Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Abel
"Ma, Sean kemana?"
"Ada apa sih, Kak, pagi-pagi sudah cemberut begitu? Sean masih di kamarnya."
Selma menaiki tangga menuju kamar adiknya, pagi ini ia benar-benar di buat kesal sama Sean sangat adik.
"Sean! Itu mobil Kakak kenapa bisa kotor begitu? Selimut hello kitty Kakak juga nggak ada, kamu kemanain?"
Selma mengetuk pintu kamar Sean dengan kuat, ia tidak sabar pengin segera mengomeli sangat adik.
"Apa sih Kak, lu pagi-pagi bikin rusuh?" Sean membuka pintu dengan malas.
Pemuda itu tidak menghiraukan sang Kakak yang sejak tadi menunggunya. Sean malah berlalu turun menuju meja makan di mana orang tuanya sudah menunggu.
"Sean, lu dengerin gua nggak sih?"
"Selma, Sean, ini ada apa? Kenapa pagi-pagi kalian sudah bertengkar?" tanya Ansel pada kedua anaknya.
"Tahu tuh, Kak Selma nggak jelas." sahut Sean, ia memilih duduk di samping Mamanya-Kama.
"Sean, Pa, dia semalam pake mobil Selma. Terus pulang-pulang mobil Selma kotor banget, udah gitu selimut kesayangan Selma nggak ada." adu Selma pada papanya, memang gadis berusia delapan belas menuju sembilan belasan itu lebih manja pada Papanya.
"Sean?" Ansel menatap tajam putranya menuntut jawaban.
"Iya maaf, semalam Sean ketemu Abel di jalan kehujanan terus Sean anterin pulang dan itu selimut Kakak, Sean pinjemin sama Abel. Kasihan kan anak orang kedinginan, mana dia sempat pingsan lagi gegara kehujanan."
"Abel pingsan? Terus sekarang keadaannya gimana? Udah baikan belum, Nak?" Kama langsung memberondong Sean dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Sean nggak tahu, Ma, Kan Sean bukan pacarnya. Tanya aja Naja, kali dia tahu." jawab Sean acuh, ia mulai menyiapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Kenapa dia kehujanan?"
"Sean nggak tahu, Pa."
"Ya udah nanti lu jengukin dia sebelum sekolah, terus lu tanyain selimut gua." usul Selma pada adiknya itu.
"Nah, bener tuh, Sayang. Kamu jengukin Abel dulu ya, sekalian bawain makanan buat dia." Kama beranjak mengambil beberapa kotak makan dan mengisinya dengan nasi serta lauk, tanpa menunggu jawaban dari putranya.
"Ini kenapa semua orang mengistimewakan Abel sih?" gumam Sean, namun masih terdengar oleh semua orang yang ada di meja makan itu.
"Karena dia istimewa, dia gadis yang hebat. Kalau mau cari pacar itu yang seperti dia, Nak. Walaupun tidak ada ibu tapi dia tidak pernah mengeluh."
Sean hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan wanita cantik malaikat tak bersayapnya itu.
Sean memarkirkan motornya di depan gerbang rumah Abel, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai di rumah itu. Di tangannya terdapat paper bag berisi makanan.
"Mas Sean, mau ketemu Nona Abel ya?" tanya security yang bertugas menjaga gerbang.
"Iya, Pak, udah berangkat belum ya, Abelnya?"
"Belum, Mas. Silahkan, masuk!"
Sean mengangguk, memang bukan pertama kalinya ia datang ke rumah itu. Bukan hanya karena dia dan Abel dulu teman SMP tapi juga karena papanya-Ansel dan papanya Abel, adalah rekan bisnis. Jadi mereka sering datang ke rumah ini dulu, sebelum ada kejadian itu.
"Loh, Sean, tumben ini pagi-pagi ke sini?" Elang terkejut melihat Sean berdiri di depan pintu saat ia keluar bersama Abel.
"Emm... ini, Om, ada makanan dari Mama buat Abel. Mama khawatir saat tahu Abel, pingsan semalam. Tapi sekarang sudah baik-baik aja kan, Bel?"
Abel yang tidak menceritakan kejadian itu hanya menunduk saat tatapan itu datang dari daddy nya.
"Kamu pingsan, Sayang? Kenapa tidak bilang sama Daddy. Mama yang sakit? Kita ke rumah sakit saja ya sekarang." Elang memutar tubuh putrinya, meneliti apa ada luka atau lecet. Ia tidak mau sesuatu apapun terjadi pada putri kesayangannya itu.
"Abel tidak apa-apa, Daddy, hanya kehujanan doang. Untung ada Sean yang nolongin."
Elang menghembuskan nafas lega, ia melihat pada Sean yang nyengir melihat kekhawatiran Elang pada Abel. Ia merasa tidak enak karena telah membuat laki-laki itu mengkhawatirkan putrinya.
"Makasih ya, Sean, kamu memang teman yang baik buat Abel." Elang menepuk bahu pemuda itu.
"Iya, Om, sama-sama. Ya sudah, Sean pamit ya Om, takut kesiangan. Bel, mau bareng nggak?"
"Nggak deh, nanti ngerepotin." mata Abel membulat saat melihat kedatangan Naja di depan gerbang.
"Ayok deh, aku bareng kamu. Daddy, Abel berangkat ya!" Abel mencium tangan papanya bergantian dengan Sean.