inilah ujian terberat dalam hidupku, Mas Rayhan suamiku yang aku cintai berselingkuh dengan mantan muridnya. Setelah aku tau perselingkuhan itu, Mas Rayhan bilang ia akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Mas Rayhan bohong, ia masih berhubungan dan bahkan malah menghamilinya.
Akankah aku bisa mempertahankan rumah tangga ini atau memilih bercerai?
ig author : wentyoktaria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wenty Oktaria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita itu Hamil?
"Assalamualaikum..." pagi-pagi sekali ada yang datang kerumahku, segera saja kubukakan pintu.
"Waalaikumsalam..."
"Rayhan ada?" Tanya seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan berjenggot tipis yang datang kerumahku.
"Ada, Bapak siapa ya?"
"Saya Candra, Bu. Saya mau ketemu sama Rayhan."
"Silahkan masuk, Pak."
Aku segera memberitahukan mas Rayhan yang berada dikamar. "Mas, ada tamu nyariin kamu."
"Siapa?"
"Candra."
"Hah, Candra?"
"Iya, kok kamu kaget gitu?"
"Terus, kamu bilang apa?"
"Ya aku suruh masuk, itu sekarang lagi nungguin kamu diruang tamu."
"Harusnya kamu bilang aja kalau aku ga ada dirumah."
"Kenapa aku harus bohong?"
Mas Rayhan tidak menjawab, ia berlalu keluar kamar untuk menemui tamunya itu.
Siapa Pak Candra itu? Ada perlu apa dia datang kesini? Nama Candra seperti tidak asing lagi untukku, aku berusaha mengingat-ingat namanya itu.
Ya, aku ingat. Pak Candra pernah meneleponku beberapa hari yang lalu untuk menagih hutangnya kepada Mas Rayhan.
"Mama, aku mau jajan." Syafiq tiba-tiba datang.
"Sebentar ya, nanti kita jajan."
"Aku maunya sekarang, nanti Abangnya keburu pergi."
"Sebentar, Sayang. Kamu keluar dulu sana, nanti Mama susul."
"Emang Mama mau ngapain sih?"
Mama mau mendengar pembicaraan Abimu dengan temannya itu, aku berbicara dalam hati. Andai kamu tau apa yang Mama rasakan, ah kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini.
"Mama mau dikamar dulu, sebentar aja."
"Ayo, Ma. Aku mau jajan sekarang!" Syafiq terus saja merengek. Aku pun menuruti kemauannya.
"Yaa Mama, tukang siomaynya udah pergi. Ayo Ma, cariin kesana!" Anak ini menuntunku mencari tukang siomay yang ia mau beli.
"Yaudah yuk kita pulang aja!"
"Ga mau. Ayo Ma cari kesana!"
Aku dan Syafiq mencari-cari tukang siomay ke gang sebelah.
"Itu dia Ma, Abangnya." Tunjuk Syafiq.
Aku segera memanggil Abang tukang siomay itu dan membelinya.
Aku masih penasaran dengan pembicaraan Mas Rayhan dan Pak Candra, semoga ia masih berada dirumahku, sehingga aku bisa mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Ayo Syafiq, cepet jalannya!" Kataku sambil menuntunnya, setelah selesai membeli siomay.
Begitu sampai didepan rumah, kulihat Candra sudah mau pulang, ia berpamitan dengan Mas Rayhan.
"Dia siapa sih, Mas?" Tanyaku setelah Candra pergi.
"Temen."
"Ada perlu apa kesini?"
"Kamu ga perlu tau." Jawaban yang tak kuharapkan keluar dari mulut Mas Rayhan, lalu ia segera masuk kedalam rumah.
💞💞💞
Aku dan Mas Rayhan masih saling diam. Entah sampai kapan seperti ini. Rasanya tidak sanggup kumenjalani biduk rumah tangga ini. Ingin menyerah tapi lagi-lagi aku ingat janin yang ada didalam rahimku, janin yang bertahun-tahun aku tunggu, janin yang sedang hidup, ia memerlukan kasih sayang kedua orang tuanya yang utuh ketika nanti terlahir kedunia. Aku membuang jauh-jauh semua pikiran itu.
Sepi sekali rumah ini rasanya, hampa. Ada orang tapi seperti tidak ada. Aku rindu keceriaan dan gelak tawamu, Mas. Sampai kapan kita seperti ini?
"Mas, ayo makan malem sama-sama. Syafiq udah nungguin kamu dimeja makan."
"Kamu dan Syafiq makan duluan aja sana!" Mas Rayhan yang duduk disofa ruang tamu, tetap asyik menatap handphonenya.
"Yuk, kita makan berdua aja." Ajakku pada Syafiq.
"Abi ga ikut makan, Ma?"
"Abi makannya nanti, kita makan duluan aja."
Selesai makan malam, aku menemani Syafiq tidur dikamarnya, sampai akupun ikut terlelap.
💞💞💞
Hari ini anak-anak sekolah sudah mulai masuk, pagi-pagi sekali aku sudah menyiapkan sarapan untuk Mas Rayhan dan Syafiq, walau keadaanku masih mual dan muntah-muntah dipagi hari, tetap aku berusaha memasak semampuku.
Mas Rayhan tiba-tiba mengehentikan makannya, "Mas, kok makannya ga habis?"
"Aku buru-buru."
"Mas...." Kukejar ia yg berjalan menuju kamar.
"Apa?"
"Habisin dulu sarapannya!"
"Aku buru-buru, kamu ngerti ga sih?"
"Emang kamu mau kemana sih buru-buru?"
"Ya mau ngajar lah. Kenapa sih kamu? Curiga lagi sama aku?"
Aku tak menjawab, aku hanya memandanginya.
Selesai mengambil tas dan sepatu, ia langsung berangkat.
"Mas..."
Biasanya ia selalu berpamitan, lalu aku selalu mencium tangannya dan ia mencium keningku, namun kali ini ia tidak sama sekali melakukan itu.
Aku mengantar Syafiq kesekolah dengan mengendarai motorku. Sampai disana, aku menunggu sebentar sampai ia masuk kedalam kelas. Lalu aku tinggal pulang kerumah.
💞💞💞
"Eh Lingga, baru keliatan lagi." Sapa Tini, salah satu tetanggaku, begitu motorku berhenti tepat didepan tukang sayur keliling.
"Iya Tin, aku beberapa hari ini lebih sering dirumah." Jawabku sambil memarkirkan motor.
"Eh iya, katanya kemarin itu kamu dan Rayhan berantem ya." Celetuk Rina yang juga sedang memilih-milih sayuran.
Aku hanya tersenyum kecut.
"Orang-orang sini udah rame loh ngomongin kamu, katanya kamu dan suami kamu perang hebat." Lanjut Rina.
"Ah cuma berantem biasa kok." Jawabku sambil memilih-milih sayuran.
"Katanya tuh kamu selalu curiga ya sama suami kamu. Jangan sering-sering dicurigain, nanti kalau selingkuh beneran aja, gimana..." Ucap Tini yang membuatku mulai kesal.
"Emang pada dengar dari mana sih? Siapa yang bilang?" Tanyaku dengan nada sedikit kesal, kutaruh lagu sayuran yang sebelumnya hendak kubeli.
"Siapa lagi kalau bukan mertua kamu."
Jawab Tini melirik kearahku.
Lagi-lagi Ibu yang menceritakan semuanya, keributanku dengan Mas Rayhan malah jadi bahan ghibah mereka. Sabar...sabar... tidak boleh kesal ataupun marah, aku sedang hamil, tidak perlu berlebihan menanggapinya. Bukankah dighibahi itu enak, kita dapat pahala dari mereka yang mengghibahi.
Aku melanjutkan memilih sayur yg hendak kubeli, tak kuhiraukan ucapan-ucapan mereka yang masih saja berbicara tentang rumah tanggaku.
Aku mulai pusing dan mual, tidak boleh berlama-lama diluar sepertinya. Selesai membeli sayuran, aku langsung pulang kerumah.
💞💞💞
Sesampainya dirumah, aku kembali muntah. Lemas sekali rasanya, akupun merebahkan tubuhku keatas kasur.
"Assalamualaikum..." Terdengar suara salam dari luar yang mengagetkanku.
"Waalaikumsalam..." Jawabku sambil bangkit dari tempat tidur.
Setelah kubukakan pintu ternyata yang datang adalah seorang wanita paruh baya, memakai gamis polos berwarna hitam dan kerudung motif berwarna cokelat.
"Maaf Bu, saya boleh masuk?"
"Ada perlu apa ya, Bu?"
"Ini benar rumahnya Rayhan?"
"Iya, benar. Maaf, Ibu siapa?"
"Boleh saya masuk, Bu. Karena ga enak kalau saya ngomong disini."
"Oh iya, Bu. Silahkan masuk."
Siapa ibu ini? Ada perlu apa dia kesini? Kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak.
"Silahkan duduk, Bu."
Kami pun duduk berhadapan, kupandangi wajahnya, namun ia menunduki wajahnya, seperti sedang menahan sesuatu entah itu kesedihan atau apa, akupun tak tahu.
"Ada apa, Bu?" Tanyaku.
"Mbak ini istrinya Rayhan ya?"
"Iya."
"Mbak, anak saya hamil." Ucapnya dengan suara sedikit terisak.
"Hamil? Lalu?"
"Anak saya masih sekolah kelas dua SMA dan saat ini ia sedang hamil."
Aku tidak mengerti apa maksud ibu ini. Anaknya hamil lalu apa urusannya denganku.
"Kok bisa Bu, anak Ibu masih sekolah terus hamil?"
"Iya, yang hamili suami Mbak, Rayhan."
Petir serasa menyambar tubuhku, seketika hatiku luluh lantah, aku diam sesaat.
"Mas Rayhan yang menghamili anak Ibu?" Tanyaku dengan suara terbata.
"Iya, Mbak."
Air mata mulai deras membasahi pipiku mengalir sampai kerudungku ikut basah. Seketika duniaku hancur lebur, jantungku serasa berhenti berdetak mendengar ucapan Ibu dihadapanku ini.
"Anak Ibu namanya siapa?"
"Zidny."
Ternyata benar dugaanku selama ini, Mas Rayhan masih berhubungan dengan wanita itu, bahkan sampai menghamilinya, Mas Rayhan sudah berzina dengan wanita itu.
"Sudah berapa bulan usia kandungan anak Ibu?"
"Sudah tiga bulan."
Hari ini terbongkar perselingkuhan yang kamu tutupi selama ini. Aku tidak menyangka kamu sampai berzina dengan wanita itu, wanita murahan, wanita tak tahu diri, wanita perusak rumah tanggaku, aku benci kamu dan wanita itu.
"Kenapa Ibu ga menjaga anak gadis Ibu baik-baik?"
"Selama ini Ibu sakit-sakitan, suami Ibu udah ga ada. Ibu ga bisa jaga Zidny sepenuhnya, Zidny sering pulang malam, bahkan kadang ga pulang kerumah. Dia nginap dimanapun Ibu ga tau."
"Terus sekarang, maksud Ibu kesini untuk apa?"
"Ibu mau kamu mengizinkan suami kamu untuk menikahi anak Ibu."
Lagi-lagi perkataan Ibu ini menyerang hatiku, hingga hancur dan tak terbentuk lagi hatiku ini. Aku sudah tak sanggup, ini seperti mimpi, berkali-kali kutepuk pipiku. Oh sakit, ini nyata, aku tidak sedang bermimpi.
"Menikah? Tapi saya juga sedang hamil, Bu. Saya ga akan ikhlas suami saya menikah lagi dengan anak Ibu."
"Lalu gimana nasib anak saya, Mbak? Anak saya harus putus sekolah dan nanti melahirkan anak tanpa adanya suami."
"Ibu sekarang pergi! Pergi!" Bentakku sambil berdiri.
"Saya mohon, Mbak. Saya mohon!"
"Pergi, Bu! Saya udah ga mau dengar lagi perkataan Ibu."
"Tolong, Mbak! Kasihan anak saya." Ucapnya sambil menuju keluar.
"Nggak! Saya ga akan rela untuk berbagi suami." Kataku sambil menutup pintu rumahku.
Mas, kamu tega, tega sekali. Kamu bilang, kamu sudah tidak berhubungan dengan Zidny tapi nyatanya wanita itu hamil dan kamu yang telah menghamilinya.
Aku masih duduk dibelakang pintu dan menangis sejadi-jadinya. Semua hancur, hancur seketika. Aku tak menyangka sejauh itu Mas Rayhan berhubungan dengan Zidny, sampai ia menanam benih dirahimnya dan semua itu harus dipertanggungjawabkan olehnya.
ki ga dilanjut
kutunggu kelanjutannya