Karya ke-2 dari Irene Puspitasari. Masih bercerita tentang masa-masa remaja, yang penuh dengan canda juga prahara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irene Puspitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Teman Tapi Naksir
Niko kembali tampak di gerbang sekolah ketika Tabita sampai di sana.
"Pagi Tabita cantik," sapa Niko.
"Pagi juga Nik. Lagi nunggu siapa nih? Samuel?" tanya Tabita.
"Nungguin kamu lah, ngapain juga nungguin Samuel. Emang aku segabut itu?" kata Niko.
"Ya kali aja kalian mau bahas bisnis. Kan kalian lagi berbisnis bersama," kata Tabita.
"Gak deh, aku batalin kontrak sama dia. Aku mau bisnis sendiri aja," kata Niko.
"Emang bisnis apa sih kalian? Tiap Bita tanya gak pernah mau kasih tau," kata Tabita kesel.
"Sabar ya Cantik, suatu saat nanti kamu pasti bakalan tau kok!" kata Niko.
" Kenapa gak sekarang aja sih kasih taunya? Jangan-jangan kalian bisnis illegal ya?" tanya Tabita curiga.
"Kok nuduhnya gitu sih?" tanya Niko sambil tertawa.
"Habisnya kalian berdua pada gak ada yang mau ngaku sih. Jadi gak salah kan kalau aku curiga kalian bisnis yang illegal?" kata Tabita kesal.
"Nanti deh, kalau udah waktunya bakal ku kasih tau kok. Tapi bukan sekarang," kata Niko.
"Serah deh, gak usah kasih tau juga gapapa kok," kata Bita sambil berlari meninggalkan Niko.
"Heeiii Cantik jangan ngambek dong. Iya deh, aku kasih tau deh!!!" kata Niko.
Tabita sedang ngambek, dia tak memperdulikan panggilan Niko.
*****
"Suram amat sih muka kamu Bit? Lagi dapet ya?" tanya Martha begitu Tabita duduk di sebelahnya.
"Lagi kesel aku, bukan lagi dapet," jawab Tabita.
"Lagi kesel karena dapet?" tanya Martha lagi.
"Lagi kesel karena kamu nanya mulu kayak Dora," jawab Tabita.
"Dora sapa yang bikin kamu kesel?" tanya Martha.
Tabita males menjawab pertanyaan Martha yang membuatnya semakin kesal. Dia hanya membuat bibirnya lebih maju beberapa senti.
"Ih, ngambek nih Tuan Putri?" goda Martha.
Tabita tak bergeming, malah semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa tuh Si Bita Mar? Kok bibirnya maju gitu?" tanya Samuel yang baru sampai.
"Dia lagi berkamuflase jadi Yamamura aja kok. Ya kan Bit?" kata Martha sambil tertawa.
"Sapa sih Yamamura?" tanya Samuel.
"Itu lho inspektur polisi dari Gunma, yang di anime Derektif Conan," jawab Martha.
"Oh yang pamannya Suneo di anime Doraemon ya?" kata Samuel.
"He em. Yang bibirnya seksi kayak Tabita sekarang ini tuh," kata Martha sambil tertawa.
Samuel ikut tertawa mendengar candaan Martha. Tetapi Tabita tetap bertahan dengan ekspresinya.
"Waduh parah nih Mar, ngambek beneran tuh Si Bita. Kamu apain sih?" tanya Samuel.
"Gak ku apa-apain kok, datang-datang dia udah manyun gitu," kata Martha tak mau di tuduh.
"Kamu kenapa sih Bit? Kok pagi-pagi udah cemberut? Lagi kangen sama Bang Dion ya?" tanya Samuel.
"Gak kok, ngapain juga kangen sama Bang Dion, kan kemarin baru jalan sama dia. Aku lagi sebel aja sama kamu," kata Tabita.
"Lha kok malah jadi sebel sama aku sih? Kan aku baru datang juga. Kamu juga udah cemberut gitu sebelum aku tiba," kata Samuel protes.
"Ya kan emang teman bisnismu yang bikin aku cemberut," kata Tabita ketus.
"Teman bisnis siapa sih Bit? Yang jelas dong kalau ngomong, jangan sepotong-sepotong gitu!" kata Samuel.
"Itu lho Si Niko, kan bilangnya dia punya bisnis sama kamu. Tapi tiap kutanya dia gak pernah mau ngaku bisnis apa," jelas Tabita.
Samuel dan Martha tertawa mendengar omongan Tabita.
"Tuh kan ngeselin, kalian berdua malah ketawa. Au ahh!!" Tabita kembali manyun.
"Udah deh Sam, kamu kasih tau aja nih Si Tuan Putri biar gak ngambek mulu!!" kata Martha.
"Jadi gini Bit, Si Niko itu naksir sama kamu. Terus dia minta aku sama Martha buat jadi mak comblang. Tapi kami berdua gak mau, makanya sekarang Niko mau usaha sendiri aja. Begitu," kata Samuel.
"Kenapa gak kamu bilang aja aku udah punya pacar sih Sam? Biar gak ribet urusannya. Lagian aku males sama cowok kayak gitu, masa naksir cewek kok gak usaha sendiri," kata Tabita kesal.
"Udah aku bilang kok Tuan Putri, tapi dia tetap gak percaya. Katanya dia baru percaya kalau udah nembak kamu dan kamu tolak karena kamu udah punya pacar," kata Samuel.
"Hadeh, ngerepotin aja sih jadi orang," kata Tabita.
"Udah deh, sekarang jangan kesel! Kan udah dikasih tau juga tuh sama Samuel," kata Martha.
"Iya deh maaf, tadi udah kesel sama kalian," kata Tabita.
"Iya sama-sama, maaf juga tadi udah bikin kamu makin kesel," kata Martha.
Tabita cuma tersenyum pada keduanya.
*****
"Dion, Ririn belum masuk?" tanya Diva.
"Blom," jawab Gideon singkat.
"Emang dia kenapa sih, kok gak masuk sekolahnya lama?" tanya Diva lagi.
"Gak tau," jawab Dion.
"Kan kamu temannya, harusnya kan kamu tau," kata Diva.
Gideon menatap Diva dengan pandangan tak suka. Diva jadi merasa takut menatap Gideon, dia lalu menundukkan kepalanya.
"Harusnya kan kamu yang lebih tau, kamu kan tetangganya. Tiap hari juga kamu nebeng sama dia kan?" tanya Gideon galak.
Diva semakin menundukkan kepalanya, tak berani menatap Gideon yang tampak emosi.
"Maaf yang kemarin ya Yon. Aku gak bermaksud membuat kamu kesel lho," kata Diva.
Gideon tak menjawab, dia masih kesal dengan Diva.
"Mau kan Yon, maafin aku?" tanya Diva hati-hati.
"Iya," jawab Gideon.
"Makasih ya Yon, udah mau maafin aku. Jadi nanti aku boleh bareng kamu lagi?" tanya Diva.
"Gak," jawab Dion singkat.
Diva tak berani bertanya lagi pada Gideon. Diva tau kalau Gideon marah padanya, tapi Diva tak tau apa alasannya. Diva tak merasa punya salah yang menyebabkan Gideon menjadi marah.
*****
Niko berniat menemui Tabita untuk meminta maaf. Bel tanda istirahat ke dua telah berbunyi, Niko bergegas ke kelas Tabita.
"Bit, aku minta maaf ya, karena tadi udah membuat kamu kesal," kata Niko tanpa basa-basi.
"Iya, dimaafkan," kata Tabita singkat.
Niko memandang sekeliling kelas. Kelas Bita sedang sepi, sebagian besar penghuninya pergi ke kantin. Hanya beberapa orang yang memilih tetap di kelas. Itupun dengan kesibukan masing-masing.
"Aku mau kasih tau kamu deh Bit, sebenarnya apa bisnis aku sama Samuel," kata Niko sambil mendudukkan diri di bangku Martha.
Sejenak Tabita mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya.
"Ya udah ngomong aja," kata Tabita kembali menatap novelnya.
"Sebenarnya aku meminta Samuel dan Martha untuk mendekatkan kita, tapi mereka berdua menolak," kata Niko.
"Mendekatkan gimana maksudnya?" tanya Tabita pura-pura tak mengerti.
"Ya membuat kita menjadi lebih akrab gitu lho," kata Niko.
"Bukankah kita tuh udah lama kenal yah Nik? Kenapa kamu butuh bantuan orang lain untuk membuat kita lebih akrab?" tanya Tabita.
"Aku merasa canggung aja kalau cuma ngobrol berdua sama kamu kayak gini. Makanya aku butuh bantuan mereka untuk menjadi perantara kita," kata Niko.
"Emang kenapa kamu mesti canggung? Kan aku juga gak gigit kan?" tanya Tabita.
"Boleh kan aku ngomong jujur ke kamu Bit?" tanya Niko.
"Iya, silakan!" kata Bita.
"Aku tuh sebenarnya suka sama kamu Bit. Makanya aku jadi salah tingkah kalau ada di dekat kamu. Jadi aku minta Martha dan Samuel untuk jadi perantara," kata Niko hati-hati.
"Jadi mak comblang gitu maksudnya?" tanya Tabita.
Niko cuma bisa mengangguk dan menunduk malu. Dia tak berani menatap wajah Tabita.
"Hari gini kamu masih butuh mak comblang? Kenapa sih gak mencoba akrab sendiri," tanya Tabita.
"Aku jadi tak percaya diri tiap ada di dekat kamu Bit," kata Niko.
"Jadi, maksud kamu apa sekarang Nik?" tanya Tabita.
"Maksud aku ya aku mau kamu tau kalau aku tuh suka sama kamu," kata Niko.
"Terus kalau aku udah tau kenapa?" tanya Tabita.
"Ya aku berharap kamu juga suka sama aku," jawab Niko.
"Aku juga suka kok sama kamu. Kamu teman yang baik," kata Tabita.
"Jadi kamu suka aku hanya sebagai teman?" tanya Niko.
"Iya lah, emang sebagai apalagi?" tanya Bita.
"Ya aku berharapnya bukan cuma sebagai teman Bit," kata Niko lirih.
"Terus sebagai apa?" tanya Tabita.
"Ya aku berharap kamu mau jadi pacar aku," kata Niko penuh harap.
"Kalau begitu ya aku gak bisa Nik, aku sudah punya pacar," kata Tabita.
Niko mengangkat wajahnya dan berusaha mencari kebenaran perkataan Tabita dari matanya.
Saat Niko menemukan kebenaran itu, ia menunduk kecewa.
"Jadi benar Bit, kalau kamu udah punya pacar?" tanya Niko.
"Benarlah, apa Samuel gak pernah kasih tau kamu?" tanya Tabita.
"Sebenarnya dia pernah kasih tau sih. Tapi aku tak pernah percaya."
"Jadi sekarang kamu percaya?" tanya Tabita.
"Iya sekarang aku percaya. Aku minta maaf ya Bit, udah nembak kamu."
"Iya gapapa kok. Yang penting sekarang kita udah saling tau. Aku sih maunya kita tetap berteman seperti biasa setelah ini. Aku gak mau kita saling sungkan," kata Bita.
"Iya aku mengerti kok. Kita akan tetap berteman," kata Niko yakin.
Tabita tersenyum mendengar perkataan Niko.