Martini Salsabila Utari.
Dia adalah istri seorang preman terkenal bernama Gres Sandy.
Ini adalah kisahnya dan juga isi diarynya sejak masih di bangku SMP.
Kisah cinta juga persahabatannya yang penuh gejolak rasa serta dilema berwarna.
Kisah perjalanan hidupnya hingga menjadi istri dari seorang preman yang penuh suka serta duka pastinya.
Selamat membaca🙏🙏🙏Semoga tulisan sederhana author amatir ini mendapat kesan di hati para reader🙏🙏🙏
Mohon dukungan like, komen serta votenya jika berkenan🙏🙏🙏 Terimakasih banyak🙏🙏🙏😍😘💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEMBARAN KEDELAPAN
Hai, My Dear Diary... !!!
Mulai malam ini aku tinggal dirumah nenek. Kami menempati kamar lebih kecil ukuran 3x3 meter saja. Hanya ada satu ranjang ukuran sedang. Dan lemari plastik yang kami bawa dari rumah lama.
'Kami', maksudnya itu aku dan mama. Tapiiii... Ternyata 'kami' itu tidak ada. Karena hanya aku saja yang akan tinggal bersama nenek. Mama tidak.
"Mama mau tinggal dimana, ma?" tanyaku dengan suara parau karena menahan isak tangis yang sedari tadi pecah sesaat setelah mendengar mama bilang tidak ikut tinggal bersamaku dan nenek.
"Mama akan kerja dipabrik roti didaerah Kemayoran, Mar! Mama tinggal dimes bareng karyawan lainnya. Kamu yang nurut ya sama 'Amih'! Jangan nakal, jangan ngelawan omongan 'Amih'! Mama kemari sebulan sekali!"
My Dear Diary... Usiaku baru 15 tahun lebih. Aku juga belum mengerti arti kehidupan ini. Tapi kenapa aku seperti sengaja ditinggalkan sendirian oleh kedua orangtuaku?
Nenekku juga sudah tua. Mungkin sekitar 60 tahunan umurnya. Agak cerewet pula! Karena seringnya aku dengar omelan-omelannya meski hanya gerutuan.
Entahlah! Mungkin nenek marah atau kecewa! Entah pada siapa! Pada anaknya mungkin! Atau pada aku, cucunya yang jadi menyusahkannya!
Nenekku punya uang pensiunan, begitu pernah kudengar dari cerita mama. Jadi otomatis beliau tidak terlalu memikirkan biaya hidup sehari-harinya tentu.
Nenek juga biasa dipanggil orang-orang kampung sekitar. Karena nenekku tukang urut badan. Dari balita hingga orang dewasa. Dari wanita sampai pria. Dari yang masih muda juga yang tua. Seringnya orang meminta tolong nenek untuk diurutkan.
My Dear Diary!...
Meski cerewet, tapi nenek terlihat juga menyayangiku. Karena pulang sekolah, aku langsung disuruh makan meski setelah itu disuruh bebenah.
Aku memang tidak terlalu dekat sedari kecil karena nenek seperti juga tak mau mengakrabkan diri padaku sedari dulu. Entahlah, tak tahu mengapa!
"Martiniiiiii... Matiin lampu kamarnyaaaaa! Udah jam 9 malem, buruan tiduuuur!"
My Dear Diary! Itu suara 'Amih', nenekku! Perkataannya tidak suka dibantah. Ia juga tergolong orang yang pelit. Karena seringnya ngomel meski tagihan listrik hanya naik 3 ribu rupiah saja.
"Iya, Amiih!"
Dear... Kita rebahan aja ya dikasur tipis yang bikin badan sakit ini. Tak apa ya, kita curhatan hanya bercahaya lampu batere hape saja! Aku masih ingin menulis kisahku ditubuh polosmu! Hehehe...(nakalnya aku)
Tadi disekolah, sepertinya perang dingin Dudi-Fahmi masih berkelanjutan, Dear!
Fahmi sama sekali tak datang kekelasku mengantar dan menjemput Dudi. Juga di jam istirahatpun tak kulihat batang hidungnya Fahmi masuk kelasku.
Dudi cuek saja sih! Sepertinya hal seperti itu biasa baginya. Padahal Fahmi itu seperti soulmate baginya khan!? I don't know!
"Kapan woy, ngerjain tugas bahasa Inggrisnya?" tanya Dudi tiba-tiba padaku dan Rosita dari meja belakang kami yang telah kosong karena penghuninya sudah terbang keluar kelas, pulang.
"Kunyuk rabies!!!!"
Seperti biasa Rosita kembali latah.
"Lu tuh, monyet pecicilan!" Dudi marah besar mendengar latahan Rosita. Ternyata marahan sama Fahmi bikin hatinya cepat panas dan gampang beringas.
"Sekarang aja deh yuk? Dirumah gue deh! Eh, sohib lu mana, si Fahmi?"
"Mane gue tau!? Ga gue kantongin pastinya! Tanya aja tuh sama si Martini!! Die lebih tau kali'!"
Deg.
Jantungku seakan berhenti berdetak, mendengar omongan Dudi. Seperti menyindirku. Hhhh...
Please Dudi! Tolong jangan lanjutkan ucapan perkataanmu!! Aku takut Rosita kecewa padaku, lalu illfeel dan tak lagi mau berteman padaku.
Alhamdulillah! Dudi tak lanjut bicara. Rosita juga seperti tak peduli.
Rosita seperti sibuk dengan ponselnya. Mengechat Fahmi!!!
"Apa sih luuu...? Mo belajar kelompok kek,.. mo belajar mojok kek! Ga da urusan sama gue!" tiba-tiba yang di chat sudah berdiri dibelakangku. Langsung nge-gas menyerang Rosita dengan amarahnya.
Wajah Fahmi merah, basah keringat pula. Ternyata dia sudah setengah putaran bermain basket dilapangan sekolah.
Rosita hanya tersenyum meledek.
"Lu penanggung jawab si Dudi! Kudu hadir n' dampingin anak lu, ikut kerumah gue! Hehehe...peace..!!
Hahaha... Beneran deh Dear! Si Rosita bisa banget sih modusnya.
Aku salut kasih jempol dua, kalo perlu jempol empat deh untuk Rosita! Karena Rosita keren!
"Naik apa kita kerumah kamu, Ros?" tanyaku setelah itu.
"Ya elaaah! Biasanya juga naek bis! Emang lu mau gue anterin naek babybemo? Limojeruk? Hadeeeuh...! Ayok...!!"
Aku hanya tersenyum malu. Melirik sekilas kearah Dudi dan Fahmi yang mengekor meskipun tenggelam dalam lamunannya masing-masing.
Hehehe.... Lama-lama pasti mereka baikan! Yakin deh! Karena seperkian detik kulihat Fahmi menyodorkan sebungkus permen karet pada Dudi yang langsung menariknya dari tangan Fahmi.
Syukur deh!
Kami belajar dirumah Rosita dibilangan jalan Kartini 5. Rumah Rosita begitu rapi dan bersih. Ternyata dia anak bungsu dari 4 bersaudara perempuan semua. Sudah pasti rumahnya terlihat manis dan asri. Karena perawatannya yang maksimal dari kakak-kakaknya tentunya.
Fahmi terlihat duduk menyendiri. Asik dengan kesibukannya bermain game dipojokan teras rumah Rosita.
Sungguh, Dear... Aku bersyukur, baik Fahmi maupun Dudi, tak ada yang membahas tentang aku dan Fahmi yang semalam.
Bahkan Fahmi terlihat cuek padaku terkesan malas menegurku duluan. Entah sengaja berbuat seperti itu agar Rosita tidak mengetahuinya. Entah!
Tapi yang jelas, meski terlihat kaku, tapi aku nyaman dengan keadaan seperti saat ini.
My Dear Diary!
Fikiranku kembali teringat pada tingkah polah Fahmi yang manis dimalam tadi. Usapannya dianak poni rambutku! Belaiannya didahiku! Aku tiba-tiba nge-blank tak ingat apa yang saat ini sedang kubicarakan pada Dudi dan Rosita.
"Wooy, cewek bar-bar!!! Ngelamun mulu luuuu...!!! Mikirin apaan sih? Jangan-jangan lu mikirin sape yang bayar baso semalem ye?"
Bug!!!
Aku melempar bantal kecil kemuka Dudi. Maaf, Dudiiiii!!!! Pleaseeeee, jangan bahas ituuuuu!!!! Tolooooong!!! Kumohon Dudiiiii!!!
"Dari tadi ngomong lu kagak jelas beud deh, Dud!! Fahmiiiiiii... ni anak lu niiiih, kerjanya ngerusuh muluuuuu!!!!" Aku bersyukur Rosita tak membahas lebih jauh. Rosita hanya ingin perhatian Fahmi. Bukan Dudi.
"Ape siiii...! Sejak kapan gue punya anak? Model buntelan kentut gitu lagi?!? Hadeeuh... Gue ada disini juga udah merupakan musibah buat gue, Ros!"
Aku sedih dengar perkataan Fahmi. Ternyata, kedekatan kami juga diartikan 'musibah' olehnya ya, Dear...
"Lagian siape juga yang mau dijadiin anak die juga! Masih mendingan jadi anak bapa gua kemana-mana, deh!"
Aku menatap tajam Dudi, Dear! Dan Alhamdulillah berhasil! Dudi tersenyum seraya mengangkat dua jarinya membentuk arti perdamaian denganku.
Hehehe....! Uuuffffh.. Capek juga ya, melerai Dudi dan Fahmi untuk tidak saling 'bantai' kata-kata.
Akhirnya tugas kelompok pelajaran Bahasa Indonesia berhasil kami tuntaskan setelah mengorbankan 4 jam diskusi kami yang tak jelas puguh juntrungannya.
My Dear Diary! Udahan dulu yaaa... Mataku riyep-riyep lihat tulisanku sendiri. Mungkin karena sudah mengantuk juga, atau memang sudah tuntas kata-kata dan unek-unekku terlontarkan.
Berkat kamu, My Dear Diary! Thanks again untuk semuanya My Dear! Hanya kamulah sahabat sejatiku! Hanya kamu yang mau menampung keluh kesahku.
Love you, forever, My Dear Diary ku sayang!
-Martina Salsabila Utari-
-Bersambung-