Kanvar Anderson
Ya, memiliki arti nama seorang pangeran muda. Anak tunggal dari seorang pembisnis batu berlian yang sangat besar bernama Tuan Carson Anderson dan Nyonya Elisabeth Anderson. Kanvar adalah seorang lelaki yang hampir dibilang sempurna.
Dan aku…. Azia Helena, seorang wanita biasa yang bekerja di butik Nyonya Elisabeth Anderson dan mempunyai impian menjadi seorang designer terkenal, tetapi jatuh hati dengan putra sang pemilik butik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karlayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kecemburuan Azia
Azia duduk termenung ditaman Anderson yang sudah sepi dan bersih sambil melihat air mancur. Susi sudah pulang pagi ini Vigo yang mengantarnya. Rumah yang mewah memang tidak cocok untuk ibu terlalu lama tinggal.
"Kini aku resmi menjadi tunangan Kanvar, tapi mengapa hati ini begitu risih dan risau? Aku sampai tidak bisa tidur semalaman. Bahkan setelah kejadian itu aku tidak melihat Kanvar lagi mungkin dia tidur di mansion pribadinya atau bahkan bersama perempuan itu?", lirih Azia dalam hati.
" Selamat pagi Nona, sarapan sudah siap", sapa pelayan wanita yang tiba-tiba muncul dibelakangku.
"Ohiya terima kasih", jawab Azia.
" Saya permisi Nona", sahut pelayan itu.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin ku tanyakan padamu", ujar Zia.
"Iya Nona ada yang bisa saya bantu? ", jawab pelayan itu.
" Apa kau mengenal Lita? ", tanya Zia langsung.
" Maksud Nona. Lolita Adiwiyana ya Non?", sahut pelayan itu seperti mengetahui sesuatu.
"Ya mungkin nama lengkapnya itu, apa kau tau siapa dia? ", ujar Zia.
" Iya dia dulu sangat dekat dengan tuan Kanvar dan sering main ke mansion ini", ucap pelayan itu.
"Benarkah? Apa mereka punya hubungan special? ", tanyanya lagi.
" Saya juga kurang tau Nona, mereka dulu bertiga sangat dekat. Tuan Kanvar, Tuan Rangga, dan Nona Lolita", jawab pelayan itu.
"Boleh aku tau kenapa dengan hubungan mereka bertiga sekarang? Ku lihat Kanvar dan Rangga pun seperti kucing dan anjing", ujar Azia dengan tersenyum sinis.
" Yang saya dengar dari gosip para pelayan Tuan Kanvar dan Tuan Rangga sama-sama menyukai Nona Lita sehingga mereka memperebutkannya, dan pada waktu itu nona Lita pergi mewujudkan impiannya sebagai model di luar negeri tanpa ijin dan pamit dengan Tuan Kanvar dan Tuan Rangga", ucap pelayan wanita itu.
"Azia, ayok sarapan sudah mulai dingin kami menunggumu dari tadi", teriak Carson dari dalam mansion memanggilnya ntuk sarapan.
" Iya Ayah", sahut Azia.
Mereka pun pergi ke ruang makan dan disana sudah ada Kanvar yang sudah duduk tak tahu kapan dia datang.
"Lambat sekali kami semua menahan lapar hanya menunggumu saja", ucap Kanvar dingin terhadap Azia.
Azia hanya terdiam dan bahkan tidak menoleh ke arah Kanvar.
" Maaf Ayah, maaf ma, Azia terlena dengan keindahan taman di belakang sangat tenang dan nyaman", ujarnya.
"Tidak masalah nak, kau boleh pergi ke taman seberapa lama kau mau. Tapi jangan sampai melupakan sarapanmu juga nanti perutmu sakit", ucap Elisabeth.
" Iya ma", sahut Azia.
Kanvar menaruh udang kesukaannya ke piring Azia.
"Kau harus bangga bisa memakan udang favoriteku dan mengikhlaskannya padamu", ucap Kanvar.
" Tidak perlu", jawab Zia mengembalikan udang ke piringnya.
Bukan hanya Kanvar, Carson dan Elisabeth pun bingung dengan Azia yang tiba-tiba berubah pagi ini. Mereka pun tidak mengatakan apapun dan melanjutkan makan.
"Maaf Ayah, Mama, aku sudah selesai makan dan akan kembali ke kamar untuk menyiapkan barang-barang dan pakaianku", ujar Azia.
"Apa kau gelisah dan tidak nyaman untuk tinggal lama disini nak? Apa ada yang membuatmu risih? ", tanya Elisabeth.
" Tidak ma, Azia hanya kepikiran ibu sendirian dirumah", sahut Azia.
"Baiklah, Mama akan meminta koki memasak untuk kamu bawa pulang", ujar Elisabeth.
" Tidak perlu repot-repot ma", jawab Azia.
"Anggap saja oleh-oleh dari mama untuk Ibumu", sahut Elisabeth.
" Iya ma terima kasih," jawab Azia langsung meninggalkan meja makan.
"Apa kau melakukan kesalahan? ", tanya Elisabeth kepada Kanvar.
" Aku rasa tidak", jawab Kanvar singkat.
"Kau antar dia pulang", ujar Carson.
" Iya Ayah", jawab Kanvar.
Kanvar langsung mengejar Azia yang sudah hendak masuk ke kamarnya.
Kanvar menarik tanganku dan berkata, "Aku yang akan mengantarmu pulang".
" Tidak perlu, aku bisa meminta Vigo atau memesan taksi online", jawab Zia ketus.
"Ada apa denganmu!", jawab Kanvar kesal.
" Tidak ada apa-apa, lepaskan tanganku itu sakit", ucapku berusaha melepas tangan Azia yang digenggamnya keras.
Kanvar pun menarikku masuk ke kamarku dan mendorongku ke kasur hingga Azia terbaring.
"Katakan apa yang membuatmu begitu kesal terhadapku", ucap Kanvar yang sudah ada diatas Azia.
" A.... A.... Apa yang kau lakukan, minggir", ucap Azia dengan jantung yang tidak karuan.
"Jawab dulu! ", ujar Kanvar juga yang sudah mulai kesal dengan tingkahnya.
" Lepaskan ak.... ", belum sempat Azia menyelesaikan perkataanku Kanvar langsung mencium bibirku.
" Jangan berteriak, disini bukan tempat yang tepat untuk bertingkah bebas", jawab Kanbar berbisik ditelinga Azia.
Kanvar mencium bibir Azia lagi dan dia terlena juga menikmatinya. Azia tidak tahan wajahnya yang tampan seakan-akan menghipnotis dirinya. Ciuman pertamanya diambil oleh Kanvar.
"Tok.... Tok.... Tok.... ", bunyi ketukan pintu kamar Azia membuatnya langsung mendorong Kanvar.
" Azia, apa semuanya baik-baik saja. Mama khawatir? ", teriak Elisabeth dari luar.
" Tidak ada apa-apa ma, semua baik-baik saja ada kecoak terbang tadi", ucap Azia yang melihat Kanvar tertawa kecil.
"Yasudah, makanan yang mama titip untuk ibumu sudah siap", ucap Elisabeth.
" Iya ma, terima kasih", sahut Azia dari dalam.
"Haha.... Kecoak terbang? Kau membuatku menjadi binatang yang hina hari ini", ucap Kanvar mencubit pipi Azia.
" Maaf, aku tidak mungkin memberitahu mama kau ada dikamarku. Aku tidak mau dianggap wanita murahan hanya karena sudah bertunangan bersikap sebebasku saja", ucap Zia kepada Kanvar.
"Terserah kau saja, aku menunggu dibawah. Aku yang harus mengantarmu pulang awas saja diam-diam memesan taksi online", ujar Kanvar yang langsung meninggalkan kamar Azia.
Azia selesai berkemas dan pamit dengan Carson dan Elisabeth.
Azia langsung masuk ke mobil yang sudah ada Kanvar disana.
" Kau lama sekali", ucap Kanvar.
"Bukan aku yang lama, kau yang tidak sabaran", jawab Azia.
" Kau mulai berani membalas perkataanku ya", ujar Kanvar memegang dagunya.
"Terserah kau saja", sahut Zia ketus.
Mereka pun pergi langsung menuju rumah Azia.
" Katakan apa yang membuatmu kesal padaku", tanya Kanvar lagi.
"Tidak ada", jawab Zia singkat.
Kanvar terdiam dan melaju hingga tepat sampai didepan rumah Azia.
" Terima kasih", ucap Zia kepada Kanvar yang hendak turun dari mobil.
Kanvar menahan lagi tangannya dan langsung merebahkan kursi Azia dan menahannya lagi dengan sabuk.
"Katakan apa yang membuatmu begitu kesal", bisik Kanvar di telinga Azia yang membuatnya merinding dan lemah tak berdaya.
" Si.... Siapa wanita yang memakai gaun merah memelukmu kemarin", akhirnya Azia menjawab pasrah.
"Memelukku? Oh yang kau maksud Lita? Kau melihatku dengannya kemarin? Mengapa tidak langsung kau datangi dan tanyakan saja waktu itu? ", tanya Kanvar.
" Aku tidak ingin mengganggu suasana romantismu", jawab Zia ketus sambil melihat keluar jendela dan malu untuk melihat Kanvar.
"Kau cemburu?", bisik Kanvar lagi.
" Cemburu? Haha, Tidak sama sekali! ", jawab Zia langsung mendorong Kanvar ke kursinya.
" Terima kasih atas tumpangannya! ", ucap Zia lagi dengan nada kesal membuka sabuk pengaman dan langsung keluar mobil.
Azia pun berbalik melihatnya dan Kanvar melambaikan tangannya dari jendela mobil dengan wajah yang menyebalkan dan membuatku langsung lari masuk kerumah langsung menutup pintu.
" Hahahaa.... gadis yang imut", lirih Kanvar langsung melaju pergi.