu, ciri-ciri anak yang digambarkan Aya, “Apakah yang ini?”
“Iya benar,” ucapnya terus memantau tayangan kamera pengawas, hingga terlihat Sian digendong oleh Meda.
“Oh **!*, f@ck it, d@mn you, ##**&&^%$#@” kata-kata kotor diucapkan Aya terus menerus sambil melihat kepergian Meda yang membawa Sian.
Dalam hati petugas, “Astaga, wanita ini bicara sangat kotor, paras nya saja yang cantik”
“Maaf saya kelepasan, terimakasih telah membantu menemukan anak saya, saya permisi”
“Apakah tidak perlu menghubungi polisi?”
pliss lanjut ceritanya dong Thor 🙏🏻🥰