Bercerita tentang seorang perempuan yang membuat janji kepada dua orang sahabatnya. Janji itu cukup tidak masuk akal dan mereka membuat penjanjian itu di umur yang masih kecil. Akankah janji itu terus berjalan hingga mereka beranjak dewasa? atau justru mereka melupakan semua dan menjadikan perjanjian itu tak berkisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fifizulfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ayahnya?
Suara gaduh terdengar jelas di dapur sepagi ini. bahkan ayam masih enggan menampakkan kokokan merdunya, akan tetapi seorang ibu dengan lincahnya telah bergulat bersama bumbu dan alat-alat besi.
Pagi ini Nita memasak dengan suasana hati yang tidak baik. Ia masih merasa jengkel dengan putranya yang kembali mendapat surat panggilan dan berakhir memalukan baginya. Ditambah sekarang ia harus berangkat pagi menemani Dami di rumah sakit, sedangkan Daniel masih tertidur dengan nikmatnya di kamar.
"Haduh, selesai juga," ucap Nita sambil meletakkan masakan terakhirnya, lalu terduduk mengusap penatnya. Tak lama-lama Nita langsung melangkah menuju bilik anaknya.
Nita mengembuskan napas letih memandang anaknya yang masih meringkuk di bawah selimut tebal. Ia menyalakan lampu kamar. Kakinya perlahan mulai mendekat dan duduk tepat di bibir ranjang, tangannya terulur mengusap pelan rambut hitam milik Daniel. Nita tersenyum sendu menatap wajah lugu putra tampannya itu. di balik kebagiannya dan Daniel ada banyak kesedihan yang terukir di memori.
Flasback on.
"Mas, aku mohon jangan, dia anak aku," rintih Nita terus menarik tangan suaminya yang tengah menggendong bayi laki-laki berniat untuk membawanya kabur.
"Nita! Lepas!" Tangan kekar itu sedikit mendorong tubuh lemah seorang ibu yang terus meronta merebut anaknya. "Aku gak tau ya, sama jalan pikiran kamu, anak ini masih sangat butuh Asi. Tapi dengan gampangnya sekarang kamu hamil dan aku gak tau siapa ayahnya."
"Mas, ini anak ka-"
"Anak aku? Iya? Bahkan setelah kamu lahirin anak ini, aku sama sekali belum nyentuh kamu Nit, dan kamu bilang itu anak aku."
"Maafin aku, Mas. Iya aku salah. Kamu boleh ninggalin aku. Kamu boleh milih perempuan itu, tapi enggak dengan anak aku." Nita sangat mengerti kalau apa ia lakukan salah, ia memang seorang ibu yang tega, disaat bayinya masih berumur dua bulan ia kembali hamil dan ia sendiri juga tidak tau siapa ayahnya.
Suaminya juga tak jauh berbeda dengan dirinya, yang mencintai sahabat dekatnya hingga berniat untuk menikahi, dan mungkin sekarang ingin menjadikan buah hatinya sebagai anak mereka. Tuhan memang selalu adil atas apa yang dikehendaki.
"Aku gak akan pernah biarin anak aku memanggil kamu ibu." Tekan suaminya. Air mata milik Nita menetes bersamaan bayi yang menangis di gendongan ayahnya. Suaminya tidak perduli, dia langsung melangkah pergi membawa anaknya.
"MAS BRATA, MAS! Aku mohon jangan-hiks." Nita terduduk lemas di pelataran rumah, memandang suaminya yang membawa darah dagingnya pergi. Pelan tangannya mulai mengusap perut ratanya yang ada rahim tanpa seorang ayah.
"Ibu janji, Nak, akan membesarkanmu."
Tahun-tahun berlalu dan Nita berhasil membesarkan anak tanpa ayah itu, yang sekarang tumbuh menjadi seorang Daniel Arsalan Syahreza. Tapi Tuhan masih memberinya kesempatan, untuk melihat anak pertamanya walaupun tidak memanggil ibu, bahkan hubungan Nita dengan sahabatnya masih erat meski telah merebut suaminya.
Flasback off.
Daniel merasakan sesuatu menetes di pipinya, remang-remang mata mulai menyesuaikan cahaya yang memaksa masuk pada retina. Ia terbelalak kaget melihat Nita yang menangis tersedu-sedu di sampingnya. Daniel pun bangun menangkup bahu bundanya itu.
"Bunda? Bunda kenapa nangis?" Nita bungkam menundukkan kepalanya, mengusap air mata yang tak henti keluar. "Bunda ... kemarin tuh dapet SP bukan sepenuhnya salah Daniel kok."
Nita mendongak menyentuh rahang anaknya. "Bukan karena itu kok. Tadi bunda habis masak, pegang cabe. Gak sengaja kena mata bunda."
"Trus Daniel percaya gitu." Nita terkekeh mendengar jawaban Daniel. ia menghela napas menatap lekat lawan bicaranya.
"Bunda hanya terharu sama diri bunda sendiri, bisa berhasil besarin anak setampan dan senakal kamu."
"Bunda, mau modusin Daniel yah? Yakan?" Sebenarnya Daniel tau kenapa bundanya bisa bersedih. Pikirannya langsung terarah pada dirinya yang harus terlahir tanpa ayah. Karena memang bundanya selalu menangis bila mengingat itu. sebetulnya ia sama seperti bundanya yang sedih mengingat itu semua. Ia juga ingin tau bagaimana rupa ayahnya.
Tapi Daniel tahu diri, seandainya ia ikut bersedih, itu akan lebih membuat bundannya merasa bersalah, jadi selama ini ia hanya memakai topeng bahagia disaat memori itu tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Akh! Bunda!" Daniel mengaduh lantaran Nita tiba-tiba mencubit perutnya.
"Udah, ah. Bunda mau berangkat ke rumah sakit."
"Hm, nanti aku nyusul." Daniel menarik selimut, kembali melanjutkan tidurnya.
"Heh! Kok tidur lagi."
"Ngantuk, Bun," ucap Daniel menenggelamkan tubuhnya lebih dalam ke selimut.
"Jangan bangun siang-siang loh. Bunda udah masakin tadi," perintah Nita yang dijawab deheman oleh Daniel.
...
"Cieee, non Kayla lagi berbunga-bunga ya." ucap Bi Minah yang sedang memasak dan melihat Kayla menghampiri dapur dengan senyum merekah. Lalu Kayla duduk di kursi meja makan tanpa memperdulikan ledekan dari Bibinya itu, dia hanya melirik kesal, karena akan malu jika dia mengingatnya.
Di mana tadi malam Bi Minah memergokinya sedang tidur pulas dipelukan Daniel, begitupun juga Daniel yang tertidur di sana. hingga keduanya merasa pegal dengan posisi dan mulai tersadar.
Pada saat itu lampu telah sepenuhnya terang jadi Kayla dan Daniel begitu terkejut melihat Bi Minah sudah duduk di sofa sambil melihat mereka dengan senyuman yang tidak jelas.
"Udahlah, Non Kayla enggak usah malu-malu begitu atuh sama Bibi."
"Bibi kenapa sih? orang tadi malam tuh Kayla cuma-"
"Cuma berduaan sama Den Daniel?" celetuk Bi Minah semakin senang melihat Kayla yang tersipu malu.
"Udah ah! Bibi nih ya, mana makanan Kayla."
"Iya ... Iya ... yang lagi kasmaran." Setelah itu Bibi segera mengambilkan nasi goreng yang telah masak, lalu menaruh piring itu di meja tepat di depan Kayla.
Tanpa pikir panjang pun Kayla segera menyantapnya tanpa melihat Bi Minah. Bibi yang melihat itu tahu jika Kayla malu sekali, ia pun menyudahi aksi ledekannya dan berpamitan untuk ke belakang.
"Kalau begitu Bibi ke belakang ya, Non. Mau cuci baju dulu."
"Hmm." jawab Kayla yang terus menundukkan kepalanya sambil terus memakan makanannya.
Bi Minah tertawa kecil mendengar itu, "Nanti kalau berangkat sekolah hati-hati ya."
"Iya Bibi."
Setelah kepergian Bi Minah Kayla mendongakkan kepalanya dan mendengus kesal. Segera dia menghabiskan makanannya.
Kayla menaruh piring bekas makanannya pada tempat pencuci piring, mengambil tas tergeletak di meja. Lalu berlari kecil ke luar untuk memakai sepatunya.
"BI! KAYLA BERANGKAT." teriak Kayla yang pasti tidak terdengar oleh Bi Minah di belakang. Sebelum itu Kayla berkaca pada kaca jendela didepan rumahnya, melihat penampilan sudah lengkap ia pun berjalan menuju rumah Daniel untuk berangkat sekolah.
...
Sekarang Nita sudah berdiri di pinggir jalan rumahnya menunggu ojek online yang ia pesan beberapa menit lalu. Ingin rasanya Nita bisa membawa motor sendiri, namun Daniel melarangnya, lantaran ia pernah terjatuh ke selokan saat belajar mengendarai. Al hasil anaknya itu selalu berkeras hati melarangnya.
"BUNDA!" Suara melengking itu berhasil membuat Nita terkejut yang awalnya fokus pada layar ponsel.
"Ayla, kamu nih ya. Ngagetin Bunda tau gak!"
"Hehe ... maaf, Bun. Bunda mau kemana?"
"Ke rumah sakit nemenin Dami. Eh!"
Jgn lupa mampir dan dukung karya ku Thor! Rahsia dibalik tirai.😁
"Rahasia dibalik tirai" 😘