Aku istrinya, tapi aku disembunyikan layaknya simpanan. Dinikahi secara siri, kemudian suamiku menikah lagi. Aku pikir itu adalah puncak neraka duniaku, aku salah. Berpisah dengan putriku yang baru lahir ke dunia, itu lebih sakit dari pada luka hatiku.
Akulah Padma, wanita yang kalian hina hanya karena starta sosial yang berbeda. Ini aku, ini kisahku, tentang istri siri yang bangkit dari lubang hina yang kalian gali untukku. Satu persatu, akan kubalas kalian! Ini janjiku, dari jiwa yang kalian benci selama ini.
Follow IG author Sept : Sept_September2020
Selamat datang di karyaku ke 22. Selamat membaca, semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investor
Istri Rasa Simpanan Bab 12
Oleh Sept
Padma pun menurut, tidak banyak tanya lagi. Karena semakin banyak ia bertanya, maka akan memancing kemarahan Guntur. Ia memilih diam, menahan diri. Ya, selama ini hanya seperti itulah Padma.
***
Hingga sampai beberapa hari kemudian. Suami Padma tersebut mulai aneh. Guntur mulai jarang pulang, katanya sih lembur. Ada proyek baru bersama temannya. Dan ketika suaminya pulanh, maka seperti biasanya, Padma akan menyiapkan makan, air hangat dan yang lainnya. Terutama makan, Padma akan masak makanan yang wah, seperti pesta atau menu restaurant mewah. Ibunya sampai tanya, kenapa masak makanan yang mahal-mahal ala restaurant tersebut.
"Pad, sayang sekali kalau masak begini, Pad. Kemarin saja suami mu tidak pulang. Ibu menghabiskan pun kurang suka. Lidah ibu tidak cocok." Ibunya Padma sampai protes. Masakan Padma sekarang seperti makanan juragannya dulu. Menu mewah, padahal sekarang mereka kan tinggal di rumah sederhana. Sepertinya, menu makan mewah itu tidak cocok di hidangkan di meja makan mereka yang sangat sederhana tersebut.
Padma hanya bisa menelan ludah, mau bagaimana lagi. Suaminya mau masakan tersebut. Ia diberikan uang untuk masak enak. Meskipun sayang sekali uangnya. Masak beli lobster saja 500 ribu. Padahal beratnya tidak sampai 250 gram. Entahlah, dari pada suaminya naik darah, Padma lebih memilih menurut saja.
"Kan sayang, Pad. Uangnya bisa kamu tabung," saran ibu Padma yang masih memikirkan hemat. Sekali masak saja bisa ditabung, kalau dikali sebulan, Padma bisa pinya belasan juta rupiah untuk ditabung.
"Gak apa-apa, Bu. Ini kesukaan mas Guntur." Padma hanya bisa memberikan pengertian ala kadarnya pada sang ibu.
Ibunya pun hanya bisa menggeleng kepala. Lidah orang kaya memang sulit dimengerti. Mau makan saja harus buang-buang yang. Padahal nanti larinya tetap sama, yaitu ke kamar mandi. Sambil menahan napas, wanita paruh baya itu menatap masakan Padma dengan tatapan nanar.
***
Saat weekend. Menjelang akhir pekan. Padma heran, suaminya sudah sangat tampan. Kerja terus, liburan kapan? Sebenarnya suaminya ini kerja apa? Ribuan tanda tanya keluar dari benak Padma.
"Kok kerja, Mas? Ini kan akhir pekan," tanya Padma saat menyiapkan pakaian untuk Guntur. Matanya sesekali melirik Guntur yang telah siap-siap.
"Aku kerja buat kalian, sudahlah, nanti kalau hasilnya bagus, itu demi masa depan kalian. Kita bisa keluar dari rumah ini. Kamu gak ingin tinggal di rumah yang besar?" ucap Guntur sembari memakai kemeja lalu memakai jasnya. Tidak lupa dasi tanpa motif sudah terpasang di lehernya dengan sempurna.
"Mas ... Mas kerja apa sih?" tanya Padma.
Pertanyaan Padma berhasil membuat Guntur melirik tajam. Ia terlihat tidak suka dengan aksi kepo sang istri.
"Kamu gak perlu tahu, yang penting ada hasilnya!" cetus Guntur dingin.
Padma tidak bisa berkata-kata lagi, karena kalau bicara pasti kena semprot. Serba salah terus. Akhirnya ia terdiam.
"Keny ... Papa kerja dulu, ya?"
Guntur kemudian mengusap pipi Keny, kemudian menatap wajah Padma.
"Aku berangkat dulu," pamit Guntur tanpa membelai atau menyentuh Padma seperti biasanya.
'Dia mulai berubah, bahkan tidak ada kejujuran di antara kami ... kerja apa kamu Mas? Kenapa sangat tertutup padaku? Aku istrimu, kan?' batin Padma yang melihat mobil Guntur mulai meninggalkan halaman rumah.
Mbremmm ....
"Ini lalu siapa yang menghabiskan? Ibu lagi? Masak yang biasa saja lah, Pad," omel ibunya Padma.
Padma menatap menu sarapan yang tidak disentuh oleh sang suami. Sushi daging salmon dengan makanan pendamping kesukaan Guntur. Padma dilema. Kalau gak masak enak nanti suaminya marah-marah, tapi kalau sudah masak, bahkan masakan belum disentuh, seperti sekarang. Langsung ditinggal berangkat kerja tanpa menyentuh makanan di meja. Kopi pun tidak disentuh, dibiarkan untuk di tempatnya. Padma merasa Guntur sudah banyak berubah.
***
Di tempat lain.
Sebuah kafe mewah yang terletak di antara gedung-gedung tinggi.
Guntur sedang menyesap kopinya, kopi mahal yang bermerek. Pria itu bicara dengan relasinya. Sembari sesekali memeriksa berkas di tangannya.
"Ini investor baru, yang pasti dia bisa kucurkan dana besar untuk Kita. Aku sendiri menyerah, Kita butuh dana gak kaleng-kaleng," ucap pria di depan Guntur.
"Orang Indonesia juga kan?" tanya Guntur saat melihat profile sang investor yang merupakan seorang wanita cukup umur tersebut.
"Memang orang Indonesia, tapi warga negara Singapore. Dia menikah dengan pengusaha asal Singapore. Tapi sudah pisah lama."
"Oh."
"Kita harus bisa ambil hantinya, Gun. Kalau proyek ini lolos, Kita bakal sukses. Kamu bisa bangkit lagi. Tapi ya ... semua tergantung dari investor ini!"
Tidak lama kemudian, seorang wanita berpakaian sangat rapi dan licin, bahkan lalat mungkin akan tergelincir.
Wanita berusia 40 tahunan, tapi wajahnya kencang, bibirnya seksiiii, body seperti model top. Wanita itu berjalan menuju meja Guntur dan rekannya.
"Dia orangnya!" bisik pria yang berdiri di depan Guntur.
"Janda, kan?" bisik Guntur balik.
"Gila kau!" balas temannya setengah berdesis.
Bersambung
IG Sept_September2020
maaf ya,klo slh..jngn di bully/Pray/