Sekuel novel pertama MY ACCIDENT DESTINY..
Kisah kali ini berpusat pada kehidupan dan perjalanan cinta si Badboy JACOB setelah cinta pertama nya bertepuk sebelah tangan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElizabethMelyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BACK TO START
Part 12 " Back To Start "
Tuk tuk tuk
Malam hari Jasmin memutuskan untuk menginap si apartmen studio teman baiknya yang bernama Sita sampai ia bisa mendapatkan pekerjaan.
Mereka berteman baik semenjak SMA, namum Sita memiliki nasib yang lebih baik daripada Jasmin.
Ia saat ini melanjutkan pendidikan di Universitas dan masuk ke semester 5, ia juga sempat bekerja part time menjaga toko buku bersama Jasmin selama kurang lebih 1 tahun dan memutuskan resign karena jadwal kuliah yang semakin padat.
Sita membuka kan pintu untuk Jasmin, dan sangat terkejut melihat teman baiknya yang ber minggu minggu tanpa kabar muncul di hadapannya.
" Jasmin. " Sahut Sita gembira.
" Sitaaa.. " Teriak Jasmin terharu dan menangis di pelukan Sita.
Sita mengetahui kondisi Jasmin yang kesulitan hidup dengan ibu dan kakak tirinya di rumah. Ia dengan senang hati mempersilahkan Jasmin menginap untuk sementara waktu.
Setelah masuk ke apartmen, dengan leluasa Jasmin berbagi cerita dengan Sita tentang semua yang terjadi saat ia di culik dan di bawa ke Singapura, namun tentu saja ia melewatkan cerita tentang malam panas yang hanya diketahui oleh dirinya dan Jacob.
" Jadi, kamu dijadikan jaminan oleh ibu mu? " Sahut Sita yang ikut jengkel mendengarnya.
" Begitulah.. aku berniat membantu Luna, tapi malah aku yang di bawa. " Jawab Jasmin lesu jika mengingat kejadian mengerikan itu.
" Benar benar keterlaluan. Lalu.. bagaimana dengan si pangeran itu... " Tanya Sita penasaran.
" Jacob?? Yah begitulaahh.. hubungan kami hanya kebetulan. Kami sudah saling berpamitan. " Jawab Jasmin makin lesu.
" Seharusnya kamu pertahankan dong. Masa depan cerah itu. " Goda Sita sambil mencolek colek Jasmin.
" Kami.. tidak akan cocok. Dunia ku dengan nya jauh berbeda. Lagipula, dia jauh lebih tua dariku. " Gumam Jasmin menjawab rasa penasaran Sita.
" Heeiiii.. usia hanya angka. Yang penting kan hatinya. " Sahut Sita semakin menggoda temannya.
" Jangan bahas dia lagi. Aku harus fokus mendapatkan pekerjaan, mencari tempat tinggal dan memulai semuanya kembali. " Kata Jasmin antusias menyemangati diri sendiri.
" Tidak usah terburu buru. Aku ga keberatan kok, kalau kamu tinggal disini. " Jawab Sita sangat baik.
Dan mereka pun terus menghabiskan waktu dengan obrolan obrolan ringan, namun belum bisa mengalihkan pikiran Jasmin yang masih terbayang bayang sosok Jacob.
Berbeda dengan Jasmin yang menumpang di apartmen Sita, kehidupan mewah tetap dinikmati Jacob.
Dengan santai ia merebahkan dirinya di sofa dalam penthouse yang sudah ber bulan bulan ia tinggal karena perjalanan bisnis.
Entah mengapa tiba tiba suasana hatinya terasa hampa, seperti ada yang hilang.
" its oke Jack.. life must go on. " Gumam Jacob menghibur dirinya sendiri.
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu..
Hari terus berganti, kehidupan terus berlanjut..
Jasmin masih berjuang mencari pekerjaan yang begitu sulit ia dapatkan dengan mengandalkan ijasah SMA saja.
Ia berjalan dengan lesu sambil memegang map berisi surat lamaran di tangan kanannya.
Pandangannya selalu tertarik setiap melewati gedung kursus yang banyak di datangi muda mudi yang keluar masuk dengan riang.
Namun harapan Jasmin masih harus terkubur dalam dalam. Saat ini ia hanya ingin mendapatkan pekerjaan untuk biaya hidup.
Dalam perjalanan, Jasmin memutuskan untuk mampir ke rumah nya bersama ibu dan kakak tiri. Ia berniat mengambil beberapa barang dan pakaian yang tertinggal disana.
Langkah kakinya begitu berat, namun apa daya.. pakaian nya mulai menipis dan ia membutuhkan beberapa pakaian formal untuk melamar pekerjaan.
" Jasmin?? " Sahut Luna sangat terkejut melihat keberadaan Jasmin yang sudah di ambang pintu rumah.
" Gimana.. kamu bisa ada disini?? " Tanya ibu tiri Jasmin tergagap.
" Kenapa?? Kalian pasti berpikir aku sudah mati ya. " Sindir Jasmin yang tidak bisa melupakan perlakuan mereka.
" Mau apa lagi kamu kesini? Sana.. Jangan biarkan preman preman itu datang lagi. " Bentak Luna sambil mendorong Jasmin.
" Tenang saja. Aku sudah bebas. Ketika kalian membuangku, orang lain menyelamatkan ku. " Jawab Jasmin dengan tatapan sinis.
" Benarkah?? Baguslah.. Lagipula, yang berhutang kan ayahmu.. jadi ya seharusnya memang kamu yang menanggung akibatnya. " Kata Ibu tiri Jasmin tidak merasa bersalah sama sekali.
" Apa belum ada kabar dari papa?? " Tanya Jasmin yang mengkhawatirkan ayahnya.
" Beberapa hari lalu dia pulang untuk makan malam bersama kami. Lalu berangkat bekerja lagi. " Jawab Luna dengan santai.
" Benarkah?? Apa papa tidak mencariku? " Tanya Jasmin berharap karena merindukan ayahnya.
" Yaahh... mau bagaimana lagi, dia tidak punya uang untuk membayar hutang. Mau tidak mau, ya memang kamu harus berkorban demi keluarga. " Sahut ibu tiri Jasmin sangat jahat.
Air mata kesedihan tak kuasa dibendung oleh gadis malang itu. Namun ia mencoba mengikhlaskan perlakuan tidak adil ini, dan yang lebih membuatnya sakit hati adalah.. ayah yang menjadi keluarga satu satu baginya juga mulai melupakan Jasmin.
" Aku.. ingin mengambil beberapa barang ku. " Kata Jasmin ingin segera menyelesaikan urusannya di rumah itu.
" Memang kamu punya tempat tinggal? " Hina Luna.
" Aku tinggal bersama temanku. " Jawab Jasmin secukupnya sambil mulai mengemas barang miliknya.
" Baguslah, tidak perlu merepotkan kami. Gara gara kebodohan ayahmu, semua jadi sulit. Kalau kamu kembali hidup disini, akan menambah beban saja. " Lagi dan lagi perkataan jahat menghujani Jasmin.
Beberapa saat setelah selesai berkemas, Jasmin membawa koper yang berisi barang miliknya dan berjalan pulang ke arah apartmen.
Tiap langkah Jasmin di iringi dengan isak tangisnya yang menyesakkan bahkan sampai menarik perhatian beberapa orang yang lalu lalang di jalan.
Namun seakan berada dalam lembah kesedihannya sendiri, Jasmin tidak mempedulikan orang lain yang menggunjingkannya.
Ia berusaha tidak menangis, tapi tidak bisa. Setelah apa yang terjadi kepadanya, ia hanya ingin sedikit ruang agar ia bisa besandar dan bernafas.
" hiks.. hiks.. hiks.. " Isak tangis Jasmin mengiringi perjalanan pulangnya.
Sejak ia kembali, semua menjadi semakin buruk..
Hidup menumpang..
Menjadi pengangguran..
Dan kehilangan kehangatan seorang ayah, satu satunya keluarga yang ia miliki.
Dan yang semakin anehnya, entah mengapa tiba tiba bayangam Jacob yang sempat mengisi kesehariannya terbesit dalam ingatan.
Ketika ia berada di titik terendah dalam hidupnya, mengapa ia malah mengingat Jacob.. yang jelas jelas tidak ada hubungan lagi dengan nya.
Tanpa Jasmin sadari, lelaki se brutal Jacob diam diam dan sedikit demi sedikit mulai mengisi relung hatinya.
Sekeras apapun wanita itu ingin menolak kehadiran bayangan Jacob, namun tetap saja tidak berhasil.
" Tidak.. tidak.. aku memikirkan Jacob, karena aku sedang sedih. Dia banyak menolong ku, sampai sampai membuatku bergantung padanya.. Sadarkan dirimu Jasmin.. Jangan bodoh, seseorang seperti mu tidak akan bisa bertemu lagi dengan Jacob. " Gumam Jasmin mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak menyukai Jacob.
selalu suka karyamu