Zuyyina Al Humaira seorang gadis cantik nan imut yang terlahir dari keluaga sederhana.
Sang ayah yang hanya bekerja sebagai seorang petani hanya mengandalkan dari hasil kebunnya untuk kehidupan sehari-hari.
Dia mempunyai tekat yang kuat untuk memperdalam ilmu agamanya di pesantren DARUL QUR'AN.
Dengan kebaikan sang ummi mau menerima Zuyyina di pesantrennya.
Akankah Zuyyina mampu menjalani hari-harinya sang sangat di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan pesantren.
Bagaimanakah kisah cinta Zuyyin yang jatuh hati dengan seorang anak dari putra yai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐀❣️𝐅, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
🍂🍂🍂🍂
Sesungguhnya di malam hari, ada suatu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya itu berlangsung setiap malam.
Bahwa Tuhan selalu mengabulkan doa orang-orang yang memiliki keyakinan dan kemauan kuat untuk mewujudkan harapan.
Karena terlalu banyak dari kita yang tidak mewujudkan impian kita karena selalu terbayang-bayang dalam ketakutan.
Muhasabah diri😌
☘️☘️☘️
Happy reading
Tanpa terasa kini waktu telah pukul 02.30 dini hari, Zuyyin pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum melakukan sholat malam.
"Untung santri-santri belum banyak yang bangun." Gumam Zuyyin dalam hati.
Dua puluh menit pun berlalu begitu saja, Zuyyin yang menghabiskan waktunya di kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Kini terasa segar setelah mandi dan mengambil air wudhu, Zuyyin pun langsung kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat tahajud.
Setelah selesai menunaikan shalat tahajud, Zuyyin pun mengambil Al-Qur'an nya guna untuk muroja'ah hafalannya.
Zuyyin pun membangunkan teman sekamarnya dan tak lupa adzkiya, yang entah kenapa biasanya juga biasa bangun lebih awal.
"Mbak bangun udah jam tiga bangun gih." Sambil menggoyang lengan Adzkiya.
"Astaghfirullah ana telat bangun yack." Ucap Adzkiya langsung bangkit dari tidurnya dan langsung ke kamar mandi untuk cuci muka.
Tak menunggu lama Zuyyin dan yang lainnya kini sudah mengambil jatah makanan mereka buat sahur.
Menu sahur kali ini nasi pecel dengan lauk tempe 1 iris dan tak lupa kerupuk nya kini telah tersedia di kamar dengan tepak masing-masing yang sudah di beri nama.
Mereka pun makan sahur bersama-sama, dengan hikmat. Selesai makan mereka pun kini keluar kamar untuk mencuci tepak nya sehabis di gunakan makan. Dan tak lupa pula menggosok gigi dan mengambil air wudhu, untuk bersiap-siap menuju musholla agar tak ketinggalan sholat subuh berjamaah.
Sudah seperti biasa Abah mengimami di santri putra sedangkan Ummi yang di santri putri. Selepas sholat subuh berjamaah dan melakukan wirid bersama, mereka pun mengaji Al-Qur'an nya dengan setor hafalan nya kepada Ummi. Yang tak menghafal Alqur'an mengaji sama para ustazah.
.
.
.
Tak terasa sang mentari pun kini sudah merayap naik ke atas, memperlihatkan keindahannya, kicauan burung camar yang hinggap di dahan dan ranting kini mulai bersahut-sahutan.
Setelah selesai mengaji hingga pukul tujuh, mereka sudah kembali ke kamar masing-masing guna mengembalikan mukenanya dan bersih-bersih. Ada yang piket halaman, mencuci pakaiannya dan lain-lain.
Zuyyin dan Zahra pun kini pergi ke ndalem buat membersihkan ruang tamu dan juga dapur selepas sahur buat Abah dan keluarganya tadi pagi.
Gus Atha yang melihat Zuyyin menyapu di ruang keluarga pun langsung menghampiri Zuyyin untuk meminta tolong mencucikan bajunya.
"Mbak…….mau minta tolong cuciin baju bisa." Ucap Gus Atha sambil membawa beberapa helai bajunya.
Zuyyin yang merasa di panggil pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Nggih Gus, bisa. " Ucap Zuyyin sambil menerima baju yang di bawa Gus Atha.
Zuyyin pun pergi ke samping ndalem untuk mencuci pakaian Gus Atha, Ummi dan juga Abah yang sudah di sana.
Saking khusyuk nya mencuci pakaian, Zuyyin pun tidak tahu kalau ada orang yang datang. Zahra yang langsung memegang pundaknya, Zuyyin pun terlonjak kaget.
"Astaghfirullahaladzim." Ucap Zuyyin sambil mengelus dadanya karena kelakuan Zahra.
Zahra yang melihat pun hanya terkekeh geli melihat kelakuan Zuyyin.
"Hais kenapa malah di ketawain, emang ada yang lucu." Ucap Zuyyin sambil mengerucutkan bibirnya dan masih mengelus dadanya yang masih berdebar-debar bukan karena sedang jatuh cinta akan tetapi kaget akan kedatangan Zahra bak jailangkung, yang datang tak di jemput pulang tak di antar.
"Maaf mbak, kalau kedatangan ku mengagetkan mbak Zuyyin."
"Minta bantuan nggak nih !!!" Ucap Zahra sambil tersenyum ramah.
"Boleh, yuk bantuin jemur ini masih kurang sedikit aku mensucikan nya."
Setelah selesai mensucikan semua pakaiannya, Zuyyin dan Zahra pun menenteng ember tempat baju tersebut ke arah jemuran yang tak jauh dari tempat cucian baju.
Sedangkan Zidan pagi ini mencuci mobil Gus Atha dan Abah di halaman depan rumah yang di bantu sama ustadz Zain.
Setelah selesai semuanya, kini mereka pun berjalan ke kamar untuk menyetrika baju-baju keluarga Abah yang di bantu oleh Zahra.
Sedangkan para santri mengkaji kitabnya dengan ustadz Zain di aula pondok putri.
Tanpa terasa kini waktu bergulir cepat, hingga kumandang adzan dhuhur pun menggema dari musholla putra, kini keduanya pun menyudahi kegiatannya dan beranjak pergi ke kamar untuk mengikuti jama'ah sholat dhuhur.
Ummi yang melihat Zuyyin akan kembali ke kamarnya pun memanggil Zuyyin.
"Nak Zuyyin nanti selepas sholat dhuhur nanti kesini sebentar ya, ada yang Ummi mau bicarakan sama nak Zuyyin." Ucap ummi.
Zuyyin pun kembali ke kamarnya dan dia sudah mengambil wudhu di kamar mandi dekat dapur bersih ummi untuk bersiap-siap melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah di musholla.
"Zuyyin pun bertanya-tanya, ada apa Ummi memanggilku ya." Gumam Zuyyin dalam hati.
"Assalamualaikum……" Zuyyin yang langsung menuju ruang keluarga dimana ummi tadi menantinya.
"Waalaikumsalam…..sini nak Zuyyin duduk dengan Ummi." Ucap ummi sambil menepuk sofa di sebelah ummi yang terlihat kosong tersebut.
Semakin tak karuan perasaan Zuyyin, biasanya ummi kalau butuh sesuatu pasti langsung bicara tidak seperti sekarang. Zuyyin pun langsung menyalami kedua tangan Ummi dengan ta'dzim lalu duduk di kedekat ummi yang berjarak beberapa centi saja. Ummi yang melihat ku seperti orang gelisah pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya secara samar, jika dia tak begitu melihat secara intens pasti tidak akan mengetahui hal tersebut.
"Gimana nak, betah di pondoknya." Ucap Ummi sambil mengelus punggung ku.
"Alhamdulillah Ummi sudah betah." Ucap Zuyyin sambil memainkan kuku di jarinya.
"Ummi mau tanya sama Zuyyin boleh???" Ucap Ummi yang sudah mode seriusnya.
"Boleh Ummi." Sambil menganggukkan kepalanya.
"Kalau semisal ada yang mau sama Zuyyin gimana."
"Maksudnya Ummi gimana???" Ucap Zuyyin bingung dengan jantung yang berdetak hebat.
"Seumpama ada yang mau meminang nak Zuyyin, apakah nak Zuyyin mau menerima pinangan tersebut???" Ucap ummi berhati-hati.
Ummi yang juga was-was akan mau atau tidaknya Zuyyin untuk dijodohkan.
"Derek Aken Ummi." ( Ikut Ummi gimana baiknya saja ) sambil mengangguk pelan.
"Apa kamu tidak ingin tau siapa yang akan ummi jodohkan sama kamu!!!" Ucap Ummi lagi yang merasa heran sama Zuyyin yang tak ingin bertanya kepada siapa yang akan di jodohkan dengan nya.
"In sya allah apa yang menjadi pilihan ummi itu yang terbaik menurut Zuyyin Ummi."
"Alhamdulillah……." Ucap Ummi yang merasa bangga dan terharu mendengar keputusan Zuyyin.
Jodoh, Maut, Rizki, itu sudah menjadi rahasia Tuhan, Zuyyin pun sudah memutuskan pilihannya kepada Ummi, pasti akan memberikan yang terbaik buat Zuyyin dan masa depannya.
Bersambung.
Wah kira-kira Zuyyin di jodohkan sama siapa yack 😌😌😌