Rania sudah lama membuang jauh semua rasa, mengubur dalam-dalam perasaannya, untuk bang Fakhri, seorang ustad di kawasan tempat tinggalnya. Sampai pada saat adiknya mengingngatkan memorinya kembali. Mengingatkan kembali akan cinta pertamanya yang hanya dinikmatinya dalam diam. Mengingatkan cinta yang tidak pernah bisa terungkapkan.
Bagaimana kisah Rania mengejar cinta sang Ustad? Apakah dia masih bertahan pada perasaan cintanya. Yang bukan hanya di tengah sikap dingin sang Ustad, tapi juga diantara cinta sahabat kecilnya, yang sudah terobsesi pada sang Ustad. Keberadaan seorang gadis muslimah sejati yang di taarufkan keluarga Ustad. Dan juga di tengah cinta-cinta lain disamping Rania, yang nyatanya lebih mudah untuk di rengkuhnya.
Lalu bagaimana sesungguhnya hati sang Ustad. Seseorang yang sangat sulit diterka perasaannya, di takar hatinya, di tebak keinginannya. Maka lengkapnya rumitnya kisah cinta ini, saat masih ada cinta pertama yang terpendam di hati sang Ustad sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Utary Koleksi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyaluran Bantuan
Hari sudah menjelang sore. Untung mereka berbagi tugas dan kelompok, sehingga pekerjaan menjadi terencana dan cepat selesai. Mereka memutuskan kembali berkumpul di masjid.
Mobil Sisca yang pertama kali muncul, Sisca dengan empat orang lainnya bak seorang putri dan empat bodyguardnya. Tapi itu hanyalah dalam hayalan saja, mereka semua insya Allah orang-orang Soleh dan Soleha, yang tahu batasan moral dan akhlaq, pergaulan mereka insya Allah sesuai dengan ajaran agama. Lalu beberapa menit berselang mobil Andi tiba. Andi turun bersamaan dengan Rara yang duduk di bangku mobil bagian depan, di susul tiga orang lainnya. Matanya lekat memandang sekeliling saat dirasa belum dijumpainya sosok Fakhri dan Rania.
Tapi belum sempat isi kepala Rara berfikir lebih jauh, tiba-tiba mobil Fakhri sudah masuk ke halaman masjid. Tampak Fakhri dan Rania turun, diikikuti tiga orang lagi.
"Udah nyampe semua," tanya Fakhri
"Udah bang, belum lama juga dari abang nyampe," sahut Andi
"Iya bang......," sahut yang lain.
Lalu semua mengikuti langkah Fakhri menuju teras masjid.
"Arif, ambil ambal, kita di teras aja. Karena badan masih lengket dan kotor semua," perintah Fakhri
"Siap bang," jawab Arif bergegas mengambil ambal dan membentangnya bersama yang lain. Semuapun mengambil tempat duduk masing-masing.
"Baiklah, karena udah berkumpul semua. Jadi saya akan langsung saja," ujar Fakhri membuka pembicaraan.
"Bagaimana kegiatan kelompok masing-masing, lancarkah?" tanya Fakhri
"Alhamdulillah bang. Semua berjalan lancar dan tidak ada masalah," jelas Sisca
"Iya bang, kelompok kamipun lancar tanpa kendala," Andi ikut bicara.
"Alhamdulillah. Dan untuk laporan bagaimana?" tanya Fakhri kembali.
Lalu kelompok Sisca dan Andi menyerahkan lapaorannya masing-masing.
"Alhamdulillah. Kegiatan hari ini berjalan lancar dan tanpa kendala. Laporan kegiatanpun sudah abang terima dan nanti akan abang kroscek," ucap Fakhri
"Abang juga mengucapkan banyak terima kasih pada kalian semua atas bantuannya, yang sudah dengan sangat ikhlas tanpa pamrih membantu kegiatan sosial masjid kita ini," Fakhri melanjutkan pembicaraannya sambil tersenyum tulus pada semuanya.
Tanpa Fakhri ada dua pasang mata memandang berbeda senyumnya itu. Rania tampak tertegun memandang senyum Fakhri. Setelah beberapa tahun tidak lagi pernah bertemu, ini kali pertamanya Rania melihat kembali senyum itu. Senyum yang selalu di sukai Rania dalam diam, wajah yang selalu dipandanginya dalam diam, bahkan mencintainyapun dalam diam.
Tampak sepasang mata lagi milik Rara. Mata itu tampak menatap penuh keinginan. Keinginan memiliki laki-laki tampan dan soleh yang sedang berbicara di hadapan mereka, keinginan dan nafsu yang tidak pernah surut dari hatinya. Aku tidak akan menyerah bang, aku akan terus berusaha agar kau bisa menerimaku, agar kita berdua bisa bersama. Sudah sejauh ini usahaku bang, terlanjur jika aku ingin menyerah, tekad Rara penuh emosi.
"Dan juga kepada Rania. Abang secara pribadi juga majelis mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dan donasi dari kantornya yang sangatlah besar," Fakhri menatap Rania.
Gadis itu, Rania cuma tersenyum manis sambil mengacungkan jempol membalasnya. Ada sepasang mata yang menatap sinis senyuman itu, sementara banyak pasang mata yang kagum akan kecantikan Rania dalam balutan hijabnya.
"Terimakasih telah percaya dan memilih masjid kita untuk menerima dan menyalurkan bantuan sebesar itu. Abang kali ini secara pribadi tulus berharap semoga Allah membalas pimpinan Rania yang telah memberikan bantuan dan donasi tersebut. Semoga usaha dan perusahannya makin maju dan berkembang sehingga bisa mensejahterahkan semua karyawannya....Aamiin....Aamiin...ya Robbal alamin," lanjut Fakhri lagi berterimalasih, dan dibalas semua dengan ucapan Aamiin.
Tingkiyuu bangetz yang udah setia baca Novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬