Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Sengaja
Kekasih Bayaran Bagian 12
Oleh Sept
Sebenarnya Winda malu, karena ternyata orang perusahaan yang datang bersama Tim pengacara. Malu, tapi ia juga harus keluar dari sana, akhirnya Winda pun mengangkat dagunya tinggi. Yakin dia tidak terlibat dengan kasus yang menjeratnya itu.
"Pertama-tama saya minta maaf, Pak. Karena saya, perusahaan mungkin akan disangkut pautkan," ucap Winda pada pria yang berwajah tegas itu.
Winda tahu, pria itu salah satu petinggi di Tourshine Groups. Karena ia sering melihat sosok tersebut wara-wiri saat meeting penting.
"Tim kuasa hukum sudah mengumpulkan banyak bukti. Karena tidak ada bukti yang memberatkan, mungkin kasus ini akan selesai tanpa harus diketahui media."
Winda melongo, apa semudah itu jika punya orang dalam? Pikir Winda.
"Jadi saya bisa bebas?" tanya Winda tidak percaya.
Dua orang laki-laki itu mengangguk.
"Terima kasih, Pak ... terima kasih banyak."
Winda menundukkan wajah dalam-dalam, ia senang sekali tapi juga sangat bingung. Kemudian penasaran.
"Lalu bagaimana dengan Bora, Pak?"
Dua pria di depannya saling menatap, kemudian sang pengacara yang bicara.
"Masalah Bora tinggal menunggu hasil penyidikan. Tapi mungkin juga akan bebas, karena tidak ada bukti sama sekali. Kalian hanya berada di tempat yang salah dan waktu yang salah."
Winda semakin speechless. 'Ini bener-bener kekuatan uang! Gila.'
***
Setelah pembicaraan yang tidak lama itu, akhirnya tim kuasa hukum undur diri. Sebelum pergi, Pak Jhoni salah satu orang penting di perusahaan tempat Winda bekerja, berbalik sebentar.
Saat pengacara sudah jalan duluan, ia duduk kembali.
"Nona Winda, ada harga yang harus dibayar untuk semua ini. Jangan terlalu senang!" ucap Pak Jhoni dengan wajah dingin.
Winda yang tadi sempat lega, langsung jadi gelisah.
"Ini terakhir kali saya turun tangan, saya yakinkan ... bila hal seperti ini terjadi lagi. Saya tidak akan mempertaruhkan reputasi saya. Ingat itu!"
Ada kemarahan pada ucapan Pak Jhoni, dan Winda paham. Kemarahan itu tertuju padanya.
"Maafkan saya, Pak."
"Kamu pikir maaf bisa membereskan semua?"
Winda semakin menunduk.
"Keluar dari sini, datang ke alamat ini!"
Pak Jhoni meninggalkan sebuah alamat di atas meja. Sebuah kertas bertuliskan alamat sebuah apartment di tengah kota.
"Satu lagi! Mulai sekarang pastikan, berhati-hati dalam melangkah!" ujar pria itu kemudian beranjak dan meninggalkan Winda yang tertegun dan memikirkan apa yang dikatakan Pak Jhoni.
***
Di luar kantor polisi, Pak Jhoni melangkah masuk dalam mobil dengan tatapan sebal.
"Kalau sampai papamu tahu! Om bisa kena imbasnya!" gerutu Jhoni.
Pria yang duduk di belakang kemudi, hanya tersenyum tipis.
"Makasih, Om. Bentar lagi Kenzie ulang tahun, kan? Kavi udah siapin hadiah yang bagus."
Jhoni yang merupakan salah satu petinggi penting dan punya kuasa, hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia merupakan orang yang direkomendasikan mantan sekretaris Jo untuk membantu Kavi. Karena Jonathan tidak mau ikut campur secara langsung.
Jonathan sudah angkat tangan, tapi pulang dari rumahnya, Kavi terus saja merajuk. Membujuk agar Jonathan mau membantu. Sebab jika minta bantuan papanya atau sang kakak, rasanya itu mustahil.
Beruntung Jonathan sayang dengan Kavi yang seperti anak sendiri. Akhirnya Jonathan membantu lewat orang dalam yang sudah ia kenal baik dan pasti bisa mengatasi semua ini diam-diam tanpa diketahui orang luar.
Ini adalah pekerjaan Jonathan dulu saat masih jadi orang kepercayaan group Tourshine, membereskan semua masalah bosnya. Tapi sekarang dia sudah pensiun. Lebih memilih menikmati hari tua bersama madam Li.
***
Setelah mengantar Pak Jhoni kembali ke perusahaan, Kavi kemudian ikut masuk ke kantor. Wajahnya yang kemarin kusut, kini sumringah.
Besok Winda keluar, ia sudah membayangkan bagaimana Winda akan berterima kasih padanya. Membayangkan saja sudah membuatnya cengar-cengir.
"Lo kesambet?" celetuk Gilang yang merasa aneh saat baru datang Kavi senyum-senyum tidak jelas.
Kavi hanya membalas dengan menepuk pundak pria itu. Kemudian fokus pada pekerjaan yang kemarin numpuk karena ia tidak bisa fokus. Pria itu jadi tidak sabar menunggu besok.
***
Di dalam tahanan
Winda menatap alamat yang ada di tangannya. Kira-kira siapa yang ada di balik semua ini? Ia mulai menebak, siapa yang paling mungkin punya kekuatan besar untuk melakukan hal-hal semacam ini?
Hingga tidak terasa, siang berubah menjadi malam. Dan hari esok pun tiba. Di mana apa yang dikatakan Pak Jhoni dan kuasa hukumnya kemarin benar adanya, bahwa dia bisa segera bebas. Seakan tidak percaya, akhirnya Winda bisa keluar dari tempat yang mengerikan itu.
"Terima kasih, Pak."
Winda membungkuk mengucap terima kasih pada semua penjaga. Tidak mau lama-lama di sana, setelah bebas bersyarat Winda langsung meninggalkan tempat itu.
Sesuai dengan perintah Pak Jhoni kemarin, setelah keluar Winda bukannya pulang tapi langsung ke apartment. Dia mencari alamat yang tertera, sebab ia penasaran. Siapa orang yang sudah mau menjamin dan mengeluarkan dirinya tersebut.
***
Apartment Golden Coral
Winda berjalan menyusuri lorong, ia sedang mencari apartment yang dimaksud. Karena masih di lantai atas, ia pun naik lift. Begitu dia masuk dalam benda kotak yang bisa naik turun tersebut, tiba-tiba seorang pria yang juga berjalan di belakangnya ikut masuk.
"Eh ... Pak." Winda yang terkejut langsung menundukkan wajah menaruh hormat. Dan BERSAMBUNG.
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu