Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 12 Bukti
Balqis Untuk Baim (12)
Bagaimana bisa?" Baim tidak percaya. "Saya akan menghubungi bos saya, supaya Anda semua percaya" Baim mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Pak Bondan.
Karena tidak ada jawaban, ia pun menelpon nomor bengkel.
"Bagaimana?"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Baim mend3sah. Ia tak berhasil menghubungi bosnya.
"Kami pasti di jebak, Pak!," seru Baim yakin.
"Alah, ini akal-akalan kamu saja."Seru bapak-bapak.
"Iya, buktinya kalian tidak bisa membuktikan apapun."
Baim dan Balqis hanya diam. Mereka tidak tahu harus berbuat apalagi. Semuanya terencana dengan baik.
"Kita ke bengkel dulu saja agar kalian percaya," Baim tidak bisa kalau harus pasrah menerima fitnahan orang-orang.
"Paling kamu bakal kongkalikong sama bos mu!"
"Nikah kan saja, Pak"
Baim dan Balqis terkejut. Balqis hanya bisa menangisi nasibnya. Begitu pula Baim yang tidak tahu harus berbuat apa.
Ia memang mencintai Balqis dan ingin menikahinya. Namun, bukan dengan cara seperti ini.
"Kalian harus menikah. Sudah menjadi peraturan di kampung ini seperti itu. Kami tidak ingin terkena bala."
Baim melihat ke arah Balqis. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bukti tidak ada. Orang-orang pun tidak percaya pada keduanya bahkan sekedar untuk memberikan kesempatan pada keduanya untuk membuktikan mereka tidak bersalah.
"Pak, bisakah saya mendengar sendiri pernyataan dari pemilik rumah ini?," tanya Baim.
Baim merasa sedikit aneh dengan penjelasan dari pemilik rumah yang mengatakan bahwa rumah itu ia sewakan kepada seseorang yang mengaku lajang. Namun, kemudian ia melaporkan kepada ketua RT karena melihat perempuan yang sering keluar masuk ke rumah ini dan ia khawatir rumahnya dijadikan maksiat.
Sementara baik dia maupun Balqis, ini adalah pertama kali mereka masuk ke rumah itu. Tentu dengan bertemu pemilik rumah, mereka bisa mengetahui siapa yang menyewa rumah itu. Bisa jadi dia adalah dalang di balik semua kejadian ini.
"Pak Chandra, silakan Bapak kedepan." pinta Pak RT
Baim cukup terkejut karena pemilik rumah ada di antara mereka. Baim memperhatikan orang tersebut yang sikapnya sedikit mencurigakan. Ia seperti gelisah.
"Pak Chandra bisa Bapak beritahu kami siapa yang menyala rumah ini?," tanya Pak RT.
"Nakak Baim inilah yang menyewa rumah ini," jawab Pak Chandra sambil membuang muka.
Deg
"Bohong!. Kenapa bapak berkata bohongi Saya tidak pernah menyewa rumah bapak!." tegas Baim karena merasa dirinya benar-benar sudah di fitnah.
"Apa benar laki-laki yang Bapak maksud itu adalah nak Baim?," tanya Pak RT yang khawatir karena usia yang cukup tua membuatnya lupa mengenali orang yang sudah menyewa rumah itu.
"Tidak. Saya benar-benar yakin dia datang untuk menyewa rumah bahkan ia membayar untuk beberapa bulan ke depan," jawabnya lag.
Baim mengurutkan keningnya. "Kapan saya mendatangi bapak?," tanya Baim.
"Itu sekitar beberapa minggu yang lalu."
"Apa Bapak ada buktinya?."
"Saya hanya memiliki kuitansi pembayaran sewa rumah ini selama 3 bulan ke depan." kata Pak Chandra mengeluarkan secarik kertas kuitansi yang bertuliskan nama Baim.
Baim tersenyum sinis. Ia menyadari seseorang telah menjebaknya namun ia tidak memiliki bukti kuat.
"Tapi, itu bukan tanda tangan saya." Elak Baim.
Balqis hanya diam dan mendengarkan perkataan Baim. Ia pun melihat bahwa Pak Chandra ini sepertinya menyembunyikan sesuatu.
"Sudahlah nak Baim. Kamu tidak perlu bertele-tele atau menyalahkan orang lain. Pak Candra sendiri yang sudah bilang bahwa kamu menyewa rumah ini dan sering melihat perempuan keluar masuk ke rumah ini. Sementara kamu sendiri mengaku belum menikah." ucap salah seorang bapak di sana.
Baim menata tajam orang tersebut. Apakah mereka bagian dari orang-orang yang ingin menjebaknya?
Namun, lagi-lagi Baim tidak bisa membuktikan bahwa ia dan Balqis adalah korban di sini. Hingga akhirnya dia pun diam.
"Maaf nak Baim. Bapak tidak bisa membantu. kalian tetap harus menikah"
Baim hanya melirik ke arah Balqis yang menundukkan kepalanya. Kemudian Ia pun menganggukkan kepalanya pasrah akan apa yang menimpa ia dan Balqis.
"Pak Toni tolong siapkan semuanya. Panggil Pak penghulu yang akan menikahkan nak Baim dan Balqis."
"Apa ada yang bisa menjadi wali nikah nak Balqis?"
"Saya tidak punya siapa-siapa."bapak RT mengangguk paham.
Pak Toni pun segera melakukan perintah dari Pak RT. Pak RT segera undur diri sebentar karena harus menyelesaikan sesuatu.
"Balqis aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai aku bisa berada di sana bersamamu."
Balqis masih setia dengan diamnya. Ia bingung harus menanggapi apa.
Sebenarnya Balqis sempat berpikir apakah mungkin Baim sendirilah yang menjebaknya. karena Balqis menolak lamaran Baim. Namun hati kecilnya kembali menyangkal apa yang ia pikirkan karena ia bisa merasakan sendiri bahwa Baim bukanlah orang yang sekejam itu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ya, Balqis meyakini bahwa Baim adalah orang yang baik terlepas dari kehidupannya di jalanan.
"Percayalah aku juga sama sepertimu. Aku hanyalah korban.Sekalipun Aku ingin menikah denganmu, tentu tidak dengan cara seperti ini"
Balqis akhirnya mengangguk walaupun ia sempat ragu.
Namun, pertanyaannya adalah untuk apa mereka menjebak Balqis dan Baim. Karena Balqis sendiri merasa tidak mempunyai musuh yang akan bertindak sejauh ini.
Mungkinkah ini musuh Baim di masa lalu yang ingin menghancurkannya? Balqis pun tidak tahu pasti. Yang kini ia pikirkan adalah apa yang akan ia lakukan ke depannya setelah pernikahan paksa ini terjadi.
"Walaupun pernikahan ini terpaksa, tapi percayalah dari awal aku memang ingin menikahimu. Maka mari kita bertahan dalam ikatan ini.
Akan aku tunjukkanbahwa aku benar-benar tulus padamu."
Suasana kembali hening tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya.
Kini mereka beralih ke rumah Pak RT. Dengan bantuan bu RT Balqis pun sedikit dibantu untuk merias diri. Karena bagaimanapun dia akan menikah walaupun hanya akad saja.
"Saya percaya nak Balqis tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi nak Balqis tahu sendiri bagaimana orang-orang tadi? Semua bukti mengarah kepada kalian. Baik Bapak maupun Ibu tidak bisa membantu apa-apa."
Sedikit banyak Bu RT tahu siapa Balqis. Mereka sempat beberapa kali bertemu saat ada pengajian Majelis Taklim. Sejauh yang Bu RT tahu, Balqis perempuan baik-baik.
Balqis mencoba tersenyum. "Saya mengerti posisi ibu, dan saya tidak akan menyalahkan Ibu maupun Bapak. Karena kami sendiri tidak bisa memberikan bukti apapun. Kami tidak tahu kenapa semua bukti busa raib. Sepertinya orang yang ingin menjebak kami merencanakan semuanya dengan baik."
Bu RT mengusap pundak Balqis memberikan kekuatan
Sekuat apapun Balqis, ternyata benteng pertahanannya jebol. Ia pun menangis dan memeluk Bu RT. Dia tidak menyangka akan mengalami hal ini. Entah apa yang akan dikatakan oleh orang terhadapnya. Balqis tidak tahu.
Sementara di ruang tamu Baim sedang memperhatikan benda yang selalu ia bawa kemanapun.
Saat Baim sedang fokus pada benda yang ada di tangannya, ia dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"Baim!" panggil orang itu dengan sedikit tidak percaya.
TBC
...----------------...
... ...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰🥰...