Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12: Kedatangan Aldo
"Kamu semalam di mana?"
Saat Yura bertanya, Adli yang tengah membuat kopi dan baru saja sedikit menyeruputnya menjawab lirih, "kamar Alma." Dengan santainya lelaki itu menjawab, seakan tanpa beban dan tidak berpikir kalimat itu akan menyakiti perasaan Yura. Yura menahan gejolak tangis yang hendak melelehkan derasan air mata dari sepasang manik beningnya.
"Ngapain?" Yura melanjutkan pertanyaannya.
Adli bergumam sebentar, "awalnya mau meniduri tapi ternyata hanya numpang tidur, tangis Alma menjengkelkan." Adli mengibaskan tangan agar kopinya lebih terasa dingin.
Yura menahan getaran di bibir, "kamu ... emangnya mau tidur dengan wanita yang ada kemungkinan pernah tidur dengan mantan kekasihnya?"
Adli terdiam sejenak, lalu ... prak!
Adli melempar gelas kopinya ke lantai.
Lelaki itu menggeram, mengabaikan cairan hitam panas dan beling kaca yang kini melukai salah satu kakinya sendiri.
"Jangan dibahas. Aku saja tidak keberatan tidur denganmu yang ditiduri lelaki lain saat menikah denganku sekalipun sejak awal itu salahmu, seminggu yang lalu mendekatiku yang tengah mabuk." Mata Yura memerah, kalimat itu menohoknya. Adli melirik dingin gelas kopinya yang sudah hancur berantakan di lantai. Lelaki itu menjauh dengan sedikit langkah terpincang, satu-persatu mencabut beling yang menancap di telapak kakinya. Adli meringis, diambilnya kain lap untuk mengelap telapak kakinya yang begitu kotor. Noda hitam dengan bau kopi yang khas menghiasi lap putih yang Adli korbankan.
Setelah itu Adli membuat secangkir kopi yang baru, dan menyeruputnya hati-hati karena uapnya saja begitu panas saat menerpa wajahnya. "Jaga kandunganmu, Yura." Adli berkata setelah meletakkan kembali cangkir kopinya yang sisa setengah. Lidahnya yang seperti terbakar terasa begitu kelu. "Seperti yang kamu minta, anak itu akan aku anggap sebagai anakku sendiri. Jadi jaga dia baik-baik dan pergilah dengan baik-baik setelah melahirkannya dan meninggalkannya di sini."
Sisa setengah kopi yang sudah tidak menarik minatnya Adli buang ke pembuangan wadah wastafel. Adli pergi dengan langkah terpincang, menuju ruangan kerjanya. "Panggil aku kelak sarapan."
>><<
"Kamu tengah hamil, biar aku yang masak."
Alma menggantikan kegiatan tangan Yura yang terlihat lelah saat memotong sayuran. Alma fokus dengan nasi goreng yang hendak dia masak untuk sarapan. Yura yang tidak banyak berdalih, mengambil posisi duduk di meja makan dan diam.
"Kamu ingin minuman apa?"
Alma bertanya, Yura yang tengah mengurung kening menjawab lirih. "Tanyakan kepada Mas Adli, jangan padaku."
"Kalau begitu jus alvukat."
Yura melirik Alma yang tengah mengeluarkan daging alvukat menggunakan sendok dan memasukkannya ke dalam blender. "Kalau tidak merepotkanmu, tolong buatkan aku susu." Mendengar kalimat halus Yura, Alma menoleh sedikit aneh. Tumben Yura bersiap baik dan rendah suara? Biasanya Yura suka mengejeknya dan mengatainya, karena dia tahu Alma yang 'tahu diri' tidak akan membalas. Alma hanya mengangguk, "baiklah. Tunggu sebentar." Mengabaikan jus alvukat tersebut, Alma membuatkan susu terlebih dahulu untuk Yura. Wanita hamil itu meminumnya hati-hati, tatapannya masih kosong.
"Jika ingin sesuatu lagi, kamu boleh bilang."
"Cukup ini," Yura menggenggam gelas susu di tangannya.
"Baiklah," Alma mengangguk, lalu lanjut membuat jus alvukat.
Tanpa disadari oleh keduanya, seseorang menerobos masuk ke dalam rumah. Bahkan satpam di depan rumah lelaki itu lawan. Aldo sampai di dapur, melihat Alma tatapan lelaki itu langsung berbinar, lalu tanpa aba-aba memeluk Alma dari belakang yang tengah meratakan lingkaran susu cokelat di gelas yang akan dituangkan jus alvukat. Yura yang melihat kejadian itu membelalak, tidak menyangka Aldo akan nekat datang kemari.
Alma belum langsung memberontak, dikiranya itu Adli. Tapi pelukannya menjerat itu membuat Alma sadar dan langsung memekik, "ALDO! Apa-apaan kamu?" Aldo sontak melepaskan diri, tatapannya memelas. Sebelah tangannya ragu-ragu menyentuh pipi Alma, "kamu kenapa tidak membalas pesanku? Tidak menjawab teleponku, Alma? Sudah kubilang akan datang kemari jika kamu mengabaikan telepon dan pesanku." Alma menghindar, tubuhnya gemtear. "Cepat pergi," Alma memohon, takut Adli keluar dan terjadilah keributan.
"Jawab aku dulu, Alma. Kamu sengaja atau bagaimana?"
"Aldo!" Teriakan Alma tertahan, "kumohon pergi."
"Apakah kamu mulai membenciku? Tidak perduli padaku?"
"Aldo ...." Alma meringis. Tatapannya begitu memohon agar Aldo pergi. "Ponselku dibuang oleh Mas Adli, makanya ... jadi kumohon pergi sekarang. Sebelum Mas Adli melihatmu, cepat pergi." Raut wajah Adli langsung terlihat lega. Lelaki itu berhasil kembali mengembangkan senyum.
"Aku mencintaimu, Alma ...." Ungkapan Aldo benar-benar tidak mengenal waktu dan tempat.
Alma semakin panik, "cepat pergi, Aldo."
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjawabku ...."
"Aldo," pekikan Alma nyaris tenggelam.
Dari ruangannya aroma nasi goreng yang 'khas' di hidungnya membuat Adli tersenyum. Ah, bisa ditebak siapa yang berbaik-hati hendak mengisi perutnya? Adli terlihat tidak sabar satu meja makan dengan Alma. Dengan langkahnya yang masih sedikit pincang, Adli keluar dari ruangannya. Lalu di ambang pintu dia termangu. Lelaki sialan itu lagi! Adli berusaha berlari sekalipun sebelah kakinya sakit, ditepisnya tangan Aldo untuk menjauh dari kulit istrinya. Alma terlihat panik, apalagi saat dia diseret oleh Adli untuk menjauh. Geraham Adli saling beradu. "Siapa yang menyuruhmu memasukkan lelaki lain?"
Pertanyaan yang tertujukan kepada Alma. Yura yang sebagai saksi mata seharusnya membela, tapi wanita itu malah diam saja.
Aldo yang dengan senang hati mengkambing-hitamkan diri. "Jangan salahkan Alma, aku yang membuat satpammu babak-belur, satu pingsan, untuk menyusup ke sini layaknya bandit tanpa komunikasi dengan Alma sebelumnya." Adli menatapnya tajam, "kamu ingin kubunuh?" Pertanyaannya terdengar geram, lalu suaranya meninggi. "Kamu mau kubunuh, hah!? WOI! Jangan menganggu istriku lagi."
"Kamu sudah mencari wanita lain, kenapa tidak kamu berikan saja Alma padaku ....?"
"Kemparat!" Kepalan tangan Adli siap melayang, Alma yang menahannya. Wanita itu menggeleng, air matanya menetes. Melihat tetesan bening itu Adli langsung luluh, sekaligus kesal. Lelaki itu semakin mengamping pinggang istrinya, lalu bersuara tajam, mengusir Aldo sekali lagi. "Pergi, sebelum aku membunuhmu."
"Alma ... kamu juga ingin mengusirku seperti suamimu?"
Saat Aldo bertanya, Alma diam.
"Alma?" Adli menanti jawabannya. Nada lelaki itu terdengarn tajam, berharap Alma mengiakannya.
Terpaksa Alma memihak Adli, "pergilah, Aldo." Aldo terlihat sakit hati, tapi permintaan Alma yang diiringi air mata selalu menjadi perintah mutlak untuknya jika Aldo dalam keadaan sadar. Lelaki itu benar-benar pergi, Adli yang mulai tenang membalik tubuh Alma dan memeluknya. Kebiasaan Adli yang menjadi sisi lembutnya di balik sikap kasar dan ketusnya selama ini, Adli menggesek-gesekkan kedua ujung hidung mereka dan mengantuk-antukkan pelan kedua dahi mereka. Alma sebenarnya nyaman dengan posisi tersebut, tapi kadang dia merasa bersalah. Adli mengecup bibir Alma bertubi-tubi, membiarkan Yura menyaksikannya.
"Kamu bau bawang," bisik Adli. Lalu tersenyum, "kamu membuatkan nasi goreng special untukku?"
"Dan jus alvukat," Alma menambahkan.
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊