tak peduli seberapa jauh dirinya diasingkan, tak peduli seberapa hina dirinya dikucilkan. fasalnya keyakinan tetaplah sama nasywa. aku adalah aku...
teruslah melangkah kedepan, meskipun orang yang kau anggap sebagai kekasih hayalan telah selamanya menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gubahan Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pantaskah aku berkenalan dengan mu?
Waktu memang terlalu singkat untuk setiap orang, bahkan sang pencipta pun juga memberikan waktu agar kita semua bisa memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Jangan sampai ada kesalahan yang bisa menghambat waktu, seperti halnya orang yang tidak patuh akan aturan. Maka urusannya akan jauh lebih panjang.
letih bocah itu menghabiskan waktunya seharian demi menjalankan sebuah hukuman, namun baginya tidak sedikitpun menyulutkan waktunya untuk segera pergi ke sekolah walaupun pada akhirnya ia juga harus mendapatkan hukuman sekali lagi lantaran tidak mematuhi peraturan yang ada.
"Bilang ke Bu guru, kami bertiga izin Hiatus sementara dari sekolah," kata Rinto sambil menyodorkan secarik surat yang bertuliskan izin.
"Iya." Zim membalas dengan singkat. Lalu mulai beranjak pergi ke sekolah sendirian. Ia mulai melangkahkan kakinya perlahan dibawah pengawasan teriknya sinar matahari yang semakin memanas, padahal banyak sekali mobil angkutan kota yang berhenti didepannya, namun ia tak pernah mempedulikannya sedikit pun, bukan karena tak ingin agar cepat sampai, melainkan ingin sesekali menghabiskan waktunya melihat-lihat suasana Bogor yang terkenal dengan julukan kota hujan yang ramai.
.
.
.
.
Disetiap derap langkahnya yang perlahan, angin berhembus secara bergantian, diingiringi dengan puluhan dedaunan kering yang beterbangan dengan sendirinya ke setiap jalanan, yang mana jalanan itu memberikan arah untuk ia pergi ke sekolah dalam waktu yang sangat singkat.
Bilamana ia telah sampai didepan gerbang masuknya sekolah. Tak dinyana bocah nakal itu berjumpa dengan seorang perempuan yang terkenal dengan wajahnya yang berparas cantik dan imut, pipinya yang memerah seperti bunga sakura, kulitnya yang putih bagai salju, dan halus dan lembut bagai ukiran sutra, tengah duduk disebuah kursi besi panjang sendirian. Gadis itu terus saja menatap kearah seorang pemuda yang sedang berdiri mematung di depannya dengan waktu yang sangat lama, yang mana pemuda itu hanyalah seorang bocah nakal yang tak pernah mematuhi aturan, dan tak selayaknya pula sebutir debu jalanan ingin menempel pada setiap ujung sudut intan berlian yang terlihat indah. Maka ia pun memilih untuk merendahkan pandangannya sesaat.
Ia sangat terkenal sebagai perempuan yang memiliki jiwa pemalu, tak biasanya ia berani mengangkat pandangannya kearah seorang pemuda yang bukan haknya. Namun entah mengapa, kali ini perempuan itu menatap bocah nakal itu dengan tatapannya yang membuat orang lain terkesima melihat keindahannya.
Yakni seorang perempuan yang sudah dipastikan sebagai penerus pimpinan pondok pesantren Al Alawiyyah modern selanjutnya, dirinya ialah seorang Hafidzah dari anak seorang kiyai, yang terkenal akan kepintarannya, kesopanannya, serta kebaikannya kepada orang lain.
"Apakah aku pantas untuk berkenalan?" tanya bocah nakal itu, setelah menurunkan pandangannya dengan penuh rasa rendah diri dihadapan perempuan yang sedang duduk dihadapannya.
"Boleh,
silahkan saja," perempuan itu tersenyum manis meski dalam keadaan yang sama, yakni keduanya merasa tidak pantas untuk saling berdekatan.
Terutama bagi seorang bocah nakal, yang untuk pertama kalinya bisa berbicara secara hangat didepan perempuan yang jelas-jelas ia anggap sangat berbeda, dibandingkan dengan perempuan-perempuan pada umumnya yang sering ia jumpai. Tidak tahu kenapa detak jantungnya berdetak secara tidak biasanya, bahkan setiap helaan nafasnya pun terasa amat sesak sekali. Kenapa? Zim selalu bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, karena masih terlalu polos untuk mengenal apa itu suka?.
"Nasywa, kau bisa memanggil ku dengan nama itu," ucapnya sebelum melangkahkan kakinya pergi kedalam kelas.
"Nasywa, terimakasih..." gumam bocah nakal itu, dalam hatinya merasa senang bisa berbicara secara langsung dihadapan perempuan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh dengan kehampaan.
Izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta
💗💗💗💗💗🌷🌷🌷🌷
Semangat
💜💜💜💜💜💜
Dirimu tak pernah nongol saat itu
dirimu kemana Thor
Bank ke 🤣🤣🤣