Aku dicintai oleh kakak laki-lakiku secara tidak wajar. Aku ingin lari tetapi dia selalu bisa menemukan tempatku sembunyi.
{Nama tokoh, author ubah.}
! Cerita ini cuma iseng-iseng aja. Jadi jangan berekspektasi tentang alur dsb !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Cadistira dr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Flashback 2.
Calvin ke dapur dengan melewati meja makan. Di sana sudah ada Ayah dan Ibu serta Carey. "Calvin, kemana saja kau. Cepat duduk dan makan bersama kami," tegur Ayah. "Dan juga Clara. Bawa dia ke sini," tambahnya.
"Tidak ayah. Aku akan makan bersama Clara di kamar," tolak Calvin sambil menyiapkan makanan ke nampan.
"Calvin...." panggil Ayahnya. Dari suaranya yang menekan, dia terdengar berusaha sabar. Calvin mengabaikan. Tidak peduli. Dia melengos pergi sambil membawa nampan berisi makanan. Lalu ibunya menenangkan ayah.
"Sudahlah tidak apa-apa. Biarkan mereka makan berdua. Jarang sekali kan mereka bisa akur," rayu ibunya.
Calvin tak mendengar percakapan mereka lagi setelah naik ke anak tangga teratas. Calvin membuka pintu kamar Clara. Dilihatnya gadis kecil itu duduk melamun di pinggir kasur. Calvin masuk dengan menutup pintunya lagi.
Mereka kemudian duduk bersebelahan. Calvin memangku nampan makanan. Dia memberikan gelas air untuk Clara minum dulu. Clara meneguknya sedikit. Setelahnya, wajahnya langsung disodorkan sendok makanan oleh Calvin.
"Kakak, aku bisa makan sendiri," ujar Clara. Dia merasa aneh. Canggung. Tidak biasa makan disuapi kakaknya.
"Buka mulutmu. Kakak akan menyuapimu sampai kau kenyang," desak Calvin.
Clara menurut. Dia membuka mulutnya dan makanannya pun masuk.
"Bagaimana sekolahmu tadi pagi?" tanya Calvin seperti seorang ibu yang menanyakan hari anaknya di sekolah.
"Aku baik-baik saja di sekolah," jawab Clara. Walau sebenarnya itu bohong.
"Benarkah? Lalu kenapa kau menangis setelah sampai di rumah?" Calvin terus bertanya. Secara tidak langsung dia sedang menginterogasinya secara halus.
"Itu karena Kak Carey mengagetkanku." Clara membela diri.
"Tidak mungkin. Carey sudah biasa mengejutkanmu secara tiba-tiba, tapi kau tidak menangis karena itu. Katakan yang sejujurnya padaku," tuntut Calvin.
Clara tertunduk. Wajahnya jadi murung. Calvin menunggunya bicara. "Ada sekelompok anak yang menjahiliku. Mereka menyembunyikan buku tugasku, lalu aku mendapat hukuman dari guru dengan PR banyak," keluh gadis kecil itu.
"Besok kau tidak akan dijahili mereka lagi. Kau tidak perlu khawatir," ucap Calvin memberikan janji. Membuat wajah Clara terangkat menatapnya.
Calvin memperhatikan bibir kecil Clara. Itu terlihat lucu dan menggemaskan. Bibirnya tipis dan sedikit mengilap karena makanan. Sampai-sampai naluriah Calvin menyentuh dagu mungil itu.
Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis kecil itu. Clara tidak mengerti dan hanya diam saja ketika merasakan basah disudut bibirnya.
Pemuda berusia awal dua puluhan itu telah kehilangan moral....
Calvin menjilat area bibir Clara hingga membuatnya bersih dari jejak makanan. Cara paling gila untuk dilakukan terhadap saudarinya sendiri.
Kewarasan Calvin sudah rusak sejak saat itu.
Sejak saat itu juga sepasang mata menyaksikan mereka berdua. Menonton Calvin menjilat wajah adik perempuannya sendiri. Mata biru yang bulat itu hanya terdiam melongo di depan celah pintu kamar.
Dia adalah Carey.
***
Seperti yang dikatakan Calvin, Clara merasakan secara nyata, teman-temannya kelasnya yang pernah menjahilinya kini menghindarinya .... dengan ketakutan?
Wajah mereka menatap Clara waspada. Setiap kali dia mencoba mengobrol dengan mereka, mereka menjauhinya. Tidak hanya kelompok itu, tetapi hampir satu kelas tidak mau berbicara dengan Clara.
Ini aneh.
Tetapi dia akhirnya bisa melewati hari-hari sekolah dengan tenang dan damai, tanpa ada gangguan dari mereka lagi. Walau pada akhirnya Clara tetap merasa kesepian. Dia tidak memiliki teman di sekolah. Tidak ada yang mau berteman dengannya.
Sehingga yang dia miliki hanya keluarga saja di rumah. Hanya Kak Calvin yang belakangan ini menunjukkan kedekatannya.
Hari minggu itu, Clara melihat kamar kakaknya terbuka sedikit. Dia mengintip ke dalam dan menemukan Calvin sedang tekun belajar. Clara ragu untuk menghampirinya. Dia menggigit bibir bawahnya bingung.
"Masuk lah, Clara...." ujar suara husky Calvin tanpa menoleh. Clara melirik ke depan. Punggung kakaknya masih bergeming di kursi. Setelah itu, dia akhirnya dengan berani melangkah masuk ke kandang singa. Ralat. Ke kamar Kakak Pertama.
"Kakak...." panggil Clara. Sejak kakaknya membuka diri untuk dia, Clara tidak segan lagi untuk berbicara dengannya. Dalam waktu singkat pun jarak mereka terkikis.
"Ya, Clara?" sahut Calvin. Dia melihat ke samping di bawahnya.
"Apa kakak sibuk siang nanti?" tanya Clara.
"Ummm sepertinya tidak, ada apa?" kata Calvin dengan suara lembutnya.
"Bulan depan aku ada ujian renang. Aku tidak bisa berenang. Bolehkah kakak mengajariku berenang?" pinta Clara dengan sorot mata anjingnya yang memelas.
Senyum tipis terbit di bibir Calvin. "Jadi kau ingin diajari berenang siang ini?" tebak Calvin. Ekspresi Clara bersemringah. "Okey, kita akan berenang di kolam belakang," tandas Calvin dengan senang hati.
Maka siang itu Calvin dan Clara berada di kolam renang indoor rumah mereka. Calvin terlihat sedang mengajari Calvin berenang.
Diam-diam Carey memperhatikan mereka berdua dari sudut pintu. Tatapannya mengamati dengan tajam. Dia melihat keceriaan dua saudaranya di kolam renang.
Mereka bersenang-senang tanpa mengajak dirinya. Padahal ini akhir pekan, dia juga tidak kemana-mana. Carey sedikit cemburu dengan perhatian Carlo pada Cecillia.
Carey saat ini berusia lima belas tahun. Dia sudah mulai bisa berpikir lebih maju ke depan. Semakin lama dan sering dia mengamati dua saudaranya tersebut, membuat Carey merasa ganjil pada mereka.
Carey juga ingin mendapat perhatian darinya. Ini membuat dia mengepalkan tangannya kesal.
Suatu hari, Carey menyodorkan setangkai bunga mawar pada Clara di taman rumah. "Ini untukmu!" kata Carey. Clara yang berusia sepuluh tahun itu menatap melongo bunga di tangan Carey.
"Kenapa kakak tiba-tiba memberiku bunga mawar? Aku tidak mau! Pasti kak Carey ingin menjahiliku lagi!" Clara tidak percaya pada Carey semenjak anak lelaki itu hobi mengusilinya dengan benda-benda menggelikan; serangga.
"Tidak ada apapun di bunga ini. Terimalah!" paksa Carey. Clara menggeleng keras. Dia tidak mau terjebak lagi olehnya.
Carey kesal. Dia meraih tangan kecil Clara dan mendorong tangkai mawar itu. Seketika duri mawarnya menusuk jari gadis kecil itu. Darahnya langsung menetes ke rumput. Cecillia memekik kaget. "Aw! Kak Carey!" ringisnya.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Calvin datang. Dia melihat jari si bungsu terluka. "Carey! Kenapa kau melukai adikmu?" marah Calvin. Carey tercengang. Tapi dia hanya diam melihat Calvin menggendong Clara pergi. Rasanya seperti ada kehampaan di dalam hati Carey melihat mereka berdua pergi.
Sementara itu, Calvin mendudukkan Clara ke kursi. Di mengambil plester. Lalu berjongkok di depan lututnya. "Apakah sakit?" tanya Calvin mendongak menatapnya.
Clara menggeleng. Calvin menggenggam tangan kecilnya. Mengamati luka kecil yang masih mengeluarkan darah segar itu. Secara sadar dia membawa telunjuk Clara ke dalam mulutnya. Calvin memejamkan mata. Dia menghisap darah gadis kecil itu dalam kenikmatan yang mendidihkan hasratnya.
Sedangkan Clara menatap aksi kakaknya dengan ekspresi meringis jijik. "K-kakak .... Bukankah itu jorok?"
***