Berlatar belakang Korea!
Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!
Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!
Terima kasih.
Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Sena melirik jam warna abu yang menggantung di dinding kantor. Jam telah menunjukkan pukul 18.00 sore. Tanpa mempedulikan sekitar, ia mulai berkemas dan meninggalkan kantor.
Sena berjalan melewati trotoar yang biasa ia lewati setiap harinya. Di sana ia melihat nenek penjual lobak sedang berjualan bersama cucunya lagi. Sena menghampirinya untuk kesekian kalinya.
"Nenek," sapa Sena, membuat nenek itu mendongak dan tersenyum.
"Nona, kau lagi. Ini ketiga kalinya kita bertemu. Apa kau mau membeli lobak lagi?" tanya Nenek itu.
Sena mengangguk. "Iya. Aku mau membeli lobak."
"Tapi lobak nenek hari ini sisa sedikit. Cuma ada 3 saja," jawab nenek itu.
"Tidak apa-apa. Tolong bungkus ya, Nek." Sena menatap nenek itu, kemudian beralih menatap cucunya yang sibuk memegangi kertas brosur. Tidak jelas brosur apa itu.
"Adik kecil, kau sedang pegang apa itu? Boleh kakak pinjam sebentar?" Sena bertanya seraya mengulurkan tangan ke arah anak itu.
Tak lama, brosur itu pun sudah sampai di tangan Sena. Ia membacanya dengan teliti sembari mengerutkan alis.
"Grup relawan membantu sesama," gumamnya.
"Nona, ini lobaknya 3 buah. Karena kau sudah sering beli di sini, kali ini kau cukup membayar 2000 won saja," ujar nenek itu memberi potongan harga.
"Terima kasih ya, Nek. Ini uangnya." Sena menyerahkan uang kepada nenek itu, lalu mata coklatnya menatap ke arah cucunya.
"Adik kecil, brosur ini kakak bawa dulu boleh?" tanya Sena, dan anak itu seketika mengangguk. Sebagai gantinya, Sena memberikan anak itu permen yang diambilnya dari dalam tasnya.
Pukul 18.50 malam. Sena turun dari bus lalu berjalan menuju apartemen. Ia tiba-tiba terkejut ketika melihat tong sampah warna warni yang baru saja dipasang di depan apartemennya.
"Kapan tong ini dipasang? Biasanya tidak ada," ucapnya, lalu lanjut berjalan.
Sampai kamar, Sena langsung menempel brosur yang ia bawa itu ke dinding kamarnya. Brosur relawan membantu orang-orang tua.
"Jika nanti ada kesempatan, aku ingin bergabung dalam grup relawan ini," gumamnya seraya tersenyum.
Lalu, Sena melangkahkan kakinya mandi menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
***
Pagi ini, cahaya musim panas yang terang sudah masuk ke dalam jendela apartemen. Pintu berderit terbuka di kamar Sena, menandakan seseorang masuk ke dalamnya. Hyemi melipat tangan di dada seraya menggelengkan kepala di ambang pintu.
"Sena, bangun! Sudah siang. Kita harus berangkat ke kantor," seru Hyemi membangunkan Sena yang masih tertidur.
"Jam berapa sekarang?" jawab Sena yang masih memejamkan matanya.
"Sekarang sudah jam 08.30 pagi."
"Apa?" Sena tiba-tiba bangun dan membuka matanya.
"Kau masih punya waktu 30 menit untuk mandi dan berangkat ke kantor. Aku mau berangkat duluan. Aku tidak mau terlambat, bye," Hyemi tersenyum seraya buru-buru pergi.
Hari ini, Sena terlambat lagi datang ke kantor. Ia berjalan mengendap-endap dan berusaha tidak ketahuan atasan. Pikirnya, ia harus sampai di meja kerjanya terlebih dahulu, untuk urusan absen jam masuk itu belakangan.
Sontak Sena tertegun ketika matanya menangkap 2 orang sedang mengobrol di ujung koridor, Juhan dan Hayoon. Sena langsung memutar bola matanya malas melihat wanita itu. Tapi karena ada Juhan di sana, Sena menjadi penasaran apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
Tak lama kemudian, suara mereka mulai terdengar.
"Juhan oppa, bolehkah mulai hari ini aku memanggilmu dengan sebutan nama biasa saja? 'Juhan'. Aku ingin lebih dekat denganmu," ucap Hayoon disertai senyuman.
Juhan tampak sedang berpikir. "Hmm, sebenarnya aku tidak pernah mempermasalahkan nama. Siapa pun boleh memanggilku dengan sebutan nama."
"Sungguh? Aku senang sekali. Walaupun aku lebih muda darimu 2 tahun, tapi aku merasa kita sama." Hayoon tersenyum girang. "Juhan, apakah kau masih menyukaiku? Bagaimana kalau kita mulai berkencan? Aku ingin menjalin hubungan dekat denganmu."
Juhan tak langsung menjawab. Ia terdiam dan tak bersuara sedikit pun. Tetapi Hayoon melangkah mendekat dan langsung memeluknya. Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada Juhan.
Sena menganga dan membulatkan matanya saat menyaksikan mereka berdua. Entah kenapa hatinya terasa sakit saat melihat mereka bersama.
Tiba-tiba mata Juhan melirik ke arah Sena.
Dengan cepat, Sena langsung membalikkan badannya. Ia refleks membuka pintu yang ada di dekatnya, lalu masuk ke dalam. Entah ruangan apa itu ia juga tidak tahu, asal masuk saja. Sena menutup pintu dan berdiri di baliknya. Mata coklatnya melihat sekeliling ruangan yang ternyata adalah gudang kecil tempat penyimpanan barang. Banyak rak kayu berjejeran di sana.
Perlahan, Sena mulai melangkah ke tengah. Namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh deritan pintu yang terbuka secara mendadak.
Juhan masuk dan langsung menutup pintu. Tatapannya tajam mengarah pada Sena. CEO tampan itu melangkah maju dan Sena pun melangkah mundur. Sena tidak bisa mundur lagi saat punggungnya menabrak rak kayu di belakangnya.
Juhan berhenti sangat dekat di depan Sena. "Apa yang kau lakukan di sini? Hobi mengintip dan menguping?"
"Ti-tidak. Aku masuk ke sini karena ingin melihat-lihat," alibi Sena yang langsung diketahui oleh Juhan.
"Aku tahu kau hari ini terlambat masuk ke kantor. Dan aku tanya sekali lagi, mengapa kau ada di sini dan menguping pembicaraan? Jika kau tidak mengatakan alasan yang tepat, aku akan menghukum-mu," ancam Juhan.
"Apakah menurutmu Hayoon cantik?" tanya Sena ingin tahu pikiran Juhan.
"Pertanyaan macam apa itu? Apakah pertanyaan itu perlu dijawab?" Juhan menatap Sena datar.
"Apakah kau.. masih menyukai Hayoon?" Sena bertanya pelan seraya menatap wajah Juhan. Raut kekhawatiran terukir jelas di wajah wanita itu.
Juhan tersenyum dan menarik dagu Sena. "Jika aku masih menyukainya, apakah kau akan berhenti menggodaku?"
Sena sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Juhan kepadanya. Mata Sena melebar dan ekspresinya kaku. Entah kenapa hatinya merasa tidak senang mendengar kata-kata itu. Dengan wajah cemberut, Sena menepis tangan Juhan yang masih menyentuhnya. Kemudian, ia berlari keluar meninggalkan tempat itu.
Juhan melirik ke arah Sena pergi. Ia tersenyum, Juhan tahu Sena sedang dalam mode cemburu.
Di ruang marketing, Hyemi sedang sibuk di meja kerjanya. Dan tak lama, Doyun masuk ke dalam ruangan sambil melirik ke arah Hyemi. Pria itu tersenyum, berusaha untuk tidak menganggu.
"Ah, rasanya haus sekali," gumam Hyemi. Ia bangkit dari duduknya lalu pergi mengambil minum. Matanya beralih menatap meja kerja Doyun dan mendapati pria itu tengah duduk santai di sana.
Hyemi berpikir sejenak, lalu melangkah menghampiri pria itu. "Ketua, sudah lama datang?"
Doyun langsung menggeleng. "Tidak. Aku baru saja datang."
"Kenapa aku tak melihatmu, ya."
"Itu karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu," ucap Doyun seraya tersenyum.
Hyemi ikut tersenyum. "Aku tidak menyadarinya. Oh ya, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Boleh."
"Apakah ketua sudah punya pacar?" tanya Hyemi ingin tahu.
Doyun terdiam. Ia sama sekali tidak menjawab.
"Kenapa ketua diam? Apakah ketua keberatan dengan pertanyaanku?" Hyemi bertanya dengan guratan bingung.
"Bukan, bukan itu. Aku akan menjawabnya. Aku tidak punya pacar," jawab Doyun.
"Benarkah?" Hyemi memastikan.
"Iya," jawab Doyun, membuat Hyemi tersenyum.
Pukul 14.00 siang. Suara ketukan pintu terdengar keras di depan ruangan CEO. Tidak lama setelah itu, pintu terbuka dan Nam il-sung masuk ke dalam ruangan. Pria 60 tahun itu duduk di sofa sembari memperlihatkan wajah kakunya yang terlihat garang.
"Juhan, aku ingin bicara denganmu," ucapnya terlihat serius.
"Paman," Juhan terkejut melihat pria itu masuk ruangannya. Jarang sekali dia masuk ke ruangan CEO, kecuali ada maksud tertentu.
Juhan menghampiri Nam il-sung duduk di sofa. "Ada apa, Paman?"
"Putriku Hayoon bilang padaku kalau dia ingin bekerja di Lacoza dan ingin menjadi sekretarismu. Bagaimana menurutmu? Ini ide yang bagus, kan? Lagi pula, kau juga tidak punya sekretaris," ujar Nam il-sung dengan suara deep voice-nya.
"Paman, bukan aku tidak punya sekretaris, tapi aku memang tidak mau memiliki sekretaris. Paman juga sudah tahu alasannya," ucap Juhan mengingatkan kembali kalau dia memang tidak ingin mempunyai sekretaris.
"Apa ini karena kejadian yang menimpa orangtuamu 2 tahun yang lalu?" tanya il-sung.
Juhan mengangguk. "Benar."
"Kalau begitu kau carikan posisi lain untuk Hayoon, bagaimana? Kelihatannya putriku sudah mulai menyukaimu. Dia masuk ke Lacoza karena ingin dekat denganmu," ucap Nam il-sung.
"Paman, sebenarnya aku bisa saja memasukkan Hayoon ke Lacoza. Tetapi aku tidak mau memutuskan itu sendiri. Aku perlu bicara dulu dengan Jinsu karena selama ini dia-lah yang mengurus karyawan baru. Aku juga ingin menghargai dia selaku orang lama di Lacoza," jawab Juhan pelan namun tegas.
"Juhan, ingat, aku juga orang lama di Lacoza. Ayahmu dan aku adalah teman baik. Aku juga banyak memegang saham di Lacoza. Aku harap kau bijak dalam mengambil keputusan. Aku tunggu jawabanmu sampai nanti malam." Nam il-sung menatap Juhan tajam, lalu meninggalkan ruangan.
Selepas Nam il-sung pergi, Jinsu membuka pintu dan berdiri di ambang pintu. Tepat sebelum ia masuk, matanya sempat menangkap ekspesi Juhan yang terlihat bingung. Jinsu menyakini pasti ada sesuatu yang terjadi pada CEO tampan itu. Tanpa berpikir panjang, Jinsu langsung mendudukkan tubuhnya di sofa di hadapan Juhan.
"Juhan," Jinsu menyapa.
"Hmm," jawab Juhan dengan dehaman lirih.
"Apa ada masalah? Aku ke sini ingin melaporkan dokumen," ucap Jinsu seraya meletakkan sebuah dokumen di meja.
"Jinsu kebetulan aku ingin bicara denganmu."
"Ya, bicaralah."
"Paman il-sung memintaku agar Hayoon bekerja di Lacoza. Bagaimana menurutmu? Apakah ada posisi kosong untuknya?" tanya Juhan.
"Hm, Hayoon?" Jinsu terdiam sejenak. "Sepertinya perusahaan kita sudah tidak membutuhkan karyawan lagi."
Juhan menghela napas. Ia menatap Jinsu serius. "Paman il-sung memaksaku untuk memasukkan Hayoon ke Lacoza. Jujur saja aku juga bingung."
"Sebelum aku menjawab. Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" tanya Jinsu sembari menatap Juhan.
"Iya, apa?"
"Apakah kau masih menyukai Hayoon?" pertanyaan Jinsu berhasil membuat Juhan terkejut.
Juhan menghela napasnya pelan. "Kenapa hari ini banyak sekali aku mendengar pertanyaan itu. Jujur saja, dulu aku memang menyukainya, tetapi kini sedikit demi sedikit perasaanku mulai berubah."
"Bagaimana jika Hayoon saat ini menyukaimu? Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan kembali menyukainya?" Jinsu mencecar Juhan dengan pertanyaan beruntun.
"Jinsu, tolong jangan bicarakan hal ini. Aku sedang tidak ingin membahasnya. By the way, masalah Hayoon aku serahkan padamu. Aku lelah, aku ingin istirahat sebentar." Juhan menyandarkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan mata.
"Oke, aku akan mengaturnya. Oh ya, jangan lupa nanti malam ada hwesik." Jinsu tersenyum, lalu beranjak dari sofa dan pergi.
Sudah 15 menit Sena melamun di meja kerjanya. Wanita itu terlihat sedang tidak enak hati dan badmood. Ia terus memainkan pulpen di tangannya tanpa melakukan sesuatu. Tanpa Sena sadari, Bora mendekatinya dari belakang.
"Sena!" Bora menepuk pundak Sena dan mengaggetkan.
"Bora, kau membuatku kaget saja." Sena mengomel karena suasana hatinya tidak baik.
"Kau kenapa? Lagi ada masalah, ya?"
"Iya, benar. Tidak tahu kenapa, hari ini aku merasa sedih," jawab Sena lesu.
"Apa kau ada masalah dengan pacarmu?"
Sena menggeleng. "Aku belum punya pacar."
"Ehm, kalau begitu jangan sedih. Nanti malam kita ada hwesik. Kita makan-makan bersama. Lupakan kesedihanmu," ucap Bora memberi semangat.
Sena tersenyum. "Oke."
Pukul 18.00 sore. Sena dan Bora masuk ke dalam mobil kantor untuk pergi hwesik bersama. Setelah 15 menit perjalanan, mobil tiba di parkiran luas restoran daging panggang lesehan dengan ruangan yang luas.
Restoran itu sudah di booking oleh Lacoza.
Sena masuk ke dalam restoran dan melihat Hyemi tengah duduk bersama dengan Doyun. Hyemi melambaikan tangan, pertanda kalau wanita itu ingin Sena duduk di dekatnya.
"Bora, ayo kita duduk di sana," ajak Sena seraya menunjuk meja Hyemi, membuat Bora mengangguk dan mengikutinya.
"Hyemi, Doyun-ssi, kalian tadi berangkat bersama? Sudah lama datang?" sapa Sena basa basi.
"Iya, aku dan Hyemi berangkat bersama. Kami juga baru saja sampai," jawab Doyun tersenyum.
"Hai, kenalkan namaku Ahn Bora asisten manajer," ujar Bora seraya menyalami Hyemi dan Doyun.
"Aku Hyemi, teman Sena. Salam kenal," balas Hyemi.
"Aku dan Bora sudah kenal. Jadi tak perlu kenalan lagi," sahut Doyun seraya tersenyum.
"Baguslah. Sekarang pada kenal," ucap Sena menimpali.
Tak lama kemudian, makanan datang dan semuanya tersaji di meja. Hyemi menuangkan minuman ke beberapa gelas untuk bersulang bersama.
Sementara itu, dua botol soju kosong berdiri tegak di depan meja Juhan. Rupanya, CEO tampan itu diam-diam juga sudah minum banyak.
"Juhan, kenapa kau minum banyak hari ini? Jangan banyak minum nanti kau tidak bisa menyetir," ujar Jinsu memperingatkan.
"Tidak masalah. Aku nanti mau pakai supir," jawab Juhan santai.
Jinsu menggelengkan kepala. "Ya, sudah. Terserah kau saja."
Sena dan teman-temannya sedang makan bersama sambil minum soju. Menambah keakraban diantara mereka satu sama lain.
"Sena, kau minum banyak sekali hari ini. Sudah jangan minum lagi. Kepalaku sudah pusing sepertinya aku mau pulang duluan," ucap Hyemi dengan suara seraknya.
Sena manggut-manggut, lalu menumpu dagunya dengan tangan di meja.
Doyun memeluk Hyemi seraya menatap Bora dan Sena. "Kelihatannya Hyemi sudah mabuk. Aku pamit mau pulang duluan."
"Iya, silakan," jawab Bora karena hanya dia-lah satu-satunya orang yang sadar dan tidak mabuk.
Sepuluh menit setelah kepergian Doyun dan Hyemi, Bora menepuk punggung Sena pelan.
"Sena, aku mau pulang. Kau tidak pulang? Sebentar lagi mobil kantor mau pergi," ujar Bora khawatir, tetapi Sena malah menggelengkan kepala dan tidak mau beranjak pergi dari tempatnya.
"Aku mau di sini sebentar. Kau pulang duluan saja," jawab Sena pelan hampir tak terdengar.
"Nanti kau pulang naik apa?" tanya Bora lagi.
"Tak-si."
"Kau yakin?" Bora diam sejenak lalu lanjut bicara. "Ya, sudah. Hati-hati, ya. Aku pulang duluan." Bora beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Sena sendirian.
Satu per satu orang mulai meninggalkan restoran. Kini hanya tersisa Jinsu dan Juhan yang berada di meja.
Jinsu melihat jam tangannya. "Sudah jam 10 malam. Juhan, ayo pulang! Aku sudah memanggil supir untukmu."
Juhan mengangguk. Mereka bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kaki menuju keluar. Namun, Jinsu dikejutkan oleh Sena yang memejamkan mata di meja.
"Juhan, tunggu sebentar!"
"Ada apa?" tanya Juhan yang sedikit tidak sadar karena mabuk.
Jinsu mendekati Sena. "Sena, kenapa kau belum pulang?"
Sena hanya menggelengkan kepala dan tidak menjawab.
"Ayo, aku bantu." Jinsu memapah Sena keluar restoran.
Ketika sampai di depan restoran, Jinsu melihat mobil Juhan hendak melaju pergi. Dengan cepat, Jinsu segera menghentikannya.
"JUHAN!" teriak Jinsu kencang, dan mobil itu pun berhenti.
Juhan membuka kaca mobilnya. "Ada apa?"
"Kau bisa antarkan Sena pulang? Dia mabuk berat," pinta Jinsu.
"Naikkan taksi saja. Aku juga mabuk, kepalaku pusing," jawab Juhan menolak.
"Tidak baik wanita mabuk naik taksi malam-malam sendirian. Itu sangat berbahaya. Ayolah, Juhan! Biarkan dia numpang mobilmu dan antarkan dia pulang," pinta Jinsu yang kedua kalinya.
Juhan terdiam dan memejamkan mata sejenak. "Ya, sudah," jawabnya setuju.
Jinsu langsung menaikkan Sena ke dalam mobil bagian belakang dan duduk bersama Juhan.
Di dalam perjalanan, mereka berdua sama-sama terdiam. Sena yang sedari tadi memejamkan mata kini perlahan mulai membuka matanya.
Sena menengok ke arah Juhan. "CEO Park Juhan?"
"Hmm," jawab Juhan dengan dehaman lembut.
Belum tersadar benar, Sena pelan-pelan mulai mengumpulkan nyawa lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Juhan.
"Sena, jangan sandarkan kepalamu di pundakku," ucap Juhan.
"Tidak mau."
Juhan yang sedari tadi memejamkan mata, kini membuka matanya. "Aku ulangi sekali lagi. Tolong jangan menyandar di pundakku."
Sena tidak mendengarkan Juhan dan tetap bersandar di pundaknya.
Dengan kesal, Juhan langsung mendorong bahu Sena dan memegangnya erat.
"Jika kau masih keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapanku--- aku akan membawamu masuk ke dalam kamarku malam ini," bisik Juhan dengan tatapan serius.