Bukan maunya menikah dan menjadi istri kedua, kalau bukan permintaan dari istri pertama yang memaksanya untuk menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*11
"Ya udah, biar aku aja yang antar Nana ziarah ke makam orang tuanya," kata Arya.
"Tapi mas .... "
"Gitu lebih baik mas," ucap Yulia pura-pura senang padahal dalam hati ia merasa kalau sedang tertusuk duri tajam.
"Gak usah deh kayaknya mas. Mas Arya kan kerja besok," ucap Nana merasa sangat tidak enak.
"Gak papa Nana. Besok itukan hari lahir kamu. Biar kamu gak merasa kalo kamu sekarang hidup sendirian," kata Arya.
"Iya Na, mas Arya benar. Biar kamu gak merasa kalau kamu hanya sebatang kara di dunia ini," kata Yulia pula.
"Aku gak enak nyusahin mas Arya mbak. Cukup aja mbak Yuli yang aku susahin."
"Aku gak merasa kamu susahin kok Na. Lagian, aku juga belum pernah ketemu orang tua kamu. Maksudku, aku belum pernah ziarah ke makam orang tua kamu. Belum pernah minta restu pada mereka kan?"
Akhirnya, Nana mengalah karena paksaan dari Arya dan Yulia. Sebenarnya, Nana merasa sangat tidak enak hati dengan Yulia. Tapi, setelah melihat bagaimana Yulia bersikap setuju dan baik-baik saja dengan apa yang ingin Arya lakukan, makanya, Nana menerima apa yang Arya tawarkan.
Nana merasa bahagia sebenarnya. Ziarah kali ini, dia datang tidak sendirian lagi. Dia sudah ada keluarga yang bisa menampungnya untuk hidup bersama. Dia sudah punya suami, walau bukan seutuhnya suami milik dia.
Dikamar, Yulia dan Arya sedang duduk berjauhan. Arya kelihatannya sedang sibuk membatalkan semua pertemuan kerjanya demi menemani Nana ziarah besok. Ia juga punya rencana untuk merayakan ulang tahun Nana dengan bersama Nana seharian besok.
"Yuli, apa kamu punya ide hadiah apa yang cocok buat Nana?" tanya Arya penuh semangat.
Sekuat tenaga, Yulia menahan rasa sakit dalam hatinya. Ia ingin teriak dan bilang kalau dirinya sakit saat ini. Tapi itu tidak ia lakukan. Ia tetap tenang dan mencoba terus tersenyum seakan tidak ada yang terjadi dengan hatinya saat ini.
"Mungkin kamu harus belikan Nana cincin berlian mas."
"Hmz ... cincin berlian ya? Apa Nana akan senang jika aku berikan dia cincin berlian?" tanya Arya seakan tak yakin dengan apa yang Yulia sarankan.
"Mas, aku bukan Nana, jadi jangan tanya aku apa dia suka atau tidak. Aku juga tidak tahu apa yang Nana suka sekarang. Jadi, kamu harus usaha sajalah supaya Nana senang," kata Yulia sambil tetap menahan gejolak emosi yang ada dalam hatinya.
"Kamu benar juga ya Yul. Aku hanya perlu berusaha memberikan Nana yang terbaik di ulang tahunnya yang kedua puluh dua ini. Kenapa harus pusing dengan hadiah yang akan aku berikan. Aku yakin, Nana akan suka dengan hadiah apapun yang aku berikan. Nana itukan gadis yang sangat sederhana," ucap Arya sambil berbinar-binar senang.
Air mata tidak bisa terbendung lagi ingin tumpah. Yulia dengan cepat berlari ke kamar mandi. Ia tidak ingin Arya tahu kalau saat ini dia sedang sangat amat terluka namun tak berdarah. Hatinya menjerit ketika Arya memuji Nana dengan pujian-pujian itu. Sayangnya, semua ini adalah jalan yang Yulia pilih sendiri buat rumah tangganya.
Tidak ada kata lagi setelah membahas soal hadiah untuk Nana. Baik Arya maupun Yulia, mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Arya yang sibuk dengan laptopnya, sedang mencari hadiah dan menyusun rencana untuk membuat Nana bahagia di ulang tahunnya kali ini. Sedangkan Yulia, ia terus mengalirkan air mata tanpa suara.
Yulia memang sudah bisa di katakan berhasil membuat Arya menerima Nana sebagai istri kedua dalam hidupnya. Tapi entah mengapa, ketika keberhasilan itu mencapai puncak. Yulia merasakan sakit yang amat sangat perih.
Itu sangat berbeda ketika ia pertama-tama datang membawa Nana. Yulia merasa kalau Arya tidak akan jatuh cinta pada Nana. Ia tahu kalau cinta Arya hanya untuknya.
Tapi, seiring berjalannya waktu. Semuanya pasti akan berubah dengan sendirinya. Tidak akan ada yang tetap berada di atas jika saat ini dia di atas. Juga tidak ada yang akan tetap berada di bawah jika saat ini ia sedang ada di bawah. Hukum dunia memang seperti itu. Berjalan bagaikan roda yang selalu berputar tanpa henti. Menggantikan setiap kehidupan manusia.
tau ibu tiri ga sebaik ibu kbdung.
sombongngg🤣🤣🤣
😂😂😂
😂😂