Kesetiaan itu memang ada. Hanya saja, situasi dan kondisi yang membuat itu tiada. Saat kita menerima dia sepenuh jiwa, tapi kondisi memintanya sesuatu yang tak terduga. Maka, kita harus bersiap dengan kemungkinannya yang akan membuat kita kecewa dan menderita.
Pengorbanan hati dan harga diri demi dia yang kita sayang. Apakah dia akan menerima meski hati terluka, atau dia akan menjauh dengan hati yang runtuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
"Terima kasih, Beb."
"Untuk?"
"Karena kamu menjaga kehormatanku. Mungkin jika aku salah orang, aku sudah tidak berharga lagi."
"Aku hanya manusia biasa. Suatu saat bisa saja aku khilaf. Jangan mencoba menguji iman laki-laki, Raya."
"Iya, Beb."
"Aku pulang dulu. Besok harus ke kampus. Mau nyusun proposal judul."
"Hati-hati, Beb. Kalau udah nyampe, langsung kasih kabar." Wajah manisnya terlihat begitu cemas. Matanya yang bulat tampak bersinar. Menggemaskan.
"Iya. Gak usah cemas." Entah dorongan dari mana, tanganku mengacak-acak rambutnya. Dia sedikit terkejut tapi terlihat bahagia.
Motorku melaju di dinginnya malam. Mungkin sudah menginjak musim penghujan, gerimis suka datang tiba-tiba.
Setelah mengganti baju yang basah dan salat, aku mengambil ponsel.
"Hallo. Kamu lagi apa?" tanyaku pada gadis kencur itu. Entah kenapa, tapi aku ingin sekali menelpon dan memberitahu bahwa aku sudah sampai dengan selamat.
"Lagi mikirin kamu, Beb."
"Kenapa dipikirin? aku udah gede."
"Justru karena udah gede, nakalnya suka gak bisa dimaafkan."
"loh, aku nakal kenapa emangnya?"
"Beb."
"Hmm." Eh, aku kenapa jawab lagi?
"Siapa cewek yang ada di foto ini?"
"Mantan."
"Kok, masih disimpen? masih sayang sama dia, ya?"
"Gak. Tapi emang belum lupa."
"Ikh! aku sebel dengernya. Kalau dia masih gak bisa kamu lupain, gimana aku bisa masuk dalam hidup kamu?"
"Lupa bukan berarti tidak bisa menerima yang lain."
"Apa itu artinya aku masih punya harapan?"
"Harapan selalu ada untuk semua orang. Dalam hal apapun itu. Masalahnya adalah seberapa besar harapan itu ada."
"Artinya?"
"Posisi kita meski bisa masuk ke tahap pacaran, tidak bisa melebihi itu. Hubungan kita gak akan berkembang."
"Kenapa? aku suka sama kamu. Aku nyaman sama kamu, aku juga cinta sama kamu."
"Keadaan kita terlalu rumit. Kamu ngerti maksudku, kan?"
"Maksudnya harta?"
Aku diam.
"Aku rela keluar dari daftar ahli waris, kok."
Sekanak aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya bisa menggaruk kepala kasar. Pernah merasakan berada di posisi Raya, detail dan bagaimana rasanya, aku sangat mengerti. Mencintai seseorang begitu dalam hingga rela meninggalkan seisi dunia. Meninggalkan mereka yang tulus menyayangi kita.
Jika aku menolak Raya, aku pun tau bagaimana rasa sakit itu begitu dalam menusuk sukma. Tidak akan ada penawaran untuk mengobati lukanya.
"Sudah malam. Nanti kita bicara lagi, ya?"
"Beb."
"Raya, nanti kita ketemu. Selamat malam."
Tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain meninggalkan dia. Jangankan sebuah kalimat, satu kata pun aku tidak bisa mengeluarkannya dari mulutku.
Apa yang Raya rasakan akan menyakitinya suatu saat. Rasa yang perlahan akan menghancurkan hidup dia.
Apa aku tidak mencintai dia? tentu saja tidak untuk saat ini. Dia memang cantik dan juga manis. Baik apa lagi. Hanya saja ... entahlah.
Rindu ini masih untuknya.
Merebahkan badan adalah hak yang paling membuatku merasa bahagia. Setidaknya ada sesuatu yang menopang beban ku meski tidak empuk.
Ponselku berbunyi. Pesan dari aplikasi hijau.
"Raya?"
[Beb. Maaf sebelumnya. Mungkin bagi kamu ini adalah sesuatu yang aneh dan konyol. Aku sendiri tidak bisa mencari tahu kenapa dan kapan. Tapi, Beb. Rasanya sedih setiap berpisah setelah kita bertemu. Setiap malam, aku ingin terus ketemu dan dekat sama kamu.]
[Beb, mungkin aku kekanakan, tapi aku serius tentang apa yang aku katakan. Aku rela meninggalkan semua yang Papi dan Mami aku kasih selama ini. Jika kamu takut mereka tidak merestui, aku yang akan memaksa mereka buat ngasih itu. Atau mereka yang akan kehilangan aku.]
[Love you, Beb.]
Apakah ini sebuah karma atau teguran untukku? Ya Allah.