keputusannya menjadi baby sitter untuk menolong kakaknya, ternyata menimbulkan petaka bagi dirinya sendiri. Ve dijebak menikah dengan bosnya yang misterius dalam situasi yang tidak bisa dia hindari. Ve kira Bosnya angkuh,,, ternyata dibalik sikapnya yang dingin, tersimpan kasih sayang yang besar untuknya.
Namun, Barra yang lebih suka menunjukkan perasaannya lewat tindakan, sering disalah artikan oleh Ve yang menginginkan suaminya mengungkapkan lewat kata-kata.
" Kamu istri saya,,, saya akan memperlakukan kamu layaknya istri...",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Pekan
Ve saling pandang dengan seorang perempuan cantik yang baru saja dia bukakan pintu. Perempuan itu mematung melihat Ve, memandangnya dari atas sampai ke bawah. Namun, ekspresinya berubah dari kaget menjadi hangat setelah Ve mengembangkan senyumnya.
"Pagi mbak.., ada yang bisa dibantu..? ",
" Mas Barra, ada..? ",
" Oh pak Barra? ada mbak.. silahkan masuk.. ",
" Ehmmmm.. kamu..? ",
" Saya.. pengasuhnya Rere yang baru... ",
" Oh... ",
Ve mempersilahkan perempuan itu duduk, namun ditolak. Dia justru mengikuti Ve yang masuk ke dalam.
" Siapa..?
oh.. kamu Di.. ", ucap Barra setelah melihat tamu yang datang.
" Kenapa sih? dari dua hari yang lalu aku telepon, chat, video call tapi nggak ada respon sama sekali mas..? ",
Sebuah protes yang dilayangkan dengan begitu lembut, hingga tidak nampak jika perempuan itu sedang gundah. Padahal, dari isi percakapannya dia layak untuk marah.
" Aku sibuk.. ",
" Apa susahnya sih jawab mas..? ",
" Ada Rere.. nggak usah ngajakin saya bertengkar... ",
Di begitu dia disapa, diam ketika diperingati seperti itu.
" Dad.. Rere berangkat ke sekolah dulu.. ",
"Hati-hati sayang, belajar yang rajin.. ",
Rere mengangguk. Tidak seperti biasanya yang selalu antusias jika berinteraksi dengan sang Daddy. Kali ini, Rere nampak begitu kalem dengan aura bocah penurutnya yang begitu kental.
"Onty Di.., Rere berangkat dulu.. ",
"Iya Rere.., semangat belajar ya... ",
Rere mengangguk lantas menggandeng tangan Ve keluar dari Apartement.
" Dia pengasuh Rere yang baru ya mas? cantik. ",
"Tujuan kamu ke sini, mau ngapain sih Di? ",
"Ketemu mas..mau ngomongin..............",
Ve masih bisa mendengar ucapan keduanya dengan jelas meskipun samar-samar.
Entah perasaan Ve atau memang Rere yang tiba-tiba bad mood. Selama di dalam mobil, gadis kecil itu hanya diam, padahal biasanya mengisi perjalanannya dengan bernyanyi lagu-lagu kesukaannya.
"Rere sakit? ",
"Nggak ncus.. ",
"Kenapa? kok diem aja? ",
"Nggak apa-apa..",
Ve yang panasaran lalu bertanya kepada Bejo setelah mengantarkan Rere masuk ke kelasnya.
"Jo... tadi ada mbak-mbak yang namanya Di, dia itu siapa? ",
"Oh.. mbak Di? Diana..? itu calon istri pak Barra Ve.. , kenapa? cie.. kamu kepo juga? ",
" Nggak gitu, tadi dia ke Apartement.., terus kayak debat kecil gitu sama pak Barra.. ",
"Pak Barra pulang ke Apartement lagi? Wah.. kok sering Ve...
namanya juga pacaran kan? eh bentar.., berarti pak Barra sama mbak Diana di Apartement berdua? ",
"Iya.. mbak Asih tadi pamit mau ke pasar.. ",
"Ve... tau kan? kalo orang dewasa berduaan.. ujungnya ngapain?? ",
"Bejo..., rumpi deh..
urusan mereka lah.., ngapain kita repot mikirin? ",
"Palingan juga Rere punya adek ya Ve..? ",
Ve menyengir kuda. Bejo ini selain sopir ternyata hobi roasting bosnya.
"Kamu kok kayak penasaran banget sama pak Barra? ",
"Bukan ke pak Barra nya sih., cuma aku kasian sama Rere. Aku.. dulu ngalamin kayak gitu. Sejak kecil tinggalnya sama Ayah.., kalo ngeliat Rere.. jadi tau rasanya Jo..., ngenes.... ",
"Tapi.. kan pak Barra sayang banget sama Rere..",
"Ayahku juga sayang banget sama aku Jo.., tapi beda aja. Dibesarin satu orang tua, sama dua orang tua.. iya kan? ",
"Iya sih Ve..",
Sudah menjadi kebiasaan setiap malam, Ve pasti mengajak ngobrol Rere, sebelum gadis kecil itu tidur. Memintanya untuk bercerita saat di sekolah, bermain dengan teman-temannya atau hanya sekedar mendengar Rere menceritakan hal-hal random.
Malam ini, Ve menggunakan kesempatan itu untuk bertanya kepada Rere.
"Rere... , hmmm tadi pagi yang ke sini.. siapa? ",
"Yang mana ncus? Oh... onty Di..? ",
"Iya..,Rere kenal? ",
"Kenal..? ",
"Siapa..? ",
" Temennya Daddy... ",
"Temen ya.. ? Onty Di.. baik sama Rere..? ",
"Emmmm.. baik..., tapi... kata Daddy..., Rere nggak usah deket-deket sama onty Di.. ",
"Loh.. kenapa? Onty Di kan baik sama Rere... ",
"Rere takut disuntik kalo deket-deket.. ",
"Daddy bilang gitu..? Onty Di.. dokter ya? ",
"Iya ncus... ",
Pantas terlihat elegant dan berpendidikan, calon istri pak Barra ternyata seorang dokter. Tapi, kenapa pak Barra justru tidak ingin mendekatkan Rere dengan calon istrinya?
Jika mbak Diana calon istri pak Barra, kenapa Rere justru dilarang untuk dekat? Padahal, jika menikah mbak Diana juga nantinya menjadi Mama untuk Rere. Tapi, mungkin benar kata Bejo. Pak Barra dan calon istrinya di jodohkan.
"Rere.. besok kan libur.., waktunya Rere sama Daddy.. Besok pagi ncus pulang ya? ",
"Ncus disini aja... ",
"Ncus mau ketemu Ayahnya ncus.., cuma dua hari aja... ",
"Hmmmm jadi ncus sama ayahnya ncus, Rere sama Daddy, gitu ya.. ",
"Iya sayang.., selama ncus nggak sama Rere,
Rere jangan nakal ya? ",
"Oke ncus.. ",
"Sekarang.. Rere tidur ya.. besok rencana mau diajak Daddy kemana? ",
"Belum tau.., katanya mau diajakin renang di hotel..",
"Oh.. staycation ya.. ",
Sudah memandikan Rere dan menyiapkan keperluan liburannya. Ve bersiap berpamitan untuk menikmati hari liburnya.
"Udah ncus siapin baju, sepatu, sandal, selimut sama ada obat-obatan buat Rere ya. Ada obat sakit perut, sakit kepala, sakit gigi, alergi, semuanya ada.. jangan lupa minum vitamin yang ncus beliin..
kalo ada barang yang Rere cari nggak ada, Rere bisa telepon atau chat, ncus ya.. ",
"Oke.. makasih ncus.. ",
" Sama-sama.. ",
"Kamu harusnya ngasih pesan ke saya, bukan Rere. Memangnya anak saya ngerti? mana obat yang buat sakit perut, sakit kepala, sakit gigi itu obat yang mana? ",
"Bapak tenang aja.., udah saya tulisin semua..satu persatu.. ",
"Ketik nomor hape kamu disini..",
Barra memberikan ponselnya kepada Ve, namun di tolak gadis itu.
"Buat apa pak? ",
"Kalo ada apa-apa, biar saya bisa hubungi kamu.. ",
" Bisa pake hape nya Rere pak.. ",
"Hapenya Rere cuma terhubung ke Wi-Fi.. ",
Tidak ada alasan lagi bagi Ve untuk menolak memberikan nomornya kepada majikannya.
"Bapak sebutin nomor bapak aja, biar saya save.. ",
"Padahal, nggak sembarang orang bisa pegang hape milik saya.. tapi kamu malah nolak.. ",
"Takut rusak pak.., silahkan sebutkan nomornya pak.. ",
Barra mengucapkan 11 digit nomor ponselnya dan Ve terlihat mengetik di ponselnya.
"Hape kamu, bagus juga.. matanya ada tiga.. ",
Alih-alih merespon, Ve justru bertanya balik kepada majikannya.
"Ini? bener pak? ",
"Iya.., sekarang kamu chat saya.. ",
Dengan wajah ogah nya, Ve mengirimi Barra chat yang berupa emoticon
🙊🙊🙊
Barra langsung memeriksa dan seperti dugaan Ve, dia langsung naik pitam
" Saya seperti monyet? ",
"Nggak pak, siapa yang bilang? ",
"Ini kamu kenapa kirim kayak gitu?",
"Itu emoticon kesukaan Rere..
bapak tanya aja.. ",
Rere yang kepo mengambil ponsel dari tangan Daddy nya.
"Iya Dad.., ini kalo Rere lagi nggak mau makan.., jadi emotnya gitu.. ",
"Nah kan..
Rere.. ncus pergi dulu ya.. Rere selamat berakhir pekan.. ",
"Dada ncus.... ",
Ve melambaikan tangannya, dia menganggukkan kepalanya kepada Barra, untuk berpamitan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Penasaran sama POV nya Barra nggak??? hihi ...
biar kapok Barra🥰🥰🥰
tapi jangan buat Ve kecewa ya kak,,
kesel aja trus bikin Bara bere bucin akut Ama Ve😄👍
harusnya dia jujur ke Ve ttg mamanya Rere. lanjut Saffa cantik🥰🥰🥰